Tag: Revenue

  • Indosat Tidak Akan ‘Sentuh’ Bisnis Digital

    Indosat Tidak Akan ‘Sentuh’ Bisnis Digital

    Telko.id – Setelah beberapa tahun belakangan Indosat mencoba bermain dibisnis digital dengan membangun sendiri, kini operator ini seperti ‘alergi’ dengan bisnis digital. Konsep digitalisasi yang akan dilakukan akan berubah. Meski demikian, Indosat akan tetap berupaya mendukung pemerintah mewujudkan masyarakat ekonomi digital Indonesia.

    Seperti apa cara yang akan dilakukan oleh indosat? Joya Wahyudi, sebagai Joy Wahyudi, President Director & CEO Indosat Ooredoo yang baru mengatakan bahwa perusahaan dibawah pimpinannya ini akan fokus pada bisnis intinya, yakni sebagai penyedia jaringan yang dapat dipercaya oleh masyarakat.

    “Peningkatan kualitas jaringan dan infrastruktur digital serta pemerataan digital adalah kunci untuk mewujudkan visi digital nation yang dicanangkan pemerintah,” kata Joy

    “Kami terus berupaya menjadi pelopor dalam membangkitkan visi digital melalui banyak kegiatan seperti Indonesia Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) hingga inkubasi bisnis start up untuk membentuk ekosistem digital yang berkelanjutan. Kami juga terus mendorong berbagai upaya pemerataan akses digital dan menjembatani literasi digital ke berbagai wilayah di Indonesia,” tambah Joy

    “Hal ini kami lakukan karena semua yang berkenaan dengan digital, membutuhkan ‘jalan’ untuk bisa digunakan. ‘Jalan’nya ini yang kami sediakan. Dan, ini harus bagus,” ujar Joy menjelaskan disela acara Digital Economic Briefing dengan mengangkat tema “Menuju Visi 2020: Mendorong Pertumbuhan Eksponensial Ekonomi Digital di 2018.

    Joy menambahkan bhawa “Tahun-tahun sebelumnya kita banyak bermain-main bikin bisnis ini-itu, sekarang semua kita setop. Kita back to basic“.

    Joy pun menyebutkan bisnis e-commerce sebagai contoh bisnis yang akan mereka abaikan. Ia memastikan tak akan ada lagi mencoba peruntungan di bisnis e-commerce.

    Dipertegas juga oleh Joy bahwa tidak perlu untuk bersaing dengan Traveloka, Gojek atau straup digital lainnya. Indosat akan menempatkan diri sebagai jembatan antara pelanggan dengan layanan digital yang ada di luar. Misalnya adalah dengan memperkuat jaringan dan paket data sebaik mungkin.

    “80 persen dari belanja modal (capex) kita pasti lari ke bisnis dasar, tapi 20 persen kita kan juga ada B2B. Kita ada anak perusahaan B2B seperti Lintas Artha, Artha Jasa, dan lainnya yang kecil-kecil,” tutur Joy. (Icha)

  • Telkomtelstra ‘Pede’ Bermitra Dengan Microsoft Bakal Naikan Revenue

    Telkomtelstra ‘Pede’ Bermitra Dengan Microsoft Bakal Naikan Revenue

    Telko.id – Dalam tiga tahun ke depan, Telkomtelstra optimis revenuenya bakal meningkat signifikan. Hal ini didorong oleh kemitraannya dengan Microsoft sebagai penyedia Hybrid Cloud pertama di Indonesia.

    Pasalnya, dengan keberadaan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik sudah berlangsung selama dua tahun. Regulasi yang merupakan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) mengatur tentang kewajiban Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) yang menyelenggarakan pelayanan publik maupun non pelayanan publik.

    Di mana, salah satu kewajiban PSE adalah menempatkan Data Center dan Disaster Recovery Center (DRC) di Indonesia. Kebijakan pemerintah ini diantaranya bertujuan untuk melindungi kepentingan negara dan WNI serta implementasi Pasal 40 ayat (2) UU ITE tentang peranan pemerintah dalam melindungi kepentingan umum dari penyalahgunaan informasi elektronik dan transaksi elektronik.

    Banyak perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia mencari Telkomtelstra. “Kami dicari oleh banyak perusahaan asing terutama dari industry perbankan dan perminyakan untuk memenuhi peraturan pemerintah tersebut,” ujar Ernest Vincent Hutagalung, Chief Financial Officer telkomtelstra dalam acara Telkomtelstra Digital Summit 2017 – Technology Innovation for Tomorrow’s Business di Jakarta.

    Apalagi, dengan menggunakan Hybrid Cloud Microsoft, perusahaan asing dapat menyimpan data-data di server yang berada di Indonesia, tetapi untuk aplikasi yang berat-berat dapat menggunakan server Microsoft yang berada di luar atau di kantor pusat nya masing-masing. Dengan demikian, jadi lebih murah dan terkendali.

    “Selain itu, dengan adanya Hybrid Cloud Microsoft ini, Telkomtelstra juga menjadi lebih dipercaya oleh pelanggannya terutama yang ingin melakukan transformasi digital. Di mana dengan menggunakan fasilitas tersebut, yang dulunya, server masuk dalam Capital expenditures (CAPEX) searang dapat dimasukan dalam Operating Expenses (OPEX) yang dapat membuat perusahaan juga lebih efisien,” kata David Gee, Director of Operations – COO Telkomtelstra menjelaskan.

    Untuk memastikan layanan cloud yang baik, telkomtelstra juga mengintegrasikan jasa-jasa lain seperti: aplikasi business productivity, layanan jaringan, layanan keamanan, dan layanan profesional.”

    Setidaknya, kenaikan revenue yang signifikan, menurut Ernest bisa mencapai 30%. Walaupun tidak dapat dipungkiri, layanan Telkomtelstra lain juga akan tetap meningkat, seperti produk, jasa, dan solusi (Managed Network Services, Integrated Service Management and Professional Services) dan juga managed cloud, unified communications dan integrated suite dari Managed Security Products.

    Selain itu, telkomtelstra juga mengajak para pengembang aplikasi Indonesia untuk menggunakan platform Microsoft Azure melalui Indonesia Application Challenge (IAC) dengan memanfaatkan platform Microsoft Azure. Telkomtelstra menyelenggarakan IAC untuk mengajak para pengembang aplikasi di Indonesia untuk memperlihatkan kreativitas mereka dalam mengembangkan aplikasi-aplikasi menggunakan platform Microsoft Azure dan API telkomtelstra untuk menangani tantangan-tantangan di dunia nyata.

    IAC memiliki tujuan untuk menggairahkan komunitas pencipta perangkat lunak di Indonesia untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi unik bagi pelanggan telkomtelstra. Kegiatan ini juga menunjukkan kesiapan telkomtelstra untuk mendukung pelaku bisnis, khususnya pengembang aplikasi.

    International Data Corporation (IDC) Indonesia melaporkan bahwa anggaran belanja negara untuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK) akan meningkat 16% atau setara dengan Rp394 triliun (US$ 29.5 milyar) pada tahun 2020, dari prediksi pada tahun 2017 sebesar Rp339 triliun (US$25.4 milyar). Meskipun hardware dan devices masih mendominasi belanja TIK Indonesia, IDC juga melihat perubahan perilaku perusahaan yang akan membuat layanan TIK menjadi salah satu komponen utama pertumbuhan di tahun 2020. Sedangkan belanja layanan TIK juga diprediksi akan meningkat 61.1% pada tahun 2020 menjadi Rp29 triliun (US$2.2 milyar) dari perkiraan Rp18 triliun (US$1.3 milyar) pada tahun 2017.

    “Perubahan ranah kompetisi mengharuskan penyesuaian usaha di berbagai sektor dan investasi pada transformasi digital untuk meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan, mendorong efisiensi operasional, serta mengoptimalkan tenaga kerja dari perusahaan-perusahaan di Indonesia,” lanjut David Gee.

    Hal yang terpenting, untuk menghadapi tantangan-tantangan beragam di era digital, telkomtelstra menekankan rencana penyediaan solusi keamanan berkinerja tinggi yang dirancang untuk memberikan pelanggan ketenangan dalam menghadapi berbagai ancaman siber, sehingga dapat lebih fokus dan percaya diri dalam bersaing di era digital. (Icha)

  • Q1 2016, XL Catat Laba Bersih Rp20 miliar

    Q1 2016, XL Catat Laba Bersih Rp20 miliar

    Telko.id – PT XL Axiata Tbk (XL) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 2% YoY selama kuartal pertama tahun 2016. Hal ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan penggunaan layanan utama, meliputi voice, SMS, Data dan VAS sebesar 5% YoY, serta pencapaian kinerja yang solid untuk layanan data (naik 23% QoQ).

    Melalui keterangan resminya, Kamis (21/4), President Direktur sekaligus CEO XL, Dian Siswarini mengatakan bahwa perusahaan telah membuat pencapaian awal yang menjanjikan melalui peningkatan dalam berbagai kegiatan operasional yang berdampak positif pada kinerja keuangan perusahaan. “Kami berharap ini menjadi momentum untuk terus melanjutkan Agenda Transformasi perusahaan yang masih berlangsung hingga saat ini,” ungkapnya.

    Pencapaian terbesar yang berhasil diraih XL adalah Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi dan Amortisasi (EBITDA) yang meningkat sebesar 17% YoY menjadi Rp2,2 Triliun, sehingga menghasilkan margin EBITDA sebesar 39%, naik hingga 5% YoY.

    Peningkatan tersebut merupakan hasil dari upaya XL untuk lebih fokus pada pelanggan-pelanggan yang produktif dan juga upaya untuk meningkatkan profitabilitas dari portofolio produk dan layanan yang ada. Ini juga merupakan peningkatan EBITDA dan EBITDA margin selama empat kuartal berturut-turut.

    XL juga telah membelanjakan Rp1,1 Trilun belanja modal untuk memperluas infrastruktur layanan Data dan layanan mobile, dengan sumber dana berasal dari internal. Total hutang mengalami penurunan dari Rp30,2 Triliun menjadi Rp25,2 Triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga hutang bersih/EBITDA juga mengalami penurunan dari 2,8x menjadi 2,6x

    Untuk periode kuartal pertama 2016, XL mencatat laba bersih sebesar Rp20 miliar karena adanya penguatan Rupiah terhadap US Dollar. XL juga telah berhasil untuk meneruskan rangkaian program inisiatif “Balance Sheet Management” (Pengelolaan Neraca Keuangan) guna mengurangi dampak fluktuasi nilai mata uang asing (Forex).

    Penerbitan saham baru (Right Issue) yang diumumkan untuk membayar hutang USD ke Axiata serta penjualan 2.500 menara ke Protelindo senilai Rp3,6 Triliun untuk membayar hutang dalam Rupiah juga telah disetujui oleh pemegang saham. Dengan selesainya kedua hal tersebut di semester pertama 2016, kinerja XL disebut berada pada kondisi yang sama seperti sebelum mengakusisi Axis.

    Seperti diketahui, saat ini merupakan tahun kedua bagi XL melakukan Transformasi “3R – Revamp, Rise & Reinvent,” agenda yang sudah dilakukan sejal awal tahun 2015.

    XL dan 4G LTE

    XL menyebut 4G LTE sebagai kunci utama dari strategi perusahaan untuk tetap menjadi yang terdepan dalam penyediaan layanan Internet Mobile guna memenuhi kebutuhan pelanggan terhadap layanan Internet kecepatan tinggi.

    Selama kuartal pertama tahun 2016, XL telah membangun 3.286 BTS 4G, dengan cakupan mencapai lebih dari 36 kota/wilayah di Indonesia. XL juga terus melakukan investasi dengan membangun lebih dari 18.000 BTS 3G guna meningkatkan kualitas dan cakupan layanan Data, sehingga sampai dengan akhir Maret 2016, XL telah memiliki sebanyak 59.040 BTS.

    Meningkatnya penggunaaan 4G LTE dan perangkat yang memiliki kemampuan akses data sangat mendorong adanya peningkatan trafik layanan Data. Di kuartal pertama 2016, Trafik layanan Data tumbuh 94% YoY, dengan total pengguna layanan Data mencapai 22,8 juta atau 54% dari total jumlah pelanggan XL.

    Pertumbuhan smartphone yang terus berlanjut juga turut mendorong meningkatnya penggunaan layanan Data di Indonesia. Hingga akhir kuartal pertama 2016, laju penetrasi pengguna smartphone di XL mencapai 48% dari total penetrasi. Pengguna smartphone di XL mengalami pertumbuhan sebesar 19% YoY dan mencapai sebesar 20,5 juta pengguna.

    Selama kuartal pertama 2016 tersebut, XL juga berhasil mendorong pelanggan untuk menggunakan paket HotRod 4G yang menawarkan harga terjangkau dan memungkinkan pelanggan untuk dapat menikmati pengalaman menggunakan layanan Internet cepat yang berkualitas. XL juga terus mendorong pelanggan untuk beralih menggunakan smartphone 4G, selaras dengan agenda transformasi untuk lebih fokus menyasar pelanggan-pelanggan di segmen yang lebih tinggi (higher value customer) dengan menawarkan berbagai pilihan paket bundling smartphone, seperti Apple, Samsung, Xiaomi, Alcatel, Lenovo, LG, dan Sharp.

    XL juga telah meluncurkan kembali layanan Pascabayar melalui XL Prioritas yang menawarkan kepada pelanggan berbagai kemudahan dan manfaat termasuk untuk layanan 4G LTE. Layanan ini ditujukan untuk melayani segmen pelanggan yang lebih tinggi (higher value customer) dan untuk memperkuat posisi merek XL di pasar. XL juga terus meningkatkan layanan konten melalui kemitraan bersama Tribe dan MNC Indovision guna menyediakan layanan konten streaming yang menarik seperti drama Korea, olahraga dan konten-konten populer lainnya.

  • Ericsson Beberkan Revenue Mereka di Tahun Lalu

    Ericsson Beberkan Revenue Mereka di Tahun Lalu

    Telko.id – Ericsson telah memberikan laporan mengenai peningkatan laba bersih mereka untuk tahun 2015 sebesar 23,4% dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi 13,7 miliar kronor atau setara dengan $ 1.61 miliar, peningkatan ini disinyalir berkat berkat kuartal keempat yang kuat dan dampak dari upaya pemotongan biaya yang sedang mereka jalankan.

    Dilansir dari Telecom Asia, Penjualan untuk tahun ini meningkat sekitar 8% menjadi 246, 9 miliar kronor, dengan pertumbuhan di India, Cina dan Amerika Utara yang mengkompensasi penurunan di Jepang, Rusia dan Brasil.

    Pendapatan lisensi kekayaan intelektual dari kesepakatan lisensi global Ericsson dengan Apple juga membantu berkontribusi keuntungan tahun ini. Total pendapatan IPR mereka  14,4 miliar kronor, dan lebih tinggi dari kisaran perkiraan sebelumnya yakni dari 13 miliar -14 miliar kronor.

    Sementara itu, masih di kuartal keempat, penjualan mereka tumbuh sebesar 8% dari tahun-ke-tahun menjadi 73,6 miliar kronor.

    Tapi kesepakatan dengan Apple dan pertumbuhan dalam pasar peralatan 4G di China tidak berkontribusi banyak pada kuartal tiga, pasalnya pada kuartal ini pendapatan mereka sedikit melemah menyusul kuartal ketiga lemah dan hanya menyumbang laba sekitar 7,06 miliar kronor.

    CEO Ericsson, Hans Vestberg berkomentar bahwa segmen jaringan perusahaan pulih pada kuartal tersebut. “Peningkatan operator berkat investasi mereka dalam jaringan inti telekomunikasi, didorong oleh penyebaran penawaran layanan baru seperti VoLTE,” katanya.

    “Pada 2015, kami memiliki kemajuan yang baik dalam semua bidang pertumbuhan yang kami targetkan dan kami terus berinvestasi untuk membangun kepemimpinan dalam pasar,  selain itu, kemitraan strategis dengan Cisco, yang kami umumkan pada kuartal terakhir, akan memberi kita solusi jaringan yang kuat secara end-to-end dengan portofolio IP yang lengkap,” tuturnya.

    Hans Vestberg juga menyebut bahwa sementara kinerja mereka membaik pada Q4, dan terdapat ruang untuk perbaikan lebih lanjut. Pada tahun 2016 vendor berencana untuk fokus pada peluang bisnis 4G and 5G, kemudian memnentukan daerah pertumbuhan yang ditargetkan seperti penjualan perangkat lunak serta penyesuaian biaya dan efisiensi.

  • Berkat Efisiensi, ZTE Catatkan Keuntungan Double Digit

    Berkat Efisiensi, ZTE Catatkan Keuntungan Double Digit

    Telko.id – Vendor jaringan asal Cina ZTE mempertahankan pertumbuhan laba yang kuat pada tahun 2015, tapi kali ini dipicu oleh lonjakan sehat pendapatan dikarenakan faktor efisiensi.

    Dalam pedoman untuk setahun penuh di 2015, ZTE mengatakan mereka mendapatkan pendapatan melebihi 15.3 milyar dollar Amerika Serikat, dengan  peningkatan penjualan LTE dan jaringan optik yang mendorong pertumbuhan serta hadirnya smart cities yang juga ikut menyumbang pendapatan mereka dengan solusi ICT dari perusahaan dan tentunya penjualan router.

    Dilansir dari Telecoms, hasil ini tentunya menandai peningkatan revenue mereka sebesar 24% dari pendapatan tahun 2014. Hasil tersebut lagi-lagi mereka dapatkan berkat latihan perampingan yang cukup luas. Di tahun lalu, keuntungan tidak meningkat seperti rasio besar saat ini tapi dengan jumlah yang sama secara absolut.

    ZTE mencatat penjualan lebih tinggi dari solusi 4G (Long Term Evolution) di jaringan internasional, selain China, “menurut laporan ZTE.

    “Perusahaan juga membukukan peningkatan penjualan dari solusi jaringan optik sebagai permintaan untuk  memperkuat jaringan broadband,” ucap laporan tersebut.

    Daftar Revenue ZTE
    Daftar Revenue ZT

    Pertumbuhan pendapatan tahunan juga didorong oleh peningkatan penjualan router high-end di pasar luar negeri, sementara ZTE membukukan pendapatan beeikutnya yang lebih tinggi dari sektor ICT adalah solusi lain termasuk smart cities dan data center untuk perusahaan dan departemen pemerintah. Selain itu, ZTE juga mendorong penjualan smartphone 4G luar China, serta produk-produk terminal untuk rumah.

    Meskipun tersandung kasus korupsi dan menjadi tamu di daftar hitam dari Norges Bank, nampaknya tidak membuat perusahaan asal Tionkok ini ‘pesakitan’ dan mungkin jika tidak tersandung kasus korupsi, jumlah pendapatan mereka akan jauh lebih meningkat.

  • Indosat Ooredoo Business Targetkan Pendapatan 50% dari Total Revenue

    Indosat Ooredoo Business Targetkan Pendapatan 50% dari Total Revenue

    Telko.id – Ke depan, bisnis telekomunikasi tidak hanya bisa mengandalkan pear to pear communication saja. Tetapi sudah mengarah pada M2M dan big data atau sering disebut dengan Internet of Things. Di mana, hampir semua bisnis tersambung dengan jaringan yang dimiliki oleh operator ke para pelanggannya. Hal itu sudah disadari oleh Indosat Ooredoo. Untuk itu, perusahaan yang baru rebranding ini melakukan berbagai langkah mengarah ke bisnis IoT tersebut.

    Sebenarnya, langkah tersebut sudah dilakukan beberapa tahun belakangan. Hanya saja, masih banyak peluang-peluang lain yang dapat digarap. Ditambah dengan adanya rebranding perusahaan yang menuju perusahaan terdepan di dunia digital, maka menjadi pas untuk melakukan sosialisasi tentang kemampuan dan kapabilitas nya untuk membantu perusahaan masuk ke dunia digital.

    “Kami melakukan pendekatan yang berbeda jika menghadapi pelanggan korporate. Bukan sekedar menawarkan produk tetapi juga solusi. Solusi itu tidak bisa langsung jadi. Perlu ada berbagai diskusi sehingga Indosat Ooredoo akhirnya mampu memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan para pelanggan koporatenya,” ujar Alexander Rusli, Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo menjelaskan.

    kekuatan dari Indosat Ooredoo ini adalah memiliki jaringan yang mampu melayani 70 juta pelanggan. Dan saat ini sudah ada 2000 pelanggan korporate yang menggunakan layanannya. Dengan jaringan yang ada, sudah mampu mendukung berbagai macam jenis dan skala usaha. Dengan demikian, bagi pelanggan korporat yang menggunakan layanan Indosat dapat mengubah cara berbisnisnya kearah digital, mampu melakukan cost effisiensi dan mampu meningkatkan daya jangkau sehingga memerluas pasar.

    Dalam langkah strategis ini, Lintas Arta sebagai anak perusahaan Indosat Ooredoo pun akan dilibatkan. Di karena kan saat ini, Lintas Arta sudah terbukti memiliki pengalaman yang handal untuk mendukung perusahaan financial.

    Bagi Indosat sendiri, divisi korporate ini akan digarap secara serius karena memang akan menjadi kantong-kantong baru yang akan menambah revenue. Memang saat ini masih belum besar. Pelanggan pun masih 2000. Untuk revenue, saat ini masih menyumbahkan 20% dari total revenue. “Ke depan, kami berharap revenue dari Indosaat Ooredoo Business ini akan menyumbangkan 50% dari total pendapatan kami,” ujar Alexander Rusli menjelaskan. Sedangkan pertumbuhan setiap tahunnya akan sekitar 12 – 13%. (Icha)

  • XL Catat Pertumbuhan Pendapatan 4%, EBITDA Naik 10%

    XL Catat Pertumbuhan Pendapatan 4%, EBITDA Naik 10%

    Jakarta – PT XL Axiata Tbk (XL) mengumumkan hasil kinerja perusahaan dalam periode 9 bulan pertama tahun ini (9M 2015), yang berakhir pada 30 September 2015. Dari sini diketahui bahwa pada triwulan ke-3 tahun 2015, perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 4% QoQ, yang didorong oleh pertumbuhan pendapatan pada bisnis utama 5% QoQ, dengan kinerja yang solid baik pada layanan voice (naik 11% QoQ), maupun layanan Data (naik sampai 5% QoQ).

    Peningkatan terbesar ada pada Laba Sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi dan Amortisasi (EBITDA) yang meningkat 10% QoQ menjadi Rp 2,2 triliun, yang mendorong EBITDA margin sebesar 38% sampai 2 poin persentase QoQ. Peningkatan ini terutama sebagai dampak positif dari kebijakan menyangkut penataan  basis pelanggan untuk lebih fokus pada pelanggan yang lebih menguntungkan selain juga guna meningkatkan profitabilitas portofolio produk.

    XL terus fokus pada upaya menjadi pemimpin dalam layanan internet mobile di Indonesia. Sejalan dengan tujuan ini, serta meningkatnya kepemilikan ponsel data dan penggunaannya, telah mendorong pertumbuhan yang signifikan pada lalu lintas (trafic) data. Trafic data tumbuh 52% YoY dalam periode 9 bulan pertama 2015 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dengan total pengguna data 20 juta atau 49% dari total basis pelanggan.

    Pertumbuhan smartphone juga telah berhasil mendorong peningkatan penggunaan layanan data di Indonesia. Penetrasi smartphone XL telah meningkat menjadi sebesar 39% dari keseluruhan pelanggan per akhir periode 9M 2015. Pengguna smartphone XL tumbuh 7% YoY dan mencapai 15,6 juta pengguna.

    Pada kuartal tersebut, XL memperkenalkan kampanye pemasaran yang cukup sukses, bertajuk “60 Mazda, 60 Hari, 60 Pemenang” untuk meningkatkan dan mendorong isi ulang pulsa pelanggan. Selanjutnya, XL juga telah mengenalkan program “Harga Pas” untuk penjualan pulsa melalui mini market seperti Indomaret dan 7-Eleven guna meningkatkan aktivitas distribusi melalui saluran modern.

    Di ranah 4G, XL juga terus mendorong adopsi ponsel di jaringan ini oleh pelanggan sesuai dengan agenda transformasi yang menargetkan pelanggan dengan nilai yang lebih tinggi. Untuk itu, XL juga menawarkan berbagai pilihan jenis smartphone melalui program bundling dengan Samsung, Xiaomi, Alcatel, Lenovo, LG, dan Sharp.

    Program 4G LTE adalah bagian penting dari strategi XL untuk menjadi yang terdepan dalam layanan mobile internet sekaligus upaya memenuhi kebutuhan pelanggan atas layanan internet berkecepatan tinggi.

    Saat ini XL memiliki 1.018 BTS 4G hingga 9M 2015 sebagai bagian upaya XL dalam meningkatkan cakupan wilayah layanan 4G LTE dalam menyongsong peluncuran komersialisasi layanan 4G LTE. XL juga terus berinvestasi dalam usaha meningkatkan kualitas jaringan dan perluasan jangkauan melalui pembangunan hampir 18.000 BTS 3G hingga akhir 9M 2015. Dengan demikian, saat ini total BTS XL mencapai ke 56.300.

    Sepanjang periode 9M 2015, XL telah membelanjakan Rp 3 triliun belanja modal (capex) untuk memperluas infrastruktur layanan data dan layanan seluler, dengan menggunakan dana internal. Total hutang XL menurun menjadi Rp 27.0 triliun dari Rp 30.4 triliun pada akhir sembilan bulan pertama tahun sebelumnya sementara Hutang Bersih / EBITDA sedikit berkurang dari 3.2x ke 2,8X.

    Untuk periode 9M 15, XL mencatat rugi bersih sebesar Rp 506 miliar, terutama disebabkan oleh forex sebagai dampak dari penguatan USD. Menyesuaikan dampak tersebut, XL akan mencatatkan laba bersih yang dinormalisasi sebesar Rp 74 miliar.

    Kami menyadari sepenuhnya konsekuensi atas kondisi perekonomian global terhadap perusahaan, termasuk yang terkait dengan pinjaman XL dalam mata uang asing. Dengan penyelesaian semua pinjaman dalam US Dollar yang tidak di-hedge, kami berharap beban perusahaan menjadi berkurang, dan dapat mendukung kinerja XL ke depan,” ungkap Dian Siswarini, Presiden Direktur XL dalam keterangan tertulisnya, Rabu (28/10).

  • China Unicom Terus Ditinggalkan Pelanggannya

    China Unicom Terus Ditinggalkan Pelanggannya

    Jakarta – Penurunan jumlah pelanggan tampaknya tak hanya dialami oleh operator dalam negeri. Di China, China Unicom juga dikabarkan mengalami nasib serupa. Operator seluler terbesar kedua di China ini kehilangan 287.000 pelanggan selulernya bulan lalu.

    Jumlah itu turun dari lebih dari setengah juta kehilangan di bulan Agustus dan puncaknya 2,82 juta di bulan Februari. Pertumbuhan basis pelanggan terjadi terakhir kali pada bulan Januari.

    Pada akhir September, China Unicom memiliki 287.57 juta pelanggan mobile, turun dari 299 juta pada awal 2015.

    Menurut laporan Total Telecom, Jumat (23/10), 172.46 juta dari total pelanggan adalah pelanggan 3G dan 4G, yang naik dari 149 juta pada awal tahun. Namun, perusahaan telekomunikasi yang mengoperasikan layanan 4G penuh lewat teknologi FDD LTE ini enggan membagi angka pasti terkait jumlah pelanggan 4G-nya.

    Sebaliknya, sang pesaing utama, China Mobile – yang mampu meluncurkan 4G pada akhir 2013 – memiliki 247.62 juta pelanggan 4G pada akhir kuartal ketiga. Dengan total basis pengguna mobile hampir 823 juta, meningkat lebih dari 16 juta selama sembilan bulan pertama tahun ini.

    Dalam konteks revenue, China Unicom menghasilkan pendapatan sebesar CNY211.9 juta atau sekitar Rp 400 miliar, dalam sembilan bulan pertama tahun ini, turun 1,6% pada periode yang sama tahun 2014. Sementara pendapatan layanan turun 3,8% menjadi CNY179.8 miliar.

    Hal yang tak jauh berbeda tampak pada laba perusahaan, yang tergelincir sebesar 22,6% menjadi CNY8.18 miliar.

    Reformasi PPN di China, dalam hal ini disebut-sebut menjadi pemicu terpukulnya industri telekomunikasi di negeri tirai bambu itu. Paling tidak selama beberapa kuartal terakhir.

    China Unicom mengatakan bahwa kebijakan data mobile yang baru-baru ini diumumkan akan berdampak pada angka di Q4.