spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1221

Ambi Ponsel dari Laut, Paus Beluga Kembali Bikin Heboh

Telko.id, Jakarta – Sebuah video yang mengabadikan kemunculan paus beluga telah beredar di media sosial, setelah diunggah ke Instagram minggu ini.

Dilansir dari Daily Mail, seorang wanita bernama Isa Opdahl siang itu sedang berada di atas kapal bersama teman-temannya di Hammerfest Harbor di Norwegia. Tidak sengaja, ponselnya terjatuh ke laut.

Saat itu, ia tidak berpikir bahwa ia akan melihat ponselnya lagi. Sampai tiba-tiba seekor paus beluga berenang ke permukaan dengan ponsel di mulutnya.

{Baca juga: Kacau! Istri Jual Murah Action Figure Milik Suami di Facebook}

Isa kemudian segera mengambil ponsel itu dari mulut sang paus. Masih dengan dipenuhi rasa takjub karena tidak menyangka bahwa ikan paus putih itu akan telah menolongnya mengambil ponsel dari dalam laut.

Video momen luar biasa ini telah ditonton lebih dari 220.000 kali sejak diunggah Senin lalu (6/5).  Warganet sama kagumnya dengan Isa, dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

{Baca juga: Viral! Petarung Wanita MMA Hajar Pria yang Masturbasi di Depannya}

Sebelumnya, seorang nelayan di Norwegia menemukan seekor paus beluga mengenakan tali kekang dengan kamera yang melekat padanya. Video paus ini pun menjadi viral.

Para ahli kelautan percaya bahwa paus yang mengenakan harness kamera itu mungkin adalah agen Rusia yang melarikan diri dari fasilitas pelatihannya. Dengan kata lain, paus itu bisa jadi adalah mata-mata Rusia yang sebenarnya.

Beberapa netizen berspekulasi bahwa ini mungkin paus yang sama dengan yang ditemukan beberapa minggu lalu. [BA/IF]

Instagram Makin Getol Blokir Tagar Anti-Vaksin

Telko.id, Jakarta – Menyusul kekhawatiran akan wabah campak yang terus menyebar di AS, Instagram memblokir beberapa tagar anti-vaksin yang menyebarkan informasi yang salah di seluruh platform.

Juru bicara Instagram, Stephanie Otway mengkonfirmasi pada hari Jumat bahwa aplikasi akan memblokir #vaccineskill. Menambah panjang daftar tagar yang dilarang, menyusul #vaccinescauseautism, #vaccinescauseaids dan #vaccinesarepoison, yang diharamkan perusahaan sehari sebelumnya (Kamis).

{Baca juga: Tagar Anti Vaksin “Haram” Muncul di Instagram}

Dilaporkan HuffPost, tindakan ini disebut Otway dilakukan demi memerangi informasi palsu dalam posting dengan tagar tersebut, serta tagar itu sendiri. Itu artinya, pengguna tidak akan dapat mencari tagar tersebut, dan mengklik tagar itu tidak akan memunculkan hasil apapun.

Sementara itu, CNN menilai tindakan ini diambil Instagram setelah aplikasi melaporkan pada hari Rabu bahwa itu masih ditampilkan sebagai salah satu hasil teratas dalam pencarian menggunakan istilah “vaksin.” Untuk membantu menetapkan standar untuk tagar yang akan diizinkan, Instagram menggunakan informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit A.S.

Kekhawatiran telah tumbuh atas apa yang disebut konten “anti-vax” di tengah wabah campak yang terus tumbuh di seluruh AS, dengan 764 kasus dikonfirmasi di 23 negara bagian tahun ini.

{Baca juga: Ubah Kebijakan, Kini Instagram “Lebih Adil” Soal Blokir Akun}

Pada bulan Februari, TechCrunch melaporkan bahwa YouTube akan mendemonetisasi saluran yang menyebarkan propaganda anti-vax.

Menyusul itu, Amazon juga menarik beberapa film anti-vaksin dari platform streaming video Prime pada bulan Maret setelah menghadapi tekanan dari masyarakat. Pada bulan yang sama, Facebook meluncurkan rencananya untuk mengatasi masalah ini, dengan menyatakan akan menurunkan peringkat halaman dan kelompok yang mempromosikan informasi yang salah tentang vaksin, disamping menolak iklan anti-vaksin.

Bocor, Motorola One Vision Punya Layar 21:9 dan Kamera 48MP

0

Telko.id, Jakarta – Sebuah bocoran mengenai smartphone teranyar Motorola terkuak baru-baru ini. Dipanggil One Vision, perangkat ini disebut WinFuture mengemas spesifikasi menarik, diantaranya chipset Exynos, layar 21:9, dan kamera 48 MP.

Dikutip dari Androidpolice, Sabtu (11/5/2019), seperti nama yang dibawanya, One, One Vision akan menjadi perangkat Android One terbaru Motorola. Namun tidak seperti ponsel One sebelumnya, yang menggunakan prosesor Snapdragon seri 600, One Vision disebut-sebut bakal memiliki chip Samsung di badannya, Exynos 9609.

Bersama chipset tersebut, kita akan menemukan RAM 4GB dan penyimpanan minimum 128GB, yang dapat diperluas dengan kartu microSD. Ini juga akan menjadi ponsel dual-SIM.

Dengan layar 6,3 inci 1080p yang diusung One Vision, Motorola menjadi produsen kedua yang menggunakan rasio aspek 21:9 pada ponsel setelah Sony. Layar tersebut membawa branding “CinemaVision”. Bisa jadi lantaran rasio aspek tersebut cocok dengan kebanyakan film.

Di bagian kamera, One Vision akan dibekali sensor 48MP di bagian belakang dan 25MP di bagian depan. Kamera belakang dikatakan datang dengan fitur night vision dan dapat membuat film dalam 4K/30, 1080p/60, dan semacam mode film khusus. Detail lainnya termasuk baterai 3.500mAh, Bluetooth 5.0, Wi-Fi AC, dan NFC.

Konon katanya, One Vision akan dibanderol €299 atau sekitar Rp 4,8 jutaan ketika tersedia pada 16 Mei mendatang. Akan ada dua pilihan warna yang bisa dipilih, yakni biru dan perunggu. Motorola Verve (earbuds) juga akan disertakan bersamanya.

Akun Mobile Legends Diblokir 30 Tahun, Bocah Ini Histeris

Telko.id, Jakarta – Tujuh hari tanpa Mobile Legends mungkin akan membuat seorang gamer lemas. Tetapi, bagimana jika 10.949 hari, atau sama dengan 30 tahun tanpa Mobile Legends? Sepertinya, ini akan menjadi bencana.

Seperti diketahui, Mobile Legends menjadi game mobile paling populer di dunia saat ini. Mobile Legends seolah telah menjadi fenomena budaya sehingga secara harfiah ke mana pun kita pergi saat ini, kita dapat menjumpai orang menatap layar ponsel dan asyik bermain game tersebut.

Banyak yang menjadi kecanduan dengan game ini, satu di antaranya seorang bocah asal Filipina. Gamer cilik ini menjadi viral karena akun Mobile Legends-nya terkena banned selama 10.949 hari, 1 jam dan 23 menit atau sekitar 30 tahun.

Penderitaan yang dialami bocah itu dibagikan ayahnya, Mark Samonte di Facebook. Ia tidak tahan dengan tingkah anaknya yang menurutnya lucu, meskipun putranya menangis sepanjang waktu.

Mungkin, bagi penggemar Mobile Legends juga akan menangis jika akun mereka diblokir untuk waktu yang lama, seperti yang dialami bocah tersebut.

Tidak jelas mengapa akun milik anak laki-laki yang tak disebutkan namanya itu terkena banned untuk waktu yang sangat lama. Beberapa netizen mengatakan, anak ini menggunakan cheat saat bermain sehingga terkena blokir.

Sementara itu, sejumlah netizen lain mengatakan kisah itu hanyalah rekayasa untuk menarik perhatian, meski tampilan gambar di layar ponselnya tampak sangat nyata.

Apa pun itu, semoga bocah ini menjadikan hal itu sebagai pengingat agar menghetikan kebiasaanya bermain game, karena akan membuatnya ketagihan dan tidak fokus pada sekolah. [BA/HBS]

Sumber: World of Buzz

Tencent Bikin Game Pengganti PUBG untuk China

Telko.id, Jakarta – Tencent bersikap lapang dada, merelakan game PlayerUnknown’s Battlegrounds atau PUBG enyah dari China. Sebagai gantinya, Tencent sedang mempersiapkan game baru yang mirip PUBG, khusus untuk para gamers di Negeri Tirai Bambu itu.

Pemerintah China telah mengeluarkan aturan yang melarang game PUBG dimainkan di China. Perusahaan asal China ini mau tak mau harus mematuhi regulasi tentang konten game yang berlaku di negara tersebut.

Menurut laporan CNN, seperti dikutip Telko.id, Jumat (10/5/2019), Tencent rela menghilangkan PUBG di China demi menghindari sanksi. Lebih-lebih, pasar game China merupakan sumber pendapatan terbesar Tencent.

{Baca juga: China Batasi Judul Game Poker dan Mah-jong}

Keputusan Tencent menghapus PUBG di China terungkap dari unggahan pengguna media sosial Weibo. Dijelaskan bahwa pemilik akun PUBG bisa berpindah ke Game for Peace yang masih dikembangkan oleh tim Tencent.

Penampakan Game for Peace sama persis dengan PUBG Mobile. Game play-nya saja yang berbeda. Game for Peace bertemakan antiteror yang membanggakan pasukan elit China. Game for Peace mengedepankan unsur patriotik.

Game for Peace tidak akan menampilan darah saat pemain di dalam game tertembak. Tidak ada pula jenazah dari pemain yang gugur. Justru pemain yang gugur akan bangun memberi salam selamat tinggal dan menghilang.

Tencent menyebut bahwa Game for Peace mengusung genre berbeda. Sejauh ini, belum ada protes dari gamer China terkait kehadirannya. PUBG Mobile sendiri sudah setahun gratis di China dan belum bisa dimonetisasi.

{Baca juga: China Bakal Batasi Jumlah Game Online, Kenapa?}

Belum lama ini, Tencent baru saja membuat pengumuman baru. Mereka telah merilis pembaruan untuk PUBG Mobile (ver 0.12.0) yang berisi beberapa mode gameplay baru. Tencent menghadirkan mode melawan zombie. [SN/HBS]

Sumber: CNN

Samsung Masih ‘Galau’ Soal Waktu Perilisan Galaxy Fold

0

Telko.id, Jakarta – Samsung masih menimbang-nimbang, kapan akan meluncurkan ponsel layar lipat pertamanya, Galaxy Fold seharga USD 2.000 secara resmi. CEO Samsung, Koh Dong-jin, berjanji segera memberi keputusan dalam waktu dekat.

“Kami telah meninjau cacat di Galaxy Fold. Kami akan menyampaikan kesimpulan dalam beberapa hari,” ujarnya. Koh juga memberi tahu bahwa kerusakan disebabkan oleh zat yang masuk ke perangkat dilansir New York Post.

Dikutip Telko.id, Jumat (10/5/2019), ia menyampaikannya setelah Samsung menyatakan tidak bisa mengirim ponsel lipatnya itu pada akhir Mei 2019 ke para pemesan jika tidak ada konfirmasi. Para pemesan pun mempertanyakan komitmen Samsung.

{Baca juga: Samsung Ancam Batalkan Pemesanan Galaxy Fold, Kenapa?}

Samsung membuat kebijakan tegas terkait pemesanan, dengan menyatakan pemesan yang belum konfirmasi secara otomatis akan dianggap batal membeli ponsel layar lipat seharga USD 2.000 atau sekitar Rp 28 juta itu.

“Kalau pemesan tidak konfirmasi pembelian maksimal pada 31 Mei 2019, kami anggap pemesanan batal. Kami memberlakukannya berdasarkan regulasi,” tegas Samsung via email, seperti dikutip Telko.id dari CNBC, Rabu (8/5/2019).

Mulanya, Samsung berencana meluncurkan ponselnya ini di Amerika Serikat pada 26 April 2019. Akan tetapi, beberapa hari sebelum tanggal peluncuran, beberapa media yang berkesempatan mengujinya telah mengobral permasalahan di Galaxy Fold.

{Baca juga: Peluncuran Samsung Galaxy Fold Ditunda, Buntut Masalah Layar?}

Mau tak mau, Samsung menunda peluncuran ponsel tersebut. Samsung pun berkomitmen untuk memberitahu kepada pelanggan tentang status pemesanan ponselnya itu. “Kami sedang melakukan perbaikan beberapa masalah di Galaxy Fold,” katanya. [SN/HBS]

Sumber: NY Post

Candy Crush dkk Dilarang Tawarkan Fitur Berbayar kepada Anak-anak

Telko.id, Jakarta – Aplikasi video game, termasuk Candy Crush, akan dilarang menawarkan skema “bayar untuk menang” kepada anak-anak. Biasanya, anak-anak rela membayar untuk peningkatan fitur dan bonus.

Pelarangan tersebut bahkan akan ditetapkan dalam bentuk undang-undang. Senator Josh Hawley dari Missouri mengusulkan RUU untuk permainan yang secara eksplisit mencari uang dari pemain di bawah umur.

Selama ini, marak video game yang menargetkan anak-anak untuk mendulang uang. Praktik itu memaksa orang tua membayar sejumlah uang untuk pembelian fitur untuk meningkatkan bonus di sebuah game.

{Baca juga: Game Candy Crush Diangkat ke Layar Kaca}

“Ketika sebuah game dirancang untuk anak-anak, para pengembang tidak boleh memonetisasi kecanduan. Bakal ada undang-undang yang mengaturnya,” demikian pernyataan Hawley, dilansir New York Post.

Demikian pula, dikutip Telko.id, Jumat (10/5/2019), saat bermain game yang dirancang untuk orang dewasa, anak-anak  harus dilindungi dari transaksi mikro yang kompulsif. Regulasi yang ditetapkan berlaku tegas.

Pengembang game yang secara sadar mengeksploitasi anak-anak harus menghadapi konsekuensi hukum. Undang-undang tantang hal tersebut telah dipaparkan pada Rabu (8/5/2019) lalu di hadapan pihak terkait.

{Baca juga: 11 Oktober, Candy Crush Debut di Android dan iOS}

Undang-undang tentang Perlindungan Anak-anak dari Permainan Abusif itu mengincar aliran pendapatan industri yang menguntungkan. Menurut para analis, potensi bisnisnya bisa bernilai lebih dari USD 50 miliar.

Sumber: NY Post

Semua Rating Aplikasi di Play Store akan Dihitung Ulang

Telko.id, Jakarta – Google Play Store telah membangun katalog ulasan dan rating aplikasi sejak tahun 2008. Namun baru-baru ini Google berencana menghitung ulang semua ulasan dan peringkat di platform mereka.

Dilansir Telko.id dari PhoneArena pada Jumat (10/05/2019), rating aplikasi saat ini diperlakukan sama terlepas dari berapa lama atau seberapa baru aplikasi tersebut dikembangkan.

Tetapi perlakuan tersebut mengabaikan fakta bahwa ulasan-ulasan lawas tidak mewakilkan kondisi aplikasi saat ini.  Contohnya adalah ulasan dan penilaian jelek yang didapat sebuah aplikasi karena sebuah bug yang kini sudah diperbaiki.

Atau ulasan negatif terkait kurangnya fitur dalam aplikasi, walaupun mungkin fitur tersebut telah hadir di pembaruan selanjutnya.  Kelemahan ini menunjukan bahwa peringkat tidak selalu akurat dengan kualitas suatu aplikasi.

{Baca juga: Awas! Ada Puluhan Aplikasi GPS Palsu di Google Play Store}

Pihak pengembang Aplikasi pun telah lama melaporkan hal ini ke Google dan tampaknya, kebijakan baru Google Play Store ini merupakan bagian dari aspirasi tersebut. Mulai Agustus 2019, ulasan-ulasan baru pengguna mengenai aplikasi akan lebih lebih penting daripada yang ulasan lama untuk menghitung peringkat aplikasi di Google Play Store.

Sayangnya Google belum menentukan skema perhitungannya, tetapi pihak pengembang aplikasi dapat melihat pratinjau peringkat baru mereka mulai hari ini.

Sebelumnya Google juga memberikan beberapa pembaruan dalam Google Play Store. Raksasa Internet itu baru saja mengeluarkan aturan baru yang mengizinkan pengguna untuk membeli aplikasi di Google Play Store dengan menggunakan uang tunai.

{Baca juga: Asyiik! Belanja di Google Play Bisa Pakai Uang Tunai}

Aturan ini diberlakukan setelah Google meluncurkan fitur “Pending Transaction” yang menawarkan cara pembayaran tanpa menggunakan kartu kredit atau pembayaran online.

Prilaku pengguna di negara berkembang menjadi alasan Google meluncurkan fitur tersebut. Dalam gelaran Google I/O Developer Conference 2019. Kurangnya akses kartu kredit menjadi alasan jika mereka lebih senang mengunduh aplikasi dan game gratis yang dipenuhi iklan ketimbang unduhan berbayar. [NM/HBS]

Sumber: PhoneArena

Lagi, Wanita Bersuami Kena Tipu Pria di Facebook

Telko.id, Jakarta – Meski sudah banyak perisitiwa penipuan di media sosial, namun masih saja ada orang yang menjadi korban penipuan, dan kehilangan uang dalam jumlah besar. Kali ini yang menjadi korban adalah seorang wanita asal Singapura.

Platform media sosial seharusnya digunakan untuk menghubungkan orang dari seluruh dunia. Namun, sejumlah penipu memanfaatkan media sosial untuk tindakan yang tidak bermoral, menipu korban yang tidak bersalah.

Baru-baru ini, seorang wanita berusia 56 tahun bernama Lee menggelar konferensi pers. Dalam konfrensi pers itu, Lee menceritakan bagaimana dia bisa ditipu seorang pria yang ia kenal di Facebook pada Maret 2019 lalu.

{Baca juga: Kenalan di Facebook, Wanita Ini Kebobolan Rp 5,6 Miliar}

Tidak hanya sakit hati karena merasa ditipu, Lee juga merasa sakit hati dan bersedih karena pria tersebut telah menguras seluruh tabungan yang ia kumpulkan selama hidupnya. Total, ia kehilangan lebih dari RM 110,000 atau sekitar Rp 379 juta.

Penipu bernama Alvin Ong Wu ini mengaku sebagai direktur proyek di sebuah perusahaan teknologi. Awalnya, ia meminjam RM 9.500 dari Lee untuk membayar sewa rumahnya di Singapura.

Tak berhenti sampai disitu, ia kemudian kembali meminjam uang sebesar RM 11.900 pada tanggal 22 Maret, dan selanjutnya meminjam RM 30.000 pada 25 Maret dari sang korban.

“Ketika saya bertanya pengembalian pinjaman itu, Alvin mengatakan dia telah mentransfer RM 29.032 dan RM 30.276 ke saya. Dia meminta saya untuk menunggu beberapa hari agar transaksi berjalan, ” kata Lee.

Namun, pada 28 Maret, Alvin kembali menghubungi Lee lagi untuk meminjam RM 13.000 dengan alasan untuk membantu ‘proyeknya’ di Port Klang. Lee memenuhi permintaan pria ini dan seminggu kemudian bahkan membayar RM 10.000 tambahan sebagai ‘biaya bank’.

Kemudian, ia mentransfer lagi RM 36.000 setelah menerima telepon dari ‘staf Bank Negara’, yang jelas-jelas seorang penipu.

“Saya baru sadar telah ditipu setelah Alvin mengatakan saya perlu membayar RM 54.000 tambahan karena memarahi dan menghina staf bank. Setelah itu, saya pergi ke Kantor Polisi Sungai Senam, Jumat lalu untuk membuat laporan polisi,” terangnya.

Untuk diketahui, korban tidak pernah melihat Alvin secara langsung. Lee hanya berkomunikasi melalui WhatsApp dan Facebook.

{Baca juga: Penipu Ulung Ini Raup Rp 1,7 Triliun dari Google dan Facebook}

Agar dipercaya, Alvin, yang mengaku sebagai warga negara Amerika, mengiriminya foto paspor Amerika. Ia juga mengaku memeluk agama yang sama, agar Lee semakin percaya.

Setelah kehilangan semua uang tabungannya, dia tidak tahu harus berkata apa kepada suaminya. Dia pergi ke rumah ibunya untuk menenangkan diri, setelah membuat laporan polisi pada 3 Mei. [BA/HBS]

Sumber: Kosmo

Gandeng Google, Qualcomm Luncurkan Prosesor Headset Pintar

Telko.id, Jakarta Qualcomm meluncurkan prosesor QCC5100 Series untuk smart headset di ajang Google I/O Developer Conference 2019. Chipset ini dibuat untuk membantu perusahaan teknologi mengembangkan headset pintar menjadi lebih baik.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Jumat (10/05/2019), merancang headset pintar tidaklah mudah. Pasalnya, Qualcomm harus menyematkan komputer kecil ke perangkat audio yang relatif kecil.

Selain itu, mereka harus dapat mendengar perintah suara dari pengguna, ditengah kepungan suara-suara sekitar yang bisa mengurangi kepekaan headset pintar tersebut.

Memang ada beberapa perangkat keras yang berusaha membuat teknologi tersebut, tetapi ketika Qualcomm dan Google bekerja sama untuk merancang prosesor headset pintar, maka perusahaan bisa menggunakan inovasi kedua raksasa teknoligi itu.

{Baca juga: Qualcomm Bikin Sensor Fingerprint Dalam Layar untuk iPhone}

Dengan keahlian yang telah terbukti dalam pemrosesan audio, baik dalam input maupun output, produsen chipset ini dapat mengurangi beban perusahaan teknologi yang ingin mengembangkan inovasi perangkat headset pintar.

Nantinya pengguna akan melihat peningkatan dalam opsi headphone pintar, dan mungkin pengurangan harga juga, tetapi kita belum tahu kapan inovasi tersebut bisa kita gunakan di kedua telinga kita.

Qualcomm sendiri telah lama menyediakan prosesor untuk berbagai perangkat seperti jam tangan pintar, drone, kamera pintar dan headset pintar. Selain itu, perusahaan asal Amerika Serikat ini baru saja mengembangkan Artificial Intelligence (AI) untuk game.

Mereka mengumumkan kerja sama dengan Tencent saat berlangsung acara Qualcomm AI Day yang digelar di Shenzen, China, beberapa hari lalu. Mereka akan mengembangkan teknologi AI atau kecerdasan buatan untuk gaming.

{Baca juga: Qualcomm dan Tencent Kembangkan AI untuk Gaming}

Kerja sama tersebut sebetulnya sudah dilakukan pada 2016. Tapi, saat pengumuman kemarin, keduanya lebih berfokus kepada gaming. Qualcomm maupun Tencent pun mengajak merek smartphone gaming IQOO untuk kolaborasi.

Dilansir VentureBeat, kerja sama itu didorong oleh kepopuleran industri mobile gaming. Tren tersebut juga mendorong kehadiran fitur AI yang selama ini semakin digunakan untuk mendongkrak performa smartphone saat bermain game. [NM/HBS]

Sumber: Ubergizmo