Telko.id – Segmen PC gaming entry level dan PC low-end diperkirakan bakal semakin sulit ditemukan di pasar global hingga sekitar tahun 2028, karena harga komponen memori seperti DRAM dan NAND flash sedang naik tajam dan membuat struktur biaya pembuatan PC menjadi jauh lebih tinggi.
Analis dari Gartner memprediksi segmen PC entry-level dengan harga di bawah USD 500 atau kisaran Rp8,4 jutaberpotensi menghilang pada 2028. Harga memori kini menyumbang porsi yang jauh lebih besar dari total biaya pembuatan PC, sehingga produsen sulit mempertahankan penawaran perangkat entry-level yang dulu biasa dijual di kisaran rendah, dan hal ini bisa mendorong mereka untuk menghentikan lini tersebut bila margin tidak lagi masuk akal.
Krisis pasokan komponen memori sendiri dipicu oleh dorongan permintaan yang kuat di sektor lain, terutama untuk server dan sistem kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan kapasitas komputasi tinggi, sehingga produsen chip lebih memprioritaskan produksi untuk segmen tersebut.
Akibatnya, RAM dan penyimpanan NAND untuk PC konsumen menyusut pasokannya, sehingga biaya perangkat keras seperti motherboard, prosesor, dan kartu grafis pun ikut terdampak karena komponen memori lebih mahal.
Baca juga:
- Harga RAM Naik, Produsen PC Mulai Lirik Pemasok China
- CXMT Jual RAM Murah Saat Harga Global Melonjak
Dalam kondisi seperti ini, margin produsen PC untuk model murah yang selama ini menjadi pilihan utama gamer dengan anggaran terbatas makin menipis. Maka dari itu, menurut laporan, segmen PC gaming murah (budget gaming) dan PC spek rendah (“kentang”) berisiko menghilang dari pasaran dalam beberapa tahun ke depan karena biaya produksinya tidak lagi sesuai dengan harga jual yang bisa bersaing di pasar.
Gartner memperkirakan pengiriman PC global pada 2026 akan turun sekitar 10,4%, angka yang bahkan lebih besar dibandingkan penurunan di pasar smartphone. Gartner juga menilai konsumen kemungkinan akan menunda pembelian perangkat baru karena harga yang semakin mahal.
Dampaknya, umur pemakaian PC diprediksi meningkat sekitar 20% pada tahun ini, karena pengguna memilih mempertahankan perangkat lama lebih lama.
Bagi gamer dan konsumen, tren ini punya implikasi nyata: upgrade atau pembelian PC bisa jadi lebih mahal, dan pilihan untuk mendapatkan perangkat gaming yang “cukup kuat tapi murah” makin terbatas.
Hal ini mendorong banyak orang untuk menunda pembelian atau lebih memilih pasar perangkat bekas/refurbished, serta mempertimbangkan alternatif seperti laptop gaming atau konsol jika harga PC rakitan tidak lagi masuk akal.

