spot_img
Latest Phone

Huawei Band 10, Smartband ala Smartwatch Ini Kecanggihannya!

Telko.id - Huawei Device Indonesia resmi meluncurkan Huawei Band...

Xiaomi Smart Display Max 100, Layar Pintar Ultra Besar Pertama di Indonesia

Telko.id - Xiaomi Indonesia meluncurkan Xiaomi Smart Display Max...

Garmin Connect, Bisa Rancang Rute Lebih Personal dan Menyenangkan

Telko.id - Dalam aplikasi Garmin Connect terdapat fitur khusus...

Oppo Campus Ambassador, Siapkan Talenta Muda di Bidang Teknologi dan Digital

Telko.id – Oppo Indonesia memperkenalkan program terbaru Oppo Campus...

Huawei Watch D2, Bisa Pantau Tekanan Darah 24 Jam

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan Huawei Watch D2 di...

ARTIKEL TERKAIT

Samsung vs BOE: Perang Dagang Rahasia Teknologi Layar OLED

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa harga smartphone flagship terus melambung tinggi? Salah satu jawabannya terletak pada komponen paling mahal: layar OLED. Di balik kemewahan warna yang hidup dan konsumsi daya yang efisien, tersembunyi perang dagang sengit antara raksasa teknologi. Kali ini, Samsung dan BOE kembali berhadapan di pengadilan—bukan sekadar soal paten, tapi dugaan pencurian rahasia dagang yang bisa mengubah peta persaingan industri display global.

Kisah perseteruan kedua perusahaan bukanlah hal baru. Sejak 2022, Samsung dan BOE telah beberapa kali berurusan dengan hukum, terutama terkait pelanggaran hak paten teknologi AMOLED. Bulan lalu, Samsung memenangkan gugatan di US International Trade Commission (ITC). Kemenangan ini ternyata hanya awal. Dokumen pengadilan terbaru mengungkap tuduhan lebih serius: BOE diduga melakukan industrial espionage dengan mempekerjakan mantan insinyur Samsung Display dan mengakses data rahasia melalui mitra rantai pasokannya.

Menurut gugatan yang diajukan di US District Court for the Eastern District of Texas, BOE disebut telah mendapatkan informasi kritis untuk menyamai proses manufaktur Samsung di pabrik Chengdu. Tak hanya itu, data yang dicuri juga memungkinkan BOE mengembangkan micro-OLED—teknologi yang menjadi kunci augmented reality (AR) dan virtual reality (VR). Jika terbukti, ini bisa menjadi salah satu skandal pencurian kekayaan intelektual terbesar di industri elektronik.

Dibalik Layar: Strategi BOE yang Dianggap “Kotor”

Samsung dalam dokumen hukumnya menyoroti tiga taktik BOE yang kontroversial:

  • Poaching talenta kunci: Merekrut puluhan ahli OLED dari Samsung Display dengan tawaran gaji 2-3 kali lipat.
  • Operasi intelijen supply chain: Berkolusi dengan perusahaan pemasok bahan baku Samsung untuk mendapatkan spesifikasi material proprietary.
  • Reverse engineering masif: Menggunakan sampel panel Samsung yang dibeli melalui pasar sekunder untuk meniru struktur pixel dan sirkuit driver.

Seorang analis yang enggan disebutkan namanya dari Display Supply Chain Consultants (DSCC) memberikan analogi tajam: “Ini seperti menjiplak resep rahasia restoran bintang Michelin, lalu mengklaim itu kreasi sendiri. BOE memang berhasil memotong biaya R&D, tapi dengan risiko reputasi jangka panjang.”

Konsekuensi yang Lebih Besar dari Sekedar Ganti Rugi

Samsung tidak hanya menuntut kompensasi finansial. Mereka meminta pengadilan menerbitkan injunctions yang bisa memblokir impor panel BOE ke AS—langkah strategis mengingat 40% revenue BOE berasal dari pasar Amerika. Namun, dampaknya bisa lebih luas:

  1. Pertaruhan dominasi pasar OLED: BOE saat ini pemasok utama layar iPhone 16 series. Jika kalah, Apple mungkin harus beralih ke LG Display atau kembali ke Samsung.
  2. Efek domino ke vendor China seperti TCL dan Tianma yang juga mengadopsi teknologi serupa BOE.
  3. Perlambatan inovasi karena perusahaan akan lebih fokus pada proteksi IP daripada pengembangan produk baru.

Yang menarik, Samsung sendiri sebenarnya tidak memproduksi OLED konvensional—hanya AMOLED. Fakta ini memunculkan spekulasi: apakah gugatan ini juga bentuk “pertahanan tidak langsung” terhadap LG Display yang masih unggul di segmen OLED besar untuk TV?

Masa Depan Industri Display: Perlukah Perlindungan Lebih Ketat?

Kasus Samsung vs BOE menjadi pengingat betapa rentannya rahasia industri di era globalisasi. Dengan margin profit panel OLED yang bisa mencapai 60%, godaan untuk mengambil jalan pintas memang tinggi. Namun sejarah membuktikan, perusahaan yang bertahan justru mereka yang berinvestasi pada inovasi asli—seperti Samsung dengan QD-OLED atau LG dengan teknologi MLA (Micro Lens Array).

Pengadilan Texas diperkirakan baru akan memulai persidangan awal Q3 2025. Satu hal yang pasti: hasil dari kasus ini tidak hanya akan menentukan nasib dua perusahaan, tapi juga mengubah cara seluruh industri melindungi kekayaan intelektual mereka di masa depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU