Kategori: DEVICE

  • Nokia Networks Pamerkan Small Cell 1 Gbps Pertamanya

    Nokia Networks Pamerkan Small Cell 1 Gbps Pertamanya

    Jakarta – Sementara Indonesia masih berada dalam tahap inisiasi serta perkenalan kepada publik dan pemangku kepentingan terkait, beberapa negara di Asia Tenggara – Singapura, Malaysia dan Thailand, telah lebih dulu mengaplikasikan teknologi small cell. Dan secara tidak langsung menjadi pasar baru bagi penyedia layanan. Nokia Networks salah satunya, yang belum lama ini berhasil merampungkan small cell berkemampuan 1 Gbps pertamanya dan meluncurkan layanan baru yang dirancang untuk mengoptimalkan penyebaran small cell tersebut.

    Diberi nama Flexi Zone G2, small cell baru perusahaan asal Finlandia itu konon memungkinkan operator untuk menggabungkan sampai tiga gelombang radio sekaligus. Tiga slot modul frekuensi radio (RF) yang ada di sini artinya operator dapat menggabungkan frekuensi LTE berlisensi, LTE tanpa lisensi (LTE-U), dan WiFi. Demikian dilaporkan Total Telecom, Kamis (17/9).

    Selain itu, Nokia juga memperkenalkan layanan baru yang diklaim akan membantu perusahaan telekomunikasi untuk menggelar small cell 30% lebih cepat, dengan biaya 20% lebih rendah, dan melayani pelanggan 10% lebih dibandingkan dengan penggelaran small cell ‘standar’.

    Disebut HetNet Engine Room, layanan ini menggunakan peta permukaan jalan 3D untuk dijadikan sumber tanda untuk setiap kemungkinan lokasi small cell. Tanda ini, yang disebut Nokia ‘indeks nilai situs’, menunjukkan kemungkinan laba atas investasi (ROI) pada penyebaran small cell di lokasi tertentu.

    “Menyebarkan small cell di salah satu sisi jalan menelan biaya sepuluh kali lebih besar dibanding di lokasi yang hanya beberapa meter di sisi jalan lain,” kata Randy Cox, Head of Small cell Product Nokia Networks. “Kami membawa pendekatan baru yang memungkinkan para operator untuk memilih situs terbaik dan kemudian menyebarkan small cell dan backhaul-nya dengan cepat dan dengan biaya yang jauh lebih rendah.”

     

     

  • Demi Kualitas Layanan Data, StakeHolder Telekomunikasi Bentuk Aliansi Small Cell

    Demi Kualitas Layanan Data, StakeHolder Telekomunikasi Bentuk Aliansi Small Cell

    Jakarta – Sebuah perkumpulan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan telekomunikasi di Indonesia resmi didirikan. Perkumpulan yang dinamakan Small Cell Alliance ini adalah perkumpulan para penggerak dari sebuah teknologi yang dinamakan Small Cell. Perkumpulan ini terdiri dari beberapa pemangku kepentingan yang terkait seperti, Industri Telekomunikasi, Buliding Owner, Operator Seluler, serta beberapa stakeholder lainnya.

    “Kami ingin membuat dan membangun standar smallcell Indonesia kedepan dan kami ingin mengajak para pemangku kepentingan untuk memperkuat jaringan internet di Indonesia,” kata Ir. Gunawan wibisono, Chairman SmallCell Alliance Indonesia.

    Sejatinya, hampir semua negara di kawasan Asia Tenggara sudah mengimplementasikan hal ini. Hanya tinggal di Indonesia baru tahap inisiasi. Namun, pihak regulasi telah menyetujui gagasan ini.

    Small Cell sendiri merupakan sebuah perangkat yang tertanam di setiap BTS ataupun antenna pada gedung-gedung perkantoran, dan tempat ramai lainnya. Sejatinya Small Cell memiliki coverage yang kecil, namun saat ini Coverage bukan lagi menjadi masalah, yang menjadi sebuah permasalahan atas lambatnya internet di Indonesia adalah karena kapasitas dari frekuensi jaringan yang cenderung sempit, dan disanalah perangkat Small Cell berfungsi. Perangkat ini akan membagi-bagi kapasitas dari jaringan internet di suatu lokasi yang tentunya akan menghasilkan kapasitas yang lebih besar di setiap lokasinya.

    Sebagai contoh di gedung perkantoran atau di tempat ramai lainnya, akses data tentunya akan sangat sulit di dapatkan walaupun coverage jaringan memadai. Hal ini dikarenakan kapasitas dari pita frekuensi yang penuh sesak oleh para pengguna lainnya. Dengan hadirnya small cell pada lokasi tersebut, tentunya akan memberikan kapasitas yang lebih besar dan tentunya akan berdampak pada baiknya kualitas internet di wilayah tersebut.

    Namun, perangkat ini tidak sama dengan repeater atau penguat sinyal. Mengenai penyatuan jaringan FDD dan TDD pada 4G LTE, perangkat ini dimungkinkan untuk menyatukan keduanya, namun masih harus ada kajian lagi tentunya.

    Dari segi efisiensi, Small Cell juga menawarkan efisiensi karena perangkat ini terintegrasi dengan perangkat lain seperti BTS Indoor ataupun perangkat wifi, ketimbang para operator membangun jaringan konvensional yang baru, yang notabene lebih membutuhkan biaya serta waktu pengerjaan yang jauh lebih lama.

    Beberapa nama besar di Industri telekomunikasi Indonesia sudah berniat bergabung dan menjadi partner dari perkumpulan ini, sebut saja Telkom Tbk, XL axiata, Indosat, Ericsson, Huawei, Samsung dan beberapa pelaku bisnis Telekomunikasi lainnya.

  • Tahun 2020, Telkom Group “Akan” Jadi Raja Digital di Indonesia

    Tahun 2020, Telkom Group “Akan” Jadi Raja Digital di Indonesia

    Jakarta – PT. Telkom Tbk, selaku salah satu perusahaan penyedia layanan broadband terbesar di Indonesia, mencanangkan target baru mereka yang dimulai dari tahun 2016-2020. Target ini adalah target yang cukup besar mengingat kualitas dan infrastruktur internet di Indonesia masih kurang terlalu mendukung.

    Telkom menargetkan setidaknya pada tahun 2020, mereka ingin menjadi King Of Digital In The Region, hal tersebut didasari dari total pertumbuhan pengguna internet di Indonesia serta penggunaan mobile broadband yang meningkat drastis pada tahun ini.

    “Kami akan memperkuat layanan serta perkembangan dari digital ekosistem atau virtual network serta people network dan Aplication,” ungkap Pramasaleh Hario Utomo, vice president Of Infrastructure Strategi & Governance PT. Telkom Tbk.

    Sebagai Informasi, penetrasi ekosistem digital dari Telkom meliputi, smart business, smart digital life, smart machine dan beberapa penetrasi lainnya. Sementara untuk sektor network, implementasi mereka, Telkom sedang berusaha mengembangkan program Internet Of Things yang saat ini memang sedang menjadi topik hangat di beberapa pemangku kepentingan terkait.

    Sementara People Network mereka dibalut dengan program Smart Digital Planet. Program tersebut terlihat dari keseriusan PT. Telkom membangun dan mengembangkan para startup yang berpotensi di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari program Indigo Incubator yang sudah di gelar selama beberapa tahun.

    Untuk tahun ini saja, para starup sudah memasuki masa inkubasi yang tersebar di tiga wilayah di Indonesia. Tiga wilayah tersebut diantaranya adalah Bandung Digital Valley, Jogja Digital Valley serta Jakarta Digital Valley. Dan Bandung Digital Valley adalah lokasi inkubasi yang paling besar diantara ketiga lokasi tersebut.

    Mereka juga membuka channel networking dengan para anak perusahaan mereka dalam bentuk Loop Station, Telkomsel Digital Lounge dan lain-lain. Pada beberapa tempat tersebut, sejatinya disediakan co-working space bagi para mahasiswa, pekerja ataupun startup untuk lebih mengembangkan ide mereka dan merealisasi ide tersebut.

    Program lain yang dibangun oleh Telkom guna memuluskan target mereka tersebut adalah membangun Indonesia Digital Society. Dalam pengimplementasiannya, Telkom juga berencana membangun Smart City. Dalam pembangunan Smart city ini, Telkom bekerja sama dengan Smart Cell untuk dapat membantu menyebarkan jaringan internet dan juga memberikan coverage yang lebih banyak serta memberikan kecepatan 4G bahkan 5G nantinya.

    Hal tersebut disambut baik oleh perkumpulan Smart Cell Indonesia yang notabene baru terbentuk pada pertengahan September ini.

    “Kami ingin membuat dan membangun standar smallcell Indonesia kedepan dan kami ingin mengajak para pemangku kepentingan untuk memperkuat jaringan internet di Indonesia,” kata Ir. Gunawan wibisono, Chairman SmallCell Alliance Indonesia.

    SmallCell sendiri adalah penyelenggaraan LTE Ultra Broadband yang memungkinkan operator meningkatkan kapasitas dan penyebaran diberbagai area sibuk seperti mall, stadion olahraga, serta area dengan lalulintas tinggi lainnya, dengan lebih meningkatkan koneksi kepada pengguna.

    SmallCell memberikan sinyal selular di are-area yang mengalami kekurangan jangkauan selular atau hambatan akibat interferensi dari gedung-gedung, hambatan geografis, atau jauhnya jarak menara selular. SmallCell juga menambah kapasitas di area-area yang memiliki pengguna yang terkonsentrasi di area tertentu. Sebagai contoh ketika kita sedang menyaksikan konser “Bon Jovi” beberapa waktu lalu, walaupun sinyal pada ponsel terlihat penuh, namun tetap saja para pengguna sulit untuk mengakses internet, mengupload foto ke social media atau berinteraksi melalui aplikasi chatting. Hal tersebut di karenakan jaringan data pada sim card ponsel mereka penuh sesak, dan disinilah SmallCell sejatinya berperan.

    Teknologi ini juga dapat membantu para penyelenggara layanan telekomunikasi untuk memperluas layanan data mereka secara lebih cepat dan lebih ekonomis bila dibandingkan dengan jaringan selular konvensional yang tentunya lebih mahal dan membutuhkan waktu pengerjaan yang cukup lama.

    Kerjasama Telkom dengan SmallCell dapat dilihat dari Wifi Id. Wifi id Carried dan integrated smartcell akan menghadirkan coverage sebesar 183.000 hotspot sampai dengan tahun ini. Dan pada tahun depan diharapkan jumlah coverage tersebut akan naik 2 hingga 3 kali lipatnya.

  • Lewat Kolaborasi Alcatel-Lucent dan Chunghwa Telecom, G.fast Sambangi Taiwan

    Lewat Kolaborasi Alcatel-Lucent dan Chunghwa Telecom, G.fast Sambangi Taiwan

    Jakarta – Penyedia infrastruktur telekomunikasi raksasa asal Perancis, Alcatel-Lucent, baru-baru ini mengumumkan penyebaran teknologi broadband G.fast komersial pertama di dunia di Taiwan.

    Peluncuran tersebut dilakukan dalam kemitraannya dengan perusahaan telekomunikasi terbesar di negara tersebut, yakni Chunghwa Telecom, selain juga merupakan bagian dari perkenalan FTTP nasional, yang neliputi teknologi tembaga canggih seperti G.fast.

    “Sebagai inovator dalam akses fixed ultra-broadband, Alcatel-Lucent adalah perusahaan pertama yang membawa G.fast ke pasar,” demikian diungkapkan Ken Wu, Presiden Alcatel-Lucent Taiwan sebagaimana dilaporkan Telecom.com, Rabu (16/9/2015).

    Wu juga menambahkan bahwa perusahaan untuk tahun lalu juga telah bekerjasama dengan operator terkemuka di seluruh dunia untuk menguji teknologi ini.

    “Tahun ini, pasar Taiwan telah dengan cepat memperkenalkan teknologi terbaru dan meluncurkan layanan komersial lebih dulu dibanding pasar lain untuk memungkinkan konsumen di Taiwan merasakan layanan broadband super cepat G.fast CHT. Hari ini kami senang melihat Chunghwa Telecom menjadi pionir dan menjadi operator pertama di dunia yang menyebarkan ini secara komersial,” tambahnya.

    Hal yang tak jauh berbeda diuntai Mu-Piao Shih, President Chunghwa Telecom. Menurutnya, Alcatel-Lucent telah membuat langkah besar untuk secara proaktif meningkatkan layanan jaringan broadband ini selama beberapa tahun terakhir. Dan Chunghwa Telecom merasa bangga karena menjadi operator pertama di dunia yang menyediakan layanan tersebut secara komersial.

    “Dengan teknologi G.fast Alcatel-Lucent, kami akan dilengkapi dengan baik untuk meluncurkan layanan jaringan berkecepatan ultra tinggi ini menjelang akhir tahun dan menawarkan pelanggan kami pengalaman layanan broadband tertinggi, sehingga memperkuat kepemimpinan kami dalam pasar layanan broadband serat optik mulai dari 100Mbps hingga 1Gbps,” pungkas Mu-Piao Shih.

    G.fast telah berada di sekitar kita selama beberapa waktu, sehingga penting bagi kita untuk akhirnya mulai melihat penyebarannya secara komersial. Apalagi masalah logistik dan ekonomi juga masih menjadi kendala dalam pembuatan serat di mana-mana dan G.fast merupakan alternatif yang semakin layak.

    Teknologi ini memungkinkan para penyelenggara layanan menyediakan akses ultra-broadband ke lokasi-lokasi di mana penyebaran erat sulit dilaksanakan, dengan cara menggunakan bagian akhir infrastruktur tembaga yang disambungkan ke lokasi-lokasi untuk menghantarkan kecepatan ultra-tinggi.

     

  • Gapai ASEAN, China Unicom Bangun Kabel Bawah Laut Internasional

    Gapai ASEAN, China Unicom Bangun Kabel Bawah Laut Internasional

    Jakarta – Operator seluler asal Tiongkok, China Unicom dikabarkan tengah membangun kabel bawah laut internasional. Operator ini mengklaim sistem tersebut merupakan kabel bawah laut internasional pertama China.

    Menurut Jiang Zhengxin, Vice General Manager China United Telecommunications, yang tak lain merupakan induk usaha dari China Unicom, sejumlah upaya telah dilakukan China Unicom untuk merealisasikan proyek ini. Salah satunya adalah dengan menggandeng operator telekomunikasi Myanmar.

    Zhengxin menyebutkan, seperti dilansir dari Telecompaper, Rabu (16/9/2015), sistem kabel ini akan membawa aliran informasi dan data antara China dan ASEAN (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara). Sebuah kabel tanah antara China dan Myanmar juga tengah dalam pembangunan dengan investasi yang diperkirakan mencapai USD Rp 50 juta.

    Kabel komunikasi bawah laut, seperti diketahui, merupakan kabel yang diletakkan di bawah laut untuk menghubungkan telekomunikasi antar negara-negara. Komunikasi kabel bawah laut pertama membawa data telegrafi. Generasi berikutnya membawa komunikasi telepon, dan kemudian data komunikasi. Seluruh kabel modern menggunakan teknologi optik fiber untuk membawa data digital, yang kemudian juga untuk membawa data telepon, internet, dan juga data pribadi.

  • Bandung ICT Expo, Sinergikan Komunitas IT Untuk Pacu Industri

    Bandung ICT Expo, Sinergikan Komunitas IT Untuk Pacu Industri

    Bandung – Salah satu pameran teknologi yang cukup dilirik oleh para investor yaitu Bandung ICT Expo pada akhir pekan ini akhirnya dibuka. Di hadiri oleh para pemangku kepentingan, dosen, serta perusahaan yang bergerak dibidang IT, Bandung ICT Expo memamerkan hasil karya para mahasiswa dari Telkom University. Bertempat di Telkom University atau yang dulu dikenal dengan sebutan STT Telkom, kegiatan ini juga diikuti oleh beberapa exhibitor yang juga pemain lama dalam pasar ICT di Indonesia.

    Selain tentunya dihadiri oleh beberapa perusahaan yang berada di bawah naungan PT. Telkom Tbk, serta beberapa pemain lama seperti, Huawei, ZTE serta Alcatel Lucent. Beberapa perusahaan yang bermarkas di Bandung seperti PT Len Nusantara juga ikut ambil bagian dalam perhelatan ini.

    Bukan hanya itu, para mahasiswa Telkom University juga tidak mau kalah dalam berunjuk gigi pada kegiatan ini, berbagai karya penelitian, pengembangan informasi, seni dari para rektor serta mahasiswa dihadirkan pada pegelaran ini.

    Salah satu inovasi dari mahasiswa Telkom adalah aplikasi artificial intelegent shalat, aplikasi unik ini menghadirkan tata cara sholat secara visual yang berjalan pada smartphone dan tablet berplatform android.

    Kegiatan ini sendiri mengangkat tema “strengthening collaborative innovation for community and industry” dengan maksud dapat mendorong para komunitas IT dalam bersinergi untuk memacu perkembangan industri ICT di Tanah Air.

    Kegiatan ini berlangsung hingga hari sabtu tanggal 12 Septrember 2015, bertempat di convention hall kampus Telkom. Bandung ICT Expo juga menampilkan rangkaian seminar, presentasi produk&talkshow, pemberian penghargaan creative industry, serta ICT Creative Contest.

    “Potensi ini harus disalurkan melalui berbagai jalan, antara lain dengan menambahkan jaringan yang luas dan erat dengan dunia industri, kami sadar, hubungan yang erat ini harus tetap terjaga,  sebagai langkah untuk mendorong perkembangan dunia ICT di tanah air dan memperluas jaringan,” jelas Prof. Ir. Mochamad Ashari, Rektor Telkom University.

    Beliau juga mengungkapkan harapannya bahwa gelaran bandung ICT Expo ini dapat memberikan pemahaman terhadap masyarakat luas mengenai pentingnya teknologi informasi untuk mendorong daya saing industri kreatif serta kesiapan menghadapi MEA.

    Di hari terakhir, akan ada award dari PT Telkom kepada para industry kreatif yang bergerak di bidang ICT, selain itu masih ada juga beberapa talkshow dari Telkom Foundation serta Telkom Indonesia.

  • Mengintip Kesiapan Ekosistem Industri Telekomunikasi di Era 4G

    Mengintip Kesiapan Ekosistem Industri Telekomunikasi di Era 4G

    Jakarta – Sejak awal tahun ini sejatinya 4G LTE telah di gaungkan, namun hingga kuartal terakhir di tahun ini saja, jaringan super cepat generasi terbaru itu nyatanya belum bisa dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia.

    Beberapa faktor yang menyebabkan lemah nya implementasi ini diantaranya adalah jaringan 4G pada operator seluler belum sepenuhnya maksimal, selain itu, ketersediaan smartphone 4G LTE dengan harga yang terjangkau juga cukup langka di Indonesia.

    Alexander Rusli selaku CEO dari PT. Indosat Tbk mengungkapkan jika LTE Indosat pada frekuensi 1800 Indosat akan sangat ready dan beliau juga mengungkapkan tidak ada masalah untuk 4G LTE. “ Persiapannya sudah dari dua tahun lalu, sekarang tinggal di-on-kan, dan mulai tahun ini sudah siap dioperasikan sesuai kebijakan pemerintah,’ungkap Alex.

    Alex menambahkan, “Jika operator yang terus di genjot untuk teknologi 4G namun vendor ponsel tidak bergerak cepat, maka teknologi ini tidak akan berjalan dengan baik, sehingga kedua-duanya harus saling mendukung,”

    Sehingga Alex berharap, kejelasan pemerintah yang menyatakan penggunaan teknologi 4G-LTE resmi pada November tahun ini,  semua sudah berjalan beriringan,baik kesiapan oprator dan ketersediaan ponsel yang mendukung teknologi 4G.

    Jaringan
    Tidak hanya operator, vendor penyedia jaringan menjadi pihak yang sibuk melakukan berbagai persiapan. Bahkan mereka paling awal, karena layanan 4G bertumpu pada kesiapan teknologi jaringan yang disediakan mereka.

    Handset
    Pihak yang juga tidak ketinggalan di Era 4G , yaitu vendor handset. Salah satu yang disoroti yaitu mengenai tren penggunaan smartphone yang semakin kepada layanan akses data, terutama akses ke media sosial.

    Menurut penuturan Janto Djojo, Chief Marketing Officer Wiko Mobile Indonesia yang hadir pada acara diskusi tersebut, meski jumlah netizen lokal terus mengalami kenaikan, namun hanya 26 persen yang mengakses social media. Ini yang kemudian membuka ruang lega bagi pengguna yang belum menyentuh media sosial agar ikutan kecanduan berselancar di dunia maya.

    Sebagai perbandingan, sebanyak 50 persen netizen Singapura sudah melek social media. Namun karena jumlah penduduknya tidak sepadan dengan Indonesia, maka hitungan angka pengguna jejaring sosialnya masih berada di bawah.

    Paska memasuki era 4G LTE, Janto menilai bahwa harapan untuk terus menumbuhkan pengguna internet, terutama sosial media, sangat besar. Akan tetapi, harus membawa hal yang produktif. “Jangan sampai memberikan ke masyarakat malah dampak yang buruk,” ujar pria berkacamata tersebut.

     

  • Hisense Ramaikan Pasar Smartphone Indonesia

    Hisense Ramaikan Pasar Smartphone Indonesia

    Jakarta – Pabrikan asal Tiongkok Hisense akhirnya “mengibarkan benderanya” sendiri di Indonesia, setelah sebelum hanya berada di balik layar dari kesuksesan Andromax smartfren. Memulai debutnya di Indonesia, Hisense memboyong dua smartphone andalannya, Pureshot dan Pureshot+.

    Hisense melihat Indonesia memiliki potensi sangat besar di segmen smartphone. Potensi inilah yang akan digarap oleh Hisense dengan menawarkan produk-produk smartphone berkualitas dengan harga yang lebih kompetitif.

    “Indonesia adalah pasar yang sangat penting. Karena itu kami memutuskan untuk masuk ke Indonesia. Kami akan fokus pada smartphone di segmen premium, karena segmen ini punya potensi besar di masa depan,” kata Stephen Qu, President Director PT Hisense International Indonesia, di Raffles Hotel, Jakarta, Rabu (9/9/2015).

    Lebih jauh ia mengatakan, bahwa Hisense optimis dapat bersaing dan akan menjadi salah satu pemain besar di Indonesia. “Kami punya keunggulan teknologi dan produk yang tak kalah dengan merek besar lainnya. Tapi dari segi harga, sangat kompetitif,” tambahnya.

    Hisense Pureshot dan Pureshot+ dirancang sebagai smartphone premium yang memiliki keistimewaan pada kemampuan imaging (kamera), dan bisa berjalan di semua jaringan operator.

    Hisense Pureshot dan Pureshot+ memiliki kesamaan dari sisi spesifikasinya, yang membedakan hanya ukuran layar dan kapasitas baterainya. Hisense Pureshot menggunakan display LCD TFT 5 inci, HD 1280 x 720 piksel, sementara Hisense Pureshot+ memiliki ukuran layar yang lebih besar dari PureShot yakni LCD TFT 5,5 inci, HD 1280 x 720 piksel.

    Begitupun soal respon serta sensitifitas, touchscreen dari duo PureShot ini bisa mendeteksi sentuhan jari dengan baik meski Anda memakai sarung tangan. Layarnya juga telah dilapisi anti gores Corning Gorilla Glass 3.

    Hisense Pureshot dan Pureshot Plus

    Dari sisi desain, Hisense Pureshot tampil dengan sisi sudut melengkung 2.5D glass screen.  Panel depan di desain dengan sisi sudut melengkung dan dibalut sentuhan glossy, dan kedua sisinya diproteksi bezel logam.

    Sementara sektor kamera, Hisense membekali keduanya dengan kamera 13 MP dengan dual LED flash. Resolusi maksimum untuk mode 4:3 adalah 4160 x 3120 piksel (13MP). Sementara pada mode 16:9, kita bisa menikmati resolusi 3264×1836 piksel (6MP).

    Sementara untuk kamera depan, Hisense PureShot menanamkan sensor kamera 5 MP dilengkapi dengan LED flash. Selain itu, fitur-fitur terkini, seperti Autofocus, Geo-tagging, tauch focus, face detection, panorama, dan HDR sudah tersedia di smatphone ini.

    Untuk jeroannya, prosesor octa-core 64-bit, Qualcomm Snapdragon 415 dengan clockspeed 1.4GHz menjadi andalan Hisense PureShot. Ditandemkan dengan GPU Adeno 405 dan RAM 2GB membuat kinerja Hisense Pureshot lebih gesit. Smartphone ini juga diklaim mampu melahap game-game berat atau menjalankan banyak aplikasi sekaligus secara bersamaan dengan baik.

    Hisense PureShot memiliki memori yang lega dengan kapasitas 16GB. Untuk memperbesar ruang penyimpanannya. Hisense menyisipkan slot memori microSD. Sementara untuk kapasitas baterainya sebesar 2200 mAh.

    Untuk konektifitasnya, Hisense PureShot memiliki kemampuan mengoperasikan kartu SIM CDMA dan GSM pada kedua slot SIM-nya.  Artinya dengan kemampuan hybrid-nya, semua jaringan milik operator di Indonesia kompatibel dengan Hisense Pureshot.

    Dengan modem X5 LTE yang ada di dalam chipset Snapdragon 415, Hisense Pureshot  dan Pureshot+ mendukung konektivitas 4G LTE Cat. 4 baik FDD maupun TDD. Konektivitas 4G LTE Cat. 4 memiliki kecepatan download hingga 150 Mbps dan upload hingga 50 Mbps.

    Kedua slot SIM card pada Hisense Pureshot dan Pureshot+ mendukung konektivitas 4G LTE FDD pada Band 2 (1.900 MHz), Band 3 (1.800 MHz), Band 5 (850 MHz), Band 8 (900 MHz), dan Band 26 (extd 850 MHz).

    Saat ini Hisense Pureshot  dan Pureshot+ sudah tersedia di pasar Indonesia. Untuk harganya, Hisense Pureshot dibanderol pada harga Rp 2.699.000, sementara untuk Hisense Pureshot+ dipatok pada harga Rp 3.199.000.[BS]

  • Targetkan Kecepatan Download 50Mbps, Jerman Siapkan Puluhan Triliun Rupiah

    Targetkan Kecepatan Download 50Mbps, Jerman Siapkan Puluhan Triliun Rupiah

    JAKARTA – Internet super cepat adalah dambaan semua orang di setiap negara saat ini. Pasalnya, kehadiran konektivitas super cepat akan semakin menunjang keseharian para pengguna internet.

    Setiap negara memiliki batas standar kecepatan internet, dan di negara ini standar kecepatan internet mereka bisa tergolong “menakjubkan”

    Seperti dilansir dari laman Ubergizmo, Rabu (9/9/2015), Jerman menjadi negara yang rencananya akan menetapkan standar download speed mereka menjadi 50mbps sebelum tahun 2018 berakhir.

    Dengan kata lain, kecepatan download tersebut akan menjadikan kecepatan internet Jerman 10 kali lebih cepat dibandingkan dengan standar kecepatan internet di berbagai negara di seluruh dunia.

    Bersumber dari beberapa laporan mengenai kecepatan internet di seluruh dunia menjelaskan, rata-rata kecepatan internet di setiap negara di seluruh penjuru dunia adalah 5mbps. Jika memang Jerman berhasil merealisasikan rencana tersebut, maka mereka akan memiliki kecepatan internet 10 kali lebih cepat dibandingkan negara-negara lain di seantero jagat.

    Hal tersebut tentunya akan cukup mengusik Korea Selatan sebagai pemegang rekor kecepatan standar internet dengan 24 Mbps. Sementara Jerman sendiri saat ini memiliki kecepatan 10 Mbps.

    Untuk merealisasikan hal tersebut, sejatinya Jerman tidak memerlukan usaha yang sulit, sebab saat ini pembangunan infrastruktur mengenai target tersebut telah rampung sebanyak 70%. Dan untuk memastikan 30% sisanya, Pemerintah Jerman telah mengucurkan dana sekitar € 2.7 milyar agar target tersebut dapat terlaksana[. Nah, bagaimana dengan Negara kita tercinta ini? [AK/IF]

     

  • Dapatkan Dua Pemodal, eFishery Perluas Jaringan Distribusi

    Dapatkan Dua Pemodal, eFishery Perluas Jaringan Distribusi

    JAKARTA – Produsen alat pemberi pakan ikan pintar (smart fish feeder) asal Indonesia, eFishery baru-baru ini mengumumkan telah mendapatkan investasi pra-seri A dari Aqua-spark, dana investasi berbasis di Belanda, dan modal ventura asal Indonesia bernama Ideosource. Jumlah pendanaan yang tidak diungkapkan ini akan digunakan untuk mengembangkan jaringan distribusi eFishery hingga ke skala nasional, dan juga untuk melakukan perekrutan.

    Sebagai startup Internet of Things (IoT) di bidang peternakan ikan dan udang, eFishery ingin memecahkan salah satu tantangan utama di industri akuakultur komersil: proses pemberian pakan. Pemberian pakan ikan biasanya memakan antara 50 hingga 80 persen biaya operasi peternakan ikan.

    Memberi pakan terlalu banyak akan berdampak negatif pada lingkungan dalam berbagai cara, berhubung banyak makanan ikan yang akhirnya terbuang percuma. Makanan yang terbuang ini nantinya juga akan berdampak buruk pada kesehatan ternak.

    Di lain hal, ikan mungkin tidak dapat bertahan hidup bila kurang diberi pakan. Rumit dan tidak terukurnya metode pemberian pakan dalam skala komersil pada akhirnya akan berdampak pada kerugian ekonomi bagi peternak.

    eFishery menyediakan solusi berbasis teknologi yang inovatif dengan harga terjangkau untuk menyelesaikan masalah – dalam bentuk pemberi pakan otomatis yang menggunakan sensor untuk mengukur nafsu makan ikan, dan memberikan pakan dalam dosis yang dibutuhkan. Didesain untuk peternak skala kecil dan besar, sistem eFishery bisa menangkap nafsu makan, mendistribusikan makanan secara otomatis, dan memberikan laporan konsumsi makanan di smartphone peternak secara real time.

    Dalam keterangan tertulisnya, (9/9/2015), Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy, Co-Founder dan CEO eFishery menguraikan keinginannya untuk memecahkan ketidakefisienan kegiatan pemberian pakan di bisnis peternakan ikan ini.

    “Saya menemukan masalah ini saat menjadi peternak ikan juga dulu. Para pekerja memberi pakan ikan secara tidak efisien, dan peternak tidak memiliki teknologi apapun untuk mengendalikan proses pemberian pakan. Kami menciptakan produk ini untuk membuat bisnis peternakan ikan dan udang menjadi semakin efisien, nyaman, dan memiliki akuntabilitas, ungkapnya.”

    eFishery mendapatkan uang dengan menjual alat pemberi pakan pintar kepada peternak dan distributor. Mereka juga mendapatkan penghasilan dari biaya langganan pemakaian software yang digunakan untuk memonitor dan menganalisa aktivitas pemberian pakan ikan secara real time di smartphone atau tablet tiap bulannya. Rata-rata, sistem pemberian pakan otomatis eFishery mengurangi jumlah makanan yang digunakan sebesar 21 persen.

    Dalam dua tahun terakhir, eFishery telah menjual ratusan unit pemberi pakan. Terdapat lebih dari 17.000 peternakan ikan dan udang yang sedang berdiskusi dengan eFishery untuk menjadi klien, beberapa diantaranya merupakan bisnis dari Thailand, Singapura, India, Tiongkok, Brazil, dan sejumlah negara di Afrika.

    “Kami sangat bersemangat ingin memecahkan tantangan global dalam hal pemberian pakan ikan bersama eFishery,” ujar Amy Novogratz, Partner di Aqua-spark. “Indonesia memiliki sekitar 3,3 juta kolam ikan dan 2,7 juta peternakan ikan. Solusi ini juga dapat memberikan dampak yang sangat besar bagi berbagai industri secara global yang terjangkit masalah yang sama. eFishery berpotensi dapat menentukan standar baru untuk bisnis akuakultur dan membuat industrinya semakin transparan, berbasis data, dan akuntabel – semua faktor yang akan membuat semua bisnis di sektor ini menjadi lebih menarik di mata investor.”

    Hal yang tak jauh berbeda diutarakan Andrias Ekoyuono, VP of Business Development Ideosource. “eFishery merupakan contoh sempurna sebuah perusahaan yang sedang menyelesaikan masalah nyata di pasar yang menguntungkan,” katanya.

    Sebagai informasi, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), lebih dari 96 persen aktivitas peternakan ikan di seluruh dunia terkonsentrasi di Asia. Di Indonesia saja, pangsa pasar industri akuakultur bernilai sebesar Rp 76 triliun.

    eFishery akan bergabung di jaringan besar Aqua-spark yang berisikan para ahli, organisasi, institusi, dan perusahaan portofolio yang saling bekerja sama untuk menciptakan bisnis hebat dan membangun industri akuakultur global. Digabungkan dengan keahlian Ideosource di bidang teknologi Indonesia, kedua investor akan dapat mendukung visi jangka panjang eFishery.

    Startup asal Bandung ini akan menggunakan dana barunya untuk tiga hal. Mereka akan menjangkau lebih banyak distributor, menemukan mitra lokal, dan mengembangkan pangsa pasarnya secara agresif di Indonesia.

    Saat ini produk eFishery baru tersedia di Pulau Jawa, Bali, dan Sumatra. Perusahaan juga akan mengimplementasikan model penyewaan dimana para peternak dapat menyewa produk eFishery dan membayar penggunaannya tiap bulan, atau bahkan membayar setelah musim panen. Dengan begitu, peternak skala kecil dapat lebih mudah mengadopsi teknologi eFishery.

    eFishery akan segera mengembangkan platform software-nya, menciptakan dashboard yang lebih baik untuk pengguna, dan menambah berbagai fitur dan kompatibilitas ikan dalam alatnya. Untuk melakukan hal itu, perusahaan akan merekrut talenta terbaik di bagian teknologi (hardware dan software) dan juga di bagian akuakultur.

    Sebelumnya, eFishery telah memenangkan sejumlah penghargaan lokal dan internasional seperti Get in The Ring 2014 dan Indonesia ICT Award 2013. Dengan pengumuman ini, eFishery telah menjadi salah satu startup IoT pertama yang mendapatkan investasi dari modal ventura. [IF]