Telko.id – David Marcus, Kepala Calibra Facebook akhir nya bicara juga tentang berbagai kritik yang sempat dilontarkan berbagai pihak atas rencana Facebook untuk meluncurkan Libra, uang digital Facebook.
Memang semenjak rencana Facebook akan meluncurkan Libra itu, banyak pihak yang mengkritik. Mulai dari Senat AS, termasuk Presiden AS Donald Trump. Intinya, banyak yang tidak percaya terhadap uang digital Libra tersebut.
Pasalnya, Facebook sudah beberapa kali diterpa skandal, sehingga diharapkan perusahaan tersebut membersihkan internal nya terlebih dahulu sebelum mengeluarkan bisnis barunya.
Hal tersebut diungkapkan oleh senator Sherrod Brown dari Senat Komite Perbankan AS. “Perusahaan telah menunjukkan “melalui skandal demi skandal bahwa itu tidak layak untuk kepercayaan kita”, kata senator Sherrod Brown.
Bahkan Trump pada tweet nya menyebutkan
“Saya bukan penggemar Bitcoin dan Cryptocurrency lainnya, yang bukan uang, dan yang nilainya sangat fluktuatif dan didasarkan pada udara yang tipis. Aset Crypto yang tidak diatur dapat memfasilitasi perilaku yang melanggar hukum, termasuk perdagangan narkoba dan kegiatan ilegal lainnya ….
Demikian pula, “mata uang virtual” Libra Facebook hanya memiliki sedikit kedudukan atau ketergantungan. Jika Facebook dan perusahaan lain ingin menjadi bank, mereka harus mencari Piagam Perbankan baru dan menjadi tunduk pada semua Peraturan Perbankan, sama seperti Bank lain, baik National …
dan Internasional. Kami hanya memiliki satu mata uang nyata di AS, dan lebih kuat dari sebelumnya, baik diandalkan maupun dapat diandalkan. Ini adalah mata uang yang paling dominan di dunia, dan akan selalu seperti itu. Ini disebut Dolar Amerika Serikat!
Demikian yang disampaikan oleh Trump dalam Twitter nya.
Menanggapi itu semua, Marcus menyatakan bahwa memang mereka membutuhkan waktu untuk mendapatkan hak nya untuk meluncurkan Libra.
“Kami tahu kami perlu meluangkan waktu untuk mendapatkan hak ini,” kata Marcus, seperti dikutip dari BBC.
Marcus pun menambahkan “Saya tahu kita harus mendapatkan kepercayaan orang untuk jangka waktu yang sangat lama”.
Markus juga berjanji, bahwa Asosiasi Libra – badan yang seharusnya independen yang bertugas mengelola mata uang – hanya akan membagikan data pelanggan dengan Facebook dan pihak ketiga eksternal jika ia memiliki persetujuan, atau dalam “kasus terbatas”, di mana diperlukan.
Marcus sempat juga mengatakan dalam persidangan dengan para Senat AS bahkan “Cara kami membangun ini adalah untuk memisahkan data sosial dan keuangan karena kami telah mendengar dengan keras dan jelas bahwa mereka tidak ingin kedua jenis aliran data terhubung, jadi inilah cara sistem dirancang”.
“Facebook hanya akan memiliki satu suara dan tidak akan berada dalam posisi untuk mengendalikan asosiasi, juga tidak akan Facebook atau Asosiasi Libra memposisikan diri untuk bersaing dengan mata uang berdaulat atau mengganggu kebijakan moneter,” katanya.
Libra Association sendiri adalah organisasi berbeda yang akan mengatur mata uang kripto tersebut. Asosiasi ini berbasis di Swiss dan akan dipantau oleh pemerintah Swiss. Meski begitu, Marcus menjanjikan kalau Libra akan tunduk pada undang-undang anti pencucian uang Amerika Serikat.
Jika nantinya Libra dilarang untuk muncul, menurut Marcus hal itu hanya akan memicu kemunculan mata uang kripto lain yang malah tak bisa dipertanggungjawabkan.
“Saya percaya jika Amerika tidak memimpin inovasi mata uang digital, maka yang lain akan (membuatnya). Jika kita gagal untuk bertindak, kita dalam waktu dekat akan melihat mata uang digital yang dikontrol oleh pihak lain yang nilainya akan sangat berbeda,” ujar Marcus.
Marcus pun meyakinkan kalau Facebook tak berencana mencari keuntungan dari mata uang digital. Ia pun menjanjikan kalau informasi akun dan finansial nasabah Libra tak akan dibagikan ke Facebook, dan tak akan menjadi target iklan bagi Facebook.
Libra rencananya akan diluncurkan pada 2020 mendatang. Namun, adanya pernyataan Marcus tersebut, ada kemungkinan, akan tertunda peluncurannya. Sampai kapan? Sampai Facebook bisa mendapatkan kepercayaan banyak pihak terkait uang digital nya tersebut.(Icha)



Rilis di tahun 2018 lalu, Xiaomi Redmi Note 5 AI masih jadi favorit para konsumen. Dibanderol dengan harga 1,7 jutaan, smartphone tersebut merupakan perkembangan dari tipe Note 5 Pro yang pastinya telah ditingkatkan performanya.
Selanjutnya ada Xiaomi Redmi 7 hanya dilabeli dengan harga 1,5 jutaan saja, meski fitur yang ditawarkan lebih canggih dari seri Xiaomi sebelumnya. Fitur menarik yang akan Anda dapatkan yaitu Low Blue Light, yang dapat membuat Anda lebih nyaman menatap layar meski dalam jangka waktu yang cukup lama.
Diluncurkan tahun lalu, Xiaomi Mi A2 Lite bisa Anda dapatkan dengan budget sekitar 1,7 juta rupiah. Poin yang membedakan ponsel tersebut dengan seri-seri yang telah rilis sebelumnya yaitu adanya triple slot, yang dapat Anda manfaatkan untuk mengakses microSD tanpa harus melepas salah satu SIM card.
Dipasarkan dengan harga kurang lebih 1,5 juta, Samsung Galaxy J4 mampu menarik banyak konsumen dengan layar AMOLED 6,4 inci, resolusi HD, serta Notch. Ultra Wide Camera 123 derajat menjadi keunggulan tersendiri dari ponsel tersebut, karena dapat memberikan Anda hasil tangkapan gambar yang lebih luas.
Menjadi saudara untuk OPPO tipe F lainnya, kamera dalam ponsel pintar tersebut menjadi daya tarik utama yang mampu memikat konsumen. Dengan kredit ponsel Oppo harga 1,5 jutaan, Anda dapat mendapatkan hasil jepretan foto yang baik meski dalam kondisi low light. Tak hanya itu, dengan resolusi sebesar 20 megapiksel pada kamera depan, hasil selfie pun akan jadi lebih jernih dengan warna yang tajam.
Tak kalah dengan ponsel Oppo lain yang memiliki tampilan keren, OPPO A5s juga hadir dengan fisik yang mewah, meski hanya dibanderol dengan harga tak sampai 2 juta. Keunggulan dari OPPO A5s yaitu fitur Smart Bar yang berfungsi untuk menangkap layar gameplay serta membalas pesan meski tengah membuka aplikasi permainan. Jika Anda adalah seorang gamer, pastinya fitur tersebut akan sayang untuk dilewatkan, bukan?