spot_img

Kinerja Smartfren, Pendapatan Naik Tapi Masih Merugi, Kenapa?

Telko.id – Kinerja Smartfren masih merugi, padahal pada kinerja tahun 2019 jumlah pelanggannya selama setahun naik dengan 91 persen dari 12,3 juta menjadi 23,5 juta, yang disambung dengan kenaikan 10,6 persen menjadi 26 juta pada akhir semester 1 tahun 2020. 

Kinerja Smartfren pada pendapatannya juga demikian, tercatat ada kenaikan 27%. Dari 5,490 miliar pada tahun lalu menjadi 6,988 miliar pada akhir tahun 2019. Namun rugi bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan pada entitas pemilik perseroan meningkat menjadi Rp1,22 triliun. Namun dari sisi ARPU (Average Revenue per User)turun dari Rp 34.900 menjadi Rp 28.800 per bulan.

“Strategi bisnis baru berupa banyak varian produk dari yang paling murah sampai paling mahal membuat penambahan pelanggan lebih pada segmen menengah ke bawah,” ungkap Presiden Direktur Smartfren Telecom, Merza Fachys, Jumat (14/8) pekan lalu, sesaat selesai pemaparan hasil rapat umum pemegang saham (RUPS). .

Lalu diperjelas oleh Direktur Smartfren Telecom Antony Susilo yang menyebutkan bahwa Smartfren masih fokus bereskpansi dan memperluan cakupan jaringan sehingga belum dapat memetik untung dari pertumbuhan pendapatan perseroan.

Menurutnya, hal tersebut membuat biaya-biaya yang harus dikeluarkan perseroan sangat tinggi. Ditambah, beban operasional perseroan juga membengkak.

“Banyak biaya yang harus kita keluarkan. Opex [operating expense] juga naik, bayar listrik, pegawai dan lain-lainm” tuturnya dalam sesi paparan publik kinerja Smartfren Telecom, Jumat (14/8/2020).

Meski merugi, dia menilai kondisi perseroan saat ini masih berada dalam batas yang wajar karena perusahaan masih berusaha berkembang. Dia optimistis kinerja perseroan dapat berbalik untung secara bertahap.

“Kasih kita waktu dulu untuk memenuhi kapasitas jaringan, biar pelanggan masuk. Baru setelah itu, ibarat menanam pohon, kita petik nanti buahnya,” ujar Antony.

Selain itu, dia mengaku masih percaya diri dengan struktur permodalan Smartfren dan belum berencana melakukan aksi korporasi untuk menambah permodalan.

Masa Pandemi

Sama seperti operator lain. Smartfren juga harus memperkuat jaringannya di perumahan. Di mana, ketika pandemi covid-19 melanda, pemerintah menghimbau untuk masyarakat bekerja, belajar dan ibadah di rumah. Akibatnya, banyak masyarakat pun yang mengakses internet dan menggunakan layanan data di rumah. Dibeberapa titik, diakui oleh Merza ada gangguan karena terjadi overload. Namun bisa diatasi dengan baik. 

Jadi diawal pandemi itu, Smartfren fokus menambahan lebar pita (bandwidth) di setiap titik selain perlu menambah BTS. Perusahaan pun menggeber pembangunan BTS, menggelontorkan sekitar Rp 2,6 triliun dari capex tahun 2020 yang Rp 3,72 triliun (250 juta dollar AS) sehingga jumlah BTS kini mencapai 35.600, naik dari 31.100 pada awal tahun 2020. (Icha)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

- Advertisement -spot_img

Latest Phone's

Latest Articles