Telko.id, Jakarta – Pada awal Agustus lalu, Oppo K3 resmi diluncurkan dan dijual khusus secara online di Lazada. Harga Oppo K3 di Tanah Air mencapai Rp 3,5 jutaan, dan smartphone ini memberikan berbagai keunggulan, terutama soal desain, spesifikasi dan juga kameranya.
Tim Telko.id sendiri telah mencoba smartphone ini, khususnya menjajal langsung kemampuan kameranya yang punya konfigurasi mumpuni.
Asal tahu saja, Oppo K3 punya dua kamera di bagian belakang dengan resolusi 16MP aperture f/1.7 dan 2MP lensa depth dengan aperture f/2.4. Sementara kamera depan, K3 disematkan lensa 16MP aperture f/2.0.
Seluruh kamera smartphone ini didukung oleh fitur berbasis Artificial Intelligence (AI). Seperti kamera belakang, punya fitur Ultra Night Mode 2.0 sampai Artistic Portrait Mode.
Sedangkan kamera depan, ada fitur Portrait Mode 2.0 dan AI Beauty. Berikut, beberapa hasil foto yang kami ambil menggunakan kamera Oppo K3 menggunakan mode otomatis dan dibantu fitur AI Scene Recognition yang bisa mengidentifikasi dan mengubah pengaturan foto secara otomatis:
Dari hasil foto-foto di atas, bisa terlihat kalau foto yang ditangkap kamera belakang Oppo K3 punya kualitas yang baik dan keren. Kemampuan lensa K3 yang dipadu dengan AI Scene Recognition, sukses menampilkan foto-foto berkualitas.
Detail dan komposisi warnanya bagus, meskipun dalam beberapa kali, kami mengambil gambar di kondisi cahaya remang-remang. Apabila foto diperbesar 50% (menggunakan aplikasi Photoscape), detail dan warna objek foto masih bisa dinikmati dengan baik.
1. Foto setelah diperbesar 50%
Sementara untuk kamera depannya, memang K3 tidak menggunakan konsep Pivot Rising Camera ala Reno Series. Ya, Oppo K3 tetap mengusung kamera pop-up ala Oppo F11 Pro.
Seperti F11 Pro maupun Reno Series, Pivot Rising Camera juga punya Fall Detection yang memanfaatkan sensor gyroscope di Reno. Fitur ini Bisa mendeteksi saat smartphone jatuh, dan otomatis kamera akan menutup dengan sendirinya.
Nah, untuk kualitasnya, berikut beberapa hasil foto selfie yang kami ambil menggunakan kamera depan Oppo K3:
Kamera smartphone ini hasilkan foto selfie yang bagus. Alasannya, tentu saja karena kualitas kamera yang juga dikombinasikan dengan teknologi berbasis AI di dalamnya.
Teknologi ini mampu secara otomatis memperhalus wajah, memberikan tone warna, sampai meningkatkan detail wajah tergantung jenis kelamin dari penggunanya. Jadi bagi pengguna laki-laki, maka detail seperti kantong mata, alis, kumis, dan lainnya masih terlihat dengan baik.
Membahas soal spesifikasinya, smartphone ini memiliki layar berukuran 6,5 inci berjenis OLED dengan resolusi Full HD+. Karena layarnya berjenis OLED, Oppo K3 pun disematkan teknologi in-display fingerprint dengan respon yang cepat.
Smartphone tersebut ditopang oleh prosesor octa-core 2.2 GHz Snapdragon 710, RAM 6GB, ROM 64GB, baterai berkapasitas 3,765 mAh, dan sistem operasai ColorOS 6 berbasis Android Pie. Seperti Reno Series, baterai smartphone ini telah mendapatkan dukungan fast charging VOOC Flash Charge 3.0. (FHP)
Telko.id, Jakarta – Pop up cameraatau kamera tersembunyi seperti telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari desain smartphone belakangan ini. Paling tidak dalam dua atau tiga terakhir. Bisa dibilang, ini adalah trend terbaru lainnya, setelah kamera belakang ganda dan layar berponi yang telah lebih dulu menjadi konsumsi sejuta umat.
Mekanisme pop up sendiri sebenarnya bukan lagi cerita baru di ranah kamera. Kita tentu tidak lupa bagaimana lampu flash di beberapa kamera kompak akan nongol begitu diberi aba-aba, bukan? Dia akan naik begitu diaktifkan, lalu turun ketika dimatikan. Ini bukan ide baru. Namun, tidak demikian di dunia smartphone. Ini adalah sebuah penemuan yang relatif baru, dan mereka telah mulai diterapkan di hampir semua merek smartphone. Oppo, salah satunya.
Dan ini bukan baru satu dua kali saja, atau pada satu atau dua unit smartphone-nya saja. Oppo melakukan ini sejak jauh-jauh hari. Tahun 2018 lalu tepatnya, ketika perusahaan merilis sebuah ponsel bernama Find X. Kini, ketika tren kamera pop up kian memanas, Oppo semakin tak bisa diam. Dari apa yang disebut 3D Stealth Camera, hingga Pivot Rising Camera, berikut adalah jajaran smartphone Oppo yang membekali diri dengan kamera selfie pop up.
1. Oppo Find X
Di awal kemunculannya, Oppo Find X tak dimungkiri menjadi salah satu smartphone terkeren berkat dukungan kamera pop up, atau slider?, yang disebutnya sebagai 3D Stealth Camera. Ini adalah sebuah teknologi mekanik yang “menyembunyikan” kamera depan, kamera belakang serta komponen Oppo Find X lainnya, di dalam body smartphone. Ketika pengguna tidak menggunakan kamera, maka komponen tersebut akan hilang. Pun demikian sebaliknya.
Lantas, berapa banyak kemampuan yang ditempatkan Oppo dibalik mekanisme kamera uniknya ini? Diluar kamera ganda dengan dukungan teknologi berbasis kecerdasan buatan, kamera di badan Find X masing-masing membawa resolusi 20MP dengan aperture f/2.0 dan 16MP dengan aperture f/2.0. Ini juga didukung teknologi PDAF dan Optical Image Stabilization (OIS). Kamera depannya, punya resolusi 25MP aperture f/2.0 serta didukung teknologi 3D AI Beauty Technology, dan AI Potrait Mode.
2. Oppo F11 Pro
Sementara beberapa tetangganya menyebut modul kamera nongol dengan sebutan pop up, Oppo lebih suka memanggilnya rising camera. Dan inilah yang dibawa oleh F11 Pro ketika pertama kali muncul.
Modul kamera ini sendiri bekerja layaknya kamera pop up lainnya, muncul ketika aplikasi kamera depan dibuka. Mekanisme ini diterapkan salah satunya demi mengurangi keriuhan di bagian layar, yang akhirnya memperbesar bezel. Ketika dibutuhkan, kamera dengan teknologi motoris inipun akan muncul melalui bingkai perangkat di bagian atas.
Sensor cahaya diletakkan Oppo di tempat yang sangat aman, jika tidak tersembunyi, yakni di dalam lubang speaker yang terletak diantara tepi frame dan permukaan kaca, dengan ketebalan 0,5mm. Sementara sensor infrared diletakkan di bawah luar untuk menyiasati permasalahan ketika menggunakan notch dengan tipe waterdrop. Kamera pop up sendiri diplot untuk berada di bagian tengah dan bukannya sisi kiri apalagi kanan.
3. Oppo Reno dan Oppo Reno 10x Zoom
Ada 3D Stealth Camera, ada juga Pivot Rising Camera, yang ditanamkan Oppo baik di badan Reno versi standar maupun 10x zoom. Secara garis besarnya sih keduanya sama. Sama-sama masuk kategori pop up, hanya saja mekanisme yang diadopsi berbeda. Nah, jika 3D Stealth Camera yang ada di badan Oppo Find X muncul dengan menampakkan keseluruhan bagian atas badannya, di pivot rising camera, yang muncul hanya sebagian sisi saja ketika aplikasi dibuka. Alhasil, modul kamera depan ini pun hampir sama dengan sirip ikan.
Di bagian belakang modul kamera berukuran 16 MP ini kita akan menemukan LED flash yang bisa dimanfaatkan ketika menjepret foto low-light. Kamera belakang ini juga sama menariknya, lantaran Oppo memilih meletakkan hardware di bawah Gorilla Glass. Desain ini membuatnya berbeda dengan kebanyakan smartphone, dimana biasanya pada sisi kamera akan lebih menonjol. Sebagai pelengkap, ada konfigurasi 48MP (sensor Sony IMX586) dengan aperture f/1.7, dan lensa depth 5MP aperture f/2.4.
4. Oppo K3
Oppo K3, boleh dibilang adalah perangkat paling baru yang dimiliki Oppo saat ini (di Indonesia lebih tepatnya). Setidaknya sampai keluarga Reno series lainnya benar-benar datang.
Sama seperti saudara satu perusahaannya, smartphone ini juga punya kamera pop-up mekanis. Bedanya, kamera itu tidak mirip dengan Pivot Rising Camera yang dimiliki Reno Series. Ini lebih mirip dengan apa yang ada di Oppo F11 Pro. Meski begitu, sentuhan kamera pop up di Oppo K3 tampak lebih premium dan berbeda.
Di bagian belakang, K3 menganut desain simetris ala Reno Series. Posisi kamera ganda, LED Flash, sampai logo Oppo ditempatkan di bagian tengah bodi. Warnanya juga cenderung premium dengan dua pilihan warna, yaitu Jade Black dan Pearl White yang melapisi body-nya yang berbahan dasar kaca.
Sektor kameranya didukung sistem kamera ganda di bagian belakang dengan resolusi 16MP aperture f/1.7 dan 2MP lensa depth aperture f/2.4. Kedua kamera itu sudah disematkan fitur-fitur berbasis Artificial Intelligence (AI) bernama Ultra Night Mode 2.0 sampai Artistic Portrait Mode. Di bagian depan, ada kamera 16MP aperture f/2.0 yang didukung dengan fitur Portrait Mode 2.0 dan juga AI Beauty.
5. Oppo Reno 2
Resmi dirilis hari ini, Reno 2 sama seperti pendahulunya, membawa serta kamera pop up di badannya. Modelnya juga sama, pivot rising camera. Bedanya, Reno 2 punya empat kamera dengan konfigurasi lensa utama 48MP aperture f/1.7 dengan sensor Sony IMX586, lensa wide 8MP, lensa telephoto 13MP, dan lensa monochrome 2MP. Di bagian depan, perangkat ini memiliki kamera 16MP.
6. Oppo Reno 2Z
Seperti saudaranya yang lain, Reno 2Z juga punya kamera depan pop up. Bedanya, tidak mengadopsi Pivot Rising Camera, melainkan hanya kamera pop up standar seperti Oppo F11 Pro. Lensa utama yang dibawanya sama seperti Reno 2, yaitu 48MP Sony IMX586. Tapi konfigurasi dari tiga kamera lainnya berbeda, dimana Reno 2Z menggunakan lensa wide 8MP, lensa monochrome 2MP, dan lensa portrait atau depth 2MP. Di kamera depan, Reno 2Z memiliki resolusi 16MP.
7. Oppo Reno 2F
Di keluarga Reno 2, seri 2F bisa dibilang merupakan smartphone “terendah”, lantaran hanya ditenagai oleh prosesor MediaTek Helio P70, RAM 8GB, memori penyimpanan 128GB, dan baterai 4,000 mAh dengan VOOC 3.0. Namun demikian mekanisme kamera depan yang diadopsinya sama dengan Oppo Reno 2Z. 2F punya lensa 48MP dengan aperture f/1.7. Tapi, sensor yang digunakan bukanlah Sony, melainkan Samsung ISOCELL GM1, lensa wide 8MP, lensa monochrome 2MP, dan lensa depth 2MP.
Telko.id – Untuk menyediakan infrastruktur telekomunikasi berbasis fiber optic memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Ditambah lagi, perijinan dan lain-lainnya. Untuk mempercepat penetrasi dan meningkatkan kualitas, maka kerjasama menjadi salah satu solusi. Seperti yang dilakukan Link Net yang menyewa infrastruktur Fiber Media Indonesia.
Langkah ini memungkinkan Link Net untuk mengakses tiang tumpu milik Fiber Media Indonesia yang berjumlah 140.000 atau sekitar 5.600 kilometer (Km) yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Begitu juga dengan pihak Fiber Media Indonesia yang bisa mengakses sekitar 300.000 tiang tumpu milik Link Net. Adapun sistem yang disepakati melalui kerja sama ini adalah menyewa.
“Dengan kerja sama ini, dari sisi time to market atau menjangkau pelanggan baru akan menjadi lebih cepat. Kita tidak perlu lagi membangun tiang tumpu dari awal, belum lagi proses perizinan yang lama. Dari sisi capex, biaya yang dikeluarkan juga menjadi lebih efisien. Tinggal memanfaatkan tiang tumpu yang sudah ada milik Fiber Media Indonesia untuk menggelar kabel,” kata Marlo Budiman, Presiden Direktur dan CEO Link Net usai acara penandatanganan kerja sama antara Link Net Tbk dengan Fiber Media Indonesia di Jakarta (29/08).
Dikatakan Marlo, kerja sama dengan Fiber Media Indonesia ini menyediakan jalur pertumbuhan yang lebih luas di wilayah Jabodetabek, dan memungkinkan layanan First Media lebih mudah dalam menjangkau Iebih banyak pelanggan residensial maupun korporasi hingga ke lokasi terdekat dengan pelanggan.
Ke depannya, kerja sama ini akan dikembangkan hingga ke pemanfaatan subduct bersama (jaringan kabel fiber optic bersama di bawah tanah) sesuai dengan arah kebijakan pemerintah daerah dan kota dengan melakukan efektivitas pemakaian tiang tumbuh dan mulai melakukan pemindahan jaringan fiber optic dari tiang tumpu ke jaringan bawah tanah.
“Selain lebih efisiensi, tentunya kerja sama ini bisa semakin meningkatkan kehandalan layanan. Kami harapkan ini juga semakin menyempurnakan wilayah cakupan First Media dan Fiber Media Indonesia dengan kecepatan dan kehandalan yang tinggi,” tambah Direktur Fiber Media Indonesia, Budi Aditya.
Kerjasama ini difokuskan di Jabodetabek dan kedepan tidak tertutup kemungkinan akan dikembangkan ke seluruh Indonesia. Hal ini merupakan penetrasi dan manuver kedua perusahaan untuk menyambut Industri 4.0 yang semua serba digital. Karena kita semua menyadari Industri 4.0 ini tidak dapat berjalan dengan baik ketika Infrastrukturnya tidak mendukung. Semoga dalam kerjasama ini, dapat tercipta sinergitas yang baik. Sehingga kebutuhan costumer dapat terdeliver dengan baik dan stabil. Dan tentunya semakin luas coverage area yang dimiliki. (Icha)
Telko.id, Jakarta – Redmitelah resmi meluncurkan duo suksesor dari Redmi Note 7, yaitu Redmi Note 8 dan Redmi Note 8 Pro. Kedua smartphone ini mengusung spesifikasi handal, dan dilepas dengan harga yang juga “ramah kantong” atau terjangkau.
Dikutip Telko.id dari GSMArena, Jumat (30/08/2019), Redmi Note 8 merupakan smartphone mumpuni dengan harga terjangkau. Sementara Note 8 Pro, diklaim sebagai smartphone resmi pertama di dunia dengan kamera 64MP.
Wajar saja Note 8 disebut sebagai smartphone bagus dengan harga murah. Pasalnya, harga Redmi Note 8 mulai dari USD 140 atau Rp 1,9 jutaan untuk versi terendahnya hingga USD 195 atau Rp 2,7 jutaan untuk varian tertingginya.
Di rentang harga tersebut, Redmi menyematkan prosesor bertenaga untuk smartphone-nya. Note 8 ditopang oleh prosesor octa-core 2.2 GHz Snapdragon 665 (11 nm), RAM 4GB/6GB, memori internal 64GB/128GB, dan baterai berkapasitas 4,000 mAh dengan dukungan fast charging 18W.
Layarnya berukuran 6,3 inci berjenis IPS LCD dengan resolusi Full HD+. Sementara untuk kameranya, Note 8 punya empat kamera belakang dengan konfigurasi 48MP lensa utama Samsung ISOCELL GM2, 8MP lensa wide, 2MP lensa macro, dan 2MP lensa depth, serta satu kamera depan 13MP.
Untuk Redmi Note 8 Pro, smartphone ini resmi menjadi smartphone pertama di dunia dengan lensa utama 64MP. Smartphone tersebut menggunakan sensor Samsung ISOCELL Bright GW1, mirip Realme XT yang belum diluncurkan.
Kamera itu dipadukan dengan tiga lensa lain yang punya konfigurasi sama dengan Note 8 “standar”. Versi pro ini juga disematkan kamera depan dengan resolusi lebih besar, tepatnya 20MP yang didukung fitur berbasis Artificial Intelligence (AI).
Secara spesifikasi, layar Note 8 Pro berukuran 6,53 inci berjenis IPS LCD beresolusi Full HD+. Dapur pacunya menggunakan MediaTek Helio G90T, RAM 6GB/8GB, memori internal 64GB/128GB, dan baterai 4,500 mAh dengan fast charging 18W.
Karena menggunakan prosesor khusus smartphone gaming, maka Redmi menyematkan ruang liquid cooling pada smartphone andalannya tersebut. Sehingga, pengguna bisa mendapatkan pengalaman maksimal ketika bermain game favorit mereka.
Note 8 Pro akan dibanderol dengan harga USD 195 atau Rp 2,7 jutaan untuk versi terendah, dan USD 250 atau Rp 3,5 jutaan untuk model tertingginya. Kedua smartphone tersebut segera dijual perdana pada September mendatang. (FHP)
Telko.id – Sehubungan dengan aksi penyampaian pendapat di kota Jayapura pada tanggal 29 Agustus 2019, layanan telepon dan SMS Telkomsel di sejumlah titik di Papua sempat mengalami gangguan. Hal ini terjadi karena ada yang memotong kabel utama jaringan optik Telkomsel yang mengakibatkan matinya seluruh layanan telekomunikasi di beberapa wilayah Jayapura. Namun, kini (30/08) layanan berangsung pulih.
“Telkomsel akan terus berupaya melakukan percepatan pemulihan layanan telepon dan SMS secara optimal,” ungkap Denny Abidin, VP Corporate Communications Telkomsel dalam statemen holding yang diterima Telko.id.
Untuk saat ini, Telkomsel akan fokus menjalankan kegiatan pengamanan dan penjagaan aset Telkomsel sekaligus Telkom Group. Telkomsel juga akan terus memberikan perkembangan terbaru mengenai kondisi aset-aset Telkomsel dan Telkom Group, terutama di wilayah yang terdampak.
Untuk saat ini, kantor layanan Telkomsel (GraPARI) di kota Jayapura belum dapat beroperasi hingga waktu yang belum dapat ditentukan. Namun pelanggan tetap dapat memanfaatkan layanan call center di nomor 188.
“Bagi Telkomsel, keamanan dan keselamatan karyawan beserta keluarganya merupakan hal terpenting bagi Telkomsel. Kami juga terus berkoordinasi secara intensif dengan Kemenkominfo, Pemerintah, TNI, serta aparat penegak hukum,” tambah Denny.
Upaya tersebut dilakukan untuk membantu pengamanan serta perbaikan di ruang terbuka umum dalam proses percepatan pemulihan jaringan telekomunikasi serta memastikan perlindungan karyawan Telkomsel beserta keluarganya berjalan lancar.
Mengacu pada siaran pers NO. 159/HM/KOMINFO/08/2019 pada tanggal 23 Agustus 2019, mengenai pemblokiran sementara layanan Data Telekomunikasi di propinsi Papua dan Papua Barat, masih berlanjut hingga suasana Tanah Papua kembali kondusif dan normal, maka Telkomsel sebagai operator penyedia layanan telkomunikasi mengikuti perintah yang telah ditetapkan pemerintah tersebut.
Telkomsel senantiasa melakukan pemantauan kualitas layanan secara berkala hingga nanti diputuskan oleh pemerintah untuk pemulihan akses layanan data.
Sebelumnya, dikabarkan juga bahwa adanya kebakaran Gedung Layanan TelkomGroup di Koti.
“Telkomsel berharap agar situasi di tanah Papua dapat kembali normal, demi kepentingan masyarakat luas,” tutup Denny. (Icha)
Telko.id, Jakarta – Menkominfo Rudiantara menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di Jayapura, Papua. Menurutnya, gangguan layanan SMS dan telepon terjadi karena ada oknum yang memotong kabel utama jaringan optik Telkomsel di Jayapura.
“Yang terjadi di Jayapura, ada yang memotong kabel utama jaringan optik Telkomsel yang mengakibatkan matinya seluruh layanan telekomunikasi di beberapa wilayah Jayapura,” ujar Menkominfo, dalam keterangan resmi yang diterima tim Telko.id pada Kamis (29/08/2019) malam.
Ia menyatakan, selama ini pemerintah tidak melakukan pemblokiran terhadap layanan telepon dan SMS di sana. Hanya saja, kebijakan pemerintah hanya melakukan pembatasan atas layanan data.
{Baca juga: Massa Demo Ricuh, Kantor Telkom Jayapura Dibakar}
“Sementara layanan suara baik menelpon atau ditelepon, serta SMS baik mengirim dan menerima tetap difungsikan,” kata Rudiantara.
Pria yang kerap disapa Chief RA itu menjelaskan, bahwa saat ini Telkomsel sedang berusaha untuk memperbaiki kabel utama jaringan optik yang diputus atau melakukan pengalihan trafik agar layanan suara dan SMS bisa segera difungsikan kembali.
Pemerintah juga sedang berkoordinasi dengan kepolisian RI dan TNI untuk membantu pengamanan perbaikan di ruang terbuka.
“Kami juga sudah koordinasi dengan POLRI/TNI untuk membantu pengamanan perbaikan di ruang terbuka,” jelas Chief RA.
Sebelumnya, kerusuhan yang terjadi di Papua mulai mengincar perusahaan telekomunikasi yang beroperasi disana. Kantor Telkom Indonesia yang berada di Kota Jayapura, Papua menjadi korban pembakaran yang dilakukan oleh massa demo yang ricuh.
{Baca juga: Kantor Telkom Dibakar, Layanan Grapari Telkomsel Jayapura Tutup}
Seperti dikutip dari kantor berita Antara mengabarkan bahwa dari kantor berita Antara terlihat dari kejauhan Kantor Pos dan Kantor Telkomsel Jayapura terbakar.
“Antara juga melihat dari kejauhan Kantor Pos dan Kantor Telkomsel Jayapura terbakar. Massa juga membakar mobil di jalan serta melempari gedung pertokoan dan perkantoran,” tulis Antara. (NM/FHP)
Telko.id, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memberikan pernyataan terkait penyebab gangguan jaringan di Jayapura, Papua. Menkominfo Rudiantara mengatakan, pemerintah tidak pernah melakukan pembatasan layanan SMS dan telepon.
Dalam keterangan resmi yang diterima tim Telko.id pada Kamis (29/08/2019) malam, pemerintah hanya melakukan pembatasan atas layanan data saja.
“Kebijakan pemerintah hanya melakukan pembatasan atas layanan data atau tidak ada kebijakan blackout. Sementara layanan suara serta SMS tetap difungsikan,” kata Rudiantara dalam keterangan resminya.
{Baca juga: Kantor Telkom Dibakar, Layanan Grapari Telkomsel Jayapura Tutup}
Pria yang akrab disapa Chief RA itu pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di Jayapura.
“Yang terjadi di Jayapura, ada yang memotong kabel utama jaringan optik Telkomsel yang mengakibatkan matinya seluruh layanan telekomunikasi di beberapa wilayah Jayapura,” jelasnya.
Chief RA mengatakan, Telkomsel saat ini sedang memperbaiki kabel yang diputus secara ilegan atau mengalihkan trafik agar layanan telekomunikasi bisa berfungsi kembali.
Pemerintah juga sedang berkoordinasi dengan kepolisian RI dan TNI untuk membantu pengamanan perbaikan di ruang terbuka.
{Baca juga: Massa Demo Ricuh, Kantor Telkom Jayapura Dibakar}
Seperti dikutip dari kantor berita Antara mengabarkan bahwa dari kantor berita Antara terlihat dari kejauhan Kantor Pos dan Kantor Telkomsel Jayapura terbakar.
“Antara juga melihat dari kejauhan Kantor Pos dan Kantor Telkomsel Jayapura terbakar. Massa juga membakar mobil di jalan serta melempari gedung pertokoan dan perkantoran,” tulis Antara. (NM/FHP)
Telko.id, Jakarta – PT Link Net Tbk selaku pemegang merek First Media, menargetkan 65 ribu pelanggan baru di tahun 2019. Saat ini, First Media telah memiliki 617 ribu pelanggan yang memakai jasa TV Kabel dan Fixed Broadband Cable Internet, yang tersebar di Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Bali, Medan, Solo, dan Semarang.
Presiden Direktur dan CEO Link Net, Marlo Budiman berharap, jumlah pelanggan mereka di tahun ini bertambah.
“Per Juni 2019 ada 617 ribu pelanggan. Kami berharap di tahun ini ada 65 ribu pelanggan First Media yang baru,” kata Marlo di Jakarta, Kamis (29/08/2019).
{Baca juga: Tingkatkan Jangkauan di Jabodetabek, First Media Gandeng Fiber Media}
Sejumlah strategi dilakukan oleh perusahaan tersebut. Salah satunya dengan meningkatkan jangkauan dan layanan di Jabodetabek dengan menggandeng PT Fiber Media Indonesia (FMI).
Marlo menilai, peningkatan layanan dan jangkauan di area Jabodetabek merupakan fokus utama mereka. Apalagi, jumlah penduduk di sana mencapai 32,1 juta jiwa.
Presiden Direktor dan CEO PT Link Net Tbk, Marlo Budiman/Naufal Telko.id.
“Kerja sama ini menyediakan jalur pertumbuhan lebih luas di Jabodetabek dan memungkinkan layanan First Media lebih mudah dalam menjangkau banyak pelanggan,” tutur Marlo.
“Jabodetabek sudah sampai Karawang, Cikarang dan Tangerang itu udah semuanya,” tambah Marlo.
{Baca juga: First Media Tawarkan ‘One Stop Shopping’ Bagi para Loyal Customer}
Saat ini, layanan First Media telah menjangkau 1,6 juta home passed di wilayah Jabodetabek. Ditargetkan, jumlah pelanggan home passed bertambah 250 ribu di tahun depan.
Selain meningkatkan jangkauan di Jabodetabek, First Media juga terus melakukan ekspansi ke daerah lain. First Media telah melakukan ekspansi layanan di Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Bali, Medan, Batam, Solo dan Semarang. Rencananya, mereka akan melakukan ekspansi di pulau Jawa dalam waktu dekat.
Untuk wilayah Jabodetabek sendiri, First Media baru saja menjalin kerjasama dengan PT Fiber Media Indonesia (FMI) untuk penggunaan tiang tumpu yang bertujuan untuk meningkatkan jangkauan di kawasan Jabodetabek.
Marlo Budiman mengungkapkan bahwa kerjasama ini memungkinkan First Media untuk mengakses tiang tumpu milik Fiber Media yang memiliki jangkauan 5.600 km di Jabodetabek.
{Baca juga: First Media Tawarkan ‘One Stop Shopping’ Bagi para Loyal Customer}
“Kerja sama ini menyediakan jalur pertumbuhan lebih luas di Jabodetabek dan memungkinkan layanan First Media lebih mudah dalam menjangkau banyak pelanggan,” kata Marlo di acara Signing Ceremony Jaringan Fiber Optic Fiber Media dan Link Net di Jakarta, Kamis (29/08/2019).
Marlo menilai jika pasar Jabodetabek masih besar dengan penduduk mencapai 32,1 juta jiwa dan saat ini layanan First Media telah menjangkau 1,6 juta home passed di sana. Lewat kerja sama ini ditargetkan akan ada penambahan 250 ribu home passed.
“Lewat kerjasama ini kami berencana ingin tambah 250 ribu home passed,” tutur Marlo.
First Media memang selama ini terus meningkatkan kualitas jangkauan dan pelayanan. Sebelum dengan Fiber Media, mereka juga telah melakukan kerja sama dengan PT Marga Mandalasakti dalam penempatan infrastruktur telekomunikasi yang menghubungkan antara Jakarta-Serang-Merak.
“Kenapa kami mau kolaborasi karena ke depannya kami butuh common infrastructure. Untuk itu kita tidak menutup kerja sama dengan pihak lain” tambah Marlo.
Ke depannya kerja sama ini akan dikembangkan hingga pemanfaatan subduct dan jaringan kabel fiber optic bersama di bawah tanah, sesuai dengan kebijakan pemerintah untuk melakukan efektivitas terhadap jaringan bawah tanah.
“Agar market-nya lebih cepat dan lebih efisien,” kata Marlo.
{Baca Juga: Ini Perangkat Penting di Layanan Smart Living First Media}
Direktur PT FMI, Budi Aditya menyambut baik kerja sama ini. Dia berharap agar kerja sama ini dapat meningkatkan layanan First Media di Jabodetabek.
“Kami berharap akan menyempurnakan wilayah cakupan First Media dan PT Fiber Media Indonesia di wilayah ini dengan kecepatan dan kehandalan yang tinggi,” tutup Budi. (NM/FHP/HBS)
Telko.id, Jakarta – Mobil pada umumnya punya warna “standar” seperti merah, hitam, silver, putih, biru, dan lainnya. Tapi, bagaimana jadinya apabila ada mobil berwarna Vantablack. Ya, BMW baru-baru ini memperkenalkan BMW X6 Vantablack.
Sekadar informasi, Vantablack merupakan warna hitam yang baru saja dikembangkan. Warna ini diklaim mampu menyerap 99,965 persen cahaya.
Lantaran kemampuan tersebut, produsen mobil premium BMW akan mengambil keuntungan dari jenis anyar warna hitam itu.
{Baca juga: Baju “Berpelat Mobil” Ini Bisa Kecoh Kamera Pengintai}
Menurut Ubergizmo, seperti dikutip Telko.id, Kamis (29/8/2019), BMW akan menggunakan warna Vantablack untuk “menutupi” seluruh bodi mobil seri BMW X6.
Mobil itu pun bakal mempunyai julukan VBX6 Vantablack. Show car yang dibuat berkat kolaborasi antara BMW dan Surrey NanoSystems, penemu warna Vantablack. BMW mengklaim, bahwa mobil BMW X6 adalah satu-satunya kendaraan di dunia yang berwarna paling hitam sedunia.
VBx2 sebenarnya telah dikembangkan secara khusus untuk penggunaan arsitektur dan ilmiah. Hasil akhirnya adalah BMW X6 yang terlihat agak “datar” tetapi membuat cat begitu nyata dan mampu menyerap banyak cahaya.
{Baca juga: Edan! Pria Ini Modifikasi Bentley Jadi Ultratank}
Sayang, belum diketahui apakah BMW berencana menjadikan VBx2 sebagai opsi aktual bagi pelanggan BMW X6 pada masa depan. Kalau ternyata iya, tentu akan menjadinya sebagai mobil paling mencolok di jalanan.
Menurut Hussein al-Attar, perancang BMW X6 baru, orang-orang lebih suka kepada siluet dan proporsi daripada permukaan dan garis. Pelapisan Vantablack VBx2 mengedepankan aspek mendasar tanpa gangguan cahaya dan pantulan. (SN/FHP)
Telko.id, Jakarta – Ketika datang penawaran dari merek olahraga, masuk akal bahwa kesepakatan akan ditandatangani dengan atlet yang lebih tradisional yang benar-benar menggunakan produk mereka. Dan Ninja menjadi gamer pertama yang dikontrak Adidas.
Akhir-akhir ini definisi seorang atlet mulai berubah. Pemain pro juga dimasukkan ke dalam kategori itu. Ninja pun telah menandatangani apa yang mungkin menjadi salah satu kesepakatan terbesarnya.
{Baca juga: Tak Sampai Seminggu, Ninja Gaet 1 Juta Pelanggan di Mixer}
Menurut laporan Ubergizmo, Ninja telah meneken kontrak dengan produsen sepatu Adidas. Hal tersebut menjadikan Ninja sebagai pemain pro pertama yang bekerja sama dengan perusahaan itu hingga saat ini.
Berbicara kepada Engadget, Adidas mengatakan bahwa kesepakatan Adidas dengan Ninja adalah cara perusahaan untuk menunjukkan komitmen dan dukungan mereka terhadap budaya permainan, dan kreator unggul.
Adidas kemudian mengklaim bahwa mereka berencana menemukan cara untuk mendukung gamer di seluruh dunia. Namun demikian, bagaimana tepatnya mereka akan melakukan hal itu, kini masih harus dilihat.
Sekadar informasi, Ninja adalah salah satu gamer yang paling produktif dalam beberapa waktu terakhir. Gamer bernama asli Richard Tyler Blevins itu menorehkan popularitas dengan bermain Battle Royale Fortnite.
{Baca juga:Edan! EA Bayar Ninja Rp 14 Miliar untuk Apex Legends}
Baru-baru ini, Ninja menjadi berita utama dengan meninggalkan Twitch untuk streaming secara eksklusif di platform Mixer Microsoft. Ia juga memiliki lini mainan sendiri dan dibayar sebanyak USD 1 juta untuk streaming game. [BA/HBS]