Telko.id – Samsung Electronics Indonesia secara resmi mengumumkan dua tim terbaik pertama dari program Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 7 2025/2026.
Pengumuman dilakukan pada Culmination Event yang digelar pada 16 Februari 2026. Tim Lumyx dari SMA Darma Yudha, Pekanbaru, dan Tim Outliers dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, terpilih sebagai pemenang setelah melalui proses pembelajaran, mentoring, dan seleksi nasional yang ketat.
Kedua tim berhasil mempresentasikan solusi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) yang diangkat dari permasalahan nyata di masyarakat.
Penilaian juri dilakukan berdasarkan presentasi ide, kesesuaian masalah dan solusi, demonstrasi prototipe, integrasi AI dan IoT, pemahaman teknis, serta inovasi dan potensi masa depan.
Program ini didukung oleh dewan juri dari berbagai institusi, termasuk Kementerian Agama RI, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, serta Samsung R&D Institute Indonesia.
Momentum ini terjadi di tengah tingginya kebutuhan talenta teknologi nasional. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut Indonesia membutuhkan sekitar 600.000 talenta digital per tahun untuk mendukung transformasi digital, menjadikan penguatan kompetensi AI dan IoT sebagai kebutuhan strategis. Program Samsung Innovation Campus hadir sebagai salah satu jawaban atas tantangan tersebut.
Solusi Inovatif untuk Masalah Kontekstual
Tim terbaik menunjukkan tidak hanya kecanggihan teknologi, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap masalah yang ingin diselesaikan. Melalui pendekatan project-based learning, peserta membangun solusi yang aplikatif dan berorientasi dampak.
Tim Lumyx, pemenang dari kategori siswa, mengembangkan “Alex Your Truly Personal AI”. Solusi ini adalah asisten personal berbasis IoT yang dirancang sebagai learning companion dengan interaksi natural.
Alex mampu mendengarkan secara real-time, merangkum informasi, dan membangun memori personal pengguna secara berkelanjutan. Dengan dukungan pemrosesan audio-visual serta machine learning berbasis edge dan server, Alex menghadirkan pengalaman interaksi yang kontekstual.
Sementara itu, Tim Outliers dari kategori mahasiswa menghadirkan “PhysioTrack”, sebuah solusi rehabilitasi pasca stroke berbasis AI dan IoT. Sistem ini memungkinkan pasien menjalani terapi dari rumah secara terukur dan tetap terpantau oleh terapis.
Melalui integrasi sensor IoT, data latihan dan indikator fisiologis dikumpulkan dan dianalisis oleh model AI untuk menghasilkan status risiko serta rekomendasi berbasis data.
Baca Juga:
Pembelajaran yang Membentuk Cara Pandang
Bagi para pemenang, perjalanan di SIC Batch 7 bukan sekadar kompetisi, melainkan proses pembelajaran yang transformatif. Gaezka Ardhika Putra, perwakilan Tim Outliers, menyatakan motivasi di balik PhysioTrack. “Kami melihat banyak pasien kesulitan menjalani terapi rutin.
Melalui integrasi AI dan IoT, kami ingin menghadirkan sistem yang membantu pasien berlatih dari rumah, namun tetap terhubung dengan terapis melalui data yang terukur,” ujarnya.
Davin Loana dari Tim Lumyx menambahkan pengalaman pengembangan Alex. “Kami ingin menciptakan AI yang tidak hanya menjawab perintah, tetapi benar-benar memahami konteks dan kebutuhan penggunanya. Proses iterasi dan debugging justru menjadi pengalaman belajar terbesar bagi kami,” katanya.
Keduanya sepakat bahwa pendekatan project-based learning memberi ruang untuk bereksperimen dan menyempurnakan solusi.
Program ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat literasi digital. Ir. Moch. Abduh, MS. Ed., Ph.D., Tenaga Ahli Mendikdasmen Bidang Teknologi Pendidikan, menyoroti pentingnya pendekatan pembelajaran.
“Pembelajaran yang baik harus menghadirkan tiga aspek: mindful, meaningful, dan joyful. Siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga merasakan makna dalam proses belajar. Kami melihat pendekatan ini tercermin dalam SIC,” ujarnya.
Drs. Soeparto, M.Pd., Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI, menekankan pentingnya kolaborasi.
“Para peserta bukan sekadar kontestan, tetapi pionir muda yang merancang masa depan melalui inovasi. Pengembangan talenta digital tidak bisa menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Kolaborasi dengan industri, seperti Samsung melalui Samsung Innovation Campus, sangat penting untuk memperkuat ekosistem digital nasional,” jelasnya.
Bagus Erlangga, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, menyampaikan apresiasi.
“Samsung Innovation Campus tidak hanya tentang pembelajaran teknologi, tetapi tentang membuka peluang. Kami percaya setiap anak muda memiliki potensi besar ketika diberi akses, bimbingan, dan kepercayaan. Pencapaian ini adalah bukti kerja keras, ketekunan, dan semangat kolaborasi,” ucapnya.
Culmination Event SIC Batch 7 menegaskan bahwa pembelajaran berbasis proyek mampu menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan industri digital. Peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi membangun prototipe yang relevan dan siap dikembangkan.
Sejalan dengan visi global “Enabling People”, program ini terus mendorong generasi muda Indonesia untuk berinovasi dan berkontribusi membangun masa depan berbasis AI, sebagaimana misi untuk mendorong generasi muda. (icha)


