Telko.id – Krisis pasokan chip memori yang terjadi sejak akhir 2024 kini semakin terasa dampaknya di berbagai lini perangkat elektronik konsumen, dan tidak hanya terbatas pada PC atau smartphone.
Laporan terbaru dari Counterpoint Research menunjukkan bahwa harga komponen memori seperti DRAM dan NAND flash yang digunakan dalam perangkat broadband telah melonjak hingga sekitar tujuh kali lipat dalam sembilan bulan terakhir, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan pada smartphone.
Peningkatan tajam terjadi karena sebagian besar kapasitas produksi chip memori saat ini lebih diprioritaskan untuk memenuhi permintaan server kecerdasan buatan (AI) dan pusat data besar. Permintaan ini memberikan margin keuntungan yang jauh lebih tinggi bagi pembuat chip dibandingkan memori untuk perangkat konsumen.
Akibatnya, pasokan memori “klasik” yang dipakai di router dan STB menjadi semakin terbatas, mendorong harga komponen tersebut meroket.
Dalam sembilan bulan terakhir, CounterPoint mencatat, harga memori untuk perangkat broadband naik jauh lebih tinggi dibandingkan dengan smartphone.
Baca juga:
- Gara-gara AI, Kelangkaan Chipset 2026 Ancam Harga HP Melonjak
- CXMT Jual RAM Murah Saat Harga Global Melonjak
Harga memori untuk smartphone ‘hanya’ naik tiga kali lipat, sedangkan memori untuk perangkat broadband dapat meningkat hampir tujuh kali lipat. Kenaikan ini berdampak signifikan terhadap biaya produksi.
Menurut riset CounterPoint, jika setahun lalu kontribusi memori hanya sekitar 3 persen dari total biaya material router, kini porsinya melonjak menjadi lebih dari 20 persen, terutama pada router kelas bawah dan menengah.
Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut setidaknya hingga pertengahan tahun 2026 , sehingga biaya perangkat jaringan seperti router dan STB mungkin akan naik di pasar ritel global dalam beberapa bulan ke depan.
Produsen juga menghadapi tantangan dalam memastikan pasokan stabil di tengah keterbatasan global saat ini, yang bisa berdampak pada rencana perluasan jaringan broadband serta strategi penetapan harga bagi penyedia layanan telekomunikasi.
Perangkat semacam ini membutuhkan kapasitas komputasi dan memori yang lebih besar, sehingga tekanan biaya berpotensi makin tinggi.
“Penting bagi perusahan telekomunikasi untuk memantau dinamika harga ini dengan cermat, mengidentifikasi OEM mana yang telah mengamankan pasokan yang cukup, dan melacak biaya BOM (bill of materials) dan tren harga yang diperbarui,” tulis CounterPoint.


