spot_img
Latest Phone

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...

Xiaomi Mijia Smart Audio Glasses Siap Masuk Indonesia

Telko.id - Xiaomi Indonesia secara resmi mengonfirmasi rencana peluncuran...

Garmin Unified Cabin 2026: Revolusi Kabin Cerdas Berbasis AI

Telko.id - Garmin secara resmi memperkenalkan Garmin Unified Cabin...

Xiaomi Serentak Buka 50 Store, Perkuat Jaringan Retail di Indonesia

Telko.id - Xiaomi Indonesia secara resmi membuka 50 Xiaomi...

ARTIKEL TERKAIT

ASEAN Foundation Ungkap Kesenjangan Adopsi AI: Siswa Lebih Cepat dari Guru

Telko.id – ASEAN Foundation, dengan dukungan penuh dari Google.org, secara resmi meluncurkan laporan ASEAN Digital Outlook dan memaparkan temuan kunci dari riset AI Ready ASEAN di Manila, Filipina, pada 11 Februari 2026.

Peluncuran yang dilakukan dalam acara AI Ready ASEAN: 3rd Regional Policy Convening ini menyoroti fakta krusial mengenai tingkat adopsi kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Tenggara, di mana kecepatan penggunaan teknologi ini oleh masyarakat melaju jauh lebih pesat dibandingkan kesiapan institusi dan regulasi yang menaunginya.

Laporan yang disusun bersama ASEAN Digital Senior Officials’ Meeting (ADGSOM) ini menyajikan gambaran menyeluruh tentang lanskap digital di kawasan tersebut.

Fokus utama laporan mencakup penilaian terhadap kematangan digital, pembangunan infrastruktur, hingga kesiapan institusi dalam menghadapi era kecerdasan buatan.

Temuan ini menjadi sangat relevan mengingat ekonomi digital ASEAN diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan eksponensial, melesat dari USD 300 miliar menjadi USD 1 triliun pada tahun 2030.

Dr. Piti Srisangnam, Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, menegaskan bahwa fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan adanya ketimpangan kecepatan antara pengguna dan regulator.

“Di seluruh kawasan ASEAN, kita melihat penggunaan AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem kita untuk mengarahkannya,” ujarnya.

Studi ini dirancang untuk menggeser fokus diskusi dari sekadar akses teknologi menuju kesiapan fundamental institusi, pendidik, dan masyarakat dalam mengelola dampak jangka panjangnya.

Ketimpangan Infrastruktur dan Tata Kelola Digital

Laporan ASEAN Digital Outlook memberikan penilaian regional yang komprehensif mengenai kondisi infrastruktur digital, tata kelola, dan keamanan siber di negara-negara anggota.

Meskipun beberapa negara telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam memperkuat infrastruktur digital mereka, studi ini menyoroti adanya disparitas atau ketimpangan yang nyata terkait tingkat kematangan digital dan kapasitas institusional antarnegara di kawasan ini.

Kesenjangan ini terlihat jelas pada aspek keterampilan digital, tingkat kepercayaan publik, hingga kesiapan siber. Pendekatan nasional yang bersifat fragmentasi dinilai memiliki keterbatasan dalam menangani isu-isu tersebut secara efektif.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri mengingat populasi kawasan ASEAN telah melampaui 660 juta jiwa, dengan hampir sepertiganya merupakan generasi muda di bawah usia 20 tahun yang sangat adaptif terhadap teknologi.

Program AI Ready ASEAN sendiri telah mencatatkan pencapaian signifikan sebagai respons atas tantangan ini. Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 5 juta penerima manfaat, melatih 100.000 peserta dalam kecakapan AI tingkat lanjut, serta mencetak lebih dari 3.000 pelatih atau master trainers di seluruh Asia Tenggara. Upaya ini krusial untuk memastikan bahwa Agentic AI dan teknologi terkait dapat diadopsi secara inklusif.

Siswa Indonesia Paling Agresif Mengadopsi AI

Salah satu temuan paling menarik dari riset AI Ready ASEAN adalah evaluasi kesiapan di sektor pendidikan yang melibatkan sepuluh negara anggota.

Riset ini menempatkan siswa, pendidik, dan orang tua sebagai aktor kunci. Data menunjukkan bahwa siswa menjadi kelompok yang paling cepat dan agresif dalam mengadopsi teknologi ini, meninggalkan para pendidik dan orang tua yang masih berjuang dengan literasi digital.

Di Indonesia, tingkat penggunaan AI di kalangan siswa tergolong sangat tinggi. Sebanyak 95,25% responden siswa melaporkan telah menggunakan model AI generatif. Angka ini jauh melampaui tingkat penggunaan di kalangan pendidik yang hanya mencapai 46,20% dan orang tua sebesar 62,19%.

Statistik ini mempertegas adanya kesenjangan penggunaan antar generasi yang cukup lebar dalam ekosistem pendidikan.

Selain itu, riset mencatat bahwa pendidik cenderung lebih lambat dalam mengeksplorasi jenis perangkat AI lainnya, dengan tingkat penggunaan hanya 27,29%, berbanding terbalik dengan siswa yang mencapai 53,25%.

Tren ini sejalan dengan fenomena global di mana Adopsi Galaxy AI dan perangkat serupa semakin diminati generasi muda. Sayangnya, kurang dari separuh pendidik menyatakan bahwa institusi mereka telah menyediakan panduan kebijakan yang memadai, dukungan keamanan siber, ataupun pelatihan terstruktur untuk mengimbangi kecepatan siswa.

Risiko Keamanan dan Urgensi Literasi Etika

Tingginya adopsi teknologi tanpa dibarengi dengan kesiapan literasi dan etika memunculkan risiko baru yang kompleks. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa meningkatnya risiko seperti penipuan daring, penipuan berbasis deepfake, misinformasi, hingga kebocoran data telah mengikis kepercayaan publik terhadap sistem digital.

Ancaman seperti Ancaman Dark AI kini menjadi perhatian serius yang membutuhkan penanganan lintas sektoral.

Marija Ralic, Kepala Google.org Asia Pasifik, menekankan bahwa akses terhadap perangkat semata tidaklah cukup untuk menjamin kesiapan digital.

“Kesiapan yang sesungguhnya menuntut pemahaman tentang cara kerja AI, batasan-batasannya, serta bagaimana teknologi ini dapat digunakan secara etis,” tegas Marija. Ia menambahkan bahwa investasi dalam literasi AI, khususnya bagi komunitas dan pendidik, adalah kunci agar kemajuan teknologi dapat diterjemahkan menjadi peluang inklusif, bukan sekadar statistik ekonomi.

Secara keseluruhan, temuan dari kedua studi ini memberikan sinyal kuat bagi para pemangku kepentingan di ASEAN. Adopsi AI yang melaju lebih cepat daripada kesiapan institusi menuntut adanya kerangka tata kelola yang lebih kuat.

Data dari Laporan AI Agoda dan studi ASEAN Foundation ini diharapkan menjadi referensi utama bagi pengambil kebijakan untuk merancang intervensi yang tepat, memperkuat literasi digital, serta memastikan pertumbuhan ekonomi digital senilai USD 1 triliun pada 2030 dapat dicapai secara aman dan bertanggung jawab. (Icha)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU