Kategori: DEVICE

  • Infrastructure Sharing, Solusi Efisien Untuk Data dan Voice

    Infrastructure Sharing, Solusi Efisien Untuk Data dan Voice

    Jakarta – Menkominfo Rudiantara mengungkapkan akan melakukan hal apapun untuk memberikan efisiensi pada industri telekomunikasi di Indonesia.

    Hal ini nampaknya mengarah pada Infrastructure Sharing yang saat ini sedang digodok oleh Kominfo bersama para Operator seluler di Indonesia.

    Ini senada dengan ucapan ketua umum Mastel beberapa waktu lalu, menurutnya industri telekomunikasi memang harus efisien dalam memberikan layanan kepada pelanggan.

    “Kita tarik lebih jauh apakah sharing pada perangkat akan lebih hemat, dan saat ini kita sedang berbicara dengan para operator mengenai hal ini,” Ungkap Rudiantara saat ditemui pada peresmian Internet Society chapter Indonesia.

    infratruktur sharing yang bisa dilakukan oleh para operator diantaranya adalah para operator bisa berbagi tower, sehingga tiap pihak tidak perlu membangun sendiri. Selain itu, para operator bisa mengembangkan penanaman kabel optik secara bersama.

    Menkominfo menyebutkan, seharusnya akhir tahun ini hal tersebut bisa terealisasi. Beliau juga menambahkan semua inisiatif untuk efisiensi pada industri Telko di Indonesia akan diupayakan.

    Dengan terealisasinya hal ini, di harapkan para konsumen bisa mendapatkan tarif telpon, sms serta internet dengan lebih murah. (AK/HZ)

  • Domain .id Tembus Angka 147 Ribu Pengguna

    Domain .id Tembus Angka 147 Ribu Pengguna

    Jakarta – Domain .id adalah nama domain resmi milik Indonesia. Nama domain ini sejatinya memiliki nama yang cukup bagus yakni, id dan sangat identik dengan kata identitas. Namun, .id sendiri mengartikan inisial dari nama negara Indonesia.

    Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, beberapa waktu lalu pernah menargetkan sejuta domain .id, hal ini sungguh menjadikan sebuah PR untuk Andi Budiman selaku ketua Pengelola Nama Domain Indonesia.

    “saat ini nama domain .id sudah menyentuh angka 147.630 pengguna. Sementara target sejuta nama domain .id pada tahun 2017 mendatang,” sebut Andi Budiman.

    Sebagai informasi, untuk biaya pertahun dari domain.id sendiri adalah Rp.500.000,- harga tersebut nampaknya akan diturunkan namun Andi belum memastikan kapan harga tersebut akan turun.

    “tentu nya jika banyak yang mendaftar harga akan kami turunkan,” jelas Andi.

    Di singgung mengenai sosialisasi, Pengelola Nama Domain Indonesia atau PANDI bersama Kominfo telah melakukan sosialisasi di beberapa kota seperti, Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Surabaya dan pada akhir bulan ini akan melakukan sosialisasi di kota Makassar. Mengenai sasarannya, Andi menyebut akan lebih berkonsentrasi pada sektor UKM namun tidak semua UKM bisa di online kan.

    Sampai saat ini, penetrasi penggunaan nama domain .id sendiri masih di dominasi oleh .co.id dengan menyumbang sekitar 46 % dari jumlah keseluruhan.

    Berikut daftar 5 besar penggunaan domain.id

    • Co.id = 64.744 pengguna
    • Anything.id = 16.977 pengguna
    • Web.id = 24.117 pengguna
    • Sch.id =14.887 pengguna
    • My.id = 9522 pengguna

    Sebenarnya ada 12 nama domain .id yang sudah ada, namun ada satu nama domain yang baru berlangsung pada tahap uji coba yaitu ponpes.id

    Sementara untuk target .id sendiri, PANDI menargetkan 3000 pengguna tiap bulannya dan jika memang target tersebut tercapai maka pada akhir tahun nanti jumlah pengguna domain .id telah mencapai 160.000 pengguna. (AK/HZ)

  • Internet Society Resmi Meluncur di Indonesia

    Internet Society Resmi Meluncur di Indonesia

    Jakarta – Internet Society atau ISOC akhirnya meresmikan chapter Indonesia. Peresmian ini di hadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara serta perwakilan dari beberapa Stakeholder seperti PANDI dan ID SIRTII.

    ISOC sendiri merupakan sumber informasi dan pemikiran yang independen dan terpercaya dari seluruh dunia. ISOC juga merupakan sebuah organisasi yang menaungi IETF (Internet Enginering Task Force).

    Internet Society juga mengajak para pengguna Internet, Perusahaan serta para pemangku kepentingan untuk melakukan sebuah dialog terbuka mengenai kebijakan, teknologi serta masa depan internet. ISOC Indonesia juga bekerja sama dengan seluruh chapter di Dunia untuk memungkinkan evolusi dan pertumbuhan internet yang berkelanjutan untuk semua penggunanya.

    Internet Society sejatinya juga memiliki lima regional yakni, Asia, Amerika, Timur Tengah dan Eropa. Organisasi ini lahir pada tahun 1992 yang bertujuan untuk melakukan perkembangan dan evolusi bagi perkembangan internet yang tentunya akan sangat berguna bagi masyarakat luas.

    Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika pada opening speechnya (7/9)  mengungkapkan bahwa Internet Society chapter Indonesia akan lebih memperkaya informasi akan perkembangan internet di Indonesia.

    Beliau juga menambahkan, “ISOC harus menjadi organisasi yang merepresentasikan pemangku kepentingan, dan harus memberikan manfaat pada stakeholder nya serta stakeholder lain dan tentunya masyarakat luas,” tuturnya.

    Kegiatan di Jakarta ini akan  memfokuskan diri untuk mengidentifikasi stake holder yang relevan, rangka kerja lokal dan internasional, kebijakan dan implikasi sosial dari ancaman keamanan online. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengatasi masalah spesifik dan berkaitan dengan stakeholder lokal. (AK/HZ)

  • Rupiah Melemah, Industri Telekomunikasi Masih Aman

    Rupiah Melemah, Industri Telekomunikasi Masih Aman

    JAKARTA – Melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat tak bisa dipungkiri telah berimbas pada stabilitas perekonomian Indonesia. Sejumlah sektor industri di tanah air pun terpukul. Tak terkecuali industri Teknologi Informasi dan Komunikasi. Namun, seperti diakui ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Indonesia (ATSI), Alexander Rusli, pegaruhnya lebih bersifat jangka panjang.

    Salah satu alasannya, seperti diungkapkan Alex, adalah dikarenakan investasi yang dilakukan di industri telekomunikasi biasanya tidak langsung terasa di tahun yang sama dengan ketika investasi itu baru dimulai, melainkan baru terasa pada tahun-tahun berikutnya.

    “Jadi kalau dibilang ada pengaruh jangka pendek, itu memang tidak ada. Namun jangka panjang pasti. Mungkin 1,5 atau 2 tahun ke depan,” katanya dalam acara Focus Group Discussion “Industri Telko di Tengah Turbulensi Mata Uang” yang diadakan di Kementrian Komunikasi dan Informasi, Jakarta hari ini (7/9/2015).

    Hal yang tak jauh berbeda diakui Henri Saparini. Ekonom ECONIT ini bahkan menganjurkan pada para pelaku industri telekomunikasi agar menyiapkan diri untuk jangka panjang.

    “Jadi berpikirnya jangan jangka pendek lagi, tetapi sebaliknya. Karena industri ini adalah industri dengan pertumbuhan yang sangat tinggi,” ungkapnya.

    Henri menyebutkan, dari sisi sektoral saja industri Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia masih tumbuh di atas 9 persen, sementara dari segi investasi termasuk yang pertumbuhannya paling tinggi.

    “Dengan adanya pelemahan nilai tukar rupiah ini, revenue di TIK kemungkinan masih naik, namun tidak demikian dengan nett profit,” pungkasnya, seraya menyebut ongkos produksi yang meningkat sebagai alasan. [IF]

  • Penetrasi Smartphone 4G Capai 59% Pada Q4 2015

    Penetrasi Smartphone 4G Capai 59% Pada Q4 2015

    JAKARTA – Menurut data penjualan smartphone global yang dirilis Gfk baru-baru ini, lebih dari 50% smartphone yang dijual di Q1 2015 adalah smartphone dengan kemampuan 4G. Dan dengan operator utama meluncurkan layanan 4G di Indonesia pada awal bulan lalu, serta India pada awal bulan ini, 4G kini bisa dikatakan telah tersedia di semua negara kunci.

    GfK memperkirakan penetrasi smartphone 4G akan terus tumbuh pada tahun 2015, mencapai 59% pada kuartal keempat.

    Di Indonesia sendiri, pertumbuhan smartphone diharapkan akan dibantu oleh perkembangan jaringan 4G. Di Q1 2015, penetrasi 4G di Indonesia berada jauh di bawah rata-rata global, yakni 7% (atau 3% lebih tinggi dari India yang berada di angka 4%). Menurut Gfk, pangsa 4G di tanah air akan meningkat menjadi 10% pada akhir 2015.

    Guntur Sanjoyo, Managing Director GfK Indonesia mengungkapkan, “Secara umum pertumbuhan pasar smartphone 4G diawali dengan mulai dibangunnya jaringan 4G di Indonesia oleh Top 3 operator sejak akhir tahun lalu. Meskipun smartphone berbasis 4G sendiri sebenarnya telah ada di pasar Indonesia sebelum itu. Sejak saat itu, komunikasi yang cukup intens dilakukan oleh para operator melalui bermacam campaign di berbagai media untuk mensosialisasikan jaringan 4G di masyarakat.”

    Dan kampanye sejumlah operator di berbagai media ini pun tampaknya tak menjadi satu-satunya pendorong. Semaraknya komunikasi 4G yang dilakukan operator juga diikuti dengan masuknya produk-produk smartphone berbasis 4G dari berbagai merek.

    Saat ini, seperti diutarakan Guntur lagi, sudah tersedia lebih dari 100 model smartphone dari berbagai merek yang disertai dengan kemampuan 4G di Indonesia. “Walaupun demikian, saat ini lebih dari 90% penjualan smartphone 4G terfokus di kota besar saja,” katanya.

    Pada akhir tahun 2015, Gfk memperkirakan smartphone dengan basis 4G akan memberikan kontribusi sebesar 15% – 20% dari total unit penjualan smartphone di Indonesia jika dapat disertai dengan penambahan variasi jumlah model smartphone 4G di segment menengah.

    “Jelas ke depannya smartphone berbasis 4G akan mendominasi pasar seiring penurunan porsi teknologi yang ada dibawahnya, walaupun kami percaya bahwa hal ini tidak akan terjadi dengan instant,” ungkap Guntur.

    Sebagai contoh, walaupun kita melihat percepatan pertumbuhan smartphone yang fenomenal di Indonesia, namun GfK memperkirakan bahwa ponsel non smartphone (Feature Phone) masih akan memberikan kontribusi yang cukup besar, yakni sekitar 35% dari total unit penjulan ponsel di tanah air.

    Asia Tenggara Terus Tumbuh

    Pertumbuhan penjualan smartphone boleh saja menyusut di seluruh dunia tapi tidak demikian dengan di Asia Tenggara. Menurut data GfK, wilayah ini unjuk gigi dengan penjualan regional tumbuh 9% menjadi hampir 40 juta unit untuk semester pertama tahun ini.

    Angka yang disebutkan GfK ini menunjukkan bahwa telah terjadi lonjakan permintaan, sekitar 3,2 juta smartphone dibandingkan kuartal pertama tahun lalu.

    Secara total, pertumbuhan pasar smartphone di Asia Tenggara menghasilkan lebih dari USD 8 miliar dalam penjualan untuk periode enam bulan.

    Penjualan smartphone meningkat dari tahun ke tahun di setiap pasar utama, kecuali Singapura dan Malaysia. Pasar smartphone terbesar di kawasan itu adalah Indonesia, di mana volume penjualan melonjak menjadi 14,9 juta, diikuti Thailand (6,6 juta) dan Vietnam (6 juta).

    Vietnam juga merupakan pasar dengan pertumbuhan paling cepat, dengan permintaan naik 27%, disusul Thailand di tempat kedua dengan 13% dan Filipina di urutan ketiga dengan 10%. [IF]

  • Populerkan Teknologi Mobile Internet, Google Gandeng Provider Rusia

    Populerkan Teknologi Mobile Internet, Google Gandeng Provider Rusia

    JAKARTA – Banyak cara dilakukan perusahaan untuk membuat produknya dikenal oleh orang banyak. Google, dalam hal ini tak terkecuali. Dengan alasan mempopulerkan ‘produk’-nya, raksasa teknologi asal Amerika Serikat ini menggandeng penyedia layanan telekomunikasi Rusia, Mobile Telesystems PJSC (MTS) untuk mempromosikan teknologi internet mobile dan layanan pencarian Google di negara Vladimir Putin tersebut.

    Berdasarkan perjanjian tersebut, MTS akan mempopulerkan Google OK, fasilitas pencarian suara Google dalam kampanye iklan dan tokonya. Pencarian Google Voice juga akan pra-instal pada setiap smartphone Android yang dijual melalui toko MTS.

    “Kami percaya bahwa kerjasama yang erat antara operator dan perusahaan-perusahaan Internet akan mengarah pada pembangunan telekomunikasi yang efisien dan dinamis. Yang paling penting, pelanggan kami akan mendapatkan keuntungan dari kemitraan ini,” ungkap Vasyl Latsanych, Vice President Marketing MTS seperti dilansir dari Telecomtalk, 92/9/2015).

    Beberapa alasan pun diutarakan Latsanych, mulai mulai dari ini merupakan pembesut OS paling populer untuk smartphone, memiliki pencarian interaktif hingga layanan layanan transmisi data yang canggih, yang disinyalir akan membawa perubahan nyata bagi kehidupan pelanggan MTS. “Kami ingin membuat mereka nyaman dan bebas repot,” lanjut Latsanych.

    Kemitraan dengan MTS ini sebenarnya bukan hal baru bagi Google. Tahun 2013 lalu, Google juga sempat bermitra dengan MTS untuk mengembangkan solusi untuk pasar korporat. MTS menawarkan pelanggan B2B-nya Google Apps for Business sebagai hasil dari kemitraan ini. [IF]

  • SK Telecom & Samsung Electronics Berkolaborasi Kembangkan mmWave

    SK Telecom & Samsung Electronics Berkolaborasi Kembangkan mmWave

    JAKARTA – Dua raksasa teknologi Korea, yakni SK Telecom dan Samsung Electronics baru-baru ini mengumumkan kolaborasinya dalam mendukung pengembangan teknologi gelombang milimeter (mmWave). Teknologi ini dianggap kedua perusahaan sebagai kunci untuk terwujudnya 5G.

    Dipandang sebagai kandidat yang menjanjikan untuk kapasitas baru yang luar biasa untuk jaringan komunikasi nirkabel di masa depan, mmWave menggunakan frekuensi yang lebih tinggi (30GHz +) dari spektrum berlisensi saat ini, yang menawarkan kecepatan data yang lebih cepat. Sisi lainnya adalah bahwa frekuensi tersebut memiliki jangkauan cukup untuk digunakan dalam sel makro dan akan perlu digunakan pada sel dasarl – terutama untuk gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan lain-lain.

    Kedua perusahaan telah berkolaborasi untuk teknologi pra-5G selama beberapa waktu, setelah mendemonstrasikan 3D Beamforming di MWC tahun ini dan penyebaran NFV untuk internet of Things sebelumnya.

    SK Telecom sebenarnya telah membangun sistem mmWave di pusat R&D-nya, sehingga sah-sah saja jika mereka mengklaim sebagai operator seluler pertama di Korea yang memasang peralatan 5G di gedung. Demikian dikutip Telko.id dari telecoms, (2/9/2015).

    “Melalui kerjasama erat dengan pemain ICT global Samsung Electronics, SK Telecom dengan bangga meluncurkan sistem mmWave di mana kita dapat mengembangkan dan memverifikasi teknologi mmWave,” kata Alex Jinsung Choi, CTO dan Kepala R&D SK Telecom. “SK Telecom dan Samsung Electronics akan lebih memperkuat upaya R&D bersama untuk memimpin era 5G mendatang.”

    Hal yang tak jauh berbeda diungkapkan pewakilan Samsung, Cheun Kyung-whoon, Executive Vice DMC R&D Center Samsung Electronics. “Melalui kerjasama ini, Samsung Electronics telah mengembangkan sistem telekomunikasi yang paling maju. Dan kami akan terus bekerja sama dengan SK Telecom untuk memimpin pengembangan teknologi 5G,” pungkasnya.

    Sebagai salah satu negara yang telah ‘mendaftarkan’ dirinya dalam hegemoni teknologi 5G, Korea Selatan jelas sangat tertarik untuk mempertahankan posisinya dalam hal penggunaan teknologi jaringan mobile terbaru. Hal ini, konon juga menjadi salah satu pendorong dari terciptanya banyak kegiatan dan kolaborasi di area ini dari perusahaan besar Korea. [IF]

  • Pelanggan 4G Global  Sentuh Angka 740 juta pada Q2 2015

    Pelanggan 4G Global  Sentuh Angka 740 juta pada Q2 2015

    JAKARTA – Tumbuhnya pangsa pasar smartphone dengan kemampuan 4G – lebih dari 50% pada kuartal pertama 2015 menurut data Gfk – secara tidak langsung berimbas pada meningkatnya jumlah pelanggan 4G. Menurut data Ericsson, pelanggan global 4G mencapai 740 juta pada akhir kuartal kedua, atau naik 460 juta dari total 280 juta pelanggan di tahun sebelumnya.

    Sementara jumlah pelanggan mobile di seluruh dunia mencapai 7,2 miliar pada akhir Juni, naik dari 6,8 miliar di tahun sebelumnya. Dengan jumlah sebenarnya pelanggan individu naik menjadi 4,9 miliar dari 4,6 miliar.

    Pelanggan global mobile broadband tumbuh sebesar 140 juta pada kuartal kedua mencapai 3,1 miliar, naik 25% pada Q2 2014, kata Ericsson, seperti dikutip Telko.id dari Totaltele.

    Pelanggan 3G meningkat 50 juta dalam tiga bulan sampai 30 Juni, sedangkan pelanggan 4G naik 115 juta. Pelanggan GSM turun 80 juta.

    Secara regional, Asia Pasifik – tidak termasuk China dan India – menyumbang 1,42 miliar pelanggan mobile dunia, diikuti oleh China dengan 1,30 miliar dan India dengan 985 juta.

    Yang agak mengherankan adalah tingkat pertumbuhan data mobile yang mengalami sedikit perlambatan menjadi 55% dalam 12 bulan antara Q2 2014 dan Q2 2015, dari 60% antara Q2 2013 dan Q2 2014.

    “Pertumbuhan trafik data didorong oleh munculnya pelagganan data mobile, bersama dengan terus meningkatnya rata-rata volume data per pelanggan,” pungkas Ericsson, dalam laporannya. [IF]

  • UCWeb Pilih Indonesia Sebagai Markas Besar Wilayah Asia Tenggara

    UCWeb Pilih Indonesia Sebagai Markas Besar Wilayah Asia Tenggara

    JAKARTA – Dalam Global Mobile Internet Conference yang berlangsung di Jakarta baru-baru ini, UCWeb Inc., pemimpin penyedia layanan mobile dunia dan anak perusahaan Alibaba Group, Indonesia menyatakan ketertarikannya untuk menjadikan Indonesia sebagai markas besar UCWeb untuk wilayah Asia Tenggara.

    Menurut Director, International Business Development, UCWeb, Kenny YE, faktor utama yang menentukan pilihan ini adalah popularitas UC Browser yang kian meningkat pesat.

    Tercatat popularitas browser mobile ini di Indonesia yang berhasil mendapatkan pangsa pasar sebesar 38% per bulan Juli 2015, menurut layanan analisa lalu lintas pihak ketiga StatCounter.

    Kenny YE menghubungkan peningkatan pesat UCWeb di pasar ini dengan kombinasi yang luar biasa akan berbagai kekuatan UCWeb, termasuk kekuatan teknologi, mentalitas “Going Glocal” dan juga sebuah platform ekosistem yang terus berkembang, menarik bagi para mitra lokal.

    UC Browser dikenal dengan fitur cloud browsing yang khas, tersedia lewat percepatanpageload dan teknologi kompresi data, menjadikan browsing web mobile lebih cepat dan ekonomis. Di saat yang sama, mentalitas “Going Glocal” UCWeb untuk ekspansi internasionalnya juga berkontribusi dalam peningkatan populeritasnya di pasar-pasar seperti India dan Indonesia.

    “Glocal” merefleksikan pola pikir UCWeb dalam maju ke dunia (global) dan bekerja secara lokal di negara-negara tempatnya beroperasi. Dibimbing strategi ini, UCWeb telah mengumpulkan tim staf lokal untuk menyediakan pengetahuan dan wawasan lokal serta berpartisipasi dalam keputusan-keputusan penting dari operasional harian di Indonesia. UCWeb juga bekerja sama dengan para penyedia konten dan layanan lokal untuk melengkapi UC Browser dengan informasi lokal yang kaya dan beragam.

    Jonathan ZHONG, Managing Director, UCWeb Indonesia, juga berbicara di GMIC, memperkenalkan Open Platform UCWeb di pasar-pasar Asia Tenggara. UC Open Platform pertama kali diperkenalkan tahun lalu di India, dan mendapatkan respon hangat dari para pengembang India.

    “Kami senang bisa memperkenalkan platform ini di sini untuk melayani para pengembang Indonesia,” kata Jonathan ZHONG dalam keterangan pers-nya hari ini, (24/8/2015). “Selain UC Browser, browser mobile kami, yang membantu para mitra kami menjangkau para pengguna, kami juga memiliki UC Union, sebuah platform komersialisasi dan promosi bagi para pengembang aplikasi.”

    Diperkenalkannya platform ini ke pasar Indonesia memperlihatkan komitmen UCWeb dalam upayanya untuk meningkatkan kehadirannya di pasar internet mobile Indonesia. [IF]

  • Buka Kantor Baru di Filipina, Anabatic Siap Rajai Pasar Asia

    Buka Kantor Baru di Filipina, Anabatic Siap Rajai Pasar Asia

    JAKARTA – PT Anabatic Technologies Tbk, perusahaan publik yang bergerak di bidang teknologi informasi,  terus melanjutkan langkah pengembangan bisnisnya ke pasar manca negara.

    Setelah sebelumnya masuk ke pasar India dengan mendirikan kantor di Chennai dan Bangalore, Anabatic kini resmi memasuki pasar Filipina dengan membuka kantor baru melalui Anabatic International (ATI PL).

    “Filipina dipilih sebagai negara yang memiliki potensi pengembangan tinggi. Kondisi ekonomi dan permintaan jasa TI dari bank-bank lokal disana terus meningkat,” ujar Regional Director & Country Manager Anabatic Technologies Daniel Viray di Jakarta, Kamis (20/8/2015).

    Langkah ekspansi ke Phillipina merupakan bagian dari strategi Anabatic menjadi pemain TI yang makin kokoh di level regional. Ke depannya, Anabatic mengaku akan semakin ekspansif di sejumlah negara Asia, dengan memberikan berbagai layanan dan solusi TI yang menjadi keunggulannya.

    “Kehadiran Anabatic di Filipina membuat kami sangat optimistis terhadap masa depan  pengembangan bisnis. Kami melihat adanya kebutuhan besar untuk segmen yang masih  unbanked di Phillipina. Proses implementasi CBS dilakukan dengan sangat baik,” jelas Daniel Viray lagi.

    Di kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Anabatic Technologies Tbk Handojo Sutjipto mengatakan, Era Ekonomi Asia telah datang. Aspek budaya, sosial, dan ekonomi kini telah terintegrasi, dan Anabatic melihat hal ini sebagai sebuah peluang untuk memperluas bisnis di Asia Tenggara.

    “Harapan kami, dengan langkah ini Anabatic bisa lebih luas menjangkau pasar keuangan dan mengoptimalkan efisiensi pengelolaan sumber daya manusia,” pungkasnya.

    Di Filipina, Anabatic menawarkan layanan perbankan di wilayah yang belum terjangkau (banking the unbanked). Dalam ekspansi ke negeri tetangga itu, Anabatic juga menggandeng  salah satu perusahaan penyedia core banking system (CBS) asal Swiss, Temenos,  terutama dengan mengimplementasikan produk Temenos CBS T24.

    Meski kantor baru resmi dibuka, namun sebelumnya ATI PL telah sukses mengimplementasikan softawre CBS Temenos di sejumlah bank komersial dan thrift bank di Filipina. (IF)