Kategori: PROFILE

  • Dirut Telkom, Bakal ‘Dipindahkan’ Menjadi Dirut PLN?

    Dirut Telkom, Bakal ‘Dipindahkan’ Menjadi Dirut PLN?

    Telko.id – Rumor tentang pergantian Direktur Utama Telkom semakin kencang. Apalagi, hari ini Telkom akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), yang besar kemungkinan nya adalaha mengganti posisi tertinggi nya yakni mengganti Alex Janangkih Sinaga.

    Berkembangnya isu ini juga dikarenakan, adanya posisi kosong di PLN, di mana Direktur Utama nya, Sofyan Basir yang menjadi sedang dalam kondisi dinonaktifkan dikarena menjadi tersangka dalam kasus korupsi yang sedang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yakni tentang kasus kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1.

    Ditambah lagi, periode pertama masa jabatan Alex memang sudah habis.

    Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memberikan sinyal tersebut. Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah menyebut bahwa periode pertama masa jabatan Alex memang sudah habis.

    “Pak Alex memang secara jabatan sudah habis 1 periode 5 tahun. Apakah beliau diperpanjang atau memutuskan untuk pensiun nanti sore akan diputuskan,” kata Edwin melalui pesan singkat kepada CNBC Indonesia, Jumat (24/05/2019), seperti dikutip dari CNBC.

    Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno juga sempat mengakui bahwa ada rencana untuk menunjuk Direktur Utama Telkom Alex Sinaga menjadi kandidat direktur utama PT PLN (Persero). Namun, masih dalam proses.

    Alex Sinaga sendiri menjadi Direktur Utama Telkom karena ditunjuk pada RUPS Luar Biasa 19 Desember 2014 menggantikan Arief Yahya yang sekarang menjadi Menteri Pariwisata. Alex sebenarnya masih punya kesempatan untuk menjadi direktur Telkom lagi, karena periode masa jabatannya terhitung masih kurang dari 5 tahun.

    Siapa Alex Sinaga?

    Sebelum menduduki jabatan puncak di perusahaan telekomunikasi pelat merah, pria 58 tahun kelahiran Pematang Siantar (Sumatera Utara), 27 September 1961 itu memang mengawali kariernya di Telkom sejak 1997-1998 menjadi General Manager Tekom Malang.

    Setelah itu, Alex menjabat General Manager Telkom Surabaya Barat (1998-1999), General Manager Telkom Jakarta Barat (2000-2002), Senior Manager Business Performance Divisi Regional II Jakarta (2002), Executive General Manager Divisi Fixed Wireless Network (2002-2005), dan Executive General Manager Divisi Enterprise Service (2005 – 2007).

    Jadi, alumnus Sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung dan Master di bidang Telematika dari University of Surrey, Guidford-Inggris ini, memang produk asli binaan Telkom. (Icha)

  • Bill Gates, Anak Mama Jadi Inspirasi Dunia

    Bill Gates, Anak Mama Jadi Inspirasi Dunia

    “Cara Anda melihat realitas akan sangat memengaruhi kesuksesan. Daripada selalu mengkhawatirkan kegagalan, lebih baik tarik momentum demi menggapai kesuksesan Anda”

    Telko.id– Bill Gates terlihat sangat antusias mendiskusikan strategi dalam konteks inisiatif filantropis global saat menjadi pembicara tamu inspiratif dalam acara “The Daily Show”. Gates memang terkenal sebagai sosok yang penuh optimisme dan aktif di bidang filantropis.

    Gates yakin betul terhadap apa yang dikerjakan meski mayoritas orang cenderung pesimistis dengan kondisi saat ini. Gates merasa telah berkontribusi terhadap dunia atas apa yang digelutinya.

    “Angka kemiskinan turun drastis dari 36 persen menjadi sembilan persen. Setiap hari, 137 ribu orang mentas dari keterpurukan kesejahteraan. Saya bahkan turut meningkatkan produktivitas pertanian. Disadari atau tidak, apa yang saya lakukan berkontribusi terhadap penurunan jumlah kematian anak-anak dalam 25 tahun terakhir,” imbuh Gates.

    Pria 62 tahun ini menyebut, rata-rata orang tidak pernah melihat serta merasakan adanya perubahan. Mereka tidak menyadari bahwa perbaikan sesuatu ke arah positif harus berjalan secara bertahap. Seperti pula yang ia gagas bersama para relawan melalui yayasan bernama Bill and Melinda Gates Foundation.

    Lewat lembaga nirlaba tersebut, Gates menyumbangkan kocek hingga miliaran dolar Amerika Serikat demi membantu mengurangi ketidaksetaraan, termasuk meningkatkan perawatan kesehatan penduduk di negara-negara berkembang.

    Yayasan yang ia bentuk bersama sang istri, Melinda Gates, itu juga memberdayakan perempuan dan berinvestasi vaksin, terutama diperuntukkan daerah miskin.

    “Sudah menjadi sifat manusia untuk melulu mengambinghitamkan ancaman. Manusia sering berpikir, evolusi membawa kekhawatiran bahwa hewanlah yang akan memangsa kita. Padahal, yang terjadi malah kerap sebaliknya. Satu hal penting lain yang patut digarisbawahi, manusia kini semakin tidak sabar menghadapi permasalahan,” tegas Gates.

    Gates pun menyoroti praktik kesenjangan di ranah global. Dari sudut pandangnya, hal-hal buruk terus saja terjadi. Ironi kian menjadi manakala manusia justru toleransi terhadapnya. Dan taukah, Gates mengemukakan bahwa upaya perbaikan ternyata belum bisa mengikuti harapan.

    “Ketika keadaan seperti berjalan di tempat, fokus kepada apa yang berhasil tidak berarti Anda menganggap semuanya telah sempurna. Saya pribadi tidak mencoba mengecilkan pekerjaan yang tersisa. Menjadi seorang yang optimistis tidak lantas mengabaikan tragedi dan nilai-nilai ketidakadilan,” tutur Gates saat mengulas lewat artikel di Time.

    Gates kemudian mendeskripsikan beberapa karakter yang dapat sukses dalam pekerjaan. Perkataan Gates jelas tak bisa dipandang sebelah mata. Gates sering bekerja dengan para inventor yang selama ini mendisrupsi industri. Nah, dari penuturan Gates, ada tiga orang berlatar belakang khusus yang akan menjadi incaran perusahaan besar.

    “Sains, teknik, dan ekonomi. Tiga keahlian di tiga keilmuan tersebut bakal menjadi agen perubahan di semua institusi. Pengetahuan dasar soal sains, kemampuan matematika, dan keahlian ekonomi akan sangat berguna dalam karier. Kalau ingin berhasil, Anda harus mengetahui apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa mereka lakukan,” kata Gates.

    Anak Mama yang Drop Out dari Harvard

    Bill Gates adalah nama paling terkenal di jagat teknologi. Ia mendirikan Microsoft yang menjelma menjadi perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia. Nama Gates sering dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia. Padahal, perjalanan hidupnya bisa dibilang tidak selalu mulus. Semasa muda, ia lebih memilih drop out dari universitas.

    Lahir di Seattle, Washington, Amerika Serikat, pada 28 Oktober 1955, bernama lengkap William Henry Gates III. Ayahnya bernama William Henry Gates II, yang berprofesi sebagai pengacara kondang. Sementara sang ibu, Mary Maxwell Gates, pernah menduduki dewan pimpinan di berbagai perusahaan bonafid.

    Gates punya dua saudara wanita bernama Kristianne dan Libby. Berasal dari keluarga berada, Gates tumbuh besar. Meski kemudian mampu membuktikan diri hidup mandiri, dalam proses tumbuh dan berkembang, Gates terkenal sebagai anak mama. Gates sangat dekat dengan Mary, yang juga mahsyur sebagai atlet dan mahasiswa top.

    Alih-alih dimanja, predikat anak mama yang melekat tak lantas membuat Gates menjadi pribadi yang manja, apalagi cengeng. Semua tak lain karena didikan Mary yang selalu menanamkan nilai kedisplinan, menuntut anak-anaknya untuk selalu belajar keras, rajin berolahraga, serta wajib mengikuti les musik. Ia mengajari anak-anaknya ramah kepada setiap orang.

    Bill Gates kecil sangat suka belajar dan membaca. Bahkan, sejak usia sekira 10 tahun, dia sudah tamat membaca buku dengan “kategori berat”, yakni World Book Encylopedia dari seri awal sampai akhir.

    “Saya sungguh memiliki banyak impian ketika masih kecil. Sepertinya, hal itu tumbuh dari fakta bahwa saya punya kesempatan untuk banyak membaca,” kata Gates.

    Pada usia 11 tahun, Gates sudah aktif bertanya kepada ayahnya soal topik bisnis sampai peristiwa dunia. Menurut ayahnya, Gates sudah dari kecil memperlihatkan bakat ‘kutu buku’ dengan malahap beragam bacaan.

    “Saya pikir, hal tersebut adalah sesuatu yang hebat. Sayang, Mary tidak suka karena Gates mulai cenderung suka berkutat dengan buku ketimbang berhubungan dengan orang lain. Gates pun jadi sering bertengkar dengannya,” kata ayah Gates.

    Pada umur 13 tahun, Gates menuntut ilmu di sekolah eksklusif, Lakeside School, Seattle. Ia dikenal sebagai siswa yang sangat pandai. Ia pernah menghabiskan beberapa malam di University of Washington hanya untuk main komputer secara gratis. Ia pernah pula bekerja paruh waktu sebagai programmer di sebuah power plant di selatan Washington.

    Gates digadang oleh orangtua menjadi seorang pengacara. Namun, ia sama sekali tak tertarik dengan bidang itu. Gates memilih menekuni bisnis komputer. Kecintaannya terhadap komputer muncul saat bersekolah di Lakeside School. Di sana, ia bertemu dengan Paul Allen, yang kelak menjadi mitranya saat mendirikan Microsoft.

    Setelah mendirikan Microsoft bersama Allen, Gates memutuskan drop out dari Harvard University. Meski berat, orangtuanya tetap mendukung keputusan tersebut. Namun, Gates tak ingin sikapnya (drop out dari kuliah) ditiru oleh orang lain.

    “Saya kira drop out kuliah bukanlah ide yang bagus. Sebab, saya harus melanjutkan pendidikan dengan kursus online,” ujar Gates.

    Tak lagi kuliah, Gates fokus mengembangkan Microsoft yang kemudian berjaya sebagai produsen perangkat lunak komputer. Sistem operasi Windows sampai sekarang masih sangat dominan dipakai di mayoritas komputer. Akan tetapi, dalam meniti karier, Gates mengalami pasang surut, layaknya orang-orang kebanyakan. Ia bukanlah sosok yang sempurna.

    Merintis Microsoft

    Pada tahun 1973, Bill Gates diterima sebagai mahasiswa di Harvard University. Tapi, waktunya habis untuk “bermain-main” dengan komputer. Ia pun tak pernah menyelesaikan studinya. Pada 1974, Gates dan Paul Allen lalu memilih bekerja sama dengan sebuah perusahaan komputer, MITS. Mereka pun bekerja sama dengan perusahaan tersebut dengan menamai kemitraan mereka Micro-soft dan membuka kantor kecil di Albuquerque.

    Pada akhir 1976, mereka keluar dari perusahaan MITS dan mengubah nama perusahaan menjadi “Microsoft”. Pada 1980, perusahaan komputer IBM memerlukan sebuah sistem operasi untuk komputer terbarunya. Gates mengambil kesempatan itu dengan menciptakan sebuah sistem operasi yang disebut 86-DOS atau disk operating system yang berganti nama menjadi PC DOS dan menjualnya ke IBM seharga USD 50.000.

    Meski demikian, ternyata IBM tak meminta hak cipta perangkat lunak tersebut. Gates juga tak pernah menawarkannya. Melihat kesuksesan IBM PC, banyak perusahaan teknologi lain yang ingin membangun komputer pribadi dan menjadi kompetitor bagi IBM. Untuk bisa melakukannya, perusahaan-perusahaan itu membutuhkan orang sekaliber Gates.

    IBM, Compaq, Dell, dan perusahaan lain berlomba-lomba untuk membuat komputer. Mereka membutuhkan DOS sebagai perangkat lunak yang kemudian berkembang menjadi Windows. Karenanya, Microsoft disebut sebagai pusat Revolusi PC. Pada 1983, Microsoft menghasilkan USD 55 juta sehingga Microsoft menjadi perusahaan terbesar dalam bisnis komputer.

    Pada 13 Maret 1986, Microsoft menjual saham kepada publik dengan harga USD 21 per lembar. Gates menjadi seorang miliarder pada 1987 saat memasuki usia ke-31 tahun. Kekayaan Gates semakin menumpuk seiring berjalannya waktu. Tak heran, ia lantas dinobatkan sebagai pelaku bisnis teknologi yang menjadi orang terkaya di dunia dengan kekayaan puluhan miliar dolar Amerika Serikat.

    Steve Jobs, Kawan Jadi Lawan

    Saat baru merintis bisnis Microsoft, Gates mendapat perlawanan dari karibnya, Steve Jobs, yang tak lain adalah pendiri Apple. Hubungan keduanya naik turun: kadang sebagai kawan, kadang menjadi lawan. Gates dan Jobs awalnya memang berteman, terutama saat Microsoft membuat perangkat lunak awal untuk komputer Apple II. Saat itu, Gates secara rutin datang ke Cupertino untuk melihat proyek garapan Apple.

    Namun, hubungan Gates dan Jobs kemudian memburuk. Semua berawal pada 1980an. Jobs terbang ke Washington untuk mengajak Gates menggarap perangkat lunak untuk Apple Macintosh yang berbasis antarmuka grafis nan revolusioner. Bagaimana tanggapan Gates? Ia tak menyukainya. Ia menyebut proyek tersebut sebagai platform terbatas yang tak bisa diakses oleh semua orang.

    Di lain sisi, Gates sebenarnya juga kurang sreg dengan sikap Jobs. Ia menganggap Jobs berperilaku eksklusif, pura-pura tak butuh padahal memang butuh. Jobs berkata kalau Apple tak membutuhkan Gates.

    “Dengan penuh gaya, Jobs seolah berkata: ‘Saya tak membutuhkanmu, tapi, saya bisa saja membolehkanmu untuk ikut serta dalam proyek ini’,” beber Gates soal sikap Jobs.

    Puncak perselisihan Gates dan Jobs terjadi saat Microsoft merilis Windows pertama pada 1985 yang menggunakan tampilan antarmuka grafis. Jobs menuding Gates mencuri idenya. Jobs marah dan menuduh Microsoft meniru mentah-mentah konsep Macintosh. Alih-alih menanggapi, Gates justru cuek tak ambil pusing. Ia sudah yakin kalau ide tampilan antarmuka akan menjadi besar.

    “Apple tak punya hak eksklusif atas ide tersebut. Lagipula, Apple punya ide tampilan antarmuka grafis Apple karena terinspirasi dari Xerox, yang dikembangkan oleh Palo Alto Research Center. Perumpamaannya, saya membobol rumah Xerox untuk mencuri televisi, tetapi ternyata Jobs sudah mencurinya terlebih dahulu,” ujar Gates menjawab tuduhan Jobs.

    Apapun jawaban Gates, Jobs sudah terlalu kesal. Sampai-sampai, ia menyebut Gates sebagai orang yang tak tahu malu. Jobs tetap mengklaim bahwa Microsoft mencuri konsep Macintosh besutan Apple. Tak tinggal diam, Jobs melayangkan gugatan hukum terhadap Microsoft atas pelanggaran hak cipta. Namun, Microsoft berhasil memenangkan kasus tersebut pada 1993.

    Sukses karena Persahabatan

    Bill Gates juga manusia biasa yang tak jauh dari kebiasaan-kebiasaan buruk, termasuk kurang bisa memercayai orang lain. Ia merasa dirinya paling mampu, paling hebat, sehingga enggan berbagi tanggung jawab kepada sahabat maupun rekan kerja. Pada awal Microsoft berdiri, Gates hampir melakukan semua pekerjaan. Ia mengembangkan perangkat lunak sampai perusahaan berkembang pesat.

    Kendati demikian, proses menuju capaian itu ternyata bukan berkat kontribusinya seorang diri. Kunci kesuksesan Microsoft menjadi raksasa teknologi sejagat adalah berkat kemitraan atau persahabatan dan kerja sama.

    “Saat mengembangkan Microsoft, saya tak sendirian membaca dan menulis coding. Ada campur tangan orang lain. Saya dan para sahabat bahu-membahu,” tandas Gates.

    Uniknya, di kantor, ia sampai menghapal pelat nomor kendaraan pegawai untuk mengetahui siapa yang paling lama bekerja. Steve Ballmer, teman semasa di bangku kuliah, juga mengajari Gates bagaimana cara merekrut karyawan guna membentuk tim nan solid. Sejak titik itu, Gates memercayakan semua pekerjaan kepada kolega sejatinya tersebut.

    Seiring waktu berlalu, Gates menyadari bahwa Microsoft bisa sukses berkat keterlibatan “banyak tangan”. Ia paham betul, sebuah pekerjaan tak akan bisa tuntas secara sempurna tanpa kerja sama dengan orang lain. Pada puncak kejayaan Microsoft, Gates pun fokus kepada tugas mengkaji kinerja para manajer untuk menjaga visi dan misi perusahaan.

    Sekarang, Gates lebih sibuk mengelola yayasan Bill & Melinda Gates Foundation dan duduk sebagai komisaris di Microsoft. Ia juga menjadi investor beberapa proyek, termasuk satelit komunikasi. Namanya bersanding dengan CEO SoftBank, Masayoshi Son. Mereka menggarap proyek EarthNow LLC, perusahaan yang berambisi meluncurkan 500 satelit untuk layanan video.

    Kesuksesan Gates membersarkan Microsoft berbuah harta yang berlimpah. Dia bahkan 18 tahun tak tergoyahkan sebagai orang paling tajir sejagat, dan baru berhasil dilengserkan oleh Jeff Bezos, pemilik raksasa e-commerce, Amazon pada akhir 2017 lalu.

    Saat ini kekayaan Gates tercatat mencapai USD 97,9 miliar atau setara Rp 1.458 triliun. Ia cuma kalah dari Jeff Bezos, pemilik Amazon, yang mengantongi kekayaan bersih hingga USD 150 miliar atau setara Rp 2.156 triliun, baik dari saham maupun lainnya.

    Meski kini Bezos telah berhasil mengungguli Gates dari sisi jumlah kekayaan, namun bagi Gates, bukan lagi harta yang diunggulkan olehnya, melainkan ilmu, pengalaman, dan sifat sosial. [SN/HBS]

     

  • Mengenal Lebih Dekat, Djoko Setiadi, Kepala Badan SIber dan Sandi Negara

    Mengenal Lebih Dekat, Djoko Setiadi, Kepala Badan SIber dan Sandi Negara

    Telko.id – Baru saja, Presiden Joko Widodo melantik Kepala Badan Siber dan Sandi Negara atau BSSN. Sebuah lembaga yang sangat penting bagi Indonesia untuk keamanan terhadap kejahatan siber dan implikasinya terhadap ketahanan nasional di tengah upaya pemerintah untuk meningkatkan perekonomian digital di Tanah Air.

    Djoko Setiadi adalah yang ditujuk oleh Presiden untuk memimpin lembaga baru ini. Seperti apa profil dari Kepala BSSN yang baru ini?

    Sebenarnya, Djoko Setiadi bukan merupakan orang baru dilingkup pejabat Negara. Pasalnya, sejak 2011 lalu, pria kelahiran Surakarta ini sudah menjadi Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Bahkan sudah dua periode menduduki jabatan ini.

    Dengan adanya trend siber di dunia, maka Lemsaneg pun ikut menyesuaikan dan direvitalisasi menjadi Badan Siber dan Sandi Negara. Djoko pun dipercaya kembali untuk menjabat sebagai Kepala BSSN.

    Pria berkumis ini lahir dari keluarga sederhana dan menghabiskan masa SMA nya di Jakarta dengan tinggal bersama kakak kandungnya. Dengan kondisi keuangan waktu itu, Djoko kesulitan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, dewi fortuna berada di pihaknya. Pada tahun 1977, Djoko akhirnya diterima di Akademi Sandi Negara (Aksara) dan lulus pada tahun 1980.

    Pada waktu itu, Djoko yang beranjak dewasa sangat mengagumi Roebiono Kertopati, Kepala Lemsaneg waktu itu. Sosok Roebiono ini juga yang menginspirasi Djoko untuk masuk ke TNI dan akhirnya lulus pendidikan TNI pada tahun 1981 dengan pangkat letna dua.

    Selama dalam tugasnya di TNI, Djoko sempat ditempatkan di Kalimantan Barat selama delapan tahun.

    Djoko lulus dari pendidikan TNI pada 1981. Waktu berpangkat letnan dua, Djoko juga pernah ditugaskan ke Kalimantan Barat selama delapan tahun. Pada saat bertugas ini juga, Djoko bertemu dengan istrinya, Kyatti Imani yang kemudian dikaruniai dua putri kembar.

    Karir Djoko terus melesat, naik menjadi Kapten dan sempat juga ditugaskan di Kementerian Luar Negeri. Lalu, pada tahun 1990, ditempatkan di Pusat Komunikasi Kementerian Luar Negeri,

    Ketika perang teluk sedang berlangsung di wilayah Irak, Djoko mendapat tawaran untuk ditempatkan di Turki. Suami Kyatti ini pun langsung menerima dan bertolak ke Turki sampai 4.5 tahun.

    Usai penugasan di Turki, Djoko kembali ditugaskan di Pusat Intelijen Angkatan Darat (Pusintelad) dan berlanjut ke Kodam I/BB di Medan.

    Untuk menunjang karirnya, Djoko kembali melanjutkan sekolah di Seskoad selama 11 bulan dan ditempatkan di Paspampres selama empat tahun. Dan waktu itu pun, Djoko mendapatkan perintah dari Kepala Lemsaneg untuk berpindah tugas. Awalnya, ia cuma bertugas di Direktorat Pengamanan Sinyal, yang lokasinya ada di Ciseeng.

    Dan setelah itu, Djoko menjabart Deputi Pengaman Persandian (Deputi III). Ia pun terus melesat sampai akhirnya dilantik sebagai Kepala Lemsaneg oleh Keputusan Presiden (Keppres) yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (Icha)

  • Shannedy Ong : Qualcomm ‘Perkasa’ Terus Karena R&D

    Shannedy Ong : Qualcomm ‘Perkasa’ Terus Karena R&D

    Telko.id – Untuk dunia mobile, Qualcomm memang jago nya. Dulu jaman CDMA, Qualcomm menjadi raja, karena semua handphone pasti menggunakan chipset keluaran produsen asal Amerika ini. Ketika trend teknologi bergeser, apakah Qualcomm tetap ‘perkasa’ dan bagaimana produsen ini melakukan adaptasi dengan teknologi terkini?

    Jika menilik dari evolusi teknologi sendiri, Qualcomm selalu menjadi leader di mobile techonology. Pada awal memang fokus di CDMA atau Code division multiple access, yang kemudian Qualcomm menyebutnya dengan Qualcomm CDMA Technology. Setelah itu akan berevolusi ke WCDMA lalu ke 4G. Bahkan sekarang sudah masuk ke 5G techonology. Secara keseluruhan, semua itu masuk dalam katagori Mobile Technology. Qualcomm menjadi pemegang paten dari banyak teknologi dan mobile tehonology yang ada dan yang akan datang.

    Sekarang, mobile technology ini banyak memperngaruhi teknologi dari industri lain. Mobile Technology jadi basic. Lihat saja, saat ini sudah masuk ke IoT atau Internet of Things yang masuk ke industri otomotif, smart home, smart city dan lainnya. Semuanya menggunakan mobile technology. Contoh drone, memang ini bentuknya sebuah kapal kecil, tapi jangan salah, di dalamnya menggunakan chipset Qualcomm, sehingga banyak melakukan berbagai kemampuan.

    “Jadi, bisnis Qualcomm tidak hanya bergerak di smartphone saja, sudah merambah ke berbagai bidang lain, dengan teknologi dasarnya adalah mobile technology tersebut,” ujar Shannedy Ong, Country Director Qualcomm Indonesia menjelaskan.

    Terlebih, ketika IoT itu sudah mulai mengalami pertumbuhan yang signifikan, maka bisnis mobile technology ini akan menjadi sangat besar sekali. Ada penelitian yang menyebutkan bahwa tahun 2020 nanti akan ada 20 miliar device yang terkoneksi. Bayangkan, berapa besar bisnis Qualcomm pada tahun 2020 nanti.

    “Pada era IoT itu, bukan hanya people connected to people, tetapi people connected to device dan device to device,” ujar Shannedy menggambarkan betapa besar pasar saat era IoT nantinya.Saat ini saja, sudah mulai terjadi konektifitas antara people dan ‘things’ dan konektifitas dengan device. Jadi, semuanya sudah mulai berubah dan nantinya akan menjadi life style dan akan mengubah cara berinteraksi juga. Itu sebabnya, saat itu disebut dengan beyond the people. Bukan lagi connected the people.

    Tak heran, Shannedy memperkirakan bahwa Qualcomm akan tetap menjadi pemain utama di ekosistem yang baru tersebut karena basic dari era IoT itu nantinya adalah mobile technology.

    Untuk di Indonesia sendiri, IoT ini memang sudah mulai terlihat. Hanya saja, masih belum saling terhubung semua. Dan, boleh dibilang masih sedikit sekali. Perkembangannya juga belum terlalu terasa. Tapi dari pandangan Qualcomm sendiri, perkembangan dari IoT sendiri diluar dugaan. “Misalnya, salah satu operator beberapa waktu lalu sudah mengundang corporate costumer nya yang bergerak dibidang perbankan, logistik, utilities atau energi seperti Perusahaan Gas Negara dan Perusahaan Listrik Negara dan lainnya yang berhubungan dengan infrastruktur juga. Yang semuanya menggunakan networknya dari pihak operator. Di sisi lain, operator saat ini sedang melakukan migrasi dari 2G ke 4G atau dari 3G ke 4G. Migrasi ini, sudah tentu mempengaruhi services yang diberikan operator pada corporate costumer nya,” ujar Shannedy menjelaskan.

    Artinya, bisnis operator pun akan berubah. Tidak hanya melayani people, tetapi juga machine to machine. Di mana, corporate costumer operator itu gunakan. Sebagai contoh adalah POS atau point of sales yang sudah pasti akan menggunakan teknologi IoT ke depannya karena akan membuat effisiensi semakin tinggi.

    Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi operator karena harus mengedukasi para costumer nya untuk ikut migrasi. Untuk saat ini, memang masih belum terasa effisiensinya, tapi ke depan, akan lebih berdampak pada perusahaan yang menggunakan. Bagi Qualcomm, hal ini menjadi pasar yang sangat menggiurkan karena perusahaan asal Amerika ini memiliki solusinya. Selain itu juga untuk energi, Gas, dan lainnya.

    Untuk PLN misalnya, Shannedy menjelaskan bahwa monitoring akan sangat mudah dilakukan oleh perusahaan listrik tersebut. Termasuk juga melakukan analisa yang dibutuhkan.

    Qualcomm sendiri merasa tidak perlu banyak melakukan perubahan dari sisi bisnis nya untuk menyambut era IoT ini. Pasalnya, Qualcomm sudah memiliki segmentasi produk yang sudah memenuhi kebutuhan tersebut. Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan para konsumennya.

    “Qualcomm memiliki produk dari enty level, mid segmen, high segmen hingga yang premium. Jadi untuk device yang affordable, cukup menggunakan yan entry level. Bahkan, semuanya sudah 4G enable karena sekarang ini sudah waktu nya 4G. Jadi chipset untuk IoT pun sudah 4G. Apalagi, teknologi 4G and beyond ini sangat effisien dalam pengiriman data. Ditambah, life cycle nya juga masih sangat panjang. Hanya saja, untuk IoT, 4G Qualcomm masih di level Cat1. Kalau yang di smartphone sudah Cat4,” ujar Shannedy.

    Alasan ada perbedaan di chipset untuk IoT dan smartphone adalah di IoT tidak membutuhkan data trasmited yang besar. Sehingga level Cat1 saja sudah cukup. Jika dikasih yang besar menjadi percuma. Dengan demikian, produk Qualcomm pun akan menjadi cost effisien. Ditambah lagi, chipset untuk IoT jauh lebih sederhana atau simple dibandingkan dengan untuk smartphone. Di mana smartphone merupakan device yang cukup complicated karena ada layar, CPU dan lainnnya.

    Sedangkan IoT hanya untuk komunikasi data saja. Baik untuk sinkronise atau transmited saja. Itu sebabnya, baterai pun menjadi lebih awet, bisa mencapai puluhan tahun.

    Kondisi yang ada ini menjadikan bisnis Qualcomm juga turut berubah. Di mana, dalam produksi, chipset 2G sudah sangat turun tajam, demikian juga dengan 3G. Sedangkan untuk 4G tumbuh sangat eksponansial.

    Berdasarkan data GFK, data Januari 2015 lalu saja peneterasi 4G baru 15% tapi di Maret 2016 penetrasinya sudah lebih dari 45% mendekati 50%. Itu angka untuk sell out dari smartphone. Artinya, pertumbuhannya sangat luar biasa. Hal ini juga mencerminkan bisnis Qualcomm juga karena saat ini, Qualcomm masih pemain utama di industri ini.

    Apalagi, chipset Qualcomm sudah multi mode. Di mana, chipset Qualcomm sudah mendukung 4G dan teknologi di bawah nya. Termasuk juga untuk chipset IoT. Terlebih, network dari operator masih belum semuanya 4G. Rata-rata 4G masih di kota besar saja. Sedangkan di kota kecil masih belum. Jadi kalau berada di jaringan bukan 4G, tetap bisa komunikasi karena akan di refer ke 3G.

    Qualcomm dan Para Pesaingnya

    Tidak dapat dipungkiri, nama Mediatek cukup mengganggu bisnis dari Qualcomm. Gebrakan demi gebrakan yang dilakukan oleh produsen dari Cina ini cukup agresif dan cepat. Ditambah lagi, harga dari produsen ini boleh dibilang miring. Sehingga, produk keluarannya cukup banyak dilirik oleh para produsen smartphone. Ditambah lagi, para merek global seperti Samsung dan Huawei juga memproduksi chipset sendiri.

    Namun, Qualcomm tetap percaya bahwa sampai saat ini masih menguasai mobile technology. Shannedy mengaku bahwa Qualcomm saat ini sudah menguasai teknologi generasi ke 4 bahkan ke 5. Sedangkan kompetitornya masih menguasai generasi ke dua. Jadi, gap yang terjadi masih besar dan cukup sulit untuk mengejarnya.

    “Apalagi, Qualcomm melakukan investasi di bidang reseach and development setiap tahunnya mencapai jutaan US dolar plus-plus,” ujar Shannedy. Bahkan, berdasarkan informasi dari Qualcomm pusat, dari tahun 1985, Qualcomm sudah mengeluarkan $31 miliar untuk Riset dan Pengembangan. Angka yang besar sekali. Dan, R&D ini terus menerus dilakukan secara kesinambungan sehingga akan sulit bagi para pesaing Qualcomm untuk sejajar, atau bahkan melewatinya.

    Dengan intensitas R&D yang dilakukan maka dengan cepat Qualcomm dapat memberikan chipset yang terdepan di mobile technology ini. Dan ini akan mempengaruhi pengalaman bagi para usernya. Misalnya, untuk Cat4 thorughput yang dapat dilakukan 150 Mbps, Cat5 bisa mencapai 300 Mbps dan Cat12 bisa mencapai 600 Mbps. Jadi user experience pun akan sangat berbeda.

    Hal ini juga yang ingin diedukasi pada konsumen. Di mana internet lelet itu bukan semuanya kesalahan pada operator. Modem yang ada di smartphone juga berpengaruh. Dengan modem yang menggunakan level Cat yang lebih tinggi pasti akan menghasilkan throughput yang lebih baik dan cepat ketimbang level rendah. Terlebih, modem device akan selalu berkomunikasi dengan BTS operator.

    Untuk meluruskan persepsi tersebut, Qualcomm juga akan melakukan edukasi juga ke operator. Pasalnya, konsumen dari Qualcomm adalah perusahaan bukan konsumen secara langsung. Qualcomm akan memberikan gambaran atau ujicoba langsungb jika menggunakan chipset Qualcomm dan tidak. Akan jelas terlihat bahwa perfomance berbeda. Selanjutnya, dapat melakukan edukasi ke user secara bersama-sama. Apalagi, operator membutuhkan dukungan juga agar migrasi dari 2G ke 4G ini berjalan mulus.

    Saat ini, chipset Qualcomm sudah digunakan oleh 140 lebih perusahaan OEM di seluruh dunia. Untuk yang high end dan premium, Qualcomm masih menjadi pemain utama. Sedangkan untuk entry level dan mid masih kombinasi dengan merek-merek lainnya. Kompetitor terbesar saat ini masih Mediatek. Walaupun sekarang bermunculan juga merek lain seperti Spektrum untuk entry level.

    Produsen chipset ini akan berkembang jika memang economic of scale nya tercapai. Jika tidak maka akan sulit untuk maju. Untuk Samsung misalnya, economic of scale nya masuk karena setiap tahun saja, berapa juta smartphone yang diproduksinya. Sehingga dapat menentukan berapa besar investasi yang ditanamkan untuk R&D, sampai menentukan funding of OPEX nya.

    Hal ini akan sulit dilakukan oleh produsen chipset yang bermain dengan volume kecil atau menengah karena untuk membuat chipset itu harus berpacu dengan technology evolution. Jadi R&D nya setiap tahun harus menciptakan teknologi baru, jika tidak maka akan sulit untuk berkompetisi.

    “Kondisi ini membuat lanskap bisnis di industri chipset ini sudah berbeda dari 5 tahun lalu karena banyak bermunculan merek-merek baru. Tapi di sisi lain, akan mungkin juga terjadi konsolidasi atau bahkan keluar dari bisnis mobile. Itulah pasar. Jika terlalu banyak merek juga nanti akan terjadi persaingan yang tidak sehat,” sahut Shannedy.

    Sumbangan bisnis chipset Qualcomm sendiri chipset masih cukup besar dibandingkan dengan bisnis Qualcomm Lisenced. Perbandingkannya, 70% untuk chipset dan 30% untuk Qualcomm Lisenced.

    Trend Downgrade 4G ke 3G oleh Vendor

    Di pasar, saat ini banyak vendor yang coba mengakali aturan pemerintah tentang Tingkat Kandungan Dalam Negeri khusus untuk smartphone 4G. Di mana, menurut aturan harus mencapai 30% di tahun 2017 mendatang. Tapi saat ini, mulai banyak yang mengakali dengan mematikan layanan 4G nya sehingga smarthphone dijual dengan kondisi 3G. Namun, dengan sangat mudah dapat diaktifkan lagi. Apalagi, ada petunjuk nya untuk mengakifkan.

    Menurut Shannedy, hal ini memang sangat mudah dilakukan. Tergantung dari OEM atau Original Equipment Manufacturer mendesain produknya karena chispet dari Qualcomm memang sudah multi mode. Jadi downgrade tersebut bisa saja dilakukan. “Secara hardware maupun Software juga dapat didesain sedemikian rupa dan OEM ini memiliki cara sendiri. Tidak perlu ada campur tangan dari Qualcomm,” ujar Shannedy menjelaskan. Shannedy menambahkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh OEM ini sangat disayangkan karena teknologi yang ada di chipset tidak maksimal digunakan.

    Langkah OEM tersebut, di nilai oleh Shannedy juga dapat dilihat sebagai keseriusan dari OEM berbisnis di Indonesia. Jika ingin berbisnis di Indonesia, sudah tentu harus memenuhi aturan yang berlaku. Untuk itu, dapat saja bekerja sama dengan lokal manufaktur, sehingga aturan yang ada bisa dipenuhi. Apalagi, jika dilihat OEM lain, bisa melakukannya.

    Dari pihak Qualcomm sendiri melihat bahwa apapun aturan yang diterapkan oleh pemerintah akan didukung dan berharap masalah TKDN ini dapat berjalan smooth. Bahkan dari pihak Qualcomm berencana untuk

    TKIDN ini ada 2 komponen yakni hardware dan software. Sayang, yang banyak dibicarakan adalah software application. Padahal yang lebih penting adalah software developmentnya atau brain ware nya. Sama seperti smartphone canggih kalau tidak punya operating system menjadi bukan apa-apa. Nah, di chipset, perlu adanya akses ke brainware atau software develompent nya Qualcomm.

    Untuk itu, Qualcomm akan melakukan approach ke produsen smartphone lokal atau ODM (Original Design Manufacturer) sehingga dapat mengakses software developmentnya Qualcomm. Jika sudah ada kerjasama, maka produsen smartphone lokal bisa mengakses source code, kernel dan lainnya, dan dapat melakukan pengembangan yang sesuai dengan Indonesia. “Hal ini menurut kami sangat penting karena brainware nya adalah di software develoment itu,” tutur Shannedy.

    Jika para ODM di Indonesia sudah kerjasama langsung dengan Qualcomm maka mobile industri di Indonesia pun akan tumbuh lebih pesat lagi. Apalagi, Qualcomm memiliki hampir semua paten di mobile technology. “Inilah langkah dari Qualcomm untuk membantu tumbuh kembang industri mobile di Indonesia. Terlebih untuk masalah TKDN. Jadi kalau mau diaplikasikan tahun depan TKDN 30%, sangat bisa,” Shannedy.

    Sumber daya manusia di Indonesia pun sudah bisa melakukannya. Jadi, tidak membutuhkan SDM dari luar negeri. Dan, yang dilakukan bukan sekedar user interface saja, tetapi bisa lebih dalam lagi karena punya source code dan bisa masuk sampai kernel.

    “Hal ini akan mengubah lanskap industri mobile di Indonesia. Secara SDM sudah banyak tersedia, tapi untuk akses ke teknologinya Qualcomm, ini harus melakukan sign out sebagai direct lisence nya Qualcomm,” ujar Shannedy menjelaskan. Dengan demikian bisa mengakses keseluruh teknologi milik Qualcomm.

    Shannedy juga menambahkan bahwa persepsi bahwa software itu adalah application itu salah menurut Shannedy. Semua orang bisa mendevelop application. Itu hanya merupakan salah satu dari ekosistem saja. Applikasi itu bisa masuk jika hardware dan software development nya sudah ada. Bahkan, tanpa didorong pun, atau di trigger pun aplikasi akan masuk. Tapi, untuk mobile industri ini growth yang dibutuhkan adalah hardware dan software developmen itu.

    Untuk merek global, memang sudah memiliki direct lisence tapi kalau mau memenuhi TKDN, tetap saja harus memiliki SDM lokal karena TKDN itu, di develop di lokal dengan menggunakan SDM lokal.

    Masalah TKDN ini masih membingungkan. Pasalnya, dari 30% TKDN, yang 80% adalah software apps dan 20% adalah hardware atau bahkan software apps 100%. Sedangkan untuk software development masuk dalam hardsware. Qualcomm menyarankan agar software development ini menjadi variable tersendiri agar tidak membingungkan. Apalagi, potensi software development ini untuk menumbuh kembangkan mobile industri di Indonesia sangat besar. “Jadi, kita harus membawa lokal-lokal ODM ini untuk mendevelop user interface diatas OS, seperti Android atau iOS agar industri mobile di Indonesia pun berkembang. Para lokal ODM ini akan sangat memungkinkan membuat UI sendiri yang disesuaikan dengan lokal taste,” tutur Shannedy.

    Menurut Shannedy, langkah ini harus didorong juga oleh pemerintah sehingga ODM mau melakukannya. Jika hal ini bisa dilakukan maka pengembangan ke depan akan sangat banyak sekali. Lokal ODM tingga menyediakan lokal enginering. Dan, hal ini tidak akan sulit karena sebenarnya sudah banyak lokal enginering yang bisa melakukannya.

    Pasar di Indonesia Sangat Sexy

    Pasar Indonesia memang sangat besar dan potensial marketnya masih sangat banyak. Bahkan terbesar di south east Asia. Jadi wajar jika banyak ODM dan OEM dari Cina yang tertarik untuk berbisnis di Indonesia. Dan sudah tentu, hal ini juga menjadi pasar yang baik bagi Qualcomm.

    “Walaupun untuk masuk ke Indonesia ini cukup sulit. Perlu investasi besar. Ditambah lagi, persaingannya sangat ketat dan complicated,” ujar Shannedy menilai. Di tambah sekarang ini banyak barang OEM yang masuk ke Indonesia.

    TKDN adalah menjadi faktor kunci untuk ‘mengerem’ masuknya OEM Cina ke Indonesia. “Jika tidak, pasar Indonesia akan habis di lahap oleh OEM Cina,” ujar Shannedy menambahkan.

    Apalagi, di Indonesia, masalah black market masih menjadi isu yang belum bisa dituntaskan oleh pemerintah. Dan, jika pemerintah serius dengan masalah TKDN maka black market ini harus di ‘babat’ habis. Jika tidak maka akan banyak para pemain yang serius akan ‘marah’ karena sudah melakukan investasi jutaan dolar tetapi pararel import masih terjadi.

    Dari sisi harga sudah tentu akan kalah karena tidak masuk dengan channel yang legal. Lalu, buat apa mendukung program pemerintah kalau ‘lobang’ ini masih terbuka lebar. ‘Lobang’ ini, sekarang malah terbuka lebar karena adanya e-commerce. Coba saja lihat dari harga yang ditawarkan. Sangat luar biasa lebih murah ketimbang produk yang masuk secara legal.

    “Yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah sinkronisasi antar departemen. Jadi, program yang dicanangkan oleh pemerintah juga bisa berjalan lancar. Mana bagian Departemen Perdagangan, mana bagian Departemen Perindustrian, mana juga bagian Departemen Komunikasi dan Informatika,” ujar Shannedy memberi masukan. (Icha)

  • Cerita Di Balik 4G LTE Smartfren

    Cerita Di Balik 4G LTE Smartfren

    Telko.id – Ketika Smartfren pertama kali meluncurkan 4G LTE dipertengahan tahun 2015, banyak pihak yang kaget. Bagaimana tidak, tiga operator besar saja belum memiliki layanan ini. Lalu muncul pertanyaan, kenapa Smartfren bisa duluan? Hebat juga Smartfren ini, bisa dapat duluan. Ternyata dibalik itu semua, banyak cerita menariknya.

    Merza FachysPresident Director Smartfren Telecom bercerita panjang lebar tentang latar belakang kenapa Smartfren bisa punya layanan 4G LTE lebih dulu dibandingkan operator lain.

    Berawal ketika tahun 1998, Indonesia terjadi krisis moneter. Di mana, seluruh pembangunan infrastruktur terhambat. terutama di bidang telekomunikasi. Saat itu harga kabel naik dan menjadi mahal. Begitu juga dengan peralatan lainnya.

    Solusinya, agar masyarakat Indonesia tetap dapat menikmati telekomunikasi adalah mengijinkan pembangunan telepon rumah dengan menggunakan wireless. Apa teknologi yang tersedia pada saat itu untuk telekomunikasi wireless? Kalau menggunakan GSM kemahalan. Yang sesuai adalah CDMA. Lalu, CDMA bisa bekerja di frekuensi mana? Pada saat itu, 1900 Mhz yang memungkinkan digunakan. Lalu, mulailah Flexi bangun, diikuti oleh Indosat, Starone. Demikian juga dengan yang lain-lain yang berada di 1900 Mhz. Ketika teknologi GSM berevolusi ke 3G, ternyata 1900 Mhz adalah frekuensi nya 3G.

    Pada saat yang sama, operator yang berada di frekuensi yang benar adalah Mobile8, yakni di 800 Mhz, menguasai semua spektrum yang ada. Sebesar 20 Mhz. Lalu, pemerintah minta agar frekuensi itu dibagi. Akhirnya dibagi. Flexi, Esia ikut turun ke 800 Mhz. Mobile 8 yang asalnya punya 10 jadi tinggal 5 Mhz. Indosat lebih dipepet lagi akhirnya hanya punya 3 MHz. Asalnya mau dibagi 5. Supaya Smart juga ikut turun juga. Tapi terlalu sempit. Karena pada saat itu, Flexi sudah mulai berkembang dan Esia juga mulai berkembang. Asalnya, Smart mau dipaksa turun juga, tetapi karena terlalu ‘mempet’ tidak jadi. “Ya sudah, akhirnya di tinggalin dulu,” ujar Merza menceritakan kronologis penataan frekuensi 1900 Mhz pada tahap awal.

    Kebetulan, Smart tidak ‘nongkrong’ di pas 3G nya, tetapi di pinggirnya 3G. Agak di luar pager. Tidak masuk dalam pager. Tapi di dalam licensi nya Smart, ‘any time governor’ akan memindahkan frekuensi Smart. Itu awal muasal kenapa Smart (sebelum menjadi Smartfren) bisa menggelar 4G terlebih dahulu. “Bukan karena Smartfren brilian,” ujar Merza.

    Kemudian, pemerintah melelang 3G satu persatu. Pas sampai pinggir kanan, mepet dengan frekuensi yang dimiliki oleh Smart. Dan yang dapat pada waktu itu adalah Axis. Mulai terjadi ‘keributan’. Tiap hari Axis protes karena Smart menggangu. Jadi, bolak-balik, Smart di tegur kominfo, “hei, frekuensi nya kecilin,”.

    Kenapa bisa mengganggu? Teknologi CDMA itu menggunakan frekuensi itu untuk memancarkan sinyal dari BTS ke handset. Sementara GSM yang berada di sebelahnya persis, yang hanya dipisahkan oleh ‘pager’ itu kebalikannya. Dari hanset ke BTS. Power dari BTS sudah pasti besar karena digunakan untuk banyak pengguna. Sedangkan dari handset hanya mili watt saja. “Dihantam dari BTS, jebret.. ya tidak pernah bunyi. Jadi yang namanya Axis, menggunakan 3G tidak pernah sukses, karena diganggu oleh Smart terus.

    Merza mengibaratkan, dulu ada tanah kosong, lalu Smart itu memiliki ijin untuk buat usaha karoseri yang selalu ‘berisik’ selama proses produksi. Tiba-tiba, di sebelahnya dibangun Rumah Sakit yang membutuhkan ketenangan. “Hei berisik…”. Nah, keributan itu berlangsung cukup lama. Smart mengecilkan power membuat yang asalnya ada coverage menjadi tidak ada coverage. Lalu, Axis juga tidak happy. Kemudian terjadilah rembukan dan Smart harus pindah. Pindah frekuensi. Perbincangan ini terjadi tahun 2010 – 2011. Pada saat itu WiMax sudah ada di 2300 Mhz.

    “Bagi Smart, pindah frekuensi bukan pilihan yang baik karena Smart sudah memiliki pelanggan yang banyak,” ujar Merza.

    Pada saat itu, yang kosong adalah frekuensi 2300 Mhz. Dan, itulah satu-satunya frekuensi yang paling memungkinkan untuk Smart di pindahkan. Kenapa tidak dari dulu-dulu pindah? Karena memang tidak ada teknologinya di frekuensi tersebut. Baru, ketika standarisasi 4G diumumkan, teknologi di frekuensi 2300 Mhz pun berkembang.

    Jika dari dulu dipindahkan dan hanya ada teknologi WiMax, maka tidak memungkinkan Smart menggunakan frekuensi tersebut karena pelanggan nya sudah terbiasa berhalo-halo, tapi kemudian tidak diberikan layanan suara? Pasti akan marah para pelanggan Smart.

    Tapi, Smart juga tidak serta merta mengiyakan permintaan dari pemerintah untuk menggunakan frekuensi 2300 Mhz. Pasalnya, di dunia pada saat itu belum ada yang pakai. Belum ada ekosistemnya. Baru saja distandarisasi.

    Itu sebabnya, ketika WiMax tidak berhasil dan pemerintah menetralisir, pemerintah minta dikembalikan frekuensi nya. Walaupun pada saat itu sudah ada 4G. Yang berani hanya Bolt. Bolt berani ‘Futuristic Thing”. Jadi berani jualan. Yang lain tidak berani karena tidak ada ekosistemnya.

    Smart ‘dipaksa’ pindah

    Tentu apa yang dihadapi oleh Smartfren ini menjadi dilema. Pasalnya, Smartfren sudah melakukan investasi yang sangat besar di CDMA dan harus ‘dibuang’ begitu saja karena tidak akan digunakan lagi ketika pindah ke 2300 Mhz.

    “Ketika laporan ke pemenang saham, menjadi cerita yang menarik juga. Lha, mana ada investor yang mau ‘buang’ begitu saja investasi yang sudah dikeluarkan dan besar seperti itu. Sangat alot. Setelah bolak-balik, ujungnya, saya diminta untuk buatkan hitungannya,” ujar Merza menceritakan kronologis kejadiannya pada tahun 2011 lalu itu.

    Padahal, saat itu belum ada yang jual peralatan 4G itu. Jadi hitungannya pada saat itu adalah estimasi semua. Berdasarkan bicara dengan para vendor jaringan. Dan, dengan langkah tersebut maka layanan CDMA dari Smartfren akan mati. Tapi paling tidak, jika mengambil pilihan untuk pindah frekuensi, maka kelanjutan dari perusahaan ada, walaupun masih belum jelas akan seperti apa. Sedangkan, jika tidak mengambil pilihan untuk pindah frekuensi, maka sudah dipastikan bisnis akan berhenti. Itulah sebabnya, Smartfrfen mau mengambil langkah untuk pindah frekuensi ini.

    Semua itu adalah cerita infromalnya yang terjadi pada tahun 2012 – 2013. Cukup panjang juga waktu yang digunakan untuk bisa mendapat persetujuan dari pemilik saham. Setelah itu baru pemerintah melakukan proses pengesahannya setelah Smart mau.

    Proses itu berlangsung, bersamaan dengan mergernya Axis. Blessing in disguise bagi Smartfren. Kenapa? Karena Smartfren tidak perlu terburu untuk pindah dari frekuensi tersebut dan karena frekuensi tersebut juga sudah diambil lagi oleh pemerintah. Alasannya, adalah karena merger, tetapi sebenarnya adalah karena frekuensi itu ‘kotor’ sepanjang Smart hidup. Akhirnya, Smartfren dipindahkan ke 2300 Mhz dan mengaplikasikan 4G. Perpindahan itu harus selesai dalam jangka waktu 2 tahun.

    Awalnya, cukup membingungkan juga ketika harus pindah ke 4G di 2300 Mhz. Pasalnya, belum ada operator lain di dunia yang menggunakan teknologi ini. Namun, nasib baik berpihak pada Smartfren. Beberapa waktu setelah itu keputusan pemerintah keluar berkenaan dengan perpindahan frekuensi Smartfren ini, Cina mengumumkan, 2300 Mhz, ditetapkan sebagai frekuensi untuk 4G LTE nya. “Begitu Cina mengumumkan itu, maka kami sangat yakin, bahwa ekosistem pun akan terbentuk dengan cepat,” ujar Merza.

    Pada 1900 Mhz, Smartfren memiliki 2 kali 6.3 Mhz. Artinya total 13.7 Mhz. Diganti dengan 2300 Mhz, 30 Mhz. “Saya tahu bahwa di 2300Mhz ada 60 MHz. Saya ingin dapat semua,” ujar Merza sampir tersenyum. Tapi ternyata diberi oleh pemerintah 30 Mhz. Diskusi masalah kompensasi ini juga terjadi cukup panjang dan lama.

    Sebagai analogi, Merza mencontohkan, jika punya 100 meter persegi tanah di Menteng, lalu dipindahkan ke kawasan BSD, seharusnya tidak memperoleh luas yang sama, tetapi lebih dari 100 meter. Namun, tetap pemerintah memberikan alokasi frekuensi sebesar 30 Mhz pada Smartfren.

    Dari frekuensi 1900 Mhz ke 2300 Mhz, ada defisiensi faktor 1.6. Kemudian teknologi TDD dibandingkan dengan FDD, ada defisiensi juga. Totalnya, ada defisiensi mendekati angka tiga. Jadi, kalau Smartfren punya 15 Mhz, maka paling tidak harus punya 45 Mhz. Tapi karena slicing nya LTE itu 20 maka, Smartfren harus punya tiga slice atau 60 Mhz. “Itu yang kami minta pada waktu itu,” ujar Merza.

    Yang ke dua, dari nilai ekonomi. Mulai dari kapasitas, jumlah BTS, dan lainnya. Termasuk juga jumlah investasi yang sudah dikeluarkan oleh Smartfren. Semua ‘jurus’ itu dikeluarkan dan dipaparkan sebagai bahan justified.

    Jadi sebenarnya, secara akademik, apa yang dipaparkan oleh Smartfren sesuai. Hanya saja, tidak mungkin diberikan semua alokasi frekuensi di 2300 Mhz ini pada Smartfren. Akhirnya, dapat 2 slice, 30 Mhz.

    Pendekatannya adalah logika. Ketika tender WiMax waktu itu, adalah 30 Mhz. Tapi WiMax itu, block nya 5 per slice. Walaupun begitu, tetap pemerintah mengalokasikannya adalah 30 Mhz, tidak boleh lebih dari itu.

    Kerugian yang dialami oleh Smartfren dengan adanya peralihan frekuensi ini sangat besar. Pertama, investasi yang dilakukan untuk mengimplementasikan CDMA selama ini akan dibuang total. Padahal, selama ini, raport Smartfren masih merah terus. Artinya investasi yang dikeluarkan belum kembali juga. “Dari awal bangun sampai sekarang, Smart Telecom belum pernah biru raportnya,” ujar Merza. Dengan kata lain, investasi itu belum pernah kembali. Tapi sudah harus dibuang.

    Kedua, biaya BHP atau Biaya Hak Penggunaan, walaupun sudah harus pindah tetap harus dibayar. Jadi, selama 2 tahun ini, Smartfren tetap membayar BHP untuk 2 frekuensi. Karena kalau kompensasi, termasuk di dalamnya adalah bebas BHP, maka berhadapannya dengan hukum, masuk penjara.

    Begitu Smartfren launching layanan 4G LTE di 2300 Mhz dan memperoleh 30 Mhz dari pemerintah, banyak pihak yang membicarakan. Padahal, dibalik itu semua, Smartfren sudah begitu ‘menderita’. Investasi sekitar Rp.10 Triliun yang sudah dikeluarkan untuk membangun jaringan CDMA terancam hilang begitu saja.

    Dengan latar belakang itu semua, maka Smartfren akhirnya menjalankan strategi untuk sekaligus membangun jaringan di seluruh Indonesia. Bukan karena sombong, karena dalam waktu satu tahun, semua pelanggan Smartfren harus migrasi ke 2300 Mhz. Kalau tidak di mulai sedini mungkin, tidak akan cukup waktunya. Sebenarnya, Smartfren minta waktu 4 tahun. Tapi diberi waktu oleh pemerintah hanya 2 tahun karena pemerintah juga berkepentingan untuk melakukan lelang blok 11 dan 12 secepatnya.

    Dari sejak mendapatkan lisensi yang diperoleh pada tahun 2014. Baru pada bulan Juni 2014, Smartfren memilih vendor yang akan membantu mengimplementasikan jaringan 4G LTEnya.“Pemilihan vendor ini juga cukup sulit,” ujar Merza menjelaskan. Pertama karena Smartfren sendiri belum pengalaman, di mana teknologi 4G LTE ini juga masih baru. Jadi perlu kehati-hatian dalam memilih.

    “Jangan sampai membeli barang yang tidak bagus. Untuk itu, kami melakukan fact finding ke Korea ke Cina, untuk melihat network operator lain. Itu semua dilakukan, sebelum mendapat linsensi dan lebih intens lagi ketika sudah mendapatkan lisensi,” ujar Merza lebih lanjut.

    Baru setelah itu melakukan penentuan spesifikasi dan lainnya. Baru bulan Desember 2014 melakukan tender. Setidaknya, semua itu dilakukan dalam waktu 6 bulan. Tender dilakukan dengan diikuti 2 perusahaan dari Cina dan 2 perusahaan dan Eropa. Dari keempat perusahaan itu, dua kami pilih pada bulan Desember 2014. Baru pada bulan Juli, Smartfren melakukan ULO atau Uji Laik Operasi. Yang dipilih adalah Nokia dengan ZTE. Dengan total investasi sebesar, 760 juta USD. Dengan perbandingan Timur 40% dan Barat 60%. Untuk Timur dipegang oleh ZTE dan Barat oleh Nokia.

    Frekuensi 850 Mhz pun Bermasalah

    Masalah yang dihadapi oleh Smartfren belum tuntas. Untuk frekuensi 850 Mhz juga masalah. Seperti di Batam, ada masalah dengan Malaysia dan Singapura. Kenapa kasus? Karena di Malaysia dan Singapura, frekuensi itu digunakan untuk GSM. Di Indonesia, dipergunakan untuk CDMA. Di mana, terjadi tabrakan sinyal. CDMA sudah pasti menang karena yang dipancarkan lebih kuat karena sinyal dipancarkan dari BTS ke ponsel. Sedangakn GSM, sinyal yang dipancarkan dari ponsel yang tentu saja sangat kecil. Akibatnya, GSM di Singapura, di frekuensi 850 Mhz tidak pernah bisa dipakai. Tak pelak, Mobile 8 -waktu itu belum menjadi Smartfren- bolak-balik dikirimin surat oleh Singapura.

    Akhirnya, karena tidak selesai juga masalahnya, Singapura mengirim surat pada ITU dan organisasi tersebut memutuskan bahwa Indonesia tidak boleh menggunakan CDMA di frekuensi 850 Mhz di semua wilayah perbatasan. Dengan adanya surat itu maka Mobile 8 pun, yang memiliki 4 channel di frekuensi 850 Mhz, hanya bisa menggunakan 1 channel saja. “Ini memang pelajaran penting juga untuk Indonesia. Di mana, setiap negara itu harus melakukan pemberitahuan pada ITU tentang penggunaan frekuensi. Jika sudah declear duluan, maka negara lain tidak bisa mengganggu gugat,” ujar Merza.

    Hal itu membuat Mobile 8 tidak dapat berkembang di Batam, Riau dan wilayah sekitarnya karena hanya punya 1 channel. Apalagi, kalau di teknologi CDMA itu, antara voice dan data itu dipisah. Satu channel untuk voice dan satu lagi untuk channel. “Lalu, dengan hanya punya satu channel maka kita tidak berbisnis,” ujar Merza menjelaskan. Sehingga, Mobile 8 memilih hanya melayani voice saja di wilayah perbatasn tersebut.

    Hal lain adalah dalam penataan frekuensi 850 Mhz. Ide pertama kali datang dari Indosat. Waktu itu, Starone milik Indosat itu, kurang tumbuh dengan baik. Itu sebabnya Indosat minta ijin pada pemerintah. CDMA nya untuk dijadikan GSM. Tapi, kalau diijinkan, nasib Indosat juga akan terganggu oleh Mobile 8 yang waktu itu sudah menjadi Smartfren karena bersebelahan. Jalan satu-satunya adalah di wilayah itu harus menggunakan teknologi GSM. Caranya adalah ‘merayu’ Smartfren agar bergeser dan berdekatan dengan Esia. Jadi, keduanya masih bisa menggunakan teknologi CDMA. Sedangkan Telkom di pindah untuk berdekatan dengan Indosat. Yang akhirnya frekuensi Telkom Flexi diambil oleh Telkomsel dan jadi GSM.

    Kenapa pemilik Smartfren mau waktu itu? Karena ada Esia, di mana operator ini kesulitan keuangan. Jadi ada potensi Smartfren untuk ambil alih. Akhirnya, mau. Setelah bicara dengan orang teknik pun tidak masalah. Tidak perlu ada investasi lagi. Setelah itu di proses lah.

    Ternyata, setelah berjalan, muncul masalah. Di mana, handset Smartfren, Andromax yang sudah dibuat dan disubsidi oleh Smartfren, selama ini banyak ‘dibajak’ oleh pengguna operator lain. Sehingga diputuskan lah, membuat handset yang hanya mampu digunakan dengan jaringan Smartfren. Padahal, Smartfren sudah harus pindah. Jadi, proses migrasi yang harus dilakukan oleh Smartfren pun terkendala karena handset milik pelanggan smartfren tidak bisa bekerja di jaringan 850 Mhz. Paling tidak, saat ini masih ada 2 juta pelanggan Smartfren yang menggunakan ponsel CDMA. Dengan waktu yang telah ditentukan oleh pemerintah hanya 2 tahun, maka Smartfren pun harus agresif mendorong para pelanggannya untuk migrasi.

    Disisi lain, ada Esia, di mana saat itu sedang kesulitaan keuangan karena tidak mampu membayar BHP. Akhirnya, Merza membawa konsep konsolidasi pada pemerintah untuk menjadikan Smartfren sebagai penyelenggara jaringan, sedangkan Bakrie hanya sebagai penyelenggara jasa. Jadi, seluruh jaringan Bakrie harus diberikan ke Smartfren. Selanjutnya, Smartfren yang bertanggung jawab untuk membangun jaringan termasuk membayar biaya frekuensi. Secara hukum dan peraturan semua nya ada. Jadi, tidak masalah. Total frekuensi Smartfren di 850 Mhz punya 10 Mhz.

    Memang jika dilihat dari luar, Smartfren ini sangat menarik, karena memiliki 30 Mhz di 2300Mhz, dan 10 Mhz di frekuensi 850 Mhz. Kemudian, Smartfren bisa duluan memberikan layanan 4G LTE. Namun, di dalamnya, banyak PR yang harus dilakukan. Masih harus mendorong agar para pelangganya untuk migrasi. Dan kini, waktu yang diberikan oleh pemerintah tidak sampai satu tahun lagi.

    Akan kah, persoalan frekuensi ini selesai? Masih belum. Pasalnya, untuk 5G, yang rencanaya akan diadopsi tahun 2020 mendatang masih belum keluar standarisasinya. (Icha/Hamzah)

     

  • Tri Buka-bukaan Tentang Strategi Ke Depan

    Tri Buka-bukaan Tentang Strategi Ke Depan

    Telko.id – Beberapa waktu lalu, ada iklan Tri di TV yang membuat air mata ‘meleleh’ ketika menonton. Seorang ibu yang coba berkali-kali menelepon anak nya tetapi tidak ditanggapi anak nya karena sibuk bekerja. Sebuah harapan seorang ibu agar mendapatkan telepon dari sang anak. Tentu bagi yang menonton akan mengambil handphone lalu menghubungi Ibu nya masing-masing. Ya, itu lah program ‘Ubah Bicara’ dari Tri.

    Di Industri, program tayangan TV ini sedikit ‘nyeleneh’. Kenapa? Pada saat yang sama, operator lain sedikit melakukan aktifitas iklan di TV. Kalau pun ada, pasti bukan layanan suara yang ditonjolkan. Akan lebih menekankan pada layanan data bahkan 4G LTE.

    Namun, dibalik program tersebut, Tri ternyata mampu menambah jumlah pelanggannya. Hingga saat ini, pelanggan Tri bisa mencapai 50 juta. Tentu, ada rahasia dibalik itu semua. Seperti apa rahasia itu?

    Muhammad Buldansyah, sebagai wakil direktur Tri Indonesia menjelaskan bahwa program yang ‘Ubah Bicara’ tersebut merupakan salah satu dari upaya untuk memperkenalkan Tri sebagai Full Service Provider. Di Mana sebelumnya, Tri lebih dikenal dengan Operator Data Service. “ Bukan kita tidak senang dengan ‘label’ Operator Data Service, tetapi kami ingin lebih dikenal lagi dengan Full Service Provider,” ujar Muhammad Buldansyah, Wakil Direktur Tri menjelaskan dalam wawancara khusus dengan Telco.id.

    Ternyata, progam ini memberikan dampak yang luar biasa bagi Tri. Jumlah pengguna voice bertambah dan trafik juga meningkat. Yang dulu revenue 75% berasal dari pemasukan data, kini, komposisi pendapatan berubah menjadi 60% data dan 40% adalah non data.

    Program ‘Ubah Bicara’ ini pun dibuat untuk mempertahankan pelanggan yang loyal. Jika pelanggan data, sangat mudah ‘swing’ ke operator lain. Terutama ketika ada program di operator lain yang lebih menarik. Namun, ketika ada program ini, maka pelanggan menjadi tidak mudah untuk mengganti nomornya karena nomor sudah banyak dikenal keluarga, teman dan rekan kerja. Hal ini lah yang Tri mengklaim bahwa ada peningkatan jumlah pelanggan hingga lebih dari 50 juta.

    Dari sisi ARPU juga mengalami kenaikan. Karena selain adanya program ‘Ubah Bicara’ itu, Tri juga melakukan normalisasi harga. “Dulu, kita banyak memberikan free atau bonus. Lalu, kita juga ada free 11 URL, seperti Facebook, Google dan lainnya. Hal itu membuat layanan Tri yang utama tidak digunakan,” ujar Muhammad Danny menjelaskan.

    Sekarang, harga di normalisasi dan free URL itu dihapuskan. Otomatis, Average Rate Per Usage atau ARPU pun meningkat. Ternyata, jumlah pelanggan pun tidak lari, bahkan bertambah karena harga setelah normalisasi masih lebih murah ketimbang yang ditawarkan oleh operator lain. Value dan kualitas network Tri masih dirasakan lebih bagus sehingga pelanggan masih bertahan menggunakan Tri.

    Jadi, dengan promo ‘Ubah Bicara’ itu konsepnya adalah untuk Creating Voice Community. Walaupun tetap, Tri memberikan perhatian terhadap pelanggan datanya karena basic pelanggan Tri adalah pengguna data dan memberikan harga yang kompetitif.

    Tri juga melakukan normalisasi pelanggan. Sebagai upaya untuk memilah dan memilih pelanggan yang potensi. Dan, langkah ini merupakan hal biasa dalam industry. Hanya saja yag dilakukan secara natural. Berbeda dengan yang dilakukan oleh operator lain yang melakukannya dengan cukup drastis. “Pemegang saham kita juga tahu. Dan pemikirannya sama dengan kita, buat apa mempertahankan pelanggan hanya untuk gengsi jumlah pelanggan. Keuntungannya tidak seberapa,” sahut Buldansyah.

    Iklan Untuk Creating Revenue

    Tri tidak ikut-ikutan operator lain yang menghalalkan iklan pop up yang setiap kali pelanggan akses web, maka akan iklan yang muncul. Tri memang nanti nya akan masuk ke iklan untuk creating revenue lain. Hanya saja, caranya akan berbeda. Langkah yang dilakukan tidak akan Intrusive. Jadi, posisi iklan akan berada dibawah. Lalu, iklan muncul hanya 5 detik kemudian hilang. “Tidak akan sampai directing. Begitu masuk ke website langsung terbuka, harus kita tutup dulu. Itu mengganggu,” sahut Bludansyah.

    Contohnya, Airport TV. Ditengah ada kontennya, baru di samping atau dibawahnya ada iklan. Itu kenapa boleh? Kan tidak bayar konten. Sayang, iklan seperti ini, untuk di telekomunikasi masih diwilayah abu-abu. Belum ada yang mengaturnya.

    Berburu Spectrum

    Bagi operator, spectrum atau frekuensi adalah urat nadi. Jadi, tentu ketika ada auction spectrum semua akan berlomba untuk memperoleh bagian. Begitu juga dengan Tri. Dengan spectrum yang dimiliki sekarang, tentu untuk bergerak kearah pengembangan yang lebih baik menjadi sedikit terhambat. Jadi, ketika pemerintah membuka peluang Auction, Tri pasti ikut.

    “Kita akan berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan spectrum tambahan,” ujar Muhammad Danny menjelaskan.

    Utilisasi jaringan di Tri sendiri saat ini sangat efisien. Bahkan Tri mengklaim bahwa lebih efisien dari semua oprator di Indonesia. Artinya, dengan 10 Mhz yang sekarang dimiliki dibandingkan dengan trafik data yang ada, Tri sangat efisien. Pasalnya, operator lain, selain operator nomor satu di Indonesia masih lebih banyak jaringannya digunakan oleh pelanggannya untuk layanan Voice dan SMS.

    “Kami berharap, pemerintah melihat bahwa Tri adalah perusahaan yang serius . Lihat saja, dari sisi efisiensi frekuensi, Tri bagus dan sebagai provider data, pelanggan dapat menggunakan data via broadband dengan baik dan harga yang affordable,” ujar Buldansyah menjelaskan.

    Lebih lanjut, Buldansyah juga berharap bahwa apa yang dilakukan oleh Tri juga mendapat perhatian dari pemerintah. Dengan demikian, Tri dapat masuk jajaran oprator yang memang layak diberikan tambahan frekuensi. Selain itu, Tri juga selalu taat pada aturan pemerintah. Bukan perusahaan yang suka jual beli license.

    Selama ini, auction frekuensi seperti dijadikan alat bagi pemerintah untuk memperoleh dana besar. Jika melihat kondisi saat ini, Tri berharap, auction spectrum yang dilakukan nantinya tidak hanya untuk mendapatkan dana besar saja. Pasalnya, Buldansyah melihat bahwa Industri Telekomunikasi di Indonesia ini sudah berat. Regulator charging industry saat ini cukup besar. Apalagi dalam kondisi susah saat ini. Jadi, seandainya, pemerintah melihatnya dari arah kelayakan perusahaan yang akan menerima spectrum tersebut menjadi lebih baik.

    Terutama yang memiliki multi playing effects pada Negara. Bukan sekedar uang saja.

    Jika diberikan frekuensi, Apa yang akan dilakukan oleh Tri? Buldansyah menyebutkan bahwa Tri akan memberikan layanan data yang lebih baik lagi dari sekarang dan akan menambah coverge yang lebih luas lagi. Apalagi, sekarang ini Tri dapat dijadikan benchmark industry bahwa Tri sangat efisien memanfaatkan jaringan yang ada.

    Persoalannya adalah ketika Tri tidak memperoleh tambahan frekuensi? Buldansyah, tidak mau berandai-andai. Pemerintah sudah janji, bahwa auction lelang itu akan dilakukan setelah refarming selesai. Artinya sekitar November. Jadi awal tahun auction sudah bisa dimulai. Auction tersebut akan melelang frekuensi 2100 ada 2 kali 5 Mhz. Jika dikasih ke Tri semua ya, Tri pasti akan ambil. Hanya saja, Kita tahu juga bahwa yang berminat bukan hanya Tri. Semua operator berminat.

    Saat ini, LTE sudah mulai dijalankan di frekuensi 1800Mhz. Telkomsel memiliki frekuensi di 1800Mhz cukup besar. Jadi layanan LTE Telkomsel dapat di push di frekuensi itu. Di tempat-tempat yang sibuk. Di mana, lokasi tersebut adalah di kota-kota besar. Yang handset LTE juga sudah banyak.

    Dari sisi pemerintah agak delimatis. Pasalnya, jika pendapatan Telkomsel berkurang, maka pendapatan Negara juga berkurang. Jadi, masalah ini sangat complex. Tergantung sebenarnya dari roadmap pemerintah. Industri ini akan dibawa kemana. Berapa player yang akan tetap dipertahankan. Siapa saja dan frekuensi berapa saja yang akan digunakan. Tergantung pada pembagiannya. Baik pelanggan, revenue dan lainnya.

    Buldansyah berharap, sebaiknya Telkom Group tidak diberikan KPI berdasarkan keuntungan. Di mana, permintaan terhadap keuntungan Telkom selalu minta ditambah. Sebaiknya, positioning Telkom Group ini adalah mengayomi industry dan membangun coverage di daerah-daerah. Tentu, tanpa mengorbankan keuntungan. Tapi jangan minta ditambah lagi.

    4G Bagi Tri

    Seperti juga dengan operator lain, 4G merupakan peluang bisnis baru bagi Tri. Hanya saja, operator ini sangat hati-hati dalam memberikan layanan 4G. Bukan apa-apa. Berdasarkan pengalaman Tri di Negara lain, seperti di Eropa dan Australia, kebanyak 4G digunakan untuk providing reasonable speed atau reasonable quality ke costumer. Namun, jika belum bisa tercapai dengan 3G maka harus menggunakan 4G karena lebih efisien . Tapi kalau belum terpenuhi, maka harus menggunakan 4G karena lebih efisien.

    Dengan kondisi saat ini, Tri yang memiliki 2 kali 5Mhz akan lebih mengoptimalkan ke arah troughput. Tapi yang pasti, Tri akan mengkombinasikan segala sesuatu yang dimilikinya untuk memberikan layanan yang terbaik bagi pelanggannya.

    Pasalnya, saat ini, Tri juga masih dalam tahap penggodokan, apakah 4G akan menjadi product sendiri atau layanan 4G akan diberikan lebih mahal ketimbang 3G. Masih belum tuntas. Dengan 2 kali 5MHz, bisa lebih dioptimalkan ke True Put. Nah, Tri akan mengkombinasikan. “Karena yang penting bagi pelanggan, ketika lihat YouTube tidak buffering. Se simple itu. Tidak peduli itu 3G atau 4G,” ujar Buldansyah menjelaskan. Intinya adalah mengejar efisiensi. Yang ujung-ujung nya adalah Tri membutuhkan spectrum.

    Konsolidasi Jumlah Operator di Indonesia

    Tidak dapat dipungkiri, saat ini jumlah pelanggan terbesar di Indonesia adalah Telkomsel. Dari sisi pendapatan juga demikian. Hal ini membuat ada gap yang cukup besar antara Telkomsel dengan operator lainnya. Idealnya, operator di Indonesia jumlahnya 2 -3 saja. Dengan demikian, industry akan jauh lebih sehat. Dan operator lain, selain Telkomsel dapat bertahan hidup dengan lebih baik lagi.

    Untuk Single Player murni tentu tidak akan terjadi. Yang terjadi adalah, yang satu akan menjadi pemain yang besar sekali dan yang lain adalah nice player. Lebih specifik. Misalnya, yang satu bilang, saya main data, biarlah yang voice yang lain. Begitu jadinya.

    Jadi tidak akan mati semua. Seperti sekarang yang dilakukan oleh XL. Dia akan mengarah pada pelanggan kelas atas saja, pelanggan yang berkualitas. Ujung-ujung nya, akan mengarah pada nice market. Tapi, kalau mau pelanggan yang berkualitas, layanannya jangan yang itu-itu juga, sama dengan yang lain. Harus One step ahead.

    One head step ahead nya itu akan seperti apa? Dulu, kita tidak pernah berpikir, GoJek akan seperti ini. Layanan yang nanti nya akan diterima pasar dengan baik belum terlihat saat ini. Bisa saja e-commerce atau mobile commerce yang nantinya jadi jawara baru.

    Tri sendiri masih akan mengevaluasi lebih dalam lagi. Perlu dipikirkan cara monetizing yang cepat dan jangka panjang. Sehingga, jaringan tidak hanya terbebani saja, tetapi tidak creating money.

    Nah, untuk konsolidasi jumlah operator tentu harus ada corporate action dari masing-masing operator. Apakah akuisisi atau merger. Dalam kondisi saat ini sebaiknya hanya ada 2 operator saja. Tapi kalau ada peraturan-peraturan atau kebijakan pemerintah menjadi tiga operator yang sehat, itu juga bagus.

    Tri sendiri sangat terbuka. Apakah akan melakukan akusisi ataupun mengakusisi. Hanya saja, rumor yang beredar tentang Indosat akan membeli Tri masih belum ada pembicaraan kearah itu. “Bicara iya, tapi belum sampai ada due diligent. Bagi Tri masih belum urgent. Masih ada harapan-harapan,” ujar Buldansyah menjelaskan.

    Jika pun nanti Tri akan merger diakusisi atau pun mengakuisisi, value Tri sudah cukup tinggi. Value itu akan meningkat ketika Tri mendapatkan tambahan frekuensi.

    Tri Olah CAPEX dan OPEX Agar Efisien

    Capex itu bergantung cara kita beroperasi, kalau kita bilang mau agresif untuk meningkatkan pengguna data hingga 50%. Artinya, dari sisi jaringan juga harus memperluas wilayah juga 50%. Otomatis, penurunan dari unit price di Capex tidak banyak. Tapi itu, volume nya meningkat.

    Itu yang pertama, kedua, apakah kita mau mengembangkan coverage ke daerah-daerah baru? Antara, kita mau Capex dan Opex. Misalnya, kita mau sewa jaringan saja? Atau mau bangun jaringan sendiri. Tentu itu akan mempengaruhi Capex dan Opex.

    Tri Bagaimana? Akan Mix atau bagaimana? Kita pasti, menekan biaya CAPEX dan OPEX serendah mungkin. Caranya dengan desain yang bagus, harga yang normal. Kita melakukan cost saving baik di CAPEX maupun OPEX. Itu yang dilakukan. Kemudian, yang berikutnya adalah bagaimana Tri akan monetizing semua peluang sesuai dengan yang dimiliki saat ini. Terutama pada saat kondisi dolar seperti sekarang ini. Dengan begitu, CAPEX dan OPEX dapat jauh lebih hemat.

    Cara Monetizing banyak jalan. Apakah menaikan harga, buat bundling product yang lebih baik dan lain-lain.

    MVNO is a Must

    Di Indonesia MVNO tidak bisa berkembang? Kuncinya, di operator adalah di channel dan distribusi. Dengan catatan, network nya sudah ok. Nah, MVNO dituntut punya channel yang specific.

    Sekarang masih sulit melihat channel yang specific. Spesificnya di mana. Channel itu dituntut memiliki costumer base yang besar juga. Misalnya, Cinema 21. Dia sudah memiliki cinema di mana-mana, punya pecinta film dan costumer base. Cinema 21 itu punya peluang untuk jadi MVNO. Tri menggarap juga seperti MVNO itu. Hanya saja perlu hati-hati, jangan sampai minta channel saja, tetapi tidak bayar. Kredibilitas yang minta juga dilihat.

    Contoh lain adalah perbankan. BNI dan BCA misalnya, sangat memenuhi syarat untuk menjadi MVNO. Pertama karena cabangnya banyak dan berada di seluruh pelosok Indonesia, lalu jumlah nasabahnya juga banyak. Jadi, bisnis MVNO ini memang menarik. Hanya saja, nice market. Industri lain yang berpotensi menjadi MVNO belum tersosialisasi sehingga belum paham juga. Regulasi nya juga oleh pemerintah belum ada. Baru Bakrie dengan Smartfren. Itu hanya dikeluarkan untuk kedua operator tersebut. (Icha – Hamzah)

  • Ketika Layanan Pelanggan Tak Seindah Harapan

    Ketika Layanan Pelanggan Tak Seindah Harapan

    “Kita Tidak ingin hanya sekadar copy paste dari apa yang bisa ditemukan di luar, kemudian dibawa ke sini. Kita ingin membuat sesuatu di Indonesia, yang kemudian bisa Dibawa ke luar (negeri).”

    Jakarta – Perubahan pola pikir dan kecenderungan menggunakan internet tak bisa dipungkiri menjadi pemicu utama munculnya banyak startup di luar sana, khususnya yang bergerak dan memanfaatkan industri IT sebagai dasar dari bisnis mereka. BULP, dalam hal ini hanyalah salah satunya. Ini adalah startup yang menjadikan dirinya sebagai wadah bagi para konsumen untuk menyuarakan aspirasi mereka. Dalam hal ini terkait pelayanan dari perusahaan-perusahaan penyedia layanan, seperti provider internet atau makanan siap saji.

    Arie Nasution, Founder BULP mengungkapkan, butuh waktu kurang lebih satu tahun baginya hingga akhirnya dapat secara resmi memperkenalkan aplikasi ini. Diawali dari kumpul-kumpul bersama beberapa temannya, lalu muncullah ide untuk membuat sesuatu yang keren. Bukan sesuatu yang semata hasil copy paste dari apa yang bisa ditemukan di luar negeri, yang kemudian diterapkan di Indonesia. Melainkan sesuatu yang dibuat di Indonesia, yang nantinya akan bisa juga diaplikasikan di luar negeri.

    Bulan puasa tahun lalu, diakui Arie membawa hikmah tersendiri bagi dia dan teman-temannya, khususnya terkait hadirnya BULP.

    Jadi bulan puasa tahun kemarin tuh kulkas rumah tiba-tiba rusak. Kita cobalah tektok lah sama customer service-nya. Janji dateng minggu depan, ditunggu-tunggu ngga dateng, terus kita telpon lagi, janji dateng besok lusa, besoknya ngga dateng-dateng juga. Saat itu kita kesel banget sama satu brand ini,” terang Arie.

    Rasa kesal yang lumrah, yang mungkin pernah dirasakan semua orang. Bedanya, alih-alih terus-terusan memendam emosi pada brand kulkas yang dimaksud, lulusan Universitas ITB ini lebih memilih untuk menjadikan rasa kesalnya itu sebagai pelajaran. Akhirnya, Arie dan teman-temanpun menjadikan ini sebagai tonggak munculnya BULP.

    Bernaung dibawah sebuah perusahaan bernama PT Bina Usaha Lima Prima, BULP yang dibesut oleh lima sekawan – Arie, Dwi, Hasbi, Kahfi dan Ridwan – ini menjadi penghubung antara pihak perusahaan dan konsumen dalam menyampaikan aspirasi yang positif dan komprehensif.

    Arie dkk kemudian memutuskan untuk membawa buah karyanya, yang bahkan belum jadi itu dan masih sebatas konsep, ke sebuah ajang Start up Asia, yang kala itu kebetulan digelar di Jakarta. Modalnya satu, nekat, tutur Arie.

    Saat itu kita ingin tahu saja bagaimana pendapat orang-orang tentang aplikasi kami. Soalnya yang datang di acara itu kan banyak, ada investor, ada perusahaan, ada media, ada juga pengguna masyarakat,” ungkapnya.

    Dan ibarat pepatah, tak ada usaha yang sia-sia. Tak lama setelah mempresentasikan produk mereka, Arie dkk pun akhirnya mendapat kabar baik. Beberapa investor mulai menunjukkan ketertarikannya pada BULP. Sepuluh orang diantaranya – yang membentuk konsorsium – bahkan benar-benar bersedia untuk memberikan dukungan. Nah, hal ini jugalah yang kemudian mendasari keputusan Arie dkk untuk tidak mengikuti kegiatan inkubasi yang kini marak diadakan oleh beberpa perusahaan TI terkemuka.

    BULP, antara Keluhan dan eward

    Visi dan misi dari BULP sederhana, yakni merangkul sebanyak-banyaknya perusahaan dari berbagai sektor untuk menggunakan jasa mereka. Jika saat ini setiap perusahaan menambahkan logo Facebook, Twitter dan Instagram di bawah logonya, Arie berharap di masa mendatang akan melihat logo BULP bertengger diantaranya.

    Kami harapkan kedepannya akan ada logo kami disamping ketiga logo tadi. Dan bagi perusahaan yang tidak memasang logo itu artinya mereka tidak terbuka dengan aspirasi pelanggan,” tuturnya.

    Diluncurkan dalam versi beta pertama kali pada Januari lalu, saat ini beberapa perbaikan pun mulai tampak pada BULP, entah itu yang berkaitan dengan bug, jumlah merchant yang lebih banyak ataupun reward yang kini lebih beragam. Seperti diketahui, BULP memungkinkan pengguna mengumpulkan poin dari setiap keluhan, kritik atau kesan yang mereka sampaikan, yang nantinya akan bisa ditukarkan dengan reward yang tersedia, seperti t-shirt, tiket nonton, voucher dan banyak lagi.

    Dalam konteks aplikasi, BULP datang dengan real time analitic pada dashboard-nya yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai data insight dari konsumen. Hal ini tentunya akan membantu perusahaan untuk dapat berimprovisasi guna meningkatkan pelayanan mereka serta memberikan penyelesaian atas setiap masalah yang dihadapi, sebelum akhirnya membantu konsumen untuk mendapatkan pelayanan yang baik.

    Saat ini, Arie mengaku memiliki banyak rencana untuk mengembangkan BULP, termasuk didalamnya dengan menggandeng para opini leader seperti komunitas, perusahaan yang menjadi klien mereka ataupun organisasi-organisasi masyarakat seperti YLKI dan organisasi sejenisnya.

    Sampai saat ini, BULP diakui Arie telah mendapatkan setidaknya 9000 feedback, dengan 6 perusahaan yang telah resmi menjadi klien-nya. Sementara untuk perusahaan-perusahaan yang belum menjadi klien – ada setidaknya 1000 perusahaan yang berasal dari 38 sektor di database mereka – BULP mencoba melakukan pendekatan dengan cara mengirimkan blasting email yang diharapkan akan menjadi acuan bagi perusahaan tersebut untuk kemudian mulai memikirkan BULP sebagai solusi. Melalui BULP, perusahaan tak hanya dapat mendengar kritikan dari masyarakat, tetapi juga saran, pujian dan hal positif lainnya. Beberaoa fitur pun dihdirkan di aplikasi ini, misalnya saja share, mee too dan fedback. Sebagai informasi, menurut riset BULP, 96% pengguna yang tidak puas dengan pelayanan masyarakat lebih memilih diam sementara 91% diantaranya lebih memilih tidak menggunakan jasa perusahaan tersebut.

    Berkaca dari riset ini, hadirnya aplikasi BULP menjadi sebuah jawaban atas permasalahan tersebut. Pasalnya para pengguna yang menggunakan aplikasi ini diminta memberikan keluhan atau saran dan pujian mereka kepada salah satu perusahaan penyedia layanan jasa dan pengguna tersebut mendapatkan reward atas komentar yang mereka berikan.

    Saat ini, BULP yang baru tersedia di platform Android – iOS menyusul, telah diunduh oleh setidaknya 2000 pengguna. Meskipun tidak semuanya aktif dalam menyuarakan aspirasi mereka.

    4 Paket Hemat

    Berbicara tentang strategi bisnis perusahaan, Arie mengungkapkan ada strategi khusus ya g diterapkan untuk dapat menjangkau para perusahaan dan end user. Mulai dari menggandeng komunitas, perusahaan dan organisasi lainnya hingga menggelar promo khusus bagi perusahaan yang ingin berlangganan BULP, dimana mereka akan memberikan layanan gratis sampai akhir tahun bagi perusahaan yang ingin mendapatkan dashboard. Menariknya lagi, setiap perusahaan yang ingin menggunakan jasa BULP juga tidak perlu lagi repot-repot menginstal aplikasi, karena dashboard yang mereka sediakan nantinya akan berbentuk web dan bukannya aplikasi.

    Saat ini, penggodokan atas BULP masih dilakukan oleh Arie dkk. Tak hanya terkait aplikasi, tetapi juga satuan harga yang nantinya akan menjadi acuan saat aplikasi ini mulai digunakan oleh perusahaan-perusahaan. Meskipun beberapa paket telah disediakan.

    Fitur baca dan balas pesan bisa Anda temukan di pilihan paket pertama. Dimana perusahaan yang berlangganan paket ini hanya akan memiliki akses untuk membaca dan membalas setiap feedback yang datang kepadanya. Paket kedua memungkinkan pelanggan tak hanya sekadar membaca dan membalas pesan, tetapi juga mendapatkan data analisis dari letak demografis si pemberi feedback. Paket ketiga akan dilengkapi oleh fitur tren analitic, disamping tentunya fitur-fitur standar lainnya, dimana berbekal paket ini perusahaan dapat melakukan analisis berdasarkan tren yang ada dan sedang berkembang, seperti keluhan meningkat dan tren kerja menurun. Sementara paket keempat akan menghadirkan fitur analisis berdasarkan rekapitulasi, yang memungkinkan perusahaan dapat menganalis bagian mana yang perlu dievaluasi sedangkan BULP memberikan data dan fakta untuk perusahaan tersebut. Data ini akan diberikan dalam bentuk periodik setiap bulannya.

    Keamanan Sekelas Facebook

    Dikarenakan ini adalah sebuah startup, bukanlah sesuatu yang mengherankan jika BULP masih menggunakan public cloud sebagai server mereka. Salah satu alasan adalah karena investasi public cloud yang cukup terjangkau. Diakui Arie, yang memilih VPS dari perusahaan data center di Singapura, ia dan teman-temannya menghabiskan tak sampai Rp 1 juta untuk keperluan ini. “Jadi kalau ditanya kita kelurin berapa untuk BULP, praktis hanya untuk server saja,” jelasnya.

    Untuk sistem keamanan, meski mengaku tidak bisa menjamin 100% aman, namun Arie dkk mengaku sangat berkonsentrasi untuk urusan yang satu ini. Untuk itu, langkah preventif pun mereka lakukan dengan bekerjasama dengan salah satu perusahaan penyedia solusi keamanan terbaik.

    Kita concern banget dengan yang namanya security, maka dari itu kita saat ini telah bekerjasama dengan DigiCert yang juga menjadi mitra security dari Facebook dan Yahoo. Digicert yang nantinya akan mengurus security dari SSL kita,” pungkas Arie ketika ditemui tim Telkoid di kawasan SCBD, Jakarta belum lama ini.

    Invasi dalam 5 tahun ke depan 

    Saat ini, konsentrasi terbesar Arie dkk adalah merampungkan BULP hingga menjadi produk yang benar-benar jadi dan layak digunakan, baik itu di platform mobile ataupun desktop. BULP juga akan memperluas aksesnya ke berbagai jenis industri di Indonesia dalam setahun ke depan, dengan peningkatan analitik pada dashboard. Sementara dalam lima tahun mendatang, invasi ke luar negeri menjadi tujuannya. [AK/IF]