Telko.id – Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), muncul keraguan terhadap prospek jangka panjang lulusannya di era digital ini. Menanggapi hal tersebut, Universitas Indonesia (UI) membuka suara setelah meluncurkan program studi kecerdasan artifisial.
Berdasarkan laporan detikINET, Dr Erwin Panigoro Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional Universitas Indonesia menyatakan bahwa keraguan terhadap prospek lulusan AI dipicu oleh pandangan yang mengidentikkan kecerdasan buatan dengan aplikasi seperti ChatGPT.
“Ini asumsi yang keliru. Ada banyak situasi dan permasalahan yang padanya solusi berbasis ChatGPT tersebut tidak dapat diterapkan atau jika diterapkan, hasilnya justru tidak cocok dengan yang diharapkan oleh pemangku kepentingan terkait,” ujar Erwin.
Di komunitas AI, ada sebuah teorema yang disebut ‘No Free Lunch Theorem’ yang mengatakan tidak mungkin ada satu model AI yang memiliki kinerja terbaik di semua kemungkinan permasalahan, jika ada model AI berhasil menjadi solusi terbaik di suatu jenis masalah, maka model AI tersebut pasti akan berkinerja buruk di suatu jenis masalah yang lainnya.
Kata Erwin, hal ini menunjukkan bahwa problem-problem di masyarakat yang membutuhkan solusi-solusi AI yang baru akan selalu ada. Lulusan Program Studi Sarjana Kecerdasan Artifisial (Prodiska) dilatih untuk mampu mewujudkan solusi-solusi tersebut sesuai harapan pemangku kepentingan tersebut, dan kurikulum Prodiska memberi bekal kemampuan teknis dan nonteknis yang memadai untuk itu.
“Beberapa jenis profesi khas AI yang sudah mulai muncul sekarang merupakan contoh pekerjaan yang dapat ditekuni oleh lulusan Prodiska, misalnya AI Engineer, AI Scientist, Data Engineer, Data Scientist, AIOps Engineer, hingga Knowledge Engineer.
Baca juga:
- Adopsi Galaxy AI Meroket, 90 Persen Pengguna Bergantung pada AI
- Google Perluas Personal Intelligence ke Mode AI di Search, Cari Data Jadi Lebih Mudah
Namun, tentunya dengan bekal fondasi yang kuat, serta kemampuan adaptasi yang tinggi, lulusan Prodiska dapat berkarya di berbagai lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Dengan didirikannya prodi AI, UI berharap dapat berkontribusi banyak secara nyata untuk meningkatkan daya saing bangsa dengan menghasilkan SDM unggul yang menguasai AI yang merupakan teknologi kunci abad ke-21.
Penguasaan ini diharapkan tidak berhenti pada level pengguna/pemakai teknologi dari luar, tetapi lebih dari itu, mencapai level yang lebih tinggi yang tercermin pada kemampuan menghasilkan inovasi dengan dan atas teknologi tersebut yang berdampak positif bagi masyarakat.
“Oleh karena itu, kurikulum Prodiska dirancang untuk membangun fondasi yang kuat, sehingga lulusannya terus mampu beradaptasi agar tetap relevan seiring dengan cepatnya perkembangan AI itu sendiri,” pungkasnya.


