Telko.id – Kabar mengejutkan mengguncang industri teknologi global pekan ini. Berdasarkan laporan terkini, telah dikonfirmasi bahwa Asus keluar pasar smartphone secara permanen.
Langkah strategis ini menandakan akhir dari perjalanan panjang perusahaan asal Taiwan tersebut dalam memproduksi perangkat seluler, sekaligus menutup babak sejarah bagi lini produk ikonik mereka seperti Zenfone dan ROG Phone yang selama ini memiliki basis penggemar setia.
Keputusan besar ini diambil sebagai bagian dari restrukturisasi internal perusahaan yang signifikan. Laporan menyebutkan bahwa divisi mobile Asus akan dibubarkan dan operasionalnya dihentikan.
Karyawan yang sebelumnya bekerja di unit bisnis smartphone tidak akan mengalami pemutusan hubungan kerja massal, melainkan akan dialihkan ke divisi lain yang lebih menguntungkan, seperti tim pengembangan PC dan laptop, serta divisi AIoT (Artificial Intelligence of Things).
Langkah ini dinilai sebagai upaya efisiensi untuk memfokuskan sumber daya pada sektor yang menjadi kekuatan utama perusahaan.
Penghentian produksi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar mengenai kelanjutan dukungan bagi perangkat yang sudah beredar di pasaran. Hingga berita ini diturunkan, belum ada rincian teknis mengenai sampai kapan layanan purna jual dan pembaruan perangkat lunak akan tetap tersedia bagi pengguna setia Asus.
Kabar ini menjadi pukulan berat bagi komunitas teknologi, terutama mengingat inovasi yang baru saja dihadirkan lewat Zenfone 11 Ultra beberapa waktu lalu.
Industri smartphone memang dikenal memiliki tingkat persaingan yang sangat brutal. Pemain-pemain besar terus mendominasi pangsa pasar, menyisakan ruang yang sangat sempit bagi pemain niche.
Kondisi ini sejalan dengan analisis pasar yang kerap menyebutkan betapa sulitnya mempertahankan profitabilitas di sektor ini. Situasi yang dialami Asus ini seolah memvalidasi prediksi IDC mengenai tantangan berat yang dihadapi merek-merek non-dominan dalam mempertahankan eksistensinya di tengah gempuran raksasa teknologi global.
Baca Juga:
Restrukturisasi dan Penggabungan Divisi
Informasi yang beredar menegaskan bahwa penutupan divisi smartphone ini bukanlah akhir dari inovasi Asus secara keseluruhan, melainkan sebuah pengalihan fokus.
Karyawan dari divisi Zenfone dan ROG Phone kabarnya akan diintegrasikan ke dalam tim pengembangan produk lain.
Strategi penggabungan talenta ini diharapkan dapat memperkuat lini produk laptop gaming dan bisnis komersial Asus yang selama ini memang menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan.
Langkah ini dinilai logis oleh para pengamat industri. Mengembangkan smartphone membutuhkan biaya riset dan pemasaran yang masif.
Dengan mengalihkan sumber daya manusia yang berpengalaman dalam teknologi mobile ke divisi lain, Asus dapat mempercepat integrasi fitur-fitur mobilitas ke dalam ekosistem PC mereka.
Namun, bagi konsumen yang menantikan kehadiran ponsel gaming generasi berikutnya, ini adalah berita buruk. Absennya ROG Phone di masa depan akan meninggalkan celah besar di segmen mobile gaming, yang mungkin akan segera diisi oleh kompetitor lain dengan menawarkan HP Lipat Gaming atau perangkat khusus lainnya.
Sejarah mencatat bahwa Asus selalu berusaha menghadirkan sesuatu yang berbeda. Mulai dari desain kamera lipat pada seri Zenfone lawas hingga layar sekunder pada seri ROG, mereka tidak pernah takut bereksperimen.
Kehadiran mereka di berbagai pameran teknologi, seperti saat Event Asus di Jakarta Fair, selalu menarik perhatian pengunjung dengan jajaran produk yang inovatif.
Hilangnya brand ini dari rak-rak toko smartphone akan mengurangi variasi pilihan bagi konsumen yang mencari alternatif di luar ekosistem mainstream.
Dampak Bagi Ekosistem Android
Kepergian Asus dari pasar smartphone menambah daftar panjang produsen yang menyerah pada kerasnya persaingan industri seluler.
Sebelumnya, nama-nama besar seperti LG dan HTC juga telah lebih dulu mengambil langkah serupa atau mengurangi skala operasional mereka secara drastis.
Hal ini menunjukkan bahwa memiliki produk yang bagus saja tidak cukup untuk bertahan. Diperlukan ekosistem yang kuat, strategi harga yang tepat, dan loyalitas merek yang tinggi untuk bisa selamat.
Bagi ekosistem Android, hilangnya seri Zenfone berarti hilangnya salah satu dari sedikit opsi smartphone berukuran ringkas (compact) dengan spesifikasi flagship.
Selama beberapa tahun terakhir, Zenfone dipuji sebagai raja ponsel mungil Android. Tanpa Asus, konsumen yang menginginkan ponsel kecil bertenaga tinggi mungkin harus beralih ke model dasar dari Samsung atau menunggu inovasi dari brand lain.
Selain itu, persaingan di sektor software juga akan berubah. Asus dikenal dengan antarmuka ZenUI yang bersih dan mendekati stock Android. Para pengguna yang menyukai pengalaman software yang ringan kini memiliki opsi yang semakin terbatas.
Sementara itu, kompetitor terus berinovasi dengan antarmuka mereka sendiri, seperti Samsung yang terus menyempurnakan One UI, meskipun terkadang mengalami kendala jadwal rilis seperti pada kasus Update Samsung terbaru.
Keputusan Asus keluar pasar smartphone ini menjadi pengingat bahwa industri teknologi bergerak sangat dinamis. Produk yang hari ini populer bisa saja hilang esok hari akibat perubahan strategi korporasi.
Bagi pemilik perangkat Asus saat ini, disarankan untuk memantau pengumuman resmi terkait kebijakan garansi dan ketersediaan suku cadang di masa mendatang.
Meskipun divisi mobile ditutup, tanggung jawab layanan purna jual biasanya tetap berjalan selama periode tertentu sesuai regulasi yang berlaku di masing-masing negara. (Icha)


