Kategori: Operator

  • Merza Fachys : Network Sharing Adalah Kebutuhan Operator dan Pemerintah

    Merza Fachys : Network Sharing Adalah Kebutuhan Operator dan Pemerintah

    Telko.id – Direktur Utama Smartfren, Merza Fachys mengaku bahwa Network Sharing merupakan kebutuhan dari para operator dan Pemerintah untuk mencapai efisiensi di industri teleomunikasi Indonesia. pada acara media update yang diselenggrakan oleh Smartfren di Jakarta (25/1), Merzha mengungkapkan dukungan Smartfren terhadap solusi efisiensi yang sedang digalakkan oleh Pemerintah ini. Ia menyebut, ” Network Sharing akan menjadikan Investasi menjadi lebih efisien dan tentunya dengan investasi yang lebih efisien akan berpengaruh pada tarif yang akan di bebankan kepada pengguna,”

    Senada dengan Merza, Munir, VP Special Project Network, juga mengatakan bahwa Smartfren mendukung rencana pemerintah untuk mendorong para operator dalam melakukan Network Sharing. “Smartfren sangat mendukung dan antusias untuk ikut network sharing,” ucapnya kepada tim Telko.id pada sesi doorstop.

    Munir menambahkan, solusi ini akan membuat biaya investasi menjadi lebih efisien. Karena itulah, dia menjelaskan bahwa apapun format dari kerja sama Network Sharing, maka akan mereka ikuti. “Kalau menguntungkan semua pihak, apa salahnya?” katanya.

    Munir juga menyebutkan, teknologi yang ada saat ini telah siap untuk melakukan Network Sharing. Dia juga meyakinkan bahwa jika Network Sharing dilakukan, tidak akan ada masalah interverensi sinyal. Ia berujar, bahwa satu-satunya syarat untuk melakukan kerja sama berupa Network Sharing saat ini adalah persetujuan antara dua perusahaan untuk melakukan Network Sharing. Setelah persetujuan untuk bekerja sama dicapai, dia mengatakan, hanya diperlukan waktu paling lama 6 bulan untuk melakukan Network Sharing, tentunya jangka waktu tersebut akan terlaksana apabila teknologi dari kedua operator sama.

    Sekedar Informasi, saat ini Smartfren telah mengadakan pembicaraan dengan beberapa operator lain, walaupun pembicaraan tersebut masih bersifat non-formal. Di Indonesia sediri saat ini sudah ada dua operator yang menyelenggarakan Network Sharing, yakni Indosat Ooredoo dan juga XL Axiata yang mengumumkan kerjasama jaringan untuk 4G LTE melalui MORAN (Multi Operator Radio Access Network).

    Munir juga menambahkan, yang menentukan terlaksananya Network Sharing bukanlah pada jenis jaringan TDD atau FDD melainkan pada teknologi yang digunakan.
    “Yang menentukan adalah teknologi dan gak masalah mau TDD ataupun FDD, yang penting teknologi nya mendukung dan tinggal kesepakatan dengan operator,” ucapnya.

    Sejatinya, terdapat sebuah kekhawatiran jika para operator melakukan Network Sharing, maka suatu ketika sebuah BTS mengalami gangguan, pengguna yang menggunakan jasa operator dengan BTS tersebut juga akan mengalami masalah dan tidak dapat terhubung ke jaringan. Meskipun begitu, Munir mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir akan hal ini.

    Dia menjelaskan, dalam sebuah daerah, biasanya BTS yang terpasang tidak hanya ada satu. Di sekitar BTS tersebut masih akan ada BTS-BTS yang lain. “Jadi, kalaupun satu BTS mati, pelanggan akan tetap dapat terhubung ke jaringan, meski mungkin kualitasnya sedikit berkurang,” ujar Munir.

    Seperti diketahui, Menkominfo Rudiantara mengatakan bahwa pemerintah ingin meningkatkan efisiensi pada industri telekomunikasi dengan mendorong para operator untuk bekerja sama dan melakukan network sharing. Namun, Telkomsel yang notabene adalah Operator terbesar di Indonesia mengungkapkan Network Sharing dapat menurunkan kualitas layanan ke pelanggan.

    Seperti yang disebutkan diatas, Smartfren sangat mendukung upaya Pemerintah dalam rangka efisiensi ini. Jika ini terwujud, bukan tidak mungkin percepatan pita lebar nasional akan lebih cepat dan dana efisiensi dari Network Sharing dapat digunakan oleh para operator untuk membangun banyak BTS di daerah yang rural dan sulit terjangkau internet.

  • Kuartal Pertama Tahun Ini, Semua Perangkat Andromax Bisa VoLte

    Kuartal Pertama Tahun Ini, Semua Perangkat Andromax Bisa VoLte

    Telko.id – Smartfren tampaknya sangat serius dalam menggarap layanan Voice over LTE (VoLte). Hal tersebut tergambar pada kesiapan mereka dalam menghadirkan layanan ini bagi para pengguna Smartfren di tanah air.

    Ditemui dalam acara media update di Jakarta, Senin (25/1), Munir SP, Spesial Project Network Smartren mengungkapkan, Smartfren sudah sangat siap untuk meluncurkan layanan VoLte bahkan saat ini perusahaan telah melakukan pengujian final terkait layanan tersebut di jaringan 4G.

    Sekedar Informasi, Volte sendiri merupakan kependekan dari Voice Over LTE, yang nantinya memungkinkan pengguna melakukan panggilan melalui jaringan data 4G mereka. Layanan ini sendiri secara teknis berbeda dengan beberapa aplikasi perpesanan, seperti Whatsapp ataupun Line.

    Perbedaan antara Volte dan Voip sendiri terjadi pada setup, dimana Volte lebih cepat melakukan setup calling bila dibandingkan dengan Voip. Volte sama seperti telepon biasa karena si pengguna nantinya hanya dibebankan tarif telepon sementara si penerima tidak dibebankan biaya.

    Kesiapan lainnya adalah, Smartfren tengah menyiapkan ekosistem yang mendukung layanan Voice Over LTE ini. Hal ini sesuai dengan pernyataan Munir kepada tim Telko.id pada sesi doorstop.
    Ia menyebut, “Semua Perangkat Andromax 4G akan mampu menggunakan layanan VoLte pada kuartal pertama tahun ini, dan pengguna hanya tinggal mengupgrade firmaware saja.”

    Sukoco Purwokardjono, Head of Device Smartfren menambahkan, “Mekanismenya adalah kami secara pelan-pelan akan mulai melakukan update pada Andromax R, Andromax Q dan Andromax E yang pertama, kemudian akan mulai pada perangkat lainnya dan juga dalam waktu dekat kami akan menghadirkan Andromax terbaru yang mendukung VoLte,” ucapnya.

    1

    Selain menghadirkan layanan VoLte di perangkat Andromax yang sudah ada, Smartfren juga nantinya akan meluncurkaan sebuah perangkat Andromax terbaru yang mendukung layanan VoLte pada kuartal pertama tahun ini.

    Dalam konteks tarif, Smartfren belum menentukan satuan tarif untuk layanan terbaru ini. Hal tersebut dikarenakan belum adanya perizinan dari pihak regulasi, dalam hal ini Kominfo, yang mengatur satuan tarif tersebut. Munir juga belum mau menjelaskan mengenai tarif interkoneksi yang nantinya akan dibebankan kepada pengguna jika melakukan panggilan ke opeator lainnya. Namun Ia menjamin layanan VoLte milik Smarfren mampu melakukan panggilan ke operator lainnya.

    “Karena layanan VoLte ini masih tergolong baru, tentunya Smartfren akan memberikan promo tarif kepada pengguna,” pungkas Sukoco memastikan. [ak/if]

  • TeliaSonera dan Ericsson Janjikan 5G di Tahun 2018

    TeliaSonera dan Ericsson Janjikan 5G di Tahun 2018

    Telko.id – TeliaSonera dan Ericsson bermitra untuk mengembangkan teknologi 5G dengan tujuan meluncurkan jaringan generasi kelima ini pada tahun 2018 mendatang. Tahun tersebut sepertinya menjadi tahun favorit para operator di dunia untuk menyelenggatakan layanan 5G mereka. Sebagai informasi, tahun 2020 digadang-gadang menjadi awal diluncurkannya jaringan 5G secara resmi di seluruh dunia dan banyak operator yang ingin meluncurkan jaringan internet generasi kelima ini dua tahun sebelum 2020.

    Dilansir dari Mobile World Live(22/1), TeliaSonera mengatakan dalam sebuah pernyataan, mereka bertujuan untuk memungkinkan pelanggan TeliaSonera di Stockholm dan Tallinn memperoleh layanan 5G dua tahun dari sekarang.

    Perusahaan menambahkan bahwa kolaborasi mereka didasarkan pada pemahaman umum dari pasar dan kebutuhan pelanggan, dan mereka akan mengembangkan kasus penggunaan 5G dan skenario layanan. Hal tersebut termasuk komunikasi dan jasa IOT untuk membuka peluang bisnis baru.

    ericsson5g

    Sementara itu, standar 5G sampai dengan saat ini pun belum didefinisikan, namun, proyek peluncuran pada tahun  2018 mendapatkan banyak pujian dan banyak pihak yang menganggap bahwa TelaSonera memiliki niat yang besar untuk melakukan hal tersebut.

    Seperti diketahui bersama, sepanjang tahun 2015, sejumlah pemain Asia dan Eropa berbicara atas kepentingan mereka di 5G, dengan banyak perusahaan yang menyebut tahun 2020 sebagai target yang realistis untuk meluncurkan jaringan ini.

    Sementara itu, Verizon saat ini memimpin jalan di AS, dengan rencana meluncurkan uji coba lapangan untuk 5G di seluruh negeri tahun ini, sementara saingan mereka seperti AT & T tetap setia pada rencana awal mereka.

    Johan Dennelind, Presiden dan CEO di TeliaSonera, menjelaskan alasan mereka untuk membawa layanan 5G ke Stockholm dan Tallinn untuk wilayah pertama. Ia menyebut bahwa dua kota tersebut adalah kota yang paling terhubung di seluruh dunia.

    “Mereka (Stokholm dan Tallinn) adalah dua kota yang paling terhubung di dunia dan kami akan membawa mereka ke tingkat berikutnya,5G akan menciptakan inovasi yang benar-benar baru, ekosistem dan jasa yang terbaik bagi pelanggan dan saya tidak sabar untuk melihat bagaimana Stockholm dan Tallinn akan merangkul jaringan 5G untuk pertama kalinya,” ucapnya.

    Sementara itu, pihak Ericsson mengatakan aplikasi 5G termasuk e-health dengan pengawasan pasien secara realtime dan aplikasi lain yang tersedia di 5G adalah connected cars, dengan kinerja yang lebih baik dalam hal cakupan kapasitas dan konsumsi daya.

    Kerjasama antara TeliaSonera dan Ericsson bukanlah sejatinya bukan menjadi kerjasama yang pertama antara kedua perusahaan. Ericsson juga membantu TeliaSonera untuk menyelenggarakan layanan 4G dan alasan itulah yang menjadikan Ericsson kembali terpilih untuk proyek jaringan ini.

    “Bersama-sama dengan TeliaSonera, kami meluncurkan jaringan 4G komersial pertama pada tahun 2009 dan kami akan berada di garis depan 5G.”Ucap Presiden dan CEO Ericsson.

    Menurut laporan mobilitas terbaru, Ericsson memprediksi akan ada 150 juta pelanggan 5G di tahun 2021 dan penunjukan peluncuran pada tahun 2018 setidaknya dapat mempersiapkan TeliaSonera untuk membangun ekosistem 5G.

  • Diboikot Tiga Operator Terkait Lelang 4G, Regulator Senegal Cuek

    Diboikot Tiga Operator Terkait Lelang 4G, Regulator Senegal Cuek

    Telko.id – Menyusul boikot terkoordinasi yang dilakukan oleh tiga operator seluler di negaranya, Senegal minggu ini akhirnya memutuskan untuk mengundang pendatang baru guna berpartisipasi dalam lelang 4G.

    Regulator yang berwenang untuk telekomunikasi dan pos (ARTP) di negara itu meluncurkan proses tender 4G pada bulan November lalu. Saat itu, tender ini hanya terbuka untuk pemegang lisensi yang ada, yakni Orange, Tigo, dan Expresso.

    Frekuensi di pita 800 MHz, 700 MHz, dan 1800 MHz tersedia untuk diperebutkan, dan ARTP menetapkan harga terendah 30 miliar franc (€ 45.7 juta) untuk lisensi selama 20 tahun. Pihak yang berkepentingan memiliki waktu sampai hari Senin untuk menyerahkan aplikasinya.

    Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, pengawas mengungkapkan bahwa ia menerima surat pada bulan Desember yang ditandatangani oleh Orange, Tigo dan Expresso, melaporkan “kekhawatiran mereka atas harga terendah lisensi,” namun mengatakan bahwa mereka tidak menerima permintaan resmi untuk memundurkan batas waktu pendaftaran. Alhasil, ARTP pun menyebut ketiga operator bersangkutan tidak tertarik untuk mengikuti tender.

    “Hari ini, negara mengakui non-partisipasi kolektif dan terkoordinasi dari operator,” kata ARTP.

    Regulator mengatakan bahwa harga terendah spektrum dikembangkan dari patokan harga di lebih dari 20 negara, dengan mempertimbangkan kuantitas dan kualitas frekuensi yang tersedia, populasi, pendapatan dari pasar telekomunikasi Senegal, dan kewajiban cakupan yang melekat pada lisensi 4G.

    ARTP mengatakan pihaknya berencana untuk menghidupkan kembali proses lisensi 4G dalam beberapa hari mendatang.

    “Ke depannya panggilan untuk mendaftar akan terbuka untuk pendatang baru, [dan] operator telekomunikasi internasional, yang tertarik dalam pengembangan telepon dan internet mobile di Senegal,” pungkas ARTP.

  • Kantongi Izin Regulator, Nepal Telecom Siap Gelar 4G

    Kantongi Izin Regulator, Nepal Telecom Siap Gelar 4G

    Telko.id – Warga Nepal sepertinya akan benar-benar bisa menikmati 4G-nya sendiri. Kabar baik ini hadir menyusul kesiapan Nepal Telecom untuk meluncurkan layanan 4G-nya, segera setelah menerima izin dari regulator Nepal Telecomunication Authority (NTA).

    Berdasarkan laporan dari TheKathmandu Post, direktur Nepal Telecom, Buddhi Prasad Acharya mengatakan bahwa komisi pengembangan parlemen awal pekan ini telah menetapkan untuk memulai layanan dan meminta bersabar untuk menunggu jawaban.

    Nepal Telecom berencana untuk menawarkan layanan 4G di kota-kota besar di mana terdapat permintaan akan jaringan ini. Perusahaan akan meng-upgrade jaringan 3G di seluruh cakupan mereka dan segera menonaktifkan layanan 2G.

    Sementara itu, upaya untuk meningkatkan kualitas layanan telah diselenggarakan kembali, karena kesulitan dalam mengimpor akibat dugaan blokade yang dideklarasikan pada Nepal oleh India, dengan sebagian besar peralatan yang diimpor terjebak di kantor pabean.

    Di sisi lain, Nepal Telecom yang notabene merupakan perusahaan negara harus mampu bersaing dengan pemain swasta. Sekedar informasi, sejak empat tahun lalu Nepal Telecom terus menanyakan mengenai alokasi spektrum 4G kepada NTA, dan baru tahun ini mereka mendapatkan lampu hijau dari pihak regulasi.

    Namun, hal tersebut tampaknya tidak akan berjalan semulus yang diinginkan. Pasalnya mereka tidak mampu mendapatkan peralatan dan infrastruktur secepat mereka bisa, ucap Acharya kepada komite. [ak/if]

  • Kombinasikan DSL dan LTE, Swisscom Kebut Internet Rumah

    Kombinasikan DSL dan LTE, Swisscom Kebut Internet Rumah

    Telko.id – Sebagai bagian dari investasi yang signifikan untuk memperluas jaringan broadband canggih miliknya, Swisscom telah mengumumkan akan menkombinasikan jaringan tetap dan jaringan bergeraknya dengan menggunakan teknologi DSL + LTE.

    Uji coba awal dijadwalkan akan dimulai perusahaan bulan ini, dengan menargetkan sejumlah kecil pelanggan perumahan dan memberikan bandwidth hingga 20Mbps selama tahap pertama. Kecepatan broadband yang lebih tinggi sendiri direncanakan Swisscom untuk pengujian tahap selanjutnya. Demikian diwartakan Telecomtech, Kamis (21/1).

    Saat ini, uji coba Swisscom sedang dalam persiapan untuk mengatasi semakin tingginya tingkat lalu lintas yang ditempatkan pada jaringan tetap; yang saat ini menjadi dua kali lipat setiap 16 bulan. Menggabungkan bandwidth mobile dengan jaringan tetap – menggunakan teknologi ikatan LTE + DSL – akan memungkinkan lebih banyak data melewati jaringan tanpa memiliki dampak pada pengalaman pelanggan.

    Untuk memuluskan niatnya, sebuah receiver LTE baru juga telah dikembangkan oleh perusahaan yang berbasis di Swiss ini. Perangkat ini akan menjemput aliran data mobile dan menghantarkannya melalui WLAN ke router DSL. Router ini sendiri dilengkapi dengan perangkat lunak cerdas yang menggabungkan aliran data mobile dan jaringan tetap.

    Dalam keterangan resminya, Swisscom mengatakan bahwa ketersediaan ikatan DSL + LTE dan bandwidth yang sebenarnya ditentukan oleh panjang tembaga jaringan tetap dan cakupan 3G atau 4G di rumah pelanggan. Swisscom bertujuan untuk menggunakan uji coba ini untuk menentukan apakah peluncuran pasar layak dilakukan.

    Swisscom bertujuan untuk menyediakan broadband ultra-cepat hingga 85 persen di semua rumah dan kawasan bisnis di Swiss pada akhir 2020. Pada 2015 saja, penyedia layanan ini menginvestasikan lebih dari CHF 1,75 miliar atau sekitar Rp 24 triliun untuk memperluas infrastruktur jaringan dan IT. Dengan diperkenalkannya standar transmisi baru G.fast, Swisscom percaya dapat memberikan kecepatan hingga 500Mbps dari akhir tahun ini.

    Sebagai informasi, DSL, yang merupakan singkatan dari Digital Subscriber Line ini sendiri merupakan koneksi internet broadband yang menggunakan kabel jaringan telepon untuk memberikan sinyal internet kecepatan tinggi. Kecepatan download DSL dapat berkisar dari 256 kbps hingga 24 Mbps, meskipun kecepatan dapat bervariasi tergantung pada kualitas saluran telepon, jarak dari ISP atau jenis langganan DSL. Instalasi DSL umumnya dapat dilakukan tanpa pengeboran lubang tambahan atau menginstal outlet ekstra; asalkan rumah Anda telah memiliki kabel telepon yang terpasang, semua yang perlu Anda lakukan adalah menghubungkan modem DSL.

  • Inilah Alasan Kenapa Jaringan 4G Pindah ke 3G Saat Voicel Call

    Inilah Alasan Kenapa Jaringan 4G Pindah ke 3G Saat Voicel Call

    Telko.id – Melakukan panggilan suara menggunakan jaringan 4G sudah dimungkinkan dengan adanya teknologi VoLTE (Voice Over LTE) ataupun RCS (Rich Communication Suite). Tapi teknologi tersebut belum benar-benar diimplementasikan oleh operator telekomunikasi di Indonesia.

    Inilah alasan mengapa pengguna jaringan 4G secara otomatis akan berpindah ke jaringan 3G atau 2G pada saat melakukan panggilan suara. Karena pada dasarnya, operator telekomunikasi di Indonesia masih menggunakan switching berbasis sirkuit (circuit switch) untuk melayani panggilan suara. Sementara pada jaringan 4G, semua sistem switching sudah berbasis packet.

    Lalu apa sebenarnya perbedaan circuit switch dan packet switch? Secara sederhana, circuit switch menggunakan satu line yang terdedikasi untuk menyambungkan dua orang yang melakukan panggilan suara. Sementara packet switch, satu line bisa digunakan bersama oleh beberapa user dengan terlebih dulu memecah informasi ke dalam paket-paket untuk selanjutnya dikirim ke tujuan.

    Berikut adalah penjelasan lengkap tentang circuit switch dan packet switch. Semoga bermanfaat!

    CIRCUIT SWITCHING
    Circuit switching merupakan suatu jaringan yang dirancang untuk komunikasi dengan jalur yang tetap. Jaringan circuit switching di bangun dari suatu kanal atau sirkuit yang dedicated, yang dimaksud kanal atau sirkuit yang dedicated disini adalah kanal atau sirkuit yang dedicated tidak bisa dilalui oleh pengguna (user) lain. Artinya sirkuit ini hanya bisa digunakan oleh user tertentu saja dan user tersebut akan menggunakan jalur yang tetap.

    Adapun prinsip kerja dari circuit switching adalah:

    1. Pembangunan Sirkuit: Sebelum terjadi komunikasi antara transmitter dan receiver, terlebih dahulu membangun suatu jaringan sirkuit yang akan dilewati data yang akan dikirimkan dari transmitter (pengirim) ke receiver (penerima).
    2. Transfer Data: Setelah sirkuit terbangun, maka agar data bisa sampai ke receiver harus dilakukan transfer data dari transmitter ke receiver. Data yang dikirim akan dilewatkan di sirkuit yang sudah dibangun sebelumnya.
    3. Diskoneksi Sirkuit: Receiver akan mengirimkan konfirmasi ke sirkuit transmitter bahwa data sudah diterima agar koneksi dapat diakhiri.

    Kelebihan / Keuntungan Circuit Switching: Karena menggunakan jalur yang tetap, sehingga mempunyai kemungkinan yang kecil terjadinya kesalahan pengiriman data dikarenakan alamat yang dituju salah.

    Kelemahan / Kerugian Circuit Switching: Mengurangi efisiensi penggunaan suatu jaringan sirkuit. Karena jaringan sirkuit hanya bisa digunakan oleh user tertentu saja.

    Contoh dari penerapan Circuit Switching dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika pengguna menggunakan panggilan ‘voice’ maka ketika panggilan dilakukan dari satu telepon ke yang lain, switch dalam pertukaran telepon membuat sirkuit kawat terus menerus antara kedua telepon, selama panggilan berlangsung. Untuk jaringan Mobile sendiri, 2G dan 3G masih menggunakan sistem Circuit Switching.

    PACKET SWITCHING
    Packet switching adalah metode komunikasi digital yang mana semua data yang ditransmisikan, terlepas dari konten, tipe struktur, dipecah menjadi blok-blok berukuran yang sesuai, yang disebut paket. Fitur pengiriman Packet Switching terdiri dari variabel-bit-rate data stream (urutan paket) melalui jaringan bersama. Ketika melintasi adapter jaringan, switch, router dan node jaringan (setiap komputer, printer atau peripheral yang terhubung dalam jaringan) lainnya, paket-paket tersebut antri untuk ditransmisikan, mengakibatkan penundaan variabel dan throughput tergantung pada beban lalu lintas dalam jaringan.

    Dua mode packet switching yang utama adalah packet switching connectionless, juga dikenal sebagai datagram switching, dan switching sirkuit virtual.

    Dalam kasus pertama masing-masing paket mencakup informasi pengalamatan atau routing yang lengkap. Paket-paket tadi diarahkan secara individual, sehingga menyebabkan berbagai jalan yang berbeda dan out-of-order pengiriman. Sementara dalam kasus kedua, koneksi didefinisikan dan preallocated di setiap node yang terlibat selama fase koneksi sebelum semua paket ditransfer. Paket termasuk pengenal koneksi ketimbang informasi alamat, dan disampaikan dalam rangka. Untuk jaringan Mobile, teknologi 4G telah mengadopsi sistem ini.

    Perbedaan Circuit Switching & Packet Switching

    Dalam hal biaya (sebagai lawan flat rate), misalnya dalam layanan komunikasi selular, circuit switching ditandai dengan biaya per satuan waktu dari waktu koneksi bahkan ketika ada data yang ditransfer, sementara packet switching dicirikan dengan biaya per unit informasi.

    Berikut adalah perbedaan lengkap antara circuti switching dengan packet switiching.

    Circuit switching Packet switching
    • Tergantung pada path transmisi
    • Transmisi data secara kontinu
    • Interaksi yang cukup cepat
    • Message-message tidak disimpan
    • Path dibentuk untuk seluruh percakapan
    • Delay setup panggilan; delay transmisi diabaikan
    • Sinyal sibuk bila party yang dipanggil sibuk
    • Kelebihan beban mungkin memblok setup panggilan; tidak ada delay untuk pembentukan panggilan-panggilan
    • Elektromekanikal atau komputerisasi switching node
    • Pemakai bertanggung jawab untuk kehilangan proteksi message
    • Biasanya tidak ada konversi kecepatan atau kode
    • Bandwidth transmisi yang tetap
    • Tidak ada kelebihan bit-bit setelah setup panggila
    • Tidak tergantung
    • Transmisi paket-paket
    • Paket-paket mungkin disimpan sampai dikirim
    • Rute terbentuk untuk tiap paket
    • Delay transmisi paket
    • Pengirim mungkin memberitahukan jika paket tidak dikirimkan
    • Kelebihan beban meningkatkan delay paket
    • Small switching node
    • Jaringan mungkin bertanggung jawab untuk paket-paket individu
    • Pemakaian bandwidth yang dinamis
    • Kelebihan bit-bit dalam tiap message

    Setelah mengetahui penjabaran singkat mengenai apa itu Circuit Switching dan packet Switching, sejatinya kita sudah dapat memecahkan persoalan tentang ‘mengapa jaringan 4G pada bar smartphone kita turun ke 3G ketika sedang melakukan panggilan voice. Kenapa demikian, karena voice call menggunakan sistem Circuit Switching maka secara otomatis bar signal di smartphone akan pindah ke jaringan 3G dan 2G dikarenakan jaringan 4G sudah menggunakan sistem Packet Switch. Hadirnya VoLte dan RCS (Rich Communication Suite) adalah sebuah solusi untuk menjadikan voice call menggunakan Packet Switch (Sistem Switching yang digunakan untuk komunikasi data).

  • China Mobile Tidak Melihat Aliansi China Unicom dan China Telecom sebagai Ancaman

    China Mobile Tidak Melihat Aliansi China Unicom dan China Telecom sebagai Ancaman

    Telko.id – Aliansi antara China Unicom dan China Telecom akan mengubah industry telekomunikasi di Cina. Namun, seperti dilansir dari South China Morning Post melihat bahwa langkah strategi dari kedua operator ini masih belum bisa menutup kesenjangan dengan China Mobile.

    Langkah strategi yang dilakukan oleh ke dua operator Cina ini ditujukan untuk mereformasi secara structural industry telekomukasi Cina dan membantu pemerintah untuk memajukan ‘Internet Plus’ sehingga penduduk di negeri Tirai Bambu tersebut dapat melakukan akses internet yang jauh lebih luas lagi dan secara nasional.

    Chris Lane, seorang analis senior di Bernstein Research, mengatakan dalam sebuah laporan bahwa kesepakatan tersebut akan membuat Unicom dan China Telecom untuk meningkatkan posisi pasar mereka menjadi kedua terbesar di dunia.

    “Kami melihat bahwa dampak pada China Mobile tidak terlalu besar. Pasalnya, China mobile masih unggul jauh dibandingkan dengan aliansi kedua operator tersebut. Terlebih, Cina Mobile dianggap memiliki kekuatan financial sehingga mampu memanfaatkan momen yang ada untuk memberikan layanan 4G di 2016. Sementara, China Telecom dan Unicom kurang memiliki kekuatan untuk memanfaatkan momentum ini.

    China Mobile asalah operator terbesar di dunia. Dan memiliki target pada 215 ini mampu memperoleh 500 juta pelanggan 4G di akhir tahun 2016.

    Pada tanggal 30 November, China Mobile memiliki 287.320.000 pengguna 4G dari total pelanggan sebesar 825.190.000.000.

    Untuk membangun jaringan 4G yang kompetitif dan secepat mungkin, Chirs berharap Unicom dan China Telecom untuk berinvestasi di base stations. Huang Leping, analis dari NOMURA menyebutkan bahwa perusahaan ini merencanakan pada tahap akhir pembangunan jaringan 4G akan selesai pada tahun ini. Proses pembangunan layanan 4G yang menggunakan teknologi Time Division Long Term Evolution tersebut sudah dilakukan sejak Desember 2013.

    Analis juga mengatakan bahwa bagian yang paling penting dari kerjasama strategi dari Unicom dan China Telecom ada lima point strategi . Diantara nya adalah kerjasama dalam pembangunan regional jaringan 4G dan mengajukan smartphone berstandar nasional.

    Aliansi Unicom dan China Telecom tersebut juga bertujuan untuk mempersempit kesenjangan dengan jaringan 4G China Mobile. Di mana belanja modal yang tidak besar pun dapat dimanfaatkan dengan berbagai biaya dalam penyebaran jaringan di pedesaan dengan jaringan 4G yang baru.

    Analis Nomura, Huang Leping juga mengatakan dalam sebuah laporan bahwa buildout jaringan pedesaan bersama oleh dua operator jaringan akan memperkuat dan meningkatkan keuangannya.

    “Untuk membangun jaringan 4G kompetitif secepat mungkin, kami berharap Unicom dan China Telecom berinvestasi dalam BTS,” kata Huang. “Hal tersebut akan membuat belanja modal kedua operator tersebut di tahun ini diperkirakan akan tetap relatif stabil, tetapi turun sekitar 10% pada tingkat kelompokl”.

    Nomura memperkirakan total belanja modal Unicom tahun ini, termasuk perluasan jaringan 4G, mencapai 100 miliar yuan (HK $ 118.390.000.000), sementara itu dari China Telecom diperkirakan sebesar 98 miliar yuan.

    Unicom memiliki 180.240.000 gabungan 3G dan 4G pelanggan pada tanggal 30 November, sedangkan China Telecom memiliki 141.030.000 3G dan 4G total pengguna di periode yang sama.

    Aliansi kedua operator tersebut akan melakukan promosi yang disebut dengan six-mode smartphone untuk ‘all network access’ dan menjadi standar nasional. Itu semua termasuk juga standar 2G, 3G dan 4G yang dapat digunakan pada semua jaringan ketiga operator.

    “Six-Mode standar nasional yang diusulkan dan ditujukan untuk mid –high end handset juga sebagai upaya untuk memaksa China Mobile bergabung,” ujar Bernstein Lane menjelaskan.

    Lebih lanjut, Lane juga menyebutkan bahwa upaya ini akan berhasil.

    China Telecom cukup merasa ‘pukulan’ yang hebat dengan adanya aliansi dari Unicom dan China Mobile ini. Pasalnya, para pengguna 2G CDMA (Code Division Multiple Access dan 3G CDMA-2000 menjadikan harga ponsel lebih tinggi bagi pelanggan China Telecom.

    China Mobile saat ini fokus pada five-mode handset yang berbasis CDMA. Unicom hanya mendukung four-mode smartphone dan akan ketinggalan jaman ketika dikembangkan standar 3G secara lokal yang disebut dengan Time Division Synchronous CDMA, yang juga merupakan jaringan lama dari 3G China Mobile.

    Lane mengatakan standar nasional tunggal untuk smartphone “memiliki beberapa manfaat positif bagi regulator. Salah satunya adalah memudahkan pengguna untuk mengubah jaringan melalui Subscriber Identity Module (SIM) kartu mereka.

    “Jadi tidak perlu membeli handset baru. Cukup menukar kartu SIM saja,” kata Lane menjelaskan. Hal ini juga akan mendorong volume jualan produsen smartphone menjadi lebih besar lagi. Dan disisi lain, tidak perlu mengelola varian yang berbeda untuk masing-masing operator.

    Unicom dan Telecom menggelar jaringan 4G dengan menggunakan teknologi TD-LTE China dan frekuensi-division duplex long term evolution atau FDD standar. (Icha)

  • Dapat lampu Hijau, BT Tinggal Selangkah Lagi ‘Genggam’ EE

    Dapat lampu Hijau, BT Tinggal Selangkah Lagi ‘Genggam’ EE

    Telko.id – Keinginan perusahaan telekomunikasi raksasa asal Inggris, British Telecom untuk mengakuisisi EE akhirnya kesampaian juga, setelah Regulator Persaingan dan Pasar atau Competition and Markets Authority (CMA) memberi lampu hijau atas niatannya. Prosos ini diperkirakan akan selesai pada 29 Januari mendatang.

    CMA memberikan lampu hijau kepada BT – yang mengambil alih EE dengan £12.5 miliar – setelah penyelidikan panjang mengenai bagaimana perjanjian ini akan mempengaruhi lanskap kompetitif, yang berlangsung selama 10 bulan.

    Niat BT untuk membeli EE sendiri dimulai pada awal tahun 2015 lalu, disusul penyelidikan CMA terkait apakah kesepakatan baru ini akan membahayakan persaingan di sektor ini atau tidak, yang berarti konsumen akan mendapatkan kesepakatan yang tidak adil.

    Namun, disimpulkan bahwa sementara BT memang memiliki minat yang kecil sebagai penyedia mobile, dan memiliki peran yang kuat dalam transmisi sinyal untuk sejumlah jaringan, menjadi salah satu dari ‘empat besar’ jaringan selular di Inggris tidak akan memiliki dampak yang signifikan dalam peran ini.

    Kesepakatan ini akan tuntas dalam beberapa minggu ke depan, dengan 29 Januari tercatat sebagai waktu penyelesaian kesepakatan, di mana CEO lama EE , Olaf Swantee akan mundur untuk digantikan oleh Marc Allera, COO saat ini.

    Sebagai hasilnya, lanskap ponsel di Inggris juga akan berubah, dengan BT dalam posisi untuk menawarkan layanan digital yang lebih luas di seluruh broadband, TV dan mobile untuk lebih banyak paket ‘end-to-end’ kepada konsumen.

    Singkat kata, segala sesuatunya akan berubah dalam ranah jaringan selular Inggris menyusul merger dan akuisisi ini, yang disinyalir dapat memberikan kekuatan lebih dalam menawarkan produk yang lebih baik kepada konsumen.

    Di Inggris sendiri, saat ini yang akan menjadi pesaing BT/EE adalah tiga operator besar lainnya, yakni Tri, O2 dan Vodafone. Demikian diwartakan TechRadar, Senin (18/1).

     

  • Perluas Jejak di Asia, Axiata Group Rekrut 3 Bos Baru

    Perluas Jejak di Asia, Axiata Group Rekrut 3 Bos Baru

    Telko.id – Axiata Group belum lama ini menunjuk tiga eksekutif senior untuk memperkuat tim manajemen mereka. Hal tersebut dikarenakan mereka ingin memperluas jejak di Asia dan juga sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan efisiensi di seluruh Group.

    Hans Wijayasuriya, CEO Dialog di Sri Lanka, mengambil peran tambahan sebagai CEO regional untuk Axiata Group karena perusahaan ingin memperluas ‘kekuasaan’ di seluruh Asia Selatan. Operasinya mencakup wilayah Dialog, Robi di Bangladesh, Idea di India dan Ncell di Nepal.

    Nama berikutnya adalah Dominic Arena, sebelumnya Arena menjabat sebagai direktur Penasehat AEC. Dia di sini menggantikan René Werner, yang telah memegang peran ganda sebagai petugas strategi utama untuk Axiata Group dan untuk Celcom di Malaysia dan kini akan fokus sepenuhnya pada Celcom.

    Nama ketiga adalah Mohd Asri Hassan yang diangkat menjadi kepala kelompok operasi bisnis dengan fokus pada peningkatan kinerja unit bisnis baru Axiata, yakni Qorus Alliance. Selain itu, ia juga akan mengelola operasi kinerja perusahaan dan mengkoordinasikan upaya perluasan Group.

    Sekedar informasi, Wijayasuriya bergabung sebagai pendiri tim manajemen Dialog pada tahun 1994 dan telah menjadi CEO Dialog sejak tahun 1997. Dia juga menjabat sebagai CEO dan founder untuk Layanan Digital Axiata pada 2012-2014 dan terus melayani dewan unit bisnis dan beberapa anak perusahaan ventura digital mereka.

    Sementara Arena memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di industri telekomunikasi. Sebelum AEC, Ia sempat menjabat sebagai seorang managing partner di sebuah perusahaan penasehat strategis dan perusahaan yang berbasis di Singapura. Ia juga sempat menjadi direktur di KPMG Advisory.

    Nama terakhir, yakni Hassan sebelumnya memegang peran sebagai mitra strategis Capital Partners, yakni sebuah perusahaan ekuitas swasta yang didirikan di Asia Selatan. Dia memiliki pengalaman lebih dari 27 tahun di ranah IT dan industri telekomunikasi dan sempat menjabat sebagai country president Motorola Malaysia pada periode 2006-2008.

    Dilansir dari Mobile World Live, Senin (17/1), CEO Axiata Group, Jamaludin Ibrahim mengklaim bahwa saat ini hampir satu dekade pembangunan kepemimpinan di Axiata Group. Ia pun menyebut, bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk merekrut para profesional industri berkaliber tinggi untuk mengemban posisi pimpinan di Axiata Group.

    Jika di Axiata Group terjadi perombakan kepemimpinan, bagaimana dengan anak perusahaan mereka di Indonesia? Well, kita tunggu saja perubahan apa lagi yang dihadirkan Axiata Group di anak perusahaannya di Indonesia. [ak/if]