spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1158

YouTube akan Tingkatkan Kualitas Video Musik Lawas

Telko.id, Jakarta Youtube memiliki ribuan video musik lawas di platform mereka. Rencananya, situs berbagi video tersebut akan melakukan daur ulang atau remaster terhadap video musik lawas untuk meningkatkan kualitas video dan audionya.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Kamis (20/06/2019), selama ini kualitas video musik lawas terlampau rendah karena sejak awal diperuntukan untuk TV lama dengan satu speaker. Maka Youtube akan mengubahnya.

Bersama Universal Music Group, anak perusahaan Google ini akan mendaur ulang hampir 1.000 video untuk meningkatkan kualitas gambar dan audio. Saat ini lebih dari 100 video musik klasik telah di remaster atau diolah kembali dan sekarang tersedia di platform secara eksklusif.

{Baca juga: YouTube Hapus Video Iklan Obat Ajaib MMS}

Beberapa koleksi video musik lawas yang akan didaur ulang termasuk milik penyanyi kondang, seperti Billy Idol, Janet Jackson, Tom Petty, Beastie Boys, Lady Gaga, Lionel Richie, dan banyak lagi.

Kedua perusahaan berkomitmen penuh untuk membuat ulang hampir 1.000 video musik setiap minggu selama tahun berikutnya. Diharapkan semua akan tersedia di platform sebelum akhir tahun 2020 mendatang.

Sebelumnya, situs berbagi video ini melakukan inovasi baru guna membatasi konten diskriminatif dan konten palsu. Caranya, dengan menghapus lebih banyak channel ekstremis dan memberi penghargaan kepada kreator terpercaya.

YouTube memberlakukan kebijakan baru terkait hal itu setelah berkonsultasi dengan para pakar ekstremisme, supremasi, dan kebebasan berbicara. Bagi YouTube, keterbukaan platform sangat membantu kreativitas dan akses informasi.

{Baca juga: YouTube Semangat Bantai Konten Diskriminatif}

YouTube akan melarang video yang menyatakan bahwa satu kelompok lebih baik dari lainnya atau menyarankan pemisahan berdasarkan kualitas seperti usia, jenis kelamin, ras, kasta, agama, orientasi seksual, atau status veteran.

YouTube bakal pula melarang konten yang menyangkal peristiwa bersejarah yang terdokumentasi secara baik seperti penembakan Sekolah Dasar Holocaust dan Sandy Hook. YouTube pun berencana membatasi penyebaran konten tak masuk akal. [NM/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Jarang Digunakan, Twitter akan Hapus Fitur Geotagging

Telko.id, Jakarta Twitter berencana akan menghapus salah satu fiturnya. Menurut informasi, fitur yang akan dipensiunkan tersebut adalah fitur penanda lokasi atau Geotagging. Alasannya, karena fitur tersebut jarang digunakan oleh pengguna.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Kamis (20/06/2019) selama ini banyak media sosial yang memiliki kemampuan untuk memposting pembaruan status, foto, dan sebagainya serta berbagi lokasi mereka secara bersamaan.

Twitter pun mempunyainya.  Twitter memiliki fitur geotagging yang memungkinkan pengguna untuk menandai di mana mereka berada. Ini adalah fitur yang sepenuhnya opsional dan mereka yang tidak menggunakannya tidak akan memiliki lokasi mereka ditampilkan.

Namun fitur tersebut jarang digunakan oleh warganet Twitter. Maka atas dasar itu maka Twitter akan menghapus penanda lokasi tersebut. Melalui akun resminya, Twitter menilai jika penghapusan tersebut juga bertujuan agar warganet bisa lebih sederhana ketika ingin mengetweet.

{Baca juga: Twitter Versi Desktop Akhirnya Kembali ke Mac Apple}

“Kebanyakan orang tidak memberi tag lokasi mereka yang sebenarnya di Tweet, jadi kami menghapus kemampuan ini untuk menyederhanakan pengalaman Tweeting Anda,” ucap Twitter.

Namun fitur penanda lokasi masih bisa digunakan ketika Anda ingin berbagi foto di platform tersebut. “Anda masih dapat memberi tag lokasi tepat Anda di Tweet melalui kamera kami yang diperbarui. Sangat membantu ketika berbagi momen di lapangan,” tambahnya.

Sayangnya tidak disebutkan apakah tanda lokasi di Tweet lama juga akan dihapus atau hanya berlaku pada Tweet saat ini ingin Anda buat. Twitter memang terus berevolusi demi pelayanan yang maksimal bagi pengguna.

{Baca juga: Asyik! Fitur Andalan Periscope Hadir di Twitter}

Sebelumnya Twitter kini menghadirkan salah satu fitur Periscope, yakni fitur live streaming untuk para penggunanya. Warganet kini diberikan kesempatan untuk melakukan live streaming di Twitter, dan pengguna lainnya bisa melempar pertanyaan kepada mereka.

Pengguna dapat mengajak 3 orang untuk bergabung, dan mereka bisa mengajukan pertanyaan apapun terhadap Anda. Ini mirip dengan aplikasi Periscope yang merupakan bagian dari ekosistem Twitter. [NM/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Ya Ampun, Ternyata Asia Tenggara Jadi Sasaran Empuk Penipuan Iklan

0

Telko.id – AppsFlyer, perusahaan mobile attribution dan marketing analytics, hari ini menerbitkan laporan Ad Fraud (penipuan iklan) Asia Pasifik 2019. Dalam laporan tersebut, Asia Tenggara telah diidentifikasi sebagai target utama penipu, dengan risiko lebih dari 260 juta Dolar AS – tertinggi di Asia Pasifik – diikuti oleh India yang terpapar sebesar 186 juta Dolar AS.

Hal tersebut dapat terjadi karena Asia Tenggara memiliki tingkat penetrasi mobile yang tinggi, peningkatan kualitas konektivitas, dan integrasi cepat metode pembayaran elektronik, menjadikannya target yang sangat menguntungkan bagi para penipu karena besarnya jumlah pengguna dan tingginya pembayaran yang dihasilkan pasar ini.

Masalah ini semakin diperparah oleh sumber daya pengembang aplikasi yang lebih sedikit, prevalensi penipuan di jaringan lokal dan permintaan volume yang tinggi oleh marketer.

Sedangkan di Asia Pasifik sendiri, jika dibiarkan tanpa perlindungan, maka akan mengalami kerugian sebesar 650 juta Dolar AS.

“Asia Tenggara adalah target yang menarik bagi penipu, dengan para marketer di kawasan ini memanfaatkan kondisi mobile-first dan pertumbuhan sifat digital populasi di wilayah tersebut untuk mendorong prioritas marketing. Penipuan (fraud) mendistorsi dan mencemari data yang menjadi andalan bisnis dalam membuat keputusan, menghasilkan penggunaan sumber daya yang tidak tepat, pengeluaran yang tidak efektif, serta kerugian finansial,” ungkap Beverly Chen, Marketing Director Asia Pasifik di AppsFlyer.

Untuk mengatasi hal ini, Chen menyarankan agar marketer perlu memiliki solusi perlindungan berlapis-lapis serta memahami dan tetap waspada terhadap meningkatnya ancaman bot, akses non-manusia dan berbagai teknik kejahatan baru yang selalu berkembang untuk mempertahankan keunggulan kompetitif mereka.

Di seluruh wilayah, aplikasi Keuangan dan e-Commerce merupakan jenis aplikasi yang paling terpengaruh, dengan aplikasi Keuangan memiliki target korban penipuan iklan tertinggi di wilayah ini sebesar 48,1%, diikuti oleh aplikasi e-Commerce dan aplikasi Travel, masing-masing sebesar 32,2% dan 29,7%, sejalan dengan terus bertumbuhnya tingkat kesejahteraan konsumen di daerah tersebut.

Penipuan ini terutama dilakukan melalui bot dan pembajakan instalasi, dengan click flooding (spam klik) dan device farm yaitu lokasi di mana kriminal menduplikasi tindakan – seperti klik, pendaftaran, instalasi, dan keterlibatan pengguna – untuk menciptakan ilusi aktivitas yang sah sehingga menghabiskan anggaran iklan, masih menjadi metode yang digunakan meski pada tingkat yang jauh lebih rendah.

Dengan jumlah pengguna seluler di Asia Tenggara saat ini, device farm tidak lagi dianggap efektif jika dibandingkan dengan metode peretasan perangkat lunak.

Bot adalah penyebab utama dalam memengaruhi aplikasi keuangan di semua wilayah (52%), sementara pembajakan instalasi dan click flooding (spam klik) adalah penggunaan serangan yang lebih sering digunakan untuk industriaplikasi lainnya.

Selain itu, tampaknya tidak banyak jumlah laporan mengenai besarnya masalah, karena marketer di kawasan tersebut lebih bergerak ke arah model bisnis cost per action (CPA) untuk mengukur efektivitas aplikasi daripada model cost per install (CPI). Dengan infiltrasi dan kecanggihan berbagai penipuan iklan saat ini, para penipu telah berhasil menginfiltrasi aplikasi sehingga membuatnya lebih sulit untuk dilacak.

Dalam laporan yang menganalisis  aktivitas di periode mulai dari kuartal empat 2018 sampai dengan kuartal satu 2019 (November 2018 – April 2019), serta meneliti 2,5 miliar instalasi yang terdiri atas 8.000 aplikasi di segmen Hiburan, Keuangan, Gaming, e-Commerce, Travel, dan Utilities, ditemukan:

Bahwa penipuan instalasi aplikasi terus menjadi prevalensi di seluruh wilayah Asia Pasifik: Tingkat penipuan di wilayah ini memiliki rata-rata 60% lebih tinggi dibandingkan rata-rata global, dengan kerugian akibat penipuan melebihi 650 juta Dolar AS dalam waktu enam bulan.

Lalu pada aplikasi Keuangan dan e-Commerce menjadi yang paling sering terkena dampak. Aplikasi Keuangan memiliki target korban penipuan iklan tertinggi di wilayah ini, yaitu 48,1%, diikuti oleh aplikasi e-Commerce dan Travel di angka 32,2% dan 29,7%, sejalan dengan pertumbuhan kesejahteraan konsumen di wilayah tersebut.

Hal ini diakibatkan lebih besarnya pembayaran dan skala basis pengguna, jika dibandingkan dengan metode perlindungan anti-fraud yang canggih yang sering digunakan marketer aplikasi Gaming.

Metode serangan yang paling umum dilakukan adalah menggunakan bot dan pembajakan instalasi. Metode serangan ini telah dapat diatasi oleh solusi anti-fraud yang bersifat real-time, sedangkan metode click flooding (spam klik) mengalami penurunan. (Icha)

Startup Portfolio Telkom Listing di Australia Stock Exchange

0

Telko.id – Telkom Indonesia, cukup agresif menanamkan investasi pada stratup unggulan. Salah satunya yang boleh dibilang sukses adalah Whispir. Startup ini mampu mencatatkan saham perdananya Australian Securities Exchange (ASX) dengan kode WSP, Melbourne, Rabu (19/6).

Hadir mewakili Telkom di ASX dalam rangka IPO startup yang diinvestasikan anak usaha Telkom, MDI Ventures ini, Direktur Strategic Portfolio Telkom Achmad Sugiarto bersama Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah, didampingi CEO MDI Ventures Nicko Widjaja dan CEO Whispir Jeromy Wells.

Whispir merupakan startup asal Australia yang berkecimpung dalam pengembangan platform teknologi automasi dan cloud yang memudahkan layanan bisnis dalam berkomunikasi dengan stakeholder di lingkungan kerja.

Di samping cloud, startup yang berkantor pusat di Melbourne ini juga menerapkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligent), perangkat IoT, dan analisis data dalam pengembangan produknya.

Ketertarikan MDI Ventures untuk melakukan invetasi ke startup tersebut dilatarbelakangi pemanfaatan teknologi automasi dan digitasi prosedur yang dilakukan Whispir. Investasi ini bertujuan untuk mendukung pengembangan bisnis digital Telkom ke depan dan Whispir sendiri juga sudah bersinergi dengan anak usaha Telkom lainnya, Telkomtelstra.

Whispir menjadi startup kedua yang diinvestasikan Telkom dan berhasil melakukan IPO. “IPO Whispir menunjukkan bahwa langkah Telkom dalam melakukan investasi bisnis digital melalui corporate venture capital MDI Ventures sudah sejalan dengan strategi perusahaan saat ini.

Hal ini dapat memberikan beragam valuasi dan sinergi bagi TelkomGroup. Ke depannya diharapkan MDI Ventures akan melakukan investasi lain yang memberikan value yang lebih besar bagi Telkom dan ekosistem BUMN,” ungkap Achmad Sugiarto, Direktur Strategic Portfolio Telkom yang hadir dalam acara IPO Whispir.

MDI Ventures saat ini merupakan corporate venture capital teraktif di Indonesia dengan track record exit yang baik, dan dibentuk Telkom untuk mengembangkan bisnis digital. Hingga saat ini MDI Ventures telah berinvestasi di sebanyak 33 perusahaan yang tersebar di 10 negara.

Dalam berinvestasi, ada beberapa kriteria startup yang dijadikan acuan MDI Ventures, diantaranya mempunyai future value yang tinggi dan nilai sinergi yang positif untuk pengembangan produk TelkomGroup. (Icha)

Foto Bulan Madu “Godzilla Challenge” Ini Bikin Ngakak

Telko.id, Jakarta – Semua orang tentu ingin mendapatkan foto terbaik pada saat momen spesial seperti bulan madu, untuk bisa dipamerkan di media sosial. Tapi untuk mendapatkan foto yang “Instagrammable” bukan perkara mudah. Alih-alih mendapat pujian, malah terkadang mendapat celaan dari netizen yang ‘julid’

Hidup di era digital dengan media sosialnya, banyak orang yang ingin foto liburan mereka tampak sempurna. Sayangnya, tidak semua orang memiliki teman fotografer profesional untuk membantu kita memastikan foto bisa terlihat sempurna secara estetika.

Meskipun kita tahu pasangan kita sudah mencoba sekuat tenaga melakukan yang terbaik, namun terkadang foto yang dihasilkan tidak pernah tepat hingga standar Instagrammable pun tidak bisa didapat.

Masalah akan menjadi semakin “ruwet”, saat foto-foto itu dipublish ke media sosial. Penilaian, atau lebih tepatnya “penghakiman” pun segera dilakukan oleh para netizen. Kalau sudah begini, tak hanya pujian yang didapat, tapi juga komentar nyinyir dari netizen harus siap ditelan.

{Baca juga: Foto-foto Ini Jadi Bukti Bahwa Nasi Adalah Segalanya}

Seperti yang dialami seorang netizen baru-baru ini yang membagikan pengalamannya difoto oleh suaminya saat sedang menikmati liburan bulan madu di Maladewa. Saat itu, sang suami yang memiliki panggilan sayang “Babi” ini memotret istrinya dengan berbagai pose.

Salah satu pose andalan yang dipotret adalah “rambut terurai dari air”, yang katanya menjadi pose favorit para wanita, terutama yang berambut panjang. Tentu saja pasangan pengantin baru ini berharap fotonya tampak seperti gambar dalam iklan shampo di tv yang menampilkan keindahan sang model.

Foto yang diharapkan seperti ini:

Alih-alih menangkap momen ‘rambut terurai dari air’ dengan segala keindahannya yang memukau, foto yang dihasilkan pasangan ini ternyata jauh dari yang diharapkan. Momen rambut terurai indah di pantai nan eksotis itu nyatanya tidak nampak dalam foto.

{Baca juga: Asli, 10 Foto Ini Tunjukkan Belanja Online tak Selalu Berakhir Bahagia}

Tak butuh waktu lama, foto-foto ‘rambut terurai dari air’ dari pasangan yang tengah bulan madu ini pun menjadi santapan nyinyiran netizen, dan sukses menjadi viral di media sosial.

Tapi foto-foto yang dihasilkan jadinya seperti ini (jauh dari harapan):

女網友看到丈夫拍的照片,竟然全部變成了崩壞照。(圖/陳姓女網友提供)

女網友自嘲這簡直像是崩壞的哥吉拉。(圖/陳姓女網友提供)

Netizen yang melihat gambar-gambar itu menjuluki mereka dengan candaan, ‘Godzilla Challenge’ merujuk pada film Godzilla yang baru-baru ini tayang, yakni Trailer King of The Monsters yang menampilkan raksasa muncul dari dalam air dan mengaum dengan megahnya.

{Baca juga: WhatsApp Web, Cara Pakai dan Trik Memaksimalkannya}

Beberapa netizen bahkan bercanda, dengan mempertanyakan apakah suaminya masih hidup setelah mengambil foto istrinya seperti itu. Komentar itu bahkan direspon oleh istrinya,

“Terima kasih sudah peduli dengan suamiku. Dia masih hidup!” katanya.

Well, salut buat pasangan ini karena menanggapi nyinyiran netizen dengan balas bercanda juga. Andai saja para istri dan pacar punya selera humor seperti itu, tentu dunia ini akan damai bukan. [BA/HBS]

Sumber: World of Buzz

 

 

Indonesia Kini Jadi ‘Surga‘ Bagi Tumbuhnya Stratup Digital lho!

0

Telko.id – Indonesia telah menjadi salah satu “surga” bagi tumbuhnya startup digital. Kenapa? Karena tingkat pertumbuhan  sangat pesat, bahkan lebih tinggi dari negara-negara maju di dunia. Dari Program 1000 Startupdigital, sudah terdapat 525 startup digital yang sudah bisa difasilitasi.

Sementara berdasarkan laporan Badan Ekonomi Kreatif sendiri pada akhir tahun 2018 terdapat 992 startup digital. Dan menurut laporan startupranking.com, hingga kuartal pertama 2019, di Indonesia terdapat 2.111 start up digital. Data terakhir ini menempatkan Indonesia dalam posisi ke lima negara dengan jumlah startup digital terbesar, setelah Amerika Serikat, India, Inggris, dan Kanada.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, pertumbuhan yang begitu pesat itu, khususnya di Asia Tenggara itu dilatari upaya kolaborasi pemerintah, masyarakat dan startup digital. Misalnya, melalui Grab yang mendorong startup-startup di Indonesia dan Asia Tenggara.

“Kondisi itu menggembirakan, sekaligus makin melecut pemerintah sebagai fasilitator dan akselerator digitalisasi untuk terus mengembangkan ekosistem yang mendukungnya,” jelas Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam Acara Grab Ventures Velocity Angkatan 2, di Grand Hyatt Jakarta, Senin (17/06/2019) malam.

Menteri Kominfo menegaskan Pemerintah senantiasa memberikan ruang kepada startup-startup baru di Indonesia. Terutama, startup hasil karya anak negeri.  Menteri Kominfo Rudiantara memberikan apresiasi atas inisiatif berkelanjutan dari Grab melalui program Grab Ventures Velocity ini. 

“Saya yakin, dengan bersama-sama kita daoat membangun Asia Tenggara yang lebih kuat sebagai rumah dan ekosistem bagi banyak startup yang luar biasa. Selain itu, melalui program GVV ini saya berharap agar startup Indonesia juga mampu berkompetisi secara global dan mengharumkan nama bangsa,” ucapnya.

Menteri Kominfo mengapresiasi gelaran Grab Ventures Velocity (GVV) Angkatan 2 yang mendorong akselerasi startup digital Indonesia.  “Saya sangat mengapresiasi inisiatif berkelanjutan dari Grab. Melalui program GVV ini, saya yakin bersama-sama kita membangun startup yang luar biasa,” kata Menteri Rudiantara.

Staf Ahli Organisasi, Birokrasi, dan Teknologi Informasi Kementerian Keuangan, Sudarto juga mendukung program Grab Ventures Velocity dan berharap program ini dapat memperkuat ekonomi digital Indonesia. 

“Ekonomi digital diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Kami mendukung inisiatif Grab sebagai platform untuk menumbuhkan talenta digital muda terutama di sektor pertanian dan UKM,” jelasnya.

Melalui program GVV angkatan 2 ini, Grab telah memilih 1- Startup dari dua jalur, yaitu pemberdayaan petani dan pemberdayaan usaha kecil.

Presiden of Grab Indonesia, Ridzki Kamadibrata menyebut inisiatf GVV ditargetkan untuk mendorong akselerasi jutaan startup dan pengusaha mikro untuk membangun Asia Tenggara yang lebih kuat.

“Pada angkatan pertama, kami mendukung beberapa startup di Indonesia seperti BookMyShow dan Sejasa, memberikan bimbingan untuk mencapai tujuan bisnis yang lebih baik dan menyelesaikan masalah sosial,” tuturnya.

GVV Angkatan 2 digelar dengan tema ‘Memberdayakan Pengusaha Mikro di Asia Tenggara’. Grab telah memilih 10 startup yang berasal dari kawasan Asia Tenggara. Sebanyak tujuh startup berasal dari Indonesia (Eragano, PergiUmroh, Porter, Sayurbox, Tanihub, Tamasia, dan Qoala), dua startup berasal dari Singapura (Treedots dan GLife), dan satu startup berasal dari Malaysia (MyCash Online).

Program GVV akan berlangsung selama 16 minggu setelah kesepuluh startup melakukan pitching kepada Grab. Startup yang berhasil akan mendapat kesempatan untuk berkolaborasi bersama Grab dalam bentuk pendanaan atau kemitraan komersial.

Tema itu mendukung program Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan ekosistem agritech di Indonesia. Startup GVV juga menggunakan teknologi dan analitik data yang membantu petani untuk memiliki data yang lebih baik dan dapat memprediksi hasil panen yang segar untuk di produksi, yang merupakan perhatian utama bagi semua petani.

Selain itu, ada upaya dukungan untuk solusi inovatif untuk pengusaha mikro dengan meningkatkan pendapatan mereka. Faktanya, ada lebih dari 10 juta usaha kecil di Indonesia yang telah memperluas bisnis mereka dengan penggunaan teknologi online. (Icha)

 

 

 

Proyek 4G Overlay Indosat Ooredoo Raih Penghargaan

0

Telko.id – Proyek 4G Overlay Indosat Ooredoo di tahun 2018 mendapat penghargaan dari Di Asia-Pacific Stevie Awards 2019 dengan menyabet Gold Stevie® pada kategori inovasi dalam pengembangan teknologi.

Penghargaan tersebut sebagai pengakuan upaya berkelanjutan Indosat Ooredoo untuk memperluas jaringan 4G di seluruh Indonesia, sebagai bagian dari proyek 4G Overlay, dimana seluruh sites dilengkapi dengan 4G.

Proyek ini mendorong ketersediaan 4G Indosat Ooredoo yang mencakup 80% populasi di akhir 2018 dari sebelumnya 44% di akhir 2017. Penghargaan diterima langsung oleh Chief Technology and Information Indosat Ooredoo, Dejan Kastelic di Singapura akhir Mei lalu.

Proyek 4G Overlay melibatkan pengerjaan lebih dari 10 ribu lokasi, yang selesai hanya dalam 3 bulan. Pada puncak tertinggi, proyek mencapai 1.200 sites dalam seminggu.

Selain meningkatkan jaringan, proyek ini tidak hanya menunjukkan Indosat Ooredoo untuk memberikan proyek dengan skala dan jadwal yang demikian besar, tetapi juga memberikan pelajaran berharga untuk penerapan di masa mendatang.

“Proyek 4G Overlay menjadi fondasi kuat bagi Indosat Ooredoo untuk transformasi 3 tahun yang dimulai tahun ini, dengan strategi untuk membangun jaringan berkelas video yang kompeitif,” ungkap Dejan Kastelic dalam pernyataan tertulisnya.

Dejan juga menambahkan bahwa pada tahun 2019 ini, Indosat Ooredoo akan terus meningkatkan jumlah sites 4G lebih dari 25% dari yang ada sekarang, dan akan mencakup hampir 90% pupulasi di Indonesia.

Asia-Pacific Stevie Awards adalah program penghargaan bisnis satu-satunya yang memberi penghargaan atas inovasi di tempat kerja di 29 negara dalam kawasan Asia-Pasifik. Stevie Awards secara luas dianggap sebagai penghargaan bisnis utama di dunia, yang memberikan penghargaan atas prestasi di tempat kerja dalam berbagai program seperti The International Business Awards® selama tujuh belas tahun.

Pemenang Gold, Silver dan Bronze Stevie Award ditentukan dari nilai rata-rata penilaian dari lebih 100 eksekutif di seluruh dunia yang berperan sebagai panel juri pada bulan Maret dan April 2019. Selain Indosat Ooredoo, anggota Group Ooredoo lain yang menerima penghargaan adalah Ooredoo Maldives yang menerima Silver Stevie Award untuk proyek Smart Cities dan M-Faisaa serta Ooredoo Myanmar yang menerima Bronze Stevie Award untuk proyek M-Pitesan. (Icha)

 

 

 

Jangan Ketawa! Foto Bulan Madu “Godzilla Challenge” Ini Viral

Telko.id, Jakarta – Semua orang tentu ingin mendapatkan foto terbaik pada saat momen spesial seperti bulan madu, untuk bisa dipamerkan di media sosial. Tapi untuk mendapatkan foto yang “Instagrammable” bukan perkara mudah. Alih-alih mendapat pujian, malah terkadang mendapat celaan dari netizen yang ‘julid’

Hidup di era digital dengan media sosialnya, banyak orang yang ingin foto liburan mereka tampak sempurna. Sayangnya, tidak semua orang memiliki teman fotografer profesional untuk membantu kita memastikan foto bisa terlihat sempurna secara estetika.

Meskipun kita tahu pasangan kita sudah mencoba sekuat tenaga melakukan yang terbaik, namun terkadang foto yang dihasilkan tidak pernah tepat hingga standar Instagrammable pun tidak bisa didapat.

Masalah akan menjadi semakin “ruwet”, saat foto-foto itu dipublish ke media sosial. Penilaian, atau lebih tepatnya “penghakiman” pun segera dilakukan oleh para netizen. Kalau sudah begini, tak hanya pujian yang didapat, tapi juga komentar nyinyir dari netizen harus siap ditelan.

{Baca juga: Foto-foto Ini Jadi Bukti Bahwa Nasi Adalah Segalanya}

Seperti yang dialami seorang netizen baru-baru ini yang membagikan pengalamannya difoto oleh suaminya saat sedang menikmati liburan bulan madu di Maladewa. Saat itu, sang suami yang memiliki panggilan sayang “Babi” ini memotret istrinya dengan berbagai pose.

Salah satu pose andalan yang dipotret adalah “rambut terurai dari air”, yang katanya menjadi pose favorit para wanita, terutama yang berambut panjang. Tentu saja pasangan pengantin baru ini berharap fotonya tampak seperti gambar dalam iklan shampo di tv yang menampilkan keindahan sang model.

Foto yang diharapkan seperti ini:

Alih-alih menangkap momen ‘rambut terurai dari air’ dengan segala keindahannya yang memukau, foto yang dihasilkan pasangan ini ternyata jauh dari yang diharapkan. Momen rambut terurai indah di pantai nan eksotis itu nyatanya tidak nampak dalam foto.

{Baca juga: Asli, 10 Foto Ini Tunjukkan Belanja Online tak Selalu Berakhir Bahagia}

Tak butuh waktu lama, foto-foto ‘rambut terurai dari air’ dari pasangan yang tengah bulan madu ini pun menjadi santapan nyinyiran netizen, dan sukses menjadi viral di media sosial.

Tapi foto-foto yang dihasilkan jadinya seperti ini (jauh dari harapan):

女網友看到丈夫拍的照片,竟然全部變成了崩壞照。(圖/陳姓女網友提供)

女網友自嘲這簡直像是崩壞的哥吉拉。(圖/陳姓女網友提供)

Netizen yang melihat gambar-gambar itu menjuluki mereka dengan candaan, ‘Godzilla Challenge’ merujuk pada film Godzilla yang baru-baru ini tayang, yakni Trailer King of The Monsters yang menampilkan raksasa muncul dari dalam air dan mengaum dengan megahnya.

{Baca juga: WhatsApp Web, Cara Pakai dan Trik Memaksimalkannya}

Beberapa netizen bahkan bercanda, dengan mempertanyakan apakah suaminya masih hidup setelah mengambil foto istrinya seperti itu. Komentar itu bahkan direspon oleh istrinya,

“Terima kasih sudah peduli dengan suamiku. Dia masih hidup!” katanya.

Well, salut buat pasangan ini karena menanggapi nyinyiran netizen dengan balas bercanda juga. Andai saja para istri dan pacar punya selera humor seperti itu, tentu dunia ini akan damai bukan. [BA/HBS]

Sumber: World of Buzz

 

 

Viral! Pose Ini jadi Gaya Andalan Selebriti di Instagram

Telko.id, Jakarta – Mau tau tren gaya pose terbaru di Instagram? Ya! Jawabannya adalah pose flamingo. Akhir-akhir ini pose tersebut menjadi tren pose terbaru di Instagram, dan bahkan para selebritis pun menyukai dan mengikutinya.

Pose tersebut hampir “memenuhi” seluruh feed pengguna Instagram. Pose ini sendiri mengharuskan mereka untuk mengangkat satu kaki dan ditekuk di atas lutut, mirip seperti burung Flamingo.

Agar mudah menirukan pose ini dengan mudah, cukup melakukannya sambil bersandar pada sesuatu seperti dinding. Nah, biar lebih “instagramable”, coba pose di balkon yang menghadap lautan.

{Baca juga: Kesal, YouTuber Ini Pamer Foto Editan Liburan Keliling Eropa}

Pose flamingo sudah dilakukan oleh para selebriti papan atas internasional, seperti Hailey Bieber, Gigi Hadid, Winnie Harlow, hingga Beyoncé.

{Baca juga: Pemohon Visa AS Kini Wajib Lampirkan Akun Media Sosial}

Dilansir dari Mirror, pada Rabu (19/06/2019), sebagian besar para selebriti ini memamerkan kaki jenjang mereka, dan berpose dengan pakaian pendek atau gaun mini. Sebelum pose ini viral, para selebriti sempat mempopulerkan “pose migrain”.

Mereka berpose dengan satu tangan menempel di kepala mereka, seolah-olah mereka menderita sakit kepala atau migrain. Bagaimana para warganet Instagram, sudah melakukan pose ini dan mengunggahnya? (BA/FHP)

Sumber: Mirror

Pengguna Facebook dan Instagram di Indonesia Didominasi Laki-laki

Telko.id, Jakarta – Berdasarkan studi, sebagian besar pengguna Facebook dan Instagram di Indonesia didominasi oleh laki-laki. Studi ini dilakukan oleh Cuponation, sebuah situs informasi diskon dan kupon online.

Melalui keterangan resmi yang diterima tim Telko.id pada Rabu (19/06/2019), pengguna Facebook di Indonesia didominasi oleh laki-laki dengan selisih hingga 11% lebih banyak apabila dibandingkan dengan pengguna perempuan.

Jika dilihat berdasarkan demografi, pengguna Facebook terbanyak berada kalangan umur 18 sampai 34 tahun untuk perempuan, dan 25 sampai 34 tahun untuk laki-laki.

Sama halnya dengan Facebook, jumlah pengguna Instagram di Indonesia juga didominasi oleh laki-laki dengan selisih 1,9% lebih banyak. Rentang usia pengguna Instagram terbanyak berasal dari rentang usia 18 sampai 24 tahun.

{Baca juga: Jumlah Warganet Facebook Indonesia Terbanyak Keempat di Dunia}

Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang menjadi “penyumbang” terbanyak untuk urusan jumlah pengguna Facebook dan Instagram. Total, warganet Facebook dan Instagram asal Indonesia menempati posisi empat besar di dunia.

Total pengguna Facebook asal Indonesia mengalahkan Meksiko, Filipina, Vietnam, dan Thailand dengan total 120 juta pengguna atau sekitar 44,94% dari populasi.

Sementara untuk Instagram, Indonesia juga menempati posisi empat besar dengan mengalahkan Rusia, Turki, Jepang, dan Inggris dengan jumlah 56 juta atau sekitar 20,97% dari populasi.

Dalam studinya juga, Cuponation merilis studi soal aplikasi chatting populer di Indonesia. WhatsApp menjadi aplikasi paling populer di Indonesia dengan tingkat penetrasi 83%.

Disusul oleh Line dan Facebook Messenger dengan masing-masing 59% dan 47%. Lalu, ada Blackberry Messenger (BBM) di urutan keempat dengan tingkat penetrasi 38%, dan WeChat di posisi kelima sebesar 28%.

Studi ini dikutip dari beberapa sumber dari World Population Review dan Census. Rata-rata pengguna Facebook dan Instagram di Indonesia dihitung berdasarkan data yang diambil dari NapoleonCat untuk periode Januari 2019 sampai April 2019. (NM/FHP)