Telko.id – PT Ketrosden Triasmitra Tbk secara agresif mempercepat pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Rising-8 yang menghubungkan Jakarta dan Singapura.
Langkah strategis ini diambil perusahaan untuk merespons lonjakan kebutuhan kapasitas bandwidth yang sangat besar pascapandemi, di mana infrastruktur sebelumnya yakni SKKL B3JS telah habis terjual kepada pelanggan premier telekomunikasi.
Direktur Utama PT Ketrosden Triasmitra Tbk, Titus Dondi, mengungkapkan bahwa perubahan pola konsumsi data dari sekadar teks dan suara menjadi aplikasi berbasis video streaming, IoT, hingga kecerdasan buatan (AI) memicu permintaan infrastruktur baru.
Jalur Rising-8 ini dirancang menggunakan teknologi repeater dengan kapasitas bandwidth minimum 24 terabit per second untuk mengakomodasi kebutuhan pasar yang masif tersebut.
Selain fokus pada jalur internasional, perusahaan juga tengah mematangkan persiapan proyek ambisius SKKL Indonesia Tengah. Proyek ini akan membentang sepanjang 8.732 kilometer dan dibagi menjadi beberapa segmen pembangunan yang direncanakan mulai tahun 2027 hingga 2028.

Baca Juga:
Investasi Jumbo untuk Ekspansi Jaringan
Direktur Keuangan PT Ketrosden Triasmitra Tbk, Vidcy Octory, menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur telekomunikasi bawah laut memerlukan modal yang tidak sedikit.
Untuk proyek SKKL Rising-8 rute Jakarta-Singapura, estimasi investasi mencapai USD 80 juta atau sekitar Rp1,4 triliun. Sementara itu, proyek SKKL Indonesia Tengah dengan sistem repeater diperkirakan menelan biaya investasi yang jauh lebih besar.
“Investasi untuk SKKL di wilayah Indonesia bagian tengah dengan panjang 8.732 km dan sistem repeater ini akan menghabiskan lebih kurang sekitar USD 350 juta,” ujar Vidcy.
Untuk mendanai proyek ini, perusahaan berencana melakukan penerbitan obligasi umum berkelanjutan yang diharapkan mendapatkan persetujuan efektif dari OJK selambat-lambatnya pada April 2026.
Secara kinerja keuangan, Triasmitra mencatatkan pertumbuhan positif. Realisasi pendapatan tahun 2025 tercatat sekitar Rp700 miliar, naik signifikan sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka Rp517 miliar.
Perusahaan juga mengalokasikan belanja modal (Capex) untuk barang modal non-kabel sekitar USD 3-4 juta pada tahun 2026.
Optimalisasi Kapal CLV Bentang Bahari
Dalam mendukung operasional penggelaran dan perawatan kabel, Triasmitra mengandalkan kapal milik sendiri, CLV Bentang Bahari.
Kepemilikan kapal ini dinilai memberikan efisiensi biaya sebesar 20-30 persen dibandingkan harga sewa komersial, serta memberikan kontrol penuh terhadap jadwal pengerjaan proyek. Hal ini krusial mengingat terbatasnya ketersediaan kapal penggelar kabel berbendera Indonesia.
Titus menambahkan bahwa jadwal utilisasi kapal CLV Bentang Bahari sudah sangat padat hingga tiga tahun ke depan. Kapal ini tidak hanya digunakan untuk penggelaran kabel internal, tetapi juga melayani permintaan restorasi kabel putus dari pelanggan lain di wilayah Indonesia Timur hingga Asia Tenggara.
“Isu demand jauh lebih tinggi daripada suplai kapal yang tersedia. Kapal kami sudah fully occupied, baik untuk menggelar kabel milik kami sendiri maupun melakukan restorasi milik pelanggan,” jelas Titus.
Mitigasi Keamanan Kabel Laut
Terkait keamanan infrastruktur, Direktur Operasional Dani Samsul Ependi menegaskan bahwa perusahaan menerapkan strategi preventif dan kuratif yang ketat.
Triasmitra melakukan monitoring aktif terhadap pergerakan kapal yang mendekati jalur kabel dan menempatkan tim patroli di 31 titik strategis. Sosialisasi rutin juga dilakukan kepada pelaku pelayaran, termasuk nelayan, untuk mencegah aktivitas labuh jangkar di area kabel.
Langkah tegas juga diambil terhadap pihak yang terbukti merusak infrastruktur. “Sudah ada lebih dari 10 kasus kabel putus yang kami selesaikan, mulai dari pembayaran biaya restorasi hingga proses hukum pidana bagi pelaku perusakan,” tegas Dani.
Upaya ini diklaim berhasil menekan angka kejadian kabel putus secara signifikan dan mempercepat proses pemulihan Konektivitas Indonesia jika terjadi insiden. (icha)


