spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1225

Tencent Bikin Game Pengganti PUBG untuk China

Telko.id, Jakarta – Tencent bersikap lapang dada, merelakan game PlayerUnknown’s Battlegrounds atau PUBG enyah dari China. Sebagai gantinya, Tencent sedang mempersiapkan game baru yang mirip PUBG, khusus untuk para gamers di Negeri Tirai Bambu itu.

Pemerintah China telah mengeluarkan aturan yang melarang game PUBG dimainkan di China. Perusahaan asal China ini mau tak mau harus mematuhi regulasi tentang konten game yang berlaku di negara tersebut.

Menurut laporan CNN, seperti dikutip Telko.id, Jumat (10/5/2019), Tencent rela menghilangkan PUBG di China demi menghindari sanksi. Lebih-lebih, pasar game China merupakan sumber pendapatan terbesar Tencent.

{Baca juga: China Batasi Judul Game Poker dan Mah-jong}

Keputusan Tencent menghapus PUBG di China terungkap dari unggahan pengguna media sosial Weibo. Dijelaskan bahwa pemilik akun PUBG bisa berpindah ke Game for Peace yang masih dikembangkan oleh tim Tencent.

Penampakan Game for Peace sama persis dengan PUBG Mobile. Game play-nya saja yang berbeda. Game for Peace bertemakan antiteror yang membanggakan pasukan elit China. Game for Peace mengedepankan unsur patriotik.

Game for Peace tidak akan menampilan darah saat pemain di dalam game tertembak. Tidak ada pula jenazah dari pemain yang gugur. Justru pemain yang gugur akan bangun memberi salam selamat tinggal dan menghilang.

Tencent menyebut bahwa Game for Peace mengusung genre berbeda. Sejauh ini, belum ada protes dari gamer China terkait kehadirannya. PUBG Mobile sendiri sudah setahun gratis di China dan belum bisa dimonetisasi.

{Baca juga: China Bakal Batasi Jumlah Game Online, Kenapa?}

Belum lama ini, Tencent baru saja membuat pengumuman baru. Mereka telah merilis pembaruan untuk PUBG Mobile (ver 0.12.0) yang berisi beberapa mode gameplay baru. Tencent menghadirkan mode melawan zombie. [SN/HBS]

Sumber: CNN

Samsung Masih ‘Galau’ Soal Waktu Perilisan Galaxy Fold

0

Telko.id, Jakarta – Samsung masih menimbang-nimbang, kapan akan meluncurkan ponsel layar lipat pertamanya, Galaxy Fold seharga USD 2.000 secara resmi. CEO Samsung, Koh Dong-jin, berjanji segera memberi keputusan dalam waktu dekat.

“Kami telah meninjau cacat di Galaxy Fold. Kami akan menyampaikan kesimpulan dalam beberapa hari,” ujarnya. Koh juga memberi tahu bahwa kerusakan disebabkan oleh zat yang masuk ke perangkat dilansir New York Post.

Dikutip Telko.id, Jumat (10/5/2019), ia menyampaikannya setelah Samsung menyatakan tidak bisa mengirim ponsel lipatnya itu pada akhir Mei 2019 ke para pemesan jika tidak ada konfirmasi. Para pemesan pun mempertanyakan komitmen Samsung.

{Baca juga: Samsung Ancam Batalkan Pemesanan Galaxy Fold, Kenapa?}

Samsung membuat kebijakan tegas terkait pemesanan, dengan menyatakan pemesan yang belum konfirmasi secara otomatis akan dianggap batal membeli ponsel layar lipat seharga USD 2.000 atau sekitar Rp 28 juta itu.

“Kalau pemesan tidak konfirmasi pembelian maksimal pada 31 Mei 2019, kami anggap pemesanan batal. Kami memberlakukannya berdasarkan regulasi,” tegas Samsung via email, seperti dikutip Telko.id dari CNBC, Rabu (8/5/2019).

Mulanya, Samsung berencana meluncurkan ponselnya ini di Amerika Serikat pada 26 April 2019. Akan tetapi, beberapa hari sebelum tanggal peluncuran, beberapa media yang berkesempatan mengujinya telah mengobral permasalahan di Galaxy Fold.

{Baca juga: Peluncuran Samsung Galaxy Fold Ditunda, Buntut Masalah Layar?}

Mau tak mau, Samsung menunda peluncuran ponsel tersebut. Samsung pun berkomitmen untuk memberitahu kepada pelanggan tentang status pemesanan ponselnya itu. “Kami sedang melakukan perbaikan beberapa masalah di Galaxy Fold,” katanya. [SN/HBS]

Sumber: NY Post

Candy Crush dkk Dilarang Tawarkan Fitur Berbayar kepada Anak-anak

Telko.id, Jakarta – Aplikasi video game, termasuk Candy Crush, akan dilarang menawarkan skema “bayar untuk menang” kepada anak-anak. Biasanya, anak-anak rela membayar untuk peningkatan fitur dan bonus.

Pelarangan tersebut bahkan akan ditetapkan dalam bentuk undang-undang. Senator Josh Hawley dari Missouri mengusulkan RUU untuk permainan yang secara eksplisit mencari uang dari pemain di bawah umur.

Selama ini, marak video game yang menargetkan anak-anak untuk mendulang uang. Praktik itu memaksa orang tua membayar sejumlah uang untuk pembelian fitur untuk meningkatkan bonus di sebuah game.

{Baca juga: Game Candy Crush Diangkat ke Layar Kaca}

“Ketika sebuah game dirancang untuk anak-anak, para pengembang tidak boleh memonetisasi kecanduan. Bakal ada undang-undang yang mengaturnya,” demikian pernyataan Hawley, dilansir New York Post.

Demikian pula, dikutip Telko.id, Jumat (10/5/2019), saat bermain game yang dirancang untuk orang dewasa, anak-anak  harus dilindungi dari transaksi mikro yang kompulsif. Regulasi yang ditetapkan berlaku tegas.

Pengembang game yang secara sadar mengeksploitasi anak-anak harus menghadapi konsekuensi hukum. Undang-undang tantang hal tersebut telah dipaparkan pada Rabu (8/5/2019) lalu di hadapan pihak terkait.

{Baca juga: 11 Oktober, Candy Crush Debut di Android dan iOS}

Undang-undang tentang Perlindungan Anak-anak dari Permainan Abusif itu mengincar aliran pendapatan industri yang menguntungkan. Menurut para analis, potensi bisnisnya bisa bernilai lebih dari USD 50 miliar.

Sumber: NY Post

Semua Rating Aplikasi di Play Store akan Dihitung Ulang

Telko.id, Jakarta – Google Play Store telah membangun katalog ulasan dan rating aplikasi sejak tahun 2008. Namun baru-baru ini Google berencana menghitung ulang semua ulasan dan peringkat di platform mereka.

Dilansir Telko.id dari PhoneArena pada Jumat (10/05/2019), rating aplikasi saat ini diperlakukan sama terlepas dari berapa lama atau seberapa baru aplikasi tersebut dikembangkan.

Tetapi perlakuan tersebut mengabaikan fakta bahwa ulasan-ulasan lawas tidak mewakilkan kondisi aplikasi saat ini.  Contohnya adalah ulasan dan penilaian jelek yang didapat sebuah aplikasi karena sebuah bug yang kini sudah diperbaiki.

Atau ulasan negatif terkait kurangnya fitur dalam aplikasi, walaupun mungkin fitur tersebut telah hadir di pembaruan selanjutnya.  Kelemahan ini menunjukan bahwa peringkat tidak selalu akurat dengan kualitas suatu aplikasi.

{Baca juga: Awas! Ada Puluhan Aplikasi GPS Palsu di Google Play Store}

Pihak pengembang Aplikasi pun telah lama melaporkan hal ini ke Google dan tampaknya, kebijakan baru Google Play Store ini merupakan bagian dari aspirasi tersebut. Mulai Agustus 2019, ulasan-ulasan baru pengguna mengenai aplikasi akan lebih lebih penting daripada yang ulasan lama untuk menghitung peringkat aplikasi di Google Play Store.

Sayangnya Google belum menentukan skema perhitungannya, tetapi pihak pengembang aplikasi dapat melihat pratinjau peringkat baru mereka mulai hari ini.

Sebelumnya Google juga memberikan beberapa pembaruan dalam Google Play Store. Raksasa Internet itu baru saja mengeluarkan aturan baru yang mengizinkan pengguna untuk membeli aplikasi di Google Play Store dengan menggunakan uang tunai.

{Baca juga: Asyiik! Belanja di Google Play Bisa Pakai Uang Tunai}

Aturan ini diberlakukan setelah Google meluncurkan fitur “Pending Transaction” yang menawarkan cara pembayaran tanpa menggunakan kartu kredit atau pembayaran online.

Prilaku pengguna di negara berkembang menjadi alasan Google meluncurkan fitur tersebut. Dalam gelaran Google I/O Developer Conference 2019. Kurangnya akses kartu kredit menjadi alasan jika mereka lebih senang mengunduh aplikasi dan game gratis yang dipenuhi iklan ketimbang unduhan berbayar. [NM/HBS]

Sumber: PhoneArena

Lagi, Wanita Bersuami Kena Tipu Pria di Facebook

Telko.id, Jakarta – Meski sudah banyak perisitiwa penipuan di media sosial, namun masih saja ada orang yang menjadi korban penipuan, dan kehilangan uang dalam jumlah besar. Kali ini yang menjadi korban adalah seorang wanita asal Singapura.

Platform media sosial seharusnya digunakan untuk menghubungkan orang dari seluruh dunia. Namun, sejumlah penipu memanfaatkan media sosial untuk tindakan yang tidak bermoral, menipu korban yang tidak bersalah.

Baru-baru ini, seorang wanita berusia 56 tahun bernama Lee menggelar konferensi pers. Dalam konfrensi pers itu, Lee menceritakan bagaimana dia bisa ditipu seorang pria yang ia kenal di Facebook pada Maret 2019 lalu.

{Baca juga: Kenalan di Facebook, Wanita Ini Kebobolan Rp 5,6 Miliar}

Tidak hanya sakit hati karena merasa ditipu, Lee juga merasa sakit hati dan bersedih karena pria tersebut telah menguras seluruh tabungan yang ia kumpulkan selama hidupnya. Total, ia kehilangan lebih dari RM 110,000 atau sekitar Rp 379 juta.

Penipu bernama Alvin Ong Wu ini mengaku sebagai direktur proyek di sebuah perusahaan teknologi. Awalnya, ia meminjam RM 9.500 dari Lee untuk membayar sewa rumahnya di Singapura.

Tak berhenti sampai disitu, ia kemudian kembali meminjam uang sebesar RM 11.900 pada tanggal 22 Maret, dan selanjutnya meminjam RM 30.000 pada 25 Maret dari sang korban.

“Ketika saya bertanya pengembalian pinjaman itu, Alvin mengatakan dia telah mentransfer RM 29.032 dan RM 30.276 ke saya. Dia meminta saya untuk menunggu beberapa hari agar transaksi berjalan, ” kata Lee.

Namun, pada 28 Maret, Alvin kembali menghubungi Lee lagi untuk meminjam RM 13.000 dengan alasan untuk membantu ‘proyeknya’ di Port Klang. Lee memenuhi permintaan pria ini dan seminggu kemudian bahkan membayar RM 10.000 tambahan sebagai ‘biaya bank’.

Kemudian, ia mentransfer lagi RM 36.000 setelah menerima telepon dari ‘staf Bank Negara’, yang jelas-jelas seorang penipu.

“Saya baru sadar telah ditipu setelah Alvin mengatakan saya perlu membayar RM 54.000 tambahan karena memarahi dan menghina staf bank. Setelah itu, saya pergi ke Kantor Polisi Sungai Senam, Jumat lalu untuk membuat laporan polisi,” terangnya.

Untuk diketahui, korban tidak pernah melihat Alvin secara langsung. Lee hanya berkomunikasi melalui WhatsApp dan Facebook.

{Baca juga: Penipu Ulung Ini Raup Rp 1,7 Triliun dari Google dan Facebook}

Agar dipercaya, Alvin, yang mengaku sebagai warga negara Amerika, mengiriminya foto paspor Amerika. Ia juga mengaku memeluk agama yang sama, agar Lee semakin percaya.

Setelah kehilangan semua uang tabungannya, dia tidak tahu harus berkata apa kepada suaminya. Dia pergi ke rumah ibunya untuk menenangkan diri, setelah membuat laporan polisi pada 3 Mei. [BA/HBS]

Sumber: Kosmo

Gandeng Google, Qualcomm Luncurkan Prosesor Headset Pintar

Telko.id, Jakarta Qualcomm meluncurkan prosesor QCC5100 Series untuk smart headset di ajang Google I/O Developer Conference 2019. Chipset ini dibuat untuk membantu perusahaan teknologi mengembangkan headset pintar menjadi lebih baik.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Jumat (10/05/2019), merancang headset pintar tidaklah mudah. Pasalnya, Qualcomm harus menyematkan komputer kecil ke perangkat audio yang relatif kecil.

Selain itu, mereka harus dapat mendengar perintah suara dari pengguna, ditengah kepungan suara-suara sekitar yang bisa mengurangi kepekaan headset pintar tersebut.

Memang ada beberapa perangkat keras yang berusaha membuat teknologi tersebut, tetapi ketika Qualcomm dan Google bekerja sama untuk merancang prosesor headset pintar, maka perusahaan bisa menggunakan inovasi kedua raksasa teknoligi itu.

{Baca juga: Qualcomm Bikin Sensor Fingerprint Dalam Layar untuk iPhone}

Dengan keahlian yang telah terbukti dalam pemrosesan audio, baik dalam input maupun output, produsen chipset ini dapat mengurangi beban perusahaan teknologi yang ingin mengembangkan inovasi perangkat headset pintar.

Nantinya pengguna akan melihat peningkatan dalam opsi headphone pintar, dan mungkin pengurangan harga juga, tetapi kita belum tahu kapan inovasi tersebut bisa kita gunakan di kedua telinga kita.

Qualcomm sendiri telah lama menyediakan prosesor untuk berbagai perangkat seperti jam tangan pintar, drone, kamera pintar dan headset pintar. Selain itu, perusahaan asal Amerika Serikat ini baru saja mengembangkan Artificial Intelligence (AI) untuk game.

Mereka mengumumkan kerja sama dengan Tencent saat berlangsung acara Qualcomm AI Day yang digelar di Shenzen, China, beberapa hari lalu. Mereka akan mengembangkan teknologi AI atau kecerdasan buatan untuk gaming.

{Baca juga: Qualcomm dan Tencent Kembangkan AI untuk Gaming}

Kerja sama tersebut sebetulnya sudah dilakukan pada 2016. Tapi, saat pengumuman kemarin, keduanya lebih berfokus kepada gaming. Qualcomm maupun Tencent pun mengajak merek smartphone gaming IQOO untuk kolaborasi.

Dilansir VentureBeat, kerja sama itu didorong oleh kepopuleran industri mobile gaming. Tren tersebut juga mendorong kehadiran fitur AI yang selama ini semakin digunakan untuk mendongkrak performa smartphone saat bermain game. [NM/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Facebook Dituding sebagai Produsen Konten Ekstrem

Telko.id, Jakarta – Tuduhan miring dialamatkan kepada Facebook. Seorang anonim menuduh media sosial milik Mark Zuckerberg tersebut sebagai produsen konten ekstrem. Ia bahkan mengadukan jejaring sosial milik Mark Zuckerberg itu ke otoritas Amerika Serikat (AS).

Si pelapor anonim menuding Facebook menyediakan tempat untuk video jihad serta halaman bisnis kepada jaringan Al-Qaeda. Konten serupa milik Nazi juga banyak ditemukan. Facebook pun angkat suara menanggapi tuduhan-tuduhan itu.

Menurut laporan BBC, seperti dikutip Telko.id, Jumat (10/5/2019), Facebook menegaskan sudah menghapus video-video konten ekstrem. Namun, memang ada kendala di sistem sehingga upaya penanggulangan belum berjalan sempurna.

{Baca juga: Facebook “Haramkan” Konten Terkait Nasionalisme Kulit Putih}

“Kami berinvestasi besar guna mendeteksi konten-konten terorisme. Kami sudah melakukan deteksi dan menghapus konten ekstrem. Kami yakini tingkat efektivitas pemberantasan konten tersebut lebih tinggi ketimbang sebelumnya,” kata Facebook.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa selama lima bulan terakhir ada 3.000 orang yang menyukai atau terhubung ke organisasi teroris. Pemerintah AS menyatakan, kelompok-kelompok seperti al-Qaeda cukup aktif di Facebook.

Halaman bisnis lokal untuk Al-Qaeda di Facebook disukai oleh 7.410 orang. Hal itu membuka kesempatan bagi Al-Qaeda untuk merekrut orang atau mencari pendukung. Jejaring sosial itu didesak untuk melakukan tindakan tegas terkait hal itu.

{Baca juga: Dianggap Monopoli, Pendiri Facebook Kritik Mark Zuckerberg}

Seorang pendiri Facebook, Chris Hughes, turut angkat suara. Ia menyebut bahwa Facebook sudah saatnya dibubarkan. Ia mendorong pemerintah AS untuk meminta pertanggungjawaban kepada Mark Zuckerberg terkait masalah tersebut. [SN/HBS]

Sumber: BBC

Tahun Ini WhatsApp Stop Dukungan untuk Windows Phone

Telko.id, Jakarta WhatsApp memastikan akan mengakhiri dukungan bagi Windows Phone pada akhir tahun ini. Aplikasi chatting itu mengkonfirmasi bahwa WhatsApp Windows Phone akan berakhir pada 31 Desember 2019 mendatang.

Dilaporkan Ubergizmo, seperti dikutip Telko.id pada Jumat (10/05/2019), WhatsApp juga akan mengakhiri dukungan bagi sistem lawas Android dan iOS di tahun depan.

Sehingga tidak mengherankan jika WhatsApp telah memutuskan untuk mengakhiri dukungan ke Windows Phone sebelum tahun 2020 dimulai.

{Baca juga: Grup WhatsApp Masih Dipakai Sebar Video Pelecehan Anak}

Sedangkan untuk Android dan IOS, WhatsApp akan berhenti bekerja pada smartphone yang menjalankan Android versi 2.3.7 dan dibawahnya mulai 1 Februari 2020 mendatang. Selain itu, perangkat yang mendukung iOS 7 dan lebih lama pun tidak akan didukung oleh WhatsApp pada 1 Februari 2020 mendatang.

Menjelang berhentinya dukungan WhatsApp, ini berarti beberapa fitur diprediksi akan mulai berhenti sebelum tenggat waktunya. Ini juga termasuk membuat akun baru atau memverifikasi akun yang ada.

{Baca juga: WhatsApp Setop Dukungan untuk Nokia Series 40}

Jadi bagi kalian yang mungkin masih menggunakan sistem operasi lawas tersebut, sebaiknya mulai beralih ke perangkat yang lebih baru agar tetap bisa menggunakan aplikasi WhatsApp.

Tahun lalu WhatsApp juga mengumumkan terkait penghentian dukungan mereka terhadap platform perangkat lunak dan antarmuka pengguna di feature phone kelas menengah Nokia Series 40 pada 31 Desember 2018.(NM/FHP)

Sumber: Ubergizmo

Axis Luncurkan Paket OWSEM untuk Para Gamers Indonesia

Telko.id, Jakarta Axis baru-baru ini meluncurkan paket OWSEM yang menjadi paket unlimited gaming pertama di Indonesia. Lewat paket ini, pelanggan akan mendapatkan berbagai akses ke sejumlah aplikasi media sosial hingga game online dengan harga terjangkau.

Menurut Chief Marketing Officer XL Axiata, David Arcelus Oses, paket OWSEM menyasar segmen anak muda yang memiliki karakter yang khas dalam mengakses internet dan layanan digital.

“AXIS akan selalu mengikuti apa yang mereka inginkan, yang bisa membuat mereka nyaman. Kami yakin, dengan keleluasaan mereka untuk akses internet, mereka pun dapat menjadi lebih produktif dan kreatif. Melalui Paket OWSEM yang baru ini kami menjawab keinginan mereka,” kata Oses.

Pada paket OWSEM , pelanggan bisa mendapatkan kuota utama, kuota malam, kuota sosial media, kuota musik dan unlimited gaming. Kuota malam hanya berlaku untuk akses internet di malam hari antara pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB.

{Baca juga: AXIS Pop-Up Station, Wadahnya Anak Muda Berkumpul}

Sedangkan kuota sosial media berlaku untuk akses aplikasi media sosial Instagram, Facebook, Twitter, dan TikTok. Sementara untuk kuota musik, pelanggan dapat menggunakannya untuk mengakses aplikasi musik JOOX dan Smule.

Selanjutnya, unlimited gaming dapat digunakan untuk akses beragam game online diantaranya, Mobile Legends, AoV, Free Fire, Vain Glory, Asphlat 9, Modern Combat 5, dan HAGO.

Oses mengungkapkan, paket yang paling sesuai dengan anak muda adalah paket 24GB dengan harga Rp 51.900. Paket ini terdiri dari kuota 3GB kuota utama, 9GB kuota malam, 6GB kuota sosial media, 6GB kuota musik, dan unlimited gaming.

{Baca juga: Axis Gelar Seri Esports di Seluruh Indonesia}

Paket ini bisa didapatkan mulai 9 Mei 2019 di aplikasi AXISnet dan menu UMB *123# dan mulai 13 Mei 2019 di toko pulsa terdekat. Paket ini berlaku untuk pelanggan lama maupun pelanggan baru. (NM/FHP)

Survey : Kedewasaan Masyarakat Mengenali Hoax Meningkat

Telko.id – Maraknya penyebaran berita Hoax telah menjadi masalah nasional antara lain perpecahan, instabilitas politik dan gangguan keamanan yang berpotensi menghambat pembangunan nasional. Itu sebabnya, Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) tahun 2019 ini menggelar kembali sebuah survey bertemakan Berita Hoax “Wabah Hoax Nasional 2019”.

Targetnya, untuk melihat perkembangan persepsi responden terhadap berita hoax, penyebaran berita hoax, klasifikasi berita hoax serta dampak berita hoax terhadap kehidupan berbangsa secara nasional, dengan membandingkannya pada hasil survey terdahulu MASTEL pada tahun 2017.

Proses survey dilakukan secara online dalam kurun waktu 28 Februari s/d 15 Maret 2019 dan direspon oleh 941 responden dengan rentang usia 20-24 tahun (27,8%), 25-40 tahun (35,8%), 41-55 tahun (25%), di atas 55 tahun (4,90%), 16-19 tahun (6,1%) dan di bawah 15 tahun (0,30%).

Dari beberapa pertanyaan yang diajukan pada survey tersebut berhasil didapatkan respon seputar definisi hoax, perilaku masyarakat menyikapi hoax, bentuk dan saluran hoax, dampak hoax dan penanggulangan hoax.

Sebanyak 88% responden menjawab bahwa hoax adalah berita bohong yang disengaja, 49% berpendapat hoax adalah berita yang menghasut, 61% berpendapat hoax adalah berita yang tidak akurat, 31% berpendapat hoax sebagai berita yang menjelekkan orang lain. Hasil ini dapat dimaknai bahwa masyarakat memiliki kepekaan tinggi terhadap berita-berita yang menjelekkan orang lain.

Di survey tahun 2019, Responden yang berpendapat memeriksa kebenaran berita heboh, menurun dari 83.2% menjadi 69.3%. Namun ini bukan merupakan indikasi negatif, karena 7,5% responden menyatakan mengcounter berita, 2,1% menegur pengirim berita, dan 3,2% Langsung menghapus, yang bila ditotal berjumlah 12,8%. Sehingga bila dijumlahkan dengan yang memeriksa kebenaran (69,3%), menjadi 82.1%.

16,9% responden lainnya berpendapat mendiamkan berita heboh ketika menerimanya. Andalan utama responden untuk memeriksa kebenaran berita heboh bertumpu pada search engine (82,8%).

Secara keseluruhan, alasan responden meneruskan berita heboh tidak ada perubahan yang berarti dibandingkan dengan hasil survey 2017. Namun ketika di tahun 2019 diberi pilihan jawaban “iseng meneruskan agar heboh”, ternyata ada 4,6% responden memilihnya.

Ada 93,2% responden berpendapat bahwa berita seputar Sosial Politik adalah isi berita hoax yang sering mereka terima. Hoax isu SARA menurun dari 88,6% menjadi 76,2% (turun 12,4%). Hoax Pemerintahan 61,7%, hoax bencana alam meningkat dari 10,3% menjadi 29,3%, dan hoax berisi info pekerjaan yaitu 24,4%.

Pada tahun 2017, dominasi bentuk hoax baru sebatas tulisan dan gambar. Namun pada survey kali ini digali perkembangan ragam dari bentuk hoax yang sering diterima. Respon jawaban responden yang terbanyak yaitu Tulisan (70,7%), foto dengan caption palsu (66,3%) dan Berita/foto/video lama diposting ulang (69,2%).

Responden yang merasa menerima hoax Lebih dari satu kali per hari, menurun dari 17,2% menjadi 14,7% (turun 2,5%). Yang merasa menerima hoax setiap hari, menurun dari 44,3% menjadi 34,6% (turun 9,7%). Terjadi peningkatan yang seminggu sekali, dari 29,8% menjadi 32,5% (naik 2,7%). Tampak ada penurunan frekuensi penyebaran berita hoax, namun bentuk hoax semakin bervariasi dan samar.

Terkait dampak hoax, responden yang berpendapat hoax sangat mengganggu meningkat dari 43,5% menjadi 61,5%. Yang berpendapat hoax sangat mengganggu kerukunan masyarakat meningkat dari 75,9% menjadi 81,9%. Yang berpendapat hoax sangat menghambat pembangunan, meningkat dari 70,2% menjadi 76,4%.

54,3% Responden berpendapat alasan maraknya penyebaran hoax karena hoax digunakan sebagai alat untuk menggiring opini publik termasuk kampanye hitam. 5,8% responden berpendapat bahwa ada yang memanfaatkan hoax untuk bisnis. Maka dapat dimaknai bahwa 60,1% penyebaran hoax dimaksudkan untuk penggiringan opini publik.

Kedewasaan masyarakat mengenali hoax meningkat cukup besar, tampak dari menurunnya tuntutan edukasi tentang hoax (57.7% menjadi 33.7%). Tingkat kedewasaan ini tampak dari peningkatan opini untuk mengoreksi hoax melalui sosial media 10,2%, report akun/posting (16,3%), dan pemberitaan di media TV/Radio/Majalah/Koran (4,1%).

Kesadaran bahwa penanggulangan penyebaran hoax dimulai dari diri sendiri, tetap tinggi. Namun demikian, secara implisit responden tetap menginginkan penegakan hukum yang lebih tegas kepada pelaku penyebaran hoax dan turut melibatkan pemilik/pengelola platform/aplikasi sosial media.
 (Icha)