Kategori: DEVICE

  • Oracle Jualan Data Analitik untuk Perusahaan Telekomunikasi

    Oracle Jualan Data Analitik untuk Perusahaan Telekomunikasi

    Jakarta – Raksasa perangkat lunak, Oracle baru-baru ini meluncurkan portofolio produk barunya yang disebut Oracle Communications Analytics. Solusi ini ditujukan untuk para penyedia komunikasi.

    Dilansir dari Telecoms (6/10), portofolio tersebut meliputi empat solusi, diantaranya Oracle Communications Customer Experience Analytics, Oracle Communications Network Assurance Analytics, Oracle Communications Analytics Big Data Platform, dan Oracle Communications Analytics Diameter Adapter.

    Keempat solusi tersebut datang dengan keunggulannya  masing-masing. Solusi Customer Experience Analytics, misalnya, dirancang untuk menawarkan bagian customer care sekumpulan informasi dan analitik di satu tempat  yang sangat berguna. Solusi Network Assurance Analytics menawarkan wawasan ke dalam kinerja jaringan Diameter. Solusi Plattform Analytics Big Data melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh platform big data lainnya, sedangkan Adapter Big Data dirancang untuk memberikan informasi dalam bentuk data yang besar.

     

    “CSP memiliki keuntungan – mereka memiliki banyak data tentang bagaimana jaringan mereka beroperasi dan jenis pengalaman yang didapat pelanggan,” kata Doug Suriano, GM Oracle Communications.

    Namun, seperti ditambahkannya lagi, tanpa tools analisis dan big data yang tepat, data tersebut akan tetap terpakai dan terkunci didalam berbagai sistem. “Portofolio Oracle Communications Analytics kami yang diperluas dirancang dengan memikirkan tantangan ini, menawarkan keahlian Oracle yang lebih luas dalam big data juga pemahaman khusus industri dari pasar komunikasi,” ungkapnya.

    Oracle sendiri sejatinya telah menghadirkan beberapa solusi untuk big data. Ada setidaknya 5 solusi, dan untuk yang terbaru ini mereka memanfaatkan big data untuk menciptakan solusi data analitik.

  • Stop Cyberbullying, Kaspersky Lab Rangkul Organisasi Anti Bully

    Stop Cyberbullying, Kaspersky Lab Rangkul Organisasi Anti Bully

    Jakarta – Survei membuktikan, hampir seperempat (22%) orang tua merasa khawatir tidak bisa mengontrol apa yang dilihat dan dilakukan anak-anaknya pada saat online, dan hampir setengahnya (48%) merasa khawatir anak-anak mereka kemungkinan menghadapi cyberbullying.

    Berkaca dari penelitian tersebut, Kaspersky Lab baru-baru ini mengumumkan kemitraannya dengan ENABLE (European Network Against Bullying in Learning and Leisure Environments) dalam rangka membina inovasi TI muda serta mengatasi isu global bullying. Bersamaan dengan itu, perusahaan juga turut mendukung acara Hackathon yang digelar ENABLE.

    Hadir sebagai bagian dari Europeran Coding Week 2015, yakni sebuah ajang coding yang akan mempertemukan 80-100 orang, termasuk anak-anak muda, ahli dan pembuat kebijakan bidang pendidikan, hak-hak anak dan anti-bullying, ENABLE Hackathon akan berlangsung pada 13 Oktober.

    ENABLE Hackaton sendiri mendorong anak-anak muda, berusia 9-17 tahun, bekerja sama dalam tim untuk merancang sebuah aplikasi atau alat kreatif, yang dapat membantu mengurangi tindak bullying.

    Sebagai mitra terkait, Kaspersky Lab akan memilih tim yang membawa terobosan terbaru dalam hal solusi teknologi terhadap bullying. Tim yang menang akan  mendapatkan hadiah berupa kunjungan ke pabrik dan museum Ferrari di Maranello, Italia, untuk kemudian bertemu dan menyapa langsung pembalap Scuderia Ferrari Formula One.

    PrintDalam keterangan tertulisnya, Senin (5/10), Janice Richardson, Senior Advisor di European Schoolnet, sekaligus mantan co-ordinator Insafe Network dan co-ordinator dari ENABLE mengungkapkan rasa senangnya atas keterlibatan Kaspersky Lab dalam perhelatan ini. Menurutnya, Kaspersky Lab tidak hanya memiliki pengetahuan teknis yang luar biasa, tetapi juga paham akan pentingnya mengurangi tindak bullying – khususnya cyberbullying – di seluruh dunia.

    Kami ingin melihat anak-anak muda mengembangkan keterampilan online mereka, sementara kami juga membantu mereka untuk memahami dinamika yang terjadi di bullying serta memberikan pengarahan kepada mereka ketika bekerja dalam tim supaya dapat menemukan solusi kreatif untuk menghentikan tindak bullying ini,” katanya.

    Hal senada diuraikan David Emm, Kepala Peneliti Keamanan, Global Research and Analysis Team, Kaspersky Lab. Menurutnya, membuat internet menjadi tempat yang lebih aman merupakan komitmen perusahaan. Bullying – terutama cyberbullying dianggap sebagai masalah yang sangat serius yang memiliki implikasi sosial dan emosional. Oleh karena itu, mendidik serta memberikan dukungan kepada anak-anak dan orang tua mereka dalam memerangi ancaman yang mereka hadapi ketika online sangatlah penting.

    Dengan mendukung Hackathon, kami memiliki kesempatan lain untuk melakukan hal itu. Kaspersky Lab juga merupakan sponsor resmi tim balap Scuderia Ferrari Formula One, jadi kami merasa senang untuk memberikan hadiah fantastis bagi tim pemenang dari anak-anak muda di acara tersebut,” bebernya.

    Kaspersky Lab secara teratur bekerja sama dengan organisasi-organisasi seperti European Schoolnet, yang terbukti berhasil melawan cyberbullying. Di bulan Maret 2015 perusahaan menyelenggarakan panel tingkat tinggi untuk memperdebatkan masalah ini pada Mobile World Congress di Barcelona.

    Perusahaan juga berkomitmen untuk menyumbangkan satu Euro ke Insafe Helpline Fund untuk setiap Kaspersky Total Security – Multi-Device yang terjual secara online di Eropa selama bulan Desember 2014, dengan jaminan demi mengamankan minimum sumbangan yang diperlukan untuk memenuhi tambahan 9.000 panggilan mengenai masalah online, seperti cyberbullying dan penyiksaan, pada tahun 2015.

  • 5G Baru akan Komersial 2025!

    5G Baru akan Komersial 2025!

    Belum lagi 4G LTE di Indonesia komersial secara keseluruhan di Bumi Pertiwi ini, isu 5G sudah mulai didengungkan oleh para perusahaan jaringan. Bahkan beberapa Negara sudah mulai mengadakan uji jaringan. Seperti DoCoMo, operator besar di Jepang.

    Berdasarkan hasil kajian dari dari Jupiter Research, akan ada 240 juta koneksi 5G pada 2025 mendatang. Dan pendapatan yang akan dicapai adalah lebih dari 65 miliar US$. Dengan pertumbuhannya mencapai 266% antara 2020 sampai 2025.

    Melihat dari angka yang disuguhkan oleh Jupiter Research ini tentu cukup menggiurkan. Walau demikian, lembaga riset ini mengingatkan bahwa data tersebut hanya merepresentasikan 3% dari koneksi Global Mobile. Artinya, setelah 2025, 5G ini akan jauh lebih besar lagi menghasilkan revenue untuk operator. Di sisi lain, tentu konsumen pun akan mendapatkan pengalaman baru dalam melakukan komunikasi.

    International Telecommunication Union (ITU) sendiri, sebagai organisasi telekomunikasi dunia baru akan mengkomersialkan 5G pada tahun 2010. Lembaga ini akan mengatur teknis sistem radio untuk memfasilitasi 5G dengan mempertimbangkan persyaratan jangkauan dari skenario masa yang komprehensif, termasuk teknologi antar generasi. Dengan demikian, 5G akan dapat berkembang perpindahan konsumen ke teknologi baru ini juga dapat berjalan mulus.

    Teknologi 5G ini menawarkan kecepatan setidaknya10Gbps dan menggunakan frekuensi 6-100Ghz. Teknologi ini akan menyediakan efisiensi spectral yang tinggi, latency dan memiliki sistem untuk meningkatkan kapasitas. ITU menyatakan bahwa komersial 5G ini baru dapat dilakukan setelah 2020. Baru pada 2025 adopsi besar-besaran terjadi.

    Dengan adanya teknologi 5G ini maka para produsen sudah bersiap-siap. Selain untuk mempermudah dalam konektifiti, juga akan mengadopsi Internet of Everything (IoE) yang mampu melakukan koneksi antara decives, Appliances, Vehicles dan infrastruktur di Smart Home dan Smart Cities.

    Indonesia sendiri, saat ini masih konsentrasi untuk mengimplemntasikan 4G. “Penerapan teknologi 5G makan waktu lama karena belum adanya model bisnis 5G yang siap digunakan Indonesia,” ujar Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika

    usai konferensi Indosat IDByte 2015 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta Selatan, Jumat (2/10/2015).

    Rudiantara baru akan memikirkan implementasinya setelah model bisnisnya sudah ada. “Kami belum memiliki model bisnisnya. Kalau model bisnisnya sudah ada, baru kita laksanakan. Bahkan Jepang membangun teknologi 5G dengan target selesai pada 2020. Mereka ingin memanfaatkan teknologi tersebut untuk Olympic dan Paralympic,” imbuhnya. (Icha)

     

     

  • Cara Baru Hacker Lumpuhkan Platform Android

    Cara Baru Hacker Lumpuhkan Platform Android

    Jakarta – Sistem Operasi Android tak bisa dipungkiri menjadi salah satu platform dengan tingkat kerentanan yang rendah terhadap infeksi virus ataupun malware. Pola open source yang diadopsi seolah menjadi celah tersendiri bagi para hacker untuk menyelipkan virus di dalam aplikasinya.

    Kasus terdekat mengenai rentannya platform besutan Google ini adalah hadirnya bug Stagefright pada pesan teks yang ditemui pada Juli lalu dan dinilai sebagai lubang besar dalam keamanan Android. Bug Stagefright 2.0 ini konon dapat mempengaruhi kinerja smartphone, khususnya yang dirilis mulai tahun 2008 silam.

    Seperti dilansir dari Telegraph (4/10), para hacker memiliki cara baru untuk membobol sistem keamanan pada Android, yakni dengan cara memasukan jenis malware yang mirip seperti lagu atau video.

    Dengan menggunakan fungsi preview untuk mendengarkan atau menonton video, seperti membuat file MP3 atau MP4, hacker bisa mengakses kode perangkat Android dan membuat perubahan dari jarak jauh, dengan hanya mengirimkan sebuah MMS pada sistem smartphone dalam bentuk video. File MMS itu bahkan tidak perlu sampai dibuka oleh para pengguna untuk bisa memberikan dampak kepada smartphone. Para hacker juga bisa menghilangkan MMS yang mereka kirimkan setelah serangan dilancarkan.

    Itu artinya, tanpa diketahui sebab yang jelas, semua notifikasi untuk pesan-pesan multimedia yang belum Anda baca bisa hilang dengan sendirinya. Tanpa Anda sadari, para penjahat siber tersebut akan memiliki akses menuju kamera, microphone, dan berbagai data-data penting lainnya.

    Beruntung, karena kelemahan ini tidak akan sampai membeberkan keseluruhan data yang Anda miliki, meski tetap saja akan merugikan para pemilik smartphone. Terlebih, para penjahat siber ini juga bisa melacak keberadaan para korban.

     

    Bayangkan, jika di saat yang bersamaan hacker dan korban berada di jaringan Wi-Fi publik yang sama, sebut saja di sebuah kedai kopi, maka para hacker dapat langsung meggetahui siapa pemilik ponsel Android yang dimaksud.

  • Blackberry Catat Trend Positif di Q2 Tahun Fiskal 2016

    Blackberry Catat Trend Positif di Q2 Tahun Fiskal 2016

    BlackBerry mengumumkan laporan keuangan untuk kuartal kedua tahun fiskal 2016 yang berakhir pada 29 Agustus 2015. Pendapatan non-GAAP untuk kuartal kedua tahun fiskal 2016 adalah $ 491juta dengan pendapatan GAAP dari $ 490juta. Pendapatan Non-GAAP untuk perangkat lunak dan jasa  sebesar $ 74juta, meningkat 19% dibandingkan Q2 FY15 didorong oleh pertumbuhan dari pendapatan lisensi perangkat lunak sebesar 33%.

    Pendapatan GAAP mencerminkan pencatatan akuntansi untuk pembelian sebagai pendapatan tertahan terkait dengan akuisisi WatchDox. Rincian pendapatan untuk triwulan ini adalah sekitar 15% untuk perangkat lunak dan jasa, 41% untuk hardware, dan 43% untuk biaya akses layanan (SAF). BlackBerry mendapatkan 2.400 pengguna enterprise baru di kuartal ini. Sekitar 60% dari lisensi terkait dengan penawaran ini  merupakan lisensi untuk multi-platform.

    Selama kuartal kedua, Perusahaan mencatatkan pendapatan dari hardware  dari penjualan lebih dari 800.000 ponsel pintar BlackBerry dengan ASP sekitar $ 240.

    “Saya yakin pada strategi kami dan peningkatan yang berkesinambungan, tergambar pada empat kuartal berturut-turut dari tahun ke tahun dengan pertumbuhan dua digit dari pendapatan lisensi perangkat lunak dan enam kuartal berturut-turut mendapatkan arus kas bebas positif,” kata Executive Chairman dan Chief Executive Officer John Chen .

    Dalam rangka memperluas kepemimpinan Blackberry di perangkat lunak dan layanan multi-platform, perusahaan Amerika ini juga melakukan investasi secara strategis  dan organik melalui produk dan layanan baru yang tersedia pada platform BES, dan melalui akuisisi seperti ATHOC dan Good Technology.

    Pada saat yang sama, Blackberry juga fokus untuk membuat kemajuan lebih cepat untuk mencapai profitabilitas dalam bisnis handset nya. Yakni dengan meluncurkan Blackberry Priv. Perangkat Android yang diberi nama berdasarkan  warisan dan misi penting BlackBerry untuk melindungi privasi pelanggannya. Priv menggabungkan yang terbaik dari sistem keamanan BlackBerry dan produktivitas dengan ekosistem aplikasi mobile yang besar yang tersedia pada platform Android.

    Dengan semua langkah strategis tersebut, Blackberry berharap terjadi pertumbuhan dari pendapatannya setiap kuartal hingga akhir fiscal 2016. (Icha)

  • Gandeng CDT, Hitachi Ingin Kembangkan Sayap di Indonesia

    Gandeng CDT, Hitachi Ingin Kembangkan Sayap di Indonesia

    Jakarta – Hitachi Data Systems Corporation (HDS), anak perusahaan dari Hitachi, LTd baru-baru ini mengumumkan secara resmi kemitraannya dengan Central Data Technology (CDT), sebuah mitra solusi lengkap dan distributor IT di Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk terus mengembangkan bisnisnya dengan jangkauan yang lebih luas di Indonesia, dengan cara memperluas potensi pasar yang ada di luar Jakarta.

    CDT dikenal sebagai distributor yang selalu memberikan nilai tambah dan menawarkan solusi yang paling lengkap untuk meningkatkan produktivitas serta mampu memberdayakan pelanggannya untuk mengelola informasi, mengutamakan proses bisnis dan mengurangi biaya dan kompleksitas pengelolaan infrastruktur IT. CDT telah menjadi penyedia solusi terkemuka, baik di ranah database, server, sistem storage, dan peripheral IT di Indonesia.

    Penunjukkan CDT sebagai distributor kedua HDS Indonesia adalah bagian dari strategi bisnis HDS Indonesia untuk memperluas cakupan pasar di Indonesia. HDS Indonesia masih menargetkan pertumbuhan yang signifikan dari berbagai macam sektor di Indonesia, antara lain sektor pemerintahan, perbankan, telekomunikasi, komersial dan media.

    HDS Indonesia yakin bahwa bila perusahaan memiliki distributor yang solid sebagai mitra strategisnya, maka ini akan menjadi strategi yang efektif untuk melakukan penetrasi pasar dan memperluas cakupan pasar di Indonesia.

    Melalui kemitraan strategis dengan CDT, HDS Indonesia akan terus meningkatkan pertumbuhannya dengan menargetkan kota-kota besar di luar Jakarta, sekaligus menyediakan solusi lengkap yang hanya dapat disediakan oleh perusahaan dengan portofolio lengkap seperti CDT, sehingga mampu mendorong dan mempercepat pertumbuhan di pasar Indonesia.

    Suresh Nair, Managing Director, HDS Indonesia mengungkapkan, “Tujuan kami adalah untuk membantu pelanggan kami mendapatkan lebih banyak dengan amunisi yang lebih sedikit. Kami juga berharap bahwa dengan teknologi kami, para pelanggan mampu melakukan terobosan inovasi bisnis, yang dapat berujung pada inovasi sosial.”

    Lebih lanjut Suresh menambahkan, bahwa CDT memahami filosofi HDS dan terbukti dapat diandalkan karena pengalamannya yang sudah begitu banyak bekerja di dunia distribusi di masa lalu.

    “CDT memiliki momentum kinerja yang sangat baik, dengan cakupan yang kuat yang ada di seluruh pasar di Indonesia. Dengan portofolionya yang sangat luas, CDT menjadi mitra sempurna yang akan mampu membawakan solusi lengkap yang dihadirkan oleh HDS. Sebagai distributor dengan reputasi yang selalu membawakan nilai tambah, kami berharap bahwa kolaborasi yang baik akan dapat tercipta sehingga kami dapat mencapai kesuksesan bersama,” pungkasnya.

    Sebagai informasi, Hitachi Data Systems Corporation adalah perusahaan yang memberikan layanan teknologi informasi, jasa, dan solusi informasi yang membantu bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan ketangkasan IT, sekaligus berinovasi dengan informasi untuk menciptakan perbedaan di dunia. Produk, jasa dan solusi HDS dipercaya oleh perusahaan terkemuka dunia, termasuk lebih dari 70% perusahaan yang masuk di dalam daftar Fortune Global 100.

  • Blokir Iklan, Digicel Gunakan Teknologi Milik Shine

    Blokir Iklan, Digicel Gunakan Teknologi Milik Shine

    Jakarta – Digicel telah menandatangani kontrak dengan Shine Technology asal Israel untuk menyebarkan perangkat lunak pemblokiran iklan startup tersebut pada jaringan mobile-nya di pasar Karibia dan Asia Pasifik.

    Dalam pernyataan bersama yang dibuat baru-baru ini, perusahaan mengatakan bahwa perangkat lunak pertama akan digunakan di Jamaika, dengan rencana untuk menggelarnya ke pasar nasional lainnya di seluruh Karibia dan di kawasan Asia Pasifik dalam beberapa bulan mendatang.

    Software pemblokiran iklan telah digunakan secara luas pada komputer desktop selama beberapa tahun, tetapi penggunaan mobile masih terbilang langka dan Digicel adalah operator seluler pertama yang bermitra dengan Shine. Shine sendiri memiliki Horizon Ventures, sebuah perusahaan dana investasi milik orang terkaya di Hongkong, Li Ka-shing sebagai pemegang sahamnya.

    Dalam pernyataan bersama mereka, kerjasama ini khususnya menjadikan Google, Facebook dan Yahoo sebagai target, mengatakan mereka mengambil sikap dan sengaja memblokir iklan di situs yang dimiliki oleh raksasa internet dalam upaya untuk memaksa mereka agar memberi bagian dari pendapatan mereka.

    “Dengan iklan memakan sebanyak 10 persen paket data pelanggan, langkah ini akan memungkinkan pelanggan untuk menelusuri web mobile dan aplikasi tanpa gangguan dari pesan iklan yang tidak diinginkan,” kata mereka, seperti dilaporkan Telecompaper, Jumat (2/10).

    Pimpinan Digicel, Denis O’Brien, bahkan lebih terang-terangan, menuduh perusahaan ini tanpa malu-malu menggunakan usaha dan investasi dari operator jaringan seperti Digicel untuk mencari uang bagi dirinya sendiri.

  • Cybercrime 2015 Ajak Perusahaan Waspadai Serangan Siber

    Cybercrime 2015 Ajak Perusahaan Waspadai Serangan Siber

    Jakarta – Peristiwa pembobolan data yang terjadi beberapa waktu lalu menjadi salah satu bukti adanya upaya-upaya konsisten yang dilakukan oleh para penjahat siber untuk melakukan pencurian terhadap berbagai macam kekayaan intelektual yang bernilai tinggi maupun data diri si korban.

    Kejahatan siber saat ini juga dirasa semakin mengkhawatirkan. Para penjahat siber saat ini semakin rajin untuk malancarkan aksinya dengan memanfaatkan teknologi yang canggih. Saat ini, kejahatan siber telah menyentuh kegiatan jual beli data dengan contoh yang paling sering adalah mencuri data di kartu kredit si korban.

    Myla Pilao, Director Trendlabs Research, Trend Micro menyebutkan, “Saat ini permasalahan security masih menjadi headline di beberapa negara termasuk Asia Tenggara. Di dunia sendiri, permasalahan kejahatan siber masih menjadi isu global dan belum ada jalan keluar yang benar-benar ampuh untuk mengatasinya.”

    Lebih lanjut Pilao menambahkan, lembaga-lembaga bisnis dan pemerintahan dituntut untuk mulai menyadari pentingnya membekali diri dalam rangka menghadapi setiap ancaman dan tantangan terkait keamanan TI. Bukan hanya itu, perusahaan-perusahaan juga harus sigap memperbarui strategi keamanan yang mereka terapkan.

    Saat ini , jika kita terkoneksi ke internet, maka kita akan menjadi sasaran dari malware tersebut. Dengan fenomena BYOD, maka akan semakin rentan bagi perusahaan-perusahaan untuk terkena serangan malware.

    Sebagai informasi, saat ini bukan hanya perusahaan saja yang menjadi target dari serangan hacker. Perusahaan ritel pun dewasa ini menjadi salah satu sasaran empuk dari malware untuk mencuri data perusahaan mereka.

    Meja kasir di sebuah tempat perbelanjaan juga menjadi salah satu pintu bagi malware untuk masuk. Sebagai contoh, ketika seseorang berbelanja dan melakukan pembayaran melalui mesin EDC ATM yang terletak di meja kasir, data transaksi tersebut masih tersimpan di memori sementara pada PC dan data itulah yang dicuri oleh hacker melalui malware yang secara tidak sengaja sudah terinstal di komputer kasir dan pada akhirnya, konsumen lah yang paling dirugikan atas kejadian ini, sebab data rekening mereka yang terekam di komputer tersebut akan dicuri.

    Untuk penetrasi sendiri, dewasa ini serangan hacker dilancarkan dalam dua modus. Pertama melalui serangan secara konvensional dan yang kedua menggunakan anonymous sebagai otak dari penetrasi malware tersebut.

    Beberapa malware yang hadir pun beragam bentuknya, ada malware yang langsung meng-enkripsi data dan memberitahu korban ketika mereka sudah terjangkit, ada pula yang bertahan secara diam-diam di komputer korban tanpa diketahui oleh korban dan mengambil data secara perlahan.

    Jenis yang kedua ini justru lebih berbahaya. Pasalnya jika korban terlambat menyadari bahwa mereka terjangkit, maka cara penanggulangannya akan sangat rumit dan banyak data yang sudah tercuri. Tentunya hal ini sangat berbahaya bagi perusahaan.

    Andreas Ananto Kagawa, Country Manager Trend Micro Indonesia mengungkapkan, “Tak bisa di pungkiri lagi bahwa semakin tingginya intensitas serangan-serangan siber dewasa ini, lembaga-lembaga kini perlu bangkit dan menyadari bahwa mereka kini rentan dan tidak mungkin dapat menyingkirkan ancaman keamanan yang menghampiri mereka sendirian. Diperlukan kerjasama untuk mengatasi hal ini dan teknologi anti virus cangggih pun perlu di terapkan agar tidak kecolongan lagi,” tuturnya.

    Trend Micro juga menyampaikan perlunya perubahan pola pikir dalam menerapkan strategi keamanan IT di lingkup perusahaaa maupun pemerintahan. Selain itu, mereka juga mengungkapkan pentingnya mencari sebuah software atau alat yang tepat agar dapat menghalau setiap resiko keamanan.

  • Perusahaan: Buruknya Jaringan Picu Kekecewaan Pelanggan

    Perusahaan: Buruknya Jaringan Picu Kekecewaan Pelanggan

    Jakarta – Sebuah laporan baru dari perusahaan asal Amerika Serikat, Verizon, mengklaim bahwa mayoritas pengambil keputusan di perusahaan menyalahkan jaringan sebagai ‘oknum’ yang bertanggungjawab dalam kekecewaan pelanggan.

    Laporan ini menyimpulkan bahwa 79 persen dari para pengambil keputusan berpikir bahwa terbuangnya waktu akibat komputer yang tidak bekerja dan pengalaman pengguna yang buruk adalah kesalahan dari departemen IT.

    Verizon menyusun laporan dengan tajuk Digital Transformation Powers Your Business menyusul studi yang dilakukan Forrester Research. Pada bulan Februari 2015, peneliti berbicara kepada ‘lebih dari’ 600 pengambil keputusan di perusahaan besar dan perusahaan multinasional di Amerika Utara, Amerika Latin, EMEA dan Asia Pasifik.

    Perusahaan telekomunikasi tersebut mengklaim bahwa laporan tersebut membahas masalah yang dihadapi perusahaan selama evolusi digital.

    Ini mengidentifikasi area kunci dari transformasi digital sebagai komputasi awan, ponsel, IoT, analisis big data dan sistem reality-kolaborasi virtual. Laporan itu menyimpulkan, setelah studi Forrester menemukan bahwa 67 persen dari para pengambil keputusan perusahaan mengatakan bahwa setiap lini bisnis memiliki definisi yang berbeda dari teknologi digital.

    Ada tujuan tentang prioritas layanan, namun, dengan 80 persen dari survei setuju bahwa meningkatkan pengalaman pelanggan adalah ‘prioritas utama’. Sementara itu, 20 persen lainnya dari survei menolak hal tersebut.

    Riset lainnya mengungkapkan, sekitar tiga perempat dari kelompok survei (74 persen) menyalahkan kualitas jaringan yang buruk sebagai penyebab utama untuk pengalaman pengguna yang buruk.

    Menurut laporan Verizon,  hal ini menyoroti kebutuhan untuk teknologi yang lebih baik di jantung perusahaan, seperti software defined networking atau SDN. Saat ini, hanya 15 persen dari bisnis ini yang sudah menggunakan beberapa bentuk jaringan fungsi virtualisasi untuk mengelola layanan mereka. Namun, laporan Verizon memprediksi proporsi ini akan meningkat menjadi 90 persen dalam dua tahun ke depan.

    Statistik yang paling mengkhawatirkan bagi manajer telekomunikasi adalah sebanyak 79 persen dari para pembuat keputusan yang disurvei berpikir bahwa itu adalah tanggung jawab Departemen TI untuk memastikan bahwa jaringan perusahaan dapat mendukung rencana transformasi digital. Demikian dilansir dari Telecoms, Kamis (1/10).

     

  • Virgin Media Gaungkan Broadband dengan Kecepatan 200Mbps

    Virgin Media Gaungkan Broadband dengan Kecepatan 200Mbps

    Jakarta – Virgin Media hari ini meluncurkan layanan broadband 200Mbps. Layanan yang dinamakan Vivid ini hadir dengan tawaran untuk memberikan upgrade kepada pelanggan yang sudah ada secara gratis. Merek Vivid sendiri akan mencakup semua layanan broadband super cepat, termasuk penawaran 100Mbps mereka.

    Perusahaan telekomunikasi ini akan menghubungi 4,6 juta pelanggan broadbandnya dan memberikan edukasi mengenai bagaimana mereka mendapat izin upgrade mulai dari 1 Oktober 2015.

    Mereka akan memberikan penghargaan kepada pelanggan broadband yang ada dengan menawarkan mereka kesempatan untuk meng-upgrade dari kecepatan paket yang mereka miliki sebelumnya. Pelanggan yang saat ini berlangganan paket 50Mbps, 100Mbps dan 152Mbps akan dapat meng-upgrade ke masing-masing kecepatan 70Mbps, 150Mbps dan 200Mbps secara gratis.

    Penyedia layanan mengklaim ini adalah ketiga kalinya perusahaan telah meningkatkan kecepatan broadband pelanggan dalam lima tahun, empat kali lipat potensi kecepatan tertinggi yang tersedia dari 50Mbps pada 2010 menjadi 200Mbps pada 2015. Menurut Virgin, pelanggannya dimungkinkan untuk mengunduh film kualitas HD dengan durasi dua jam hanya dalam waktu tiga menit dua detik dan satu album musik dalam tiga detik.

    Dilansir dari Telecoms, Kamis (1/10), Virgin Media mengklaim bahwa upgrade dari paket termurah yang tersedia sekalipun akan membawa mereka pada kecepatan broadband yang setara dengan kecepatan tertinggi yang dtawarkan BT Nrtwork.

    Tak hanya itu, disebutkan pula bahwa spesifikasi interface layanan data melalui kabel (DOCSIS 3) mereka akan menjadi kunci untuk mendapatkan kecepatan superior dalam waktu singkat, dengan target 90 persen dari pelanggan mampu melakukan upgrade pada akhir 2015.

    Pelanggan yang meng-upgrade penggunaan data pada jaringan Virgin Media tumbuh sebanyak 60 persen per tahun, mereka memulai program ini dengan investasi sebesar 3 milliar poundsterling untuk menghubungkan empat juta lebih rumah dan bisnis untuk broadband dengan kecepatan super cepat.

    “Adalah hal yang benar jika Anda mendaftar dan melakukan upgrade ke layanan broadband dengan kecepatan super cepat dari Vivid milik Virgin Media. Pasalnya ini adalah standar baru di dunia Telekomunikasi,” ungkap Gregor McNeil, MD of Consumer Virgin Media.