Telko.id – Lonjakan harga RAM DDR5 yang kian tidak terkendali akibat krisis pasokan global membuat Intel dan AMD mengambil langkah tak biasa: kembali memproduksi prosesor baru yang mendukung RAM DDR4, seperti yang dilaporkan oleh detikINET pada Senin, 12 Oktober 2026. Teknologi generasi lama ini dipilih karena harganya jauh lebih ramah kantong, sehingga membantu para perakit PC menekan biaya. Langkah ini menandai putar balik dari arah industri yang sebelumnya bergegas meninggalkan DDR4 demi DDR5 yang menawarkan kecepatan lebih tinggi.
Gigabyte Siapkan Motherboard LGA 1700 Baru
Pabrikan motherboard Gigabyte secara resmi mengonfirmasi sedang menyiapkan lini motherboard baru untuk mendukung calon prosesor Intel berbasis soket LGA 1700. Soket ini debut pada 2021 lewat CPU Alder Lake Generasi ke-12 dan mendukung RAM DDR4 maupun DDR5.
Baca Juga:
- Demi Efisiensi, Meta Daur Ulang RAM DDR4 untuk Server AI
- Xiaomi Bawa LPDDR5X dan UFS 4.0 ke REDMI Note 17 Series
Intel sempat menghentikan soket tersebut demi beralih penuh ke DDR5 pada 2024, tetapi chip LGA 1700 baru kini dihidupkan lagi dan diperkirakan meluncur pada awal 2027, sebagaimana dikutip dari The Verge. Bagi konsumen, kompatibilitas silang soket ini dengan DDR4 menjadi keunggulan krusial saat menguji upgrade prosesor tanpa biaya besar.
AMD Sudah Lebih Dulu Lewat AM4
AMD lebih dulu mengambil langkah serupa. Pada Agustus lalu, Gigabyte merilis motherboard baru untuk platform AM4, soket legendaris berbasis DDR4, bersamaan dengan peluncuran ulang prosesor populer Ryzen 7 5800X3D. Strategi ini memungkinkan perakit sistem baru tetap mendapatkan performa CPU modern tanpa harus membeli modul RAM DDR5 yang harganya membumbung.
Selisih Harga Lebih dari Dua Kali Lipat
Krisis pasokan chip memori akibat tingginya permintaan pusat data AI membuat jurang harga RAM DDR4 dan DDR5 semakin lebar. Kit RAM DDR5 32 GB Corsair Vengeance kini dibanderol hingga USD 620 (sekitar Rp9,7 juta), sedangkan kit DDR4 32 GB sejenis dijual sekitar USD 260 (sekitar Rp4,06 juta). Meski DDR5 unggul dalam clock speed dan efisiensi daya, selisih harga lebih dari dua kali lipat membuatnya dinilai kurang sepadan bagi mayoritas pengguna kasual maupun gamer.
Para analis memperkirakan tingginya harga RAM dan kelangkaan komponen akibat demam AI belum akan mereda dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, keputusan Intel dan AMD menghidupkan kembali platform RAM DDR4 menjadi angin segar bagi pengguna yang ingin mempertahankan perangkat lama tanpa menguras dompet.

