Kategori: DEVICE

  • Gandeng Huawei, Telkomsigma Kembangkan Sektor Pendidikan

    Gandeng Huawei, Telkomsigma Kembangkan Sektor Pendidikan

    Jakarta – Dalam acara Huawei Southern Pacific Night 2015 yang berlangsung di Shanghai, Tiongkok, 18 September 2015 lalu, PT Huawei Tech Investment (“Huawei Indonesia”), dan PT Sigma Cipta Caraka (“Telkomsigma”) menandatangani perjanjian kerjasama untuk proyek Storage as a Service (SaaS).

    Kerjasama ini merupakan langkah penting dalam kerjasama mengembangkan solusi dalam bidang pendidikan. Menurut Judi Achmadi, CEO Telkomsigma, kerjasama ini merupakan landasan kuat menuju pendidikan Indonesia yang tidak lagi bergantung pada penggunaan kertas.

    “Fungsi dan performa yang luar biasa dari solusi penyimpanan dari Huawei mampu memenuhi kebutuhan, serta memberikan dukungan dan perlindungan dalam skala besar di masa yang akan datang,” ungkapnya.

    Hal yang sama diutarakan Xu Ying, Director of Indonesia Data Center Solution Sales Department. Diakuinya, kolaborasi ini merupakan langkah penting bagi solusi penyimpanan dari Huawei dalam memajukan sektor pendidikan di Indonesia.

    “Melalui kerjasama jangka panjang dengan Telkomsigma, kami akan terus berinovasi dan berusaha secara optimal melanjutkan kontribusi kami dalam memajukan pendidikan di Indonesia,” katanya.

    Lewat kerjasama ini, Telkomsigma menggunakan sistem penyimpanan masal terbaru dari Huawei, OceanStor UDS Storage as a Service, sebagai pusat penyimpanan data (data center) untuk membangun platform bisnis penyimpanan online bagi sektor pendidikan di Indonesia.

    Para dosen, guru dan mahasiswa dapat mengunggah, mengunduh, dan berbagi bahan-bahan pelajaran ke sesama anggota yang tergabung dalam platform ini. Jumlah pengguna penyimpanan online masal akan terus dikembangkan dalam tiga tahun kedepan. Huawei akan terus berinvestasi dalam bidang penyimpanan IT.

    Berdasarkan laporan terakhir dari IDC, Huawei menempati posisi ke-tujuh pada kuartal 1 tahun 2015 untuk pendapatan dari penjualan produk penyimpanan dan selama tiga tahun berturut-turut menempati urutan pertama di dunia untuk tingkat pertumbuhan IT storage. Produk penyimpanan milik Huawei juga masuk sebagai penantang di Gartner Magic Quadrant dan menjadi pemasok utama para pelaku industri.

    Sebagai penyedia layanan data center dan cloud computing area terkemuka, Telkomsigma dan Huawei memiliki ide yang sama, kooperatif, inovatif dan kemitraan yang sama-sama menguntungkan. Keduanya akan secara aktif mempromosikan penetrasi dan pengembangan cloud computing di Indonesia, serta terus menjadi yang terdepan dalam proses komersialisasi.

  • Interop Luncurkan Layanan IMS dan IP Berbasis Cloud di Eropa

    Interop Luncurkan Layanan IMS dan IP Berbasis Cloud di Eropa

    Jakarta – Spesialis infrastruktur virtual, Interop Technologies telah membuka kantor pusat dan jaringan operasi untuk Eropa di Dublin guna mendukung peluncuran subsistem IP multimedia (IMS) core dan layanan IP suite berbasis cloud pertama di Eropa.

     

    CorePlusXSM Suite bertujuan untuk memberikan operator sebuah platform untuk menjalankan layanan protokol Internet (IP)  dan mengeksploitasi  jaringan LTE. Ini diperlukan karena meluncurkan layanan IP di konfigurasi turnkey tradisional terlalu bermasalah dan mahal bagi operator.

    Interop mengatakan akan menawarkan layanan baru, seperti Wi-Fi calling, VoLTE dan Rich Communication Services (RCS) agar jauh lebih mudah. Interop bermitra dengan Taqua, yang merupakan spesialis voice-over-Wi-Fi untuk mengembangkan suite ini.

    John Dwyer, CEO Interop Technology mengatakan, “Kami mengembangkan CorePlusXSM untuk memecahkan masalah pada operator yang dibebani oleh biaya yang cukup mahal, kompleksitas dan persyaratan yang luar biasa rumit terkait dengan IMS dan layanan IP canggih.”

    Ia menambahkan, angka GSMA menunjukkan bahwa operator seluler Eropa telah menginvestasikan € 155 miliar sejak 2007 hingga 2014 dan memperkirakan bahwa  € 170 miliar lagi adalah nominal investasi yang dibutuhkan untuk enam tahun berikutnya.

    Rencana Interop Technologies adalah melakukan virtualisasi Revolusi IP sehingga operator dari semua jenis dan ukuran dapat berpartisipasi, katanya. Interop saat ini sedang dalam tahap penyebaran dengan ‘beberapa’ pelanggan dan berencana untuk mengumumkan peluncuran proyek besar ini tahun ini.

    As CorePlusXSM is a complete end-to-end virtualised solution, operators can quickly and cheaply launch IP services on 2G and 3G networks, while laying the path for future advanced service evolution, according to Interop. The reduction in cost, complexity and labour intensity gives companies a quick start, without limiting their options for adding new services as the network, business and subscriber demand evolves, according to Interop.

    CorePlusXSM sendiri, seperti dilaporkan Telecoms, Rabu (30/9), adalah solusi end-to-end virtualisasi yang lengkap, dimana operator dapat lebih cepat dan murah dalam meluncurkan layanan IP pada jaringan 2G dan 3G. Pengurangan biaya, kompleksitas dan intensitas tenaga kerja juga menjadi salah satu keuntungan dari solusi ini. Tanpa membatasi pilihan mereka untuk menambahkan layanan baru seiring dengan berkembangnya jaringan, bisnis dan permintaan pelanggan.

  • Industri Mobile Kini Terfokus Pada Spektrum yang Tak Berlisensi

    Industri Mobile Kini Terfokus Pada Spektrum yang Tak Berlisensi

    Jakarta – Sebuah koalisi baru dari asosiasi dan perusahaan teknologi mobile telah terbentuk dalam upaya membangun dunia mobile dan nirkabel yang lebih baik dengan memanfaatkan spektrum yang belum dilisensi.

    Berawal dari perdebatan yang terjadi di AS baru-baru ini, mengenai potensi konflik antara penggunaan spektrum tak berlisensi untuk mobile dan Wi-Fi yang ada, Evolve mengadakan serangkaian pertemuan dengan pembuat kebijakan serta mengajarkan konsumen dalam upaya untuk mempromosikan potensi dan manfaat dari spektrum yang tak berlisensi serta teknologi yang terkait.

    Menurut Evolve, teknologi seperti LTE-unlicensed (LTE-U) dan Licensed Assisted Access (LAA) secara substansial akan meningkatkan kecepatan data dan meningkatkan cakupan untuk jutaan orang Amerika. Namun ekosistem perlu dipersiapkan sebelum industri dapat memberikan manfaat. Demikian seperti dikuitp dari Telecoms, Rabu (30/9).

    Beberapa anggota pendiri koalisi ini meliputi Competitive Carriers Association, asosiasi nirkabel CTIA, Alcatel-Lucent, AT&T, Qualcomm, T-Mobile dan Verizon.

    Koalisi Evolve percaya regulator akan mendukung teknologi baru seperti LTE-U dan LAA, karena ini dapat lebih memanfaatkan spektrum tak berlisensi untuk menjadi lebih baik lagi.

    Gerakan ini ingin meningkatkan kesadaran akan manfaat potensial spektrum tak berlisensi oleh 5G, yang saat ini sedang di “kanibalkan” oleh pembuat perangkat mulai dari pembuat monitor bayi hingga pembuka pintu garasi dengan menggunakan jaringan Wi-Fi dan Bluetooth. Evolve pun memperingatkan, perusahaan telekomunikasi selular akan kehilangan kesempatan untuk memesan LTE-U dan LAA untuk penggunaan eksklusif mereka.

    Sebagai informasi, di Amerika Serikat total nilai spektrum tak berlisensi mencapai lebih dari USD 228 juta per tahun (menurut layanan konsultasi telekomunikasi LLC) sedangkan nilai perangkat yang saat ini menggunakannya untuk monitor bayi, headset nirkabel dan walkie-talkie, memiliki GDP hanya USD 6.7 juta per tahun.

    Menanggapi para anggota baru, Evolve kini berkampanye dengan tujuh prinsip manajemen spektrum yang tak berlisensi. Ini termasuk mendorong inovasi, membatasi penggunaan spektrum dan menggunakan potensi untuk Internet of Things dengan lebih baik. Jika spektrum tak berlisensi tidak digunakan untuk potensi sepenuhnya, akan ada biaya multi miliar dolar yang harus dikeluarkan.

    Dean Brenner, Senior VP dari Quallcom menyebutkan, “Amerika perlu broadband yang lebih baik, dan mereka membutuhkannya sekarang. Internet sedang memasuki fase baru pertumbuhan, sehingga perlu untuk meningkatkan kapasitas mobile broadband seribu kali. Kami bekerja tanpa lelah untuk mengembangkan teknologi nirkabel yang lebih efisien dengan LTE dan hidup bersama Wi-Fi untuk membawa konsumen mendapatkan pengalaman mobile broadband terbaik. Para pembuat kebijakan harus merangkul pendekatan ini,” tuturnya.

     

     

  • Microsoft Dukung 12 Kota Sekunder di Tanah Air Jadi Smart City

    Microsoft Dukung 12 Kota Sekunder di Tanah Air Jadi Smart City

    Jakarta – Microsoft hari ini memperkenalkan program bertajuk CityNext, sebuah inisiatif global yang melibatkan pemerintah, pebisnis dan masyarakat untuk menciptakan kota-kota yang tak hanya semakin maju, tetapi juga kompetitif secara ekonomi dan berkelanjutan dengan dukungan teknologi.

    Ditemui dalam acara CityNext Summit, yang berlangsung di JS Luwansa Hotel, Jakarta, (29/9), Kertapradana Subagus, Public Sector Director, Microsoft Indonesia mengurai harapannya untuk menjadi bagian dalam upaya pengembangan kota pintar atau smart city. Menurutnnya, yang paling penting di sini adalah kolaborasi aktif antara orang-orang yang tinggal di dalamnya, baik itu pemerintah, swasta, maupun masyarakat.

    Melalui inisiatif CityNext ini, kami telah bekerja sama dengan pemerintah dari berbagai kota di dunia untuk menerapkan berbagai teknologi yang memungkinkan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan publiknya dalam berbagai aspek, mulai dari pendidikan, layanan sosial dan kesehatan, administrasi pemerintahan, keamanan publik, perencanaan pembangunan, wisata dan budaya, energi dan air, hingga transportasi,” katanya.

    Sebuah riset pun digelar Microsoft untuk mewujudkan inisiatif ini, dengan menggandeng Universitas Gadjah Mada dan Lee Kuan Yew School of Public Policy – National University of Singapore untuk meneliti 12 kota sekunder di Indonesia, meliputi Ambon, Surabaya, Bandung, Denpasar, Jayapura,Makassar, Medan, Palembang, Samarinda, Semarang, Surakarta dan Yogyakarta. Tujuannya adalah menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada dalam setiap kota, mengingat setiap kota memiliki tantangannya sendiri-sendiri untuk menjadi smart city.

    Dedy Permadi, Peneliti, National University of Singapore dan Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bahwa kota-kota tersebut memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang menjadi smart city. Tentu saja, dengan caatatan dilakukan intervensi kebijakan yang tepat.

    Dalam kurun waktu lima sampai lima belas tahun mendatang, kota-kota ini akan menjadi engine of growth,katanya.

    Meskipun, dalam perjalanannya tidak akan luput dari tantangan. Kedua belas kota sekunder di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang cukup signifikan terkait dengan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Masalah terberat adalah kurangnya kesadaran akan manfaat TIK, disusul oleh keterbatasan anggaran, dan juga keterbatasan kapasitas birokrat.

    Smart City: Bandung dan Pekalongan

    Sementara kedua belas kota lainnya masih harus menempuh jalan yang panjang untuk bisa dinobatkan sebagai Smart City, Bandung dan Pekalongan disebut-sebut telah bergerak untuk menjadi smart city.

    Ilham Habibie selaku Chairman, Bandung Smart City dan Chairman, Institute for Democratization through Science and Technology, The Habibie Center bahkan mengungkapkan bahwa saat ini Bandung telah membentuk Smart City Council yang bertanggung jawab untuk mengarahkan serta memantau pengembangan smart city di Kota tersebut.

    Bandung juga memiliki Bandung Command Center dan Bandung Digital Valley untuk membantu mengelola layanan publik secara digital serta mendukung kewirausahaan berbasis teknologi. Kami sangat merasakan bagaimana penggunaan teknologi dapat betul-betul membantu pemerintah untuk mengembangkan kota serta warganya,” jelasnya.

    Hal yang tak jauh berbeda diutarakan Walikota Pekalongan, Basyir Ahmad. Manurutnya penggunaan teknologi dalam sistem tata kota telah benar-benar mempermudah dan mendekatkan komunikasi antara pemerintah dengan warganya.

    Tantangan adalah bagaimana teknologi tersebut dapat diimplementasikan secara maksimal dan bagaimana warga kota mau memahami dan berpartisipasi dalam sistem-sistem baru berbasis teknologi ini,” katanya.

    Pekalongan sendiri telah menata infrastruktur pemerintahan dengan teknologi sejak tahun 2008, atau lebih tepatnya tiga tahun setelah Basyir Ahmad menjabat sebagai Walikota. Hasilnya, tidak hanya membantu transparansi informasi publik, tetapi juga menghemat anggaran Pemerintah Kota Pekalongan.

    Dengan membuat kota Pekalongan terintegrasi, kita tak hanya berhasil menurunkan belanja pegawai dari 5000 menjadi 4000, server kita yang sebelumnya berjumlah 50 pun kini bisa disedikitkan menjadi hanya satu saja. Dan itu membuat penghematan yang luar biasa,” tambah Basyir lagi.

  • Lindungi Data Pelanggan dari Serangan, Ini Solusi Fortinet

    Lindungi Data Pelanggan dari Serangan, Ini Solusi Fortinet

    Jakarta – Kejahatan cyber saat ini masih menjadi sebuah isu yang belum bisa dihilangkan. Banyak kejadian pencurian data yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, dengan tujuan untuk memeras bahkan merusak sistem dari situs suatu perusahaan.

    Saat ini, banyak juga perusahaan penyedia layanan keamanan (security) berlomba-lomba menghadirkan produk layanan keamanan, namun nyatanya hal tersebut belum mampu menyelesaikan masalah pelik ini.

    Salah satu perusahaan penyedia Layanan Jasa Keamanan, yaitu Fortinet, baru saja merilis dua buah produk security untuk melindungi data pelanggan. Dua produk ini adalah FortiWeb 4000E dan 3000E Web Application Firewalls (WAFs).

    Kedua produk ini didesain untuk membantu pelanggan dalam mengenali pencurian, pembobolan finansial dan penolakan dari aplikasi perlindungan ancaman berlapis dan terspesialisasi.

    Perangkat FortiWeb terbaru ini menawarkan jasa perlindungan yang didukung oleh ilmu pengetahuan mengenai ancaman dari FortiGuard Labs, memberikan perlindungan ancaman secara real-time untuk aplikasi.

    Solusi baru FotiWeb ini juga terintegrasi dengan FortiSandbox milik Fortinet dan menawarkan dukungan untuk pengembangan kerjasama dengan solusi pemindai lanjutan milik Acunetix. Semua tambahan fitur ini mendorong platform end-to-end cyber security Fortinet yang melindungi data pelanggan dari semua entry point jaringan.

    FortiWeb 4000E terbaru ini mampu memberikan “throughput” sebesar 20 Gbps dan fitur built-in dengan kemampuan anti-malware dan yang pertama kali untuk pasar perangkat WAF sekaligus memadukan fitur pemindai kerentanan terkemuka dari Acunetix.

    Perangkat FortiWeb milik Fortinet memberikan kinerja, keefektifan dan fitur-fitur yang hanya dapat diberikan oleh Fortinet, melebihi solusi kompetitif lainnya dan mengubah seluruh ekspektasi terhadap web application firewalls.

    Seri FortiWeb dari WAFs sekarang telah sepenuhnya terintegrasi dengan FortiSandbox dan Advanced Threat Protection (ATP framework) Fortinet, memastikan organisasi tersebut dapat mempersenjatai diri mereka secara apik, perlindungan end-to-end dari ancaman paling canggih sekalipun.

    Peningkatan-peningkatan FortiWeb ini memberikan perlindungan berlapis dan mutakhir dari ancaman terhadap perusahaan skala menengah dan besar. Penyedia jasa aplikasi dan penyedia SaaS mengharapkan WAFs yang terbaik di industrinya.

    Perangkat FortiWeb sekarang dapat menerima update keamanan secara real-time dari FortiGuard Labs, sebuah tim pelopor penelitian ancaman.

    Ada 3 pelayanan yang dapat diberikan, baik satuan maupun paket, yakni meliputi 1) FortiWeb Security Service, yang menawarkan pertahanan yang baik dan terus diperbarui guna menghadapi kerentanan web dan URL yang mencurigakan dan juga memberikan keamanan pada layer aplikasi. 2) IP Reputation Service, yang memberikan perlindungan yang canggih dari serangan botnet. 3) Anti-malware dan anti-Intrusion Services proaktif, yang melindungi dari infeksi malware.

    Semua pelayanan ini diberikan secara real-time dan bersumber dari jaringan global Fortinet dengan lebih dari 2 juta perangkat keamanan. Sensor ini memberikan FortiGuard Labs milik Fortinet untuk menerawang lebih jauh ancaman yang baru maupun yang sudah ada dan memastikan perangkat FortiWeb dilengkapi dengan keamanan aplikasi terbaik di industri.

    “Keamanan Aplikasi adalah suatu peralatan penting yang dibutuhkan dalam melawan ancaman canggih. Bagaimanapun, dengan banyaknya Web Application Firewalls di pasaran sekarang ini, pelanggan harus menukarkan kinerja untuk keamanan. Masalah ini akan semakin buruk karena kebutuhan jaringan resiliansi pelanggan dan Data Center bandwidth semakin lama semakin meningkat,” ungkap John Maddison, Vice President Marketing Fortinet hari ini, (29/9).

    Sayangnya, disinggung mengenai ketersediaan, ternyata solusi ini belum bisa didapatkan untuk saat ini. Dan dari pihak Fortinet pun belum ada konfirmasi lebih lanjut mengenai kapan layanan ini akan tersedia. [AK/IF]

     

  • British Telecom Kantongi Lisensi Siskomdat di Indonesia

    British Telecom Kantongi Lisensi Siskomdat di Indonesia

    Jakarta – Bertepatan dengan perayaan 30 tahun kehadirannya di wilayah Asia Pasifik, dan tidak lama berselang sejak mendapatkan titel sebagai Best Managed Service Provider dalam ajang Telecom Asia Awards 2015, British Telecom (BT), hari ini mengumumkan bahwa perusahaan telah secara resmi mendapatkan lisensi untuk pengoperasian Siskomdat (sistem komunikasi data) di Indonesia.

    Lisensi ini secara tidak langsung memberi keleluasaan bagi BT untuk menawarkan portfolio layanan dan aplikasi jaringan TI secara langsung kepada para pelanggan di Indonesia.

    Lisensi telekomunikasi yang kami dapatkan di Indonesia ini merupakan sebuah langkah baru yang membanggakan dalam mendukung pelanggan kami di AMEA dan seluruh dunia untuk mencapai kesuksesan,” ungkap Kevin Taylor, Presiden BT Global Service untuk Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika dalam keterangan tertulisnya, Selasa (29/9).

    BT sendiri merupakan salah satu dari dua operator telekomunikasi global yang mendapatkan lisensi Siskomdat. Perusahaan-perusahaan Indonesia ataupun perusahaan-perusahaan multinasional yang berinvestasi di Indonesia, kini dapat meningkatkan daya saing mereka dengan memanfaatkan layanan jaringan TI dari BT yang berskala global.

    BT sudah membangun kantor pusat operasional wilayah Asia Pasifik di Hong Kong pada tahun 1985. Kini, Hong Kong menjadi kantor pusat operasional BT di Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika (AMEA). BT sudah mendukung lebih dari 1.000 perusahaan dari 26 kantor di wilayah ini.

    Selama lebih dari 30 tahun, BT terus menerus berinvestasi memberikan layanan baru dan memperluas jangkauan serta kapabilitas jaringannya untuk membantu para pelanggannya mencapai kesuksesan.

    Baru-baru ini, BT meluncurkan infrastruktur cincin kabel serat (fibre ring) di Singapura yang menghubungkan enam pusat data milik pihak ketiga dengan jaringan BT, sehingga dapat meningkatkan kapasitas dan ketahanan jaringan.

    Lebih dari 28 Ethernet Connect Global Point-of-Presence (PoPs) baru juga telah ditambahkan ke dalam infrastruktur yang sudah ada dalam kurun waktu 6 bulan terakhir dan beberapa access point internet tambahan telah diluncurkan di Hong Kong, Singapura, Australia, Jepang, dan Afrika Selatan.

    Komitmen BT di wilayah AMEA telah diakui secara luas selama bertahun-tahun. Pada bulan Juli 2015, laporan Critical Capabilities for Network ServicesAsia/Pacific yang dikeluarkan oleh Gartner mengakui keunggulan BT selama 2 tahun berturut-turut. Dari 14 penyedia jasa komunikasi yang tercakup dalam jaringan regional dan jaringan domestik yang diperluas, BT mendapat nilai tertinggi, mewakili 2 dari 4 studi kasus yang disajikan dalam laporan tersebut.

    “BT telah hadir di wilayah AMEA selama 30 tahun terakhir. Kami senantiasa berinvestasi untuk memperkuat infrastruktur dan memberikan kapabilitas yang lebih baik. Kami memegang teguh komitmen untuk membantu para pelanggan kami mencapai kesuksesan dengan memetik manfaat konektivitas global dan layanan enterprise berbasis cloud,” pungkas Kevin.

     

  • Susul Isu Eksploitasi Pekerja, Pemasok Apple Banjir Kritikan

    Susul Isu Eksploitasi Pekerja, Pemasok Apple Banjir Kritikan

    Jakarta – Sekelompok orang yang memperjuangkan hak-hak buruh menandai peluncuran iPhone terbaru di Hongkong. Dalam laporannya, kelompok ini menuduh salah satu pemasok smartphone raksasa China mengeksploitasi pekerja pabrik.

    Organisasi Mahasiswa dan Pelajar yang Menentang Perilaku Buruk Perusahaan (SACOM) yang berbasis di Hong Kong mengatakan bahwa Lens Technology, yang membuat layar sentuh perangkat, sering memaksa pekerjanya untuk lembur, memotong upah mereka dan mempertaruhkan kesehatannya setelah penyelidikan berbulan-bulan pada tiga pabriknya.

    Pendiri perusahaan, Zhou Qunfei, sendiri berangkat dari seorang pekerja pabrik. Ia menjadi salah satu wanita terkaya di China setelah Lens Technology debut di bursa Shenzhen pada bulan Maret.

    Mengingat iPhone 6s mulai dijual di pasar termasuk Hong Kong, Jepang dan China daratan pada Jumat ini, SACOM menyerukan Apple untuk “segera mengambil langkah untuk memperbaiki eksploitasi dalam rantai pasokannya.” Demikian dilansir dari Industryweek, Selasa, (29/9).

  • Meizu M2 Tambah Panjang Daftar Ekosistem 4G Tanah Air

    Meizu M2 Tambah Panjang Daftar Ekosistem 4G Tanah Air

    Jakarta – Diimplementasikanya jaringan 4G LTE di hampir seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia, mau tak mau mendorong para produsen smartphone untuk menghadirkan perangkat yang mendukung jaringan tersebut. Meizu salah satunya, yang hari ini memperkenalkan handset 4G LTE teranyarnya, Meizu M2. Handset ini secara tidak langsung kembali menambah panjang daftar ekosistem 4G LTE di tanah air, khususnya di segmen menengah.

    Hadir dengan bentang layar 5inci, dengan resolusi 1280 x 720 serta sistem operasi Android terbaru di badannya, Meizu M2 tak hanya didukung oleh satu teknologi 4G saja, melainkan dua, yakni yang berbasis TDD-LTE dan FDD LTE.

    Ini berarti, Anda bisa menanamkan dua kartu operator, dalam satu laci yang sama (dua slot nano sim dalam satu laci), dan kedua-duanya mendukung jaringan 4G. Sehingga pengguna bisa dengan mudah berpindah dari satu jaringan 4G ke jaringan 4G lainnya tanpa perlu menukar tata letak SIM. Istimewanya, jika pengguna hanya menggunakan satu operator saja, slot SIM yang kosong bisa difungsikan sebagai slot memori eksternal dengan daya tampung maksimal 128 GB.

    Hadirnya Meizu M2 menegaskan komitmen Blibli.com untuk terus menghadirkan pilihan produk berkualitas kepada konsumen online di Indonesia, tak terkecuali konsumen yang berjiwa muda yang mencari barang-barang baru, asli dan bergaransi resmi,” jelas Chief Executive Officer (CEO) Blibli.com, Kusumo Martanto.

    Hal yang tak jauh berbeda diungkakan Ross Wang, Director of Business Cooperation Meizu Technology. Menurutnya, Meizu M2 dibuat untuk memenuhi kebutuhan konsumen “berjiwa muda”. Hal tersebut tercermin melalui desain yang stylish dan warna-warna dinamis serta dua buah kamera yang masing-masing memiliki resolusi 13 MP dan 5 MP. Lengkap dengan fasilitas rekam video dengan kualitas Full HD dan fitur FotoNation 2.0 untuk memaksimalkan kualitas foto pada saat melakukan selfie.

    Blibli.com, selaku official e-commerce partner untuk Meizu M2, akan menggelar Flash-Deals perdana pada 1 Oktober 2015 antara jam 10.00-15.00 wib. Meizu M2 dibandrol dengan harga Rp1.699.000 (bonus paket data Indosat Mentari 5 GB), dan bisa dibayar dengan berbagai pilihan pembayaran mulai dari COD (Bayar di Tempat) hingga kartu kredit/kartu debit. Nah, khusus pemegang kartu kredit dari 13 mitra perbankan yang digandeng Blibli.com – ANZ, BCA, Bank Bukopin, BRI, Bank Danamon, Bank Mega, Bank Permata, CIMB Niaga, HSBC, MNC Bank, OCBC NISP, Standard Chartered Bank dan UOB – akan mendapatkan diskon tambahan selama periode promo berlangsung.

    Selain itu, Blibli Shopper juga tetap bisa menikmati fasilitas yang diberikan Blibli.com berupa Cicilan 0% antara 6-12 bulan, layanan free shipping serta didukung Customer Care 24 jam yang siap melayani konsumen online Indonesia.

  • E-commerce Masih Jadi Pilihan Meizu & Infinix Untuk Jualan

    E-commerce Masih Jadi Pilihan Meizu & Infinix Untuk Jualan

    Jakarta – Anak muda adalah target yang menjanjikan untuk beberapa pasar di luar sana, salah satunya pasar smartphone. Tak mengherankan, jika dua pabrikan ponsel asal China kemudian menyasar segmen ini untuk handset terbarunya.

    Ya, kedua perusahaan yang dimaksud itu adalah Meizu dan Infinix, yang hari ini berbarengan membawa masuk handset teranyarnya ke tanah air. Menariknya lagi, kedua perusahaan sama-sama megandalkan metode online untuk memasarkan handsetnya. Bedanya, jika Infinix menggandeng Lazada, Meizu memilih Blibli sebagai pelabuhannya.

    Dalam acara peluncuran Meizu M2 yang berlangsung di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Senin (28/9), Ramon Kwok, General Manager of Meizu Hong Kong mengungkap alasan pemilihan Blibli sebagai mitra. Menurutnya, Blibli.com sebagai mal online pertama dan terbesar di Indonesia memiliki reputasi yang baik di bidangnya dan telah dipercaya oleh brand-brand besar untuk memasarkan produknya.

    Oleh karena itu kami percaya dan yakin bahwa Blibli mampu membuka pintu bagi Meizu untuk tumbuh dan berkembang di pasar Indonesia,” ungkapnya.

    Sementara Infinix, yang hari ini memperkenalkan smartphone bertajuk Hot 2 X510 mangaku memilih Lazada untuk kembali menjadi rekan eksklusif tak lain karena e-commerce ini dianggap sebagai satu-satunya yang saat ini dapat memberikan pelayanan yang memuaskan.

    “Jika kami bekerjsama dengan perusahaan e-commerce lain dan tidak mendapat pelayanan yang memuaskan, maka nama mereka yang akan menjadi jelek, kata CEO Infinix Mobility, Benjamin Jiang.

    Dipilihnya metode penjualan online oleh kedua perusahaan asal China ini – dalam hal ini dalam memasarkan produknya di Indonesia – tentunya bukan tanpa alasan. Selain karena pertumbuhan e-commerce di tanah air yang menjanjikan – dimana lahan ini masih berkembang pesat dan memiliki potensi yang besar – jangkauan yang luas juga disebut-sebut menjadi alasan.

    Selama ini karena kita tinggal di Jakarta maka tidak merasa kesulitan untuk mendapat akses ke produk tertentu. Tapi bagaimana dengan mereka yang berada di luar Jawa? Dengan menggunakan platform online, semua orang di Indonesia memiliki akses yang sama terhadap sebuah produk,” ungkap CEO Blibli.com, Kusumo Hartanto, saat ditemui dalam sesi wawancara khusus hari ini.

    Lebih lanjut, Kusumo juga menambahkan bahwa metode online masih terbilang cukup efektif dan efisien hingga saat ini. “Untuk Meizu M2 ini, kita sudah ada 20.000 yang registrasi. Dan itu hanya dalam beberapa hari saja setelah teaser dirilis,” tambahnya.

  • Sepakat, China dan Uni Eropa Akan Kembangkan 5G Bersama

    Sepakat, China dan Uni Eropa Akan Kembangkan 5G Bersama

    Jakarta – Uni Eropa dan China menandatangani kesepakatan untuk bekerja sama selama pengembangan teknologi jaringan 5G. Pun demikian terkait standar operasi yang akan dihadirkan nantinya.

    Perjanjian yang ditandatangani Uni Eropa dan China di Beijing ini secara tidak langsung membuka akses bagi perusahaan-perusahaan Eropa serta partisipasi mereka dalam penelitian 5G yang didanai oleh publik. Bukan hanya itu, perusahaan Eropa juga akan mendapatkan pengembangan dan inovasi inisiatif China dengan ketentuan yang sama seperti perusahaan-perusahaan China.

    Dilansir dari telecoms, Senin (28/9), perjanjian kerjasama ini diberlakukan untuk  mengantisipasi “perlombaan standarisasi 5G” pada tahun 2016 nanti, ketika berbagai badan di seluruh dunia akan memulai pembicaraan mengenai kebutuhan spektrum untuk jaringan tersebut. Sebagai informasi, 5G sendiri rencananya akan memasuki tahap komersialisasi pada tahun 2020 mendatang.

    Günther Oettinger, Komisioner Eropa yang bertanggung jawab atas Ekonomi Digital dan Masyarakat, serta  Miao Wei, selaku Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi China, yang menandatangani deklarasi bersama ini dengan tujuan untuk bekerja sama dalam menghadapi berbagai isu mengenai 5G.

    Dua badan tersebut telah sepakat untuk mencapai sebuah pemahaman global. Pada akhir tahun 2015, semua konsep, fungsi dasar, teknologi kunci dan waktu untuk kehadiran 5G rencananya akan rampung dibuat dan mulai dilaksanakan.

    Kedua kubu pun telah sepakat dan berkomitmen untuk tak hanya saling mendukung, tetapi juga mengikuti apa yang menjadi standarisasi dari organisasi seperti 3 Generation Partnership Project (3GPP) dan International Telecommunication Union (ITU) terkait proyek penelitian bersama ini.

    Nantinya, bersama-sama baik Uni Eropa maupun China akan berusaha untuk mengidentifikasi pita frekuensi radio yang paling menjanjikan untuk memenuhi persyaratan spektrum baru untuk 5G. Potensi koperasi penelitian tentang layanan dan aplikasi untuk 5G, dengan penekanan khusus pada Internet of Things (IOT), juga akan turut dieksplorasi, sesuai dengan perjanjian dan nota kesepahaman tersebut.

    Jika melihat dari pernyataan Uni Eropa, kedua belah pihak nampaknya telah setuju untuk timbal balik dan memberikan keterbukaan atas akses dana penelitian jaringan 5G serta akses pasar dan keanggotaan asosiasi China dan Uni Eropa 5G. Deklarasi bersama ini didasarkan pada perjanjian serupa dengan Korea Selatan dan Jepang yang ditandatangani Uni Eropa sebelumnya.

    Uni Eropa rencananya akan memberikan investasi sebesar€700 juta melalui Program Horizon 2020 untuk mendukung penelitian dan inovasi dalam 5G. Pada bulan Mei mendatang, EC (European Commission) mengumumkan Digital Single Market Strategy (Strategi Pasar Tunggal Digital) untuk meningkatkan koordinasi spektrum di Uni Eropa, dengan penekanan pada masa  kebutuhan 5G.

    “Dengan tanda tangan hari ini bersama China, Uni Eropa kini bekerja sama dengan mitra Asia yang paling penting dalam perlombaan global dalam hal menjadikan 5G sebagai sebuah kenyataan pada tahun 2020. Ini merupakan langkah penting dalam kesuksesan program ini,” pungkas Commissioner Günther Oettinger lagi. [AK/IF]