Teko.id – Pernahkah Anda merasa bosan dengan desain ponsel yang begitu-begitu saja dalam satu dekade terakhir? Bentuk kotak pipih yang dominan seolah mencapai titik jenuh, membuat inovasi terasa stagnan.
Namun, kehadiran teknologi layar lipat beberapa tahun belakangan memberikan angin segar, seolah menjanjikan masa depan fiksi ilmiah yang kini berada dalam genggaman.
Pertanyaannya, apakah ini hanya gimmick mahal atau evolusi alami dari perangkat komunikasi kita?
Data terbaru dari Counterpoint Research memberikan gambaran yang cukup mengejutkan sekaligus realistis mengenai industri ini. Sepanjang tahun 2024, pengiriman smartphone lipat global tercatat tumbuh sebesar 23% secara year-on-year (YoY).
Angka ini menunjukkan bahwa minat konsumen sebenarnya ada dan terus tumbuh, didorong oleh pemain besar yang konsisten membanjiri pasar dengan inovasi terbaru mereka.
Namun, para analis melihat adanya sedikit “rem mendadak” menjelang tahun 2025, di mana pertumbuhan diprediksi akan melambat karena berbagai faktor persaingan harga dan strategi pabrikan.
Meski tahun depan mungkin terlihat sedikit lesu, jangan buru-buru memandang sebelah mata. Laporan tersebut justru menyoroti tahun 2026 sebagai titik balik krusial.
Ibarat ketenangan sebelum badai, pasar sedang bersiap untuk lonjakan besar yang akan mengubah peta persaingan teknologi seluler secara drastis.
Transisi ini bukan sekadar soal angka penjualan, melainkan tentang kedewasaan teknologi dan masuknya pemain raksasa yang selama ini masih “malu-malu” untuk terjun ke kolam inovasi layar fleksibel ini.
Transisi Menuju Kedewasaan Pasar
Tahun 2024 menjadi saksi dominasi dua raksasa teknologi, Samsung dan Huawei, yang terus mendorong batas kemampuan perangkat lipat.
Peluncuran produk seperti Samsung Galaxy Z Fold Special Edition dan Huawei Mate X6 menjadi bukti nyata bahwa permintaan pasar masih sangat kuat.
Inovasi yang mereka tawarkan membuat Samsung Smartphone Lipat tetap menjadi tolak ukur utama bagi konsumen yang menginginkan produktivitas tinggi dalam saku mereka.
Namun, Counterpoint mencatat adanya fenomena menarik untuk tahun 2025. Beberapa merek asal Tiongkok, seperti Oppo dan vivo, dilaporkan mulai menahan diri.
Mereka diprediksi akan menunda peluncuran perangkat lipat tipe book-type (lipatan seperti buku) terbaru mereka.
Alasannya cukup pragmatis: tekanan profitabilitas. Persaingan harga yang ketat membuat margin keuntungan menipis, memaksa pabrikan untuk berpikir ulang sebelum membanjiri pasar global dengan model baru, terutama ketika daya beli konsumen di beberapa wilayah belum pulih sepenuhnya.
Kondisi ini menciptakan masa transisi yang unik. Di satu sisi, teknologi semakin matang dengan engsel yang lebih kuat dan layar yang makin minim lipatan.
Di sisi lain, para pemain industri mulai lebih selektif. Ini bukan berarti pasar sedang sekarat, melainkan sedang mencari bentuk keseimbangan baru sebelum melompat ke fase pertumbuhan berikutnya yang lebih agresif.
Baca Juga:
Faktor “X” di Tahun 2026
Jika 2025 adalah tahun konsolidasi, maka 2026 diprediksi akan menjadi tahun ledakan. Analis senior dari Counterpoint, Jene Park, mengungkapkan bahwa pemicu utamanya adalah potensi masuknya Apple ke dalam gelanggang smartphone lipat.
Selama ini, Apple dikenal sebagai perusahaan yang tidak selalu menjadi yang pertama, tetapi selalu menjadi penyempurna teknologi. Kehadiran iPhone lipat dipercaya akan memberikan validasi mutlak terhadap kategori produk ini di mata konsumen awam.
Masuknya raksasa Cupertino tersebut diprediksi akan memicu efek domino. Pengguna setia ekosistem iOS yang selama ini ragu beralih ke Android demi layar lipat, akhirnya akan memiliki opsi dalam ekosistem mereka sendiri.
Mengingat Smartphone Aktif di dunia didominasi oleh perangkat Apple, konversi sebagian kecil pengguna iPhone ke model lipat saja sudah cukup untuk mengguncang statistik pengiriman global secara masif.
Selain itu, persaingan di tahun 2026 tidak hanya akan berkutat pada form factor, tetapi juga integrasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih mendalam.
Dengan Apple yang berpotensi menjadi Raja Smartphone Global di segmen premium, standar kualitas dan durabilitas perangkat lipat dipastikan akan meningkat pesat, memaksa kompetitor untuk terus berinovasi atau tertinggal.
Proyeksi Jangka Panjang yang Menggila
Optimisme ini didukung oleh data jangka panjang yang solid. Counterpoint memproyeksikan bahwa pengiriman smartphone lipat global akan melampaui angka 130 juta unit pada tahun 2030.
Ini merepresentasikan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 17% antara tahun 2025 hingga 2030. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan smartphone konvensional yang cenderung stagnan.
Pertumbuhan ini tidak hanya didorong oleh Apple atau Samsung saja. Merek lain seperti Honor juga terus menunjukkan taringnya dengan desain yang semakin tipis dan elegan, seperti yang terlihat pada seri Honor Magic 8.
Kompetisi yang sehat ini menjamin bahwa harga perangkat lipat perlahan akan menjadi lebih terjangkau, sehingga tidak lagi menjadi barang mewah yang eksklusif bagi kalangan tertentu saja.
Pada akhirnya, masa depan industri seluler tampaknya memang akan “melipat”. Dengan teknologi yang semakin matang dan ekosistem aplikasi yang semakin mendukung tampilan layar besar yang fleksibel, perangkat ini menawarkan solusi hibrida antara ponsel dan tablet yang sulit ditolak.
Bagi Anda yang masih ragu, mungkin tahun 2026 adalah waktu yang tepat untuk mulai melirik dan bersiap mengganti perangkat lama Anda dengan teknologi yang lebih dinamis. (Icha)


