Telko.id – Laporan terbaru dari International Data Corporation (IDC) membawa kabar yang kurang menggembirakan bagi industri teknologi global.
Dunia diprediksi akan menghadapi krisis kelangkaan chipset 2026 yang cukup parah, terutama pada sektor komponen memori seperti RAM dan NAND.
Situasi ini diperkirakan akan berdampak langsung pada konsumen dengan adanya kenaikan harga perangkat elektronik yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Penyebab utama dari potensi kelangkaan ini adalah pergeseran fokus produksi industri semikonduktor secara global.
IDC mencatat bahwa ledakan kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menjadi pemicu utamanya. Data center yang menopang operasional AI diprediksi akan menyerap kapasitas produksi secara masif, meninggalkan porsi yang semakin kecil untuk perangkat elektronik konsumer.
Berdasarkan data IDC, data center AI diperkirakan bakal menyerap lebih dari 70% produksi chip memori global pada tahun 2026.
Kondisi ini menyebabkan terjadinya “kanibalisasi” pasokan yang seharusnya dialokasikan untuk perangkat sehari-hari seperti laptop, PC, dan smartphone.
IDC menegaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar siklus pasar sementara, melainkan sebuah “realokasi permanen” kapasitas wafer silikon yang mengubah peta distribusi komponen dunia.
Baca Juga:
Lonjakan Harga Perangkat Konsumen
Dampak paling nyata dari kelangkaan ini adalah lonjakan harga jual perangkat di tingkat konsumen. Keterbatasan pasokan komponen memori akan mengerek biaya produksi secara drastis.
IDC memprediksi harga smartphone dan PC akan mengalami kenaikan yang signifikan pada tahun 2026. Estimasi kenaikan harga untuk satu unit ponsel pintar bahkan bisa mencapai USD 70 atau sekitar Rp1,1 juta.
Kenaikan ini didorong oleh struktur biaya produksi (Bill of Materials/BOM) yang semakin berat di sektor memori. Biaya komponen RAM diproyeksikan dapat memakan porsi hingga 30% dari total biaya pembuatan perangkat seperti smartphone.
Hal ini tentu menjadi pukulan berat bagi vendor yang selama ini bermain di margin tipis, serta bagi konsumen yang menginginkan perangkat dengan spesifikasi tinggi namun dengan harga terjangkau.
Situasi ini juga diperparah dengan persaingan ketat antar produsen komponen. Di saat raksasa teknologi berlomba mengembangkan Chipset AI untuk kebutuhan server, alokasi untuk memori standar perangkat mobile menjadi prioritas kedua.
Akibatnya, kelangkaan stok di pasar bebas menjadi tidak terelakkan dan memicu hukum ekonomi dasar di mana permintaan tinggi yang tidak diimbangi suplai akan melambungkan harga.
Dampak pada Penjualan dan Vendor Android
Tingginya harga perangkat diprediksi akan memukul angka penjualan global. IDC memproyeksikan pasar PC akan mengalami penurunan tajam hingga 9% pada tahun 2026.
Sementara itu, penjualan smartphone global juga diprediksi terkoreksi negatif dengan penurunan berkisar antara 0,9% hingga 2,1%. Konsumen diperkirakan akan menunda pembelian perangkat baru atau memilih untuk mempertahankan perangkat lama mereka lebih lama akibat harga yang tidak bersahabat.
Vendor smartphone berbasis Android diperkirakan akan menjadi pihak yang paling terdampak oleh krisis ini. Berbeda dengan ekosistem premium yang mungkin memiliki elastisitas harga lebih baik, pasar Android—terutama segmen menengah ke bawah—sangat sensitif terhadap perubahan harga.
Kenaikan biaya produksi akibat Harga RAM yang melambung akan sulit dibebankan sepenuhnya kepada konsumen tanpa mengorbankan volume penjualan.
Meskipun beberapa inovasi perangkat terus bermunculan, seperti rumor mengenai Xiaomi 17 yang membawa desain layar sekunder, tantangan biaya komponen tetap menjadi hambatan utama.
Tahun 2026 diprediksi akan menjadi periode yang sulit bagi konsumen yang ingin membeli perangkat baru, serta tantangan besar bagi industri untuk menjaga stabilitas harga di tengah krisis pasokan komponen yang bersifat permanen ini. (Icha)


