spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1626

Telefonica Seriusi Garap VoLTE di Peru

0

Telko.id – Raksasa telekomunikasi, Telefonica mengatakan akan terus bekerja dengan vendor asal China yakni ZTE pada implementasi teknologi NFV.

Telefonica dan mitra penjual ZTE telah mengumumkan bahwa segera mengoperasikan layanan Voice-over-LTE (VoLTE) secara komersial di Peru.

Dilansir TotalTelecom (22/6), jaringan VoLTE akan berjalan berdasarkan infrastruktur inti IMS milik Telefonica yang dihadirkan berkat kerjasama dengan ZTE pada empat tahun lalu. Jelas vendor asal China ini. ZTE menambahkan, bahwa hal ini merupakan jaringan VoLTE IMS pertama yang akan diluncurkan di Peru.

Sekadar informasi, kedua perusahaan inj  telah bekerja pada elemen VoLTE sejak Agustus tahun lalu, yang antara lain melihat ZTE membangun session border controller (SBC) untuk VoLTE terbaru.

“Telefónica del Perú telah dan akan cukup aktif pada evolusi jaringan untuk memberikan layanan yang lebih menguntungkan dan kompetitif untuk pengguna kami sambil mengurangi TCO (total biaya kepemilikan) kami, mengatakan CTO Telefonica Pedro Planas.

Dia mencatat bahwa seluruh proyek, termasuk modernisasi infrastruktur fixed dan mobile broadband Operator, dilaksanakan dengan cepat dan lancar.

“Tantangan baru untuk Telefónica del Perú adalah evolusi jaringan terhadap teknologi virtualisasi. Kami sangat senang untuk melanjutkan kerjasama kami dengan ZTE, mitra referensi Telefónica dalam teknologi NFV.” Lanjut Planas.

ZTE menambahkan bahwa solusi Cloud Unicore, yang menggunakan NFV dan software-defined networking (SDN) merupakan teknologi untuk memfasilitasi operasi virtualisasi dari infrastruktur IMS core network, telah digunakan di 50 proof of concept (PoC) dan penyebaran komersial di seluruh dunia, dengan angka yang berasal dari nama besar perusahaan telekomunikasi, termasuk kelompok Telefonica.

Samsung Gelontorkan Dana Rp 15 T Untuk IoT

0

Telko.id – Samsung telah menggelontorkan dana sekitar US$1.2 miliar atau setara Rp 15 Triliun untuk penelitian dan pengembangan IoT atau Internet if Things selama tiga tahun ke depan.

Perusahaan raksasa asal Korea Selatan ini telah mengalokasikan investasi ke ketiga fungsi R&D utamanya, dipimpin oleh Samsung Strategy and Innovation Centre, Samsung Global Innovation Center dan Samsung Research America.

Menurut Samsung, sebanyak 15.000 karyawan akan terlibat dengan proyek, yang diklaim akan kembali fokus pada unsur manusia dari IoT ini. Demikian dilaporkan Telecom, Rabu (22/6).

“Di Samsung, menempatkan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu yang kami lakukan adalah nilai tertinggi kami. Hal yang sama harus dilakukan untuk IoT jika kami ingin mewujudkan kekuatan transformatif secara penuh,” kata vice chairman Samsung Electronics, Oh-Hyun Kwon.

Ia menambahkan, hari ini IoT telah mengubah kehidupan individu, dimana ini memungkinkan untuk membantu orang mendapatkan rumah mereka sendiri. Tapi besok, menggunakan IoT, kemerdekaan yang sama bisa diberikan untuk jutaan orang Amerika. “Kita bisa membuat orang keluar dari rumah sakit dan panti jompo. Mengingat populasi kita hidup lebih lama, manfaat dan penghematan biaya bagi masyarakat tidak bisa diabaikan,” katanya.

Kerjasama industri dan interoperabilitas standar terbuka diakui Samsung sebagai faktor utama evolusi IoT. Untuk itu, Samsung akan mengejar kemitraan lintas sektor dan membentuk National IoT strategy Dialogue, sebuah alat yang diklaim perusahaan akan menjadi acuan pembuat kebijakan dalam memungkinkan teknologi agar bermanfaat bagi individu, masyarakat, inovator dan ekonomi AS.

“[Pengumuman] ini … bukan tentang langkah pertama – itu karena IoT sudah terjadi di sekitar kita. Sekarang sudah waktunya untuk membayangkan potensi transformatif dari IoT untuk masyarakat kita – dan belajar bagaimana mendapat manfaat yang sebesar-besarnya bagi manusia dan sosial,” pungkas Kwon.

Sinar Mas Land Hadirkan Silicon Valley di BSD

0

Telko.id – Salah satu pemain properti terbesar di Indonesia, Sinar Mas Land kembali melakukan inovasi dengan menghadirkan ‘silicon valley’ di kawasan BSD, Tangerang Selatan yang diberinama Digital Hub.

Managing Director President Office Sinar Mas Land Dhony Rahajoe menyebutkan, “Hari ini merupakan suatu babak baru bagi BSD dalam 20 tahun kedepan, dimana kita bisa menjawab tantangan terhadap ekonomi kedepan. Saat ini, semua data bisa di compress menjadi lebih kecil dan bisa dikirim dengan cepat secara realtime,” ujarnya pada saat Jumpa Media di BSD (21/6).

Ia menambahkan, berkat hadirnya internet segala kemudahan dapat dirasakan oleh setiap masyarakat. Seperti memasarkan produk properti, mencari tiket pesawat dengan harga terjangkau serta mencari alamat di seluk beluk kota besar. Lebih lanjut, Ia juga menyoroti tentang taksi online yang mampu menyaingi taksi biasa.

DSC_0109_1

Digital Hub merupakan sebuah kawasan seluas 25.86 Ha yang dikembangkan oleh Sinar Mas Land untuk menghadirkan coworking space bagi para startup, Tech Leader serta Komunitas Digital. Digital Hub juga diharapkan dapat menjawab kebutuhan akan suatu wilayah yang memiliki infrastruktur teknologi serta diharapkan akan menjadi percontohan dari Smart City.

Digital Hub juga diharapkan akan memberikan perubahan bagi masyarakat BSD City, guna mendukung new economy. Selain itu, Digital Hub juga akan dijadikan rumah bagi komunitas untuk berinovasi dan mendukung startup agar mampu menyokong perekonomian Indonesia.

Sementara itu, Irvan Yasni selaku CTO Sinar Mas Land menyebutkan, “Kita mengkoneksikan beberapa ekosistem di dalam kota kita, sehingga informasi bisa saling terkoneksi dan terciptanya digital ecosystem,” ujarnya.

Irvan menambahkan, saat ini sudah banyak perusahaan besar yang terkena imbas dari digital distruption. Sebagai contoh adalah perusahaan Kamera terkenal yakni Kodak, Nokia Mobile, bahkan perusahaan taksi terbesar di Indonesia pun bisa disaingi oleh taksi online. Sejatinya, digital distruption dapat menjadi sebuah peluang sekaligus ancaman bagi perusahaan yang belum mengadopsi digitalisasi.

Irvan menyebutkan, untuk merealisasikan Digital Hub ini, Sinar Mas membangun setidaknya lima tahap seperti : Mobile Apps, Integrated Operation Center, Digital Platform, Digital Network Infrastructure dan IoT.

Karena sekitar 5 atau 6 startup sudah masuk BSD, Sinar Mas akan segera menghadirkan fiber optic guna mengaliri internet diwilayah tersebut. Selain itu, wifi akses dan sensor IoT yang dikoneksikan ke jaringan yang mereka punya juga dihadirkan sehingga dapat terkoneksi ke mobile apps buatan mereka.

Sementara itu berbicara mengenai infrastruktur, seperti disebutkan diatas Sinar Mas akan menghadirkan konektifitas via fixed broadband dengan kecepatan 1Gbps.

Sinar Mas Land memanfaatkan jasa dari vendor raksasa asal China yakni Huawei. Keyakinan mereka terkait posisi Huawei saat ini sebagai vendor jaringan terbesar di dunia.

Sementara untuk implementasi, Sinar Mas melakukan secara bertahap, dengan coverage berada di kawasan BSD Barat, karena lokasi BSD Timur sudah digelar oleh pihak swasta.

Operator Rusia Klaim Tembus 1Gbps Dalam Uji Coba 5G

0

Telko.id – Dalam sebuah uji coba yang dilakukan di St Peterburg, Rusia, operator MegaFon berhasil mencapai kecepatan lebih dari 1Gbps melalui carrier agregasi dan MIMO.

Dilaporkan GTB, Selasa (21/6), haasil ini dicapai setelah operator tersebut menggabungkan dua band 20MHz di spektrum 2.6GHz dan 1.8MHz, menggunakan peralatan radio dan tower Huawei.

“Standar 5G baru akan membuat ponsel bahkan lebih terjangkau. Pelanggan akan mendapatkan lebih banyak langganan dengan sedikit uang,” kata Sergey Soldatenkov, selaku acting CEO di MegaFon.

“Perusahaan kami adalah yang pertama di Rusia yang meluncurkan jaringan seluler 3G pada 2008 dan jaringan LTE pada 2012. 5G adalah tahap berikutnya dalam teknologi mobile dan menawarkan level baru yang radikal dari layanan dan kemampuan bagi pelanggan kami.”

MegaFon dan Huawei menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk melakukan uji coba layanan jaringan 5G di Piala Dunia FIFA 2018. Di saat yang bersamaan, operator terbesar di Rusia, MTS juga akan melakukan hal serupa bersama Ericsson.

Tidak Puas, Regulator Filipina Selidiki Rencana Merger Dua Operator

0

Telko.id – Regulator Filipina telah mengumumkan rencananya untuk menyelidiki aset telekomunikasi San Miguel Corp menyusul akuisisi bersama antara Globe Telecom dan PLDT.

Badan ini diduga tidak puas dengan dokumen transaksi yang diajukan oleh operator kepada Komisi Persaingan Filipina (PCC).

“Kami telah secara resmi melayangkan pemberitahuan bahwa kami akan secara komprehensif mengkaji akuisisi mereka atas bisnis telekomunikasi SMC, dan kami akan menyetujui atau menolak subjek transaksi setelah melakukan kajian menyeluruh,” kata PCC dalam sebuah pernyataan, Jumat lalu.

Perusahaan telah diberitahu bahwa PCC akan melakukan kajian komprehensif dari akuisisi mereka atas bisnis telekomunikasi SMC dan bahwa hal itu mungkin berpengaruh terhadap rencana merger.

“Kami menilai pengajuan baru dari para pihak, dan berdasarkan totalitas informasi yang tersedia bagi kami, termasuk pernyataan publik yang dibuat oleh kedua pihak, kami yakin ada dasar untuk melakukan ulasan ini berdasarkan kekuasaan yang diberikan kepada Komisi Persaingan Filipina (PCC) oleh Filipina Competition Act (PCA),” kata PCC lagi.

Kajian ini mencakup determinasi pasar yang bersangkutan, apakah akan ada perubahan yang signifikan terhadap struktur pasar, dan dampak potensial dari transaksi pada kesejahteraan masyarakat. Kajian ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa transaksi pada akhirnya akan menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan bagi masyarakat dengan tidak membatasi persaingan.

Globe dan PLDT sepakat untuk mengakuisisi masing-masing 50% aset telekomunikasi SMC pada bulan Mei 2016 senilai 52.85 miliar peso atau setara €1.02 miliar. Perjanjian termasuk spektrum yang dimiliki oleh anak perusahaan SMC.

Globe dan PLDT telah mengirimkan kembali notifikasi merger mereka ke PCC bersama dengan yang baru, lapor GTB, Selasa (21/6).

“Kami menilai pengajuan baru dari para pihak, dan berdasarkan totalitas informasi yang tersedia, termasuk pernyataan publik yang dibuat oleh para pihak, kami yakin ada dasar untuk melakukan kajian ini,” kata PCC, Jumat.

Penyelidikan ini akan memeriksa apakah kesepakatan SMC akan menyebabkan perubahan signifikan terhadap struktur pasar ponsel di Filipina.

Telkomsel Tolak Di sebut Monopoli

0

Telko.id – ‘Perseteruan’ antara Indosat Ooredoo dan Telkomsel masih terus hangat. Operator nomor satu di Indonesia yang memiliki pelanggan lebih dari 153 juta pelanggan itu, dengan tegas menolak di sebut telah melakukan monopoli.

“Penguasaan pasar oleh Telkomsel di luar Pulau Jawa diraih melalui sebuah proses yang panjang dan jatuh bangun yang luar biasa sejak berdirinya di tahun 1995. Semangat membangun hingga ke pelosok merupakan semangat yang dimiliki oleh Telkomsel untuk menyatukan nusantara, dimana pada saat itu operator lain lebih fokus membangun di Pulau Jawa dan kota besar yang secara bisnis lebih menguntungkan,” kata Adita Irawati, Vice President Corporate Communications Telkomsel, dalam statemen holding tertulis yang diterima oleh redaksi.

Perkembangan industri telekomunikasi di tanah air saat ini semakin kompetitif, dimana setiap operator terus berlomba untuk memberikan produk dan layanan dengan kualitas terbaik kepada pelanggannya untuk memenangkan pasar. Hal ini pun terus mendorong Telkomsel untuk melakukan berbagai inovasi dari sisi produk dan layanan, serta terus membangun jaringannya hingga ke seluruh pelosok Indonesia.

Terlebih lagi lokasi-lokasi pembangunan jaringan di luar pulau Jawa memiliki pasar yang tidak besar, dan pada saat yang bersamaan CAPEX yang dikeluarkan sangat besar. Begitu pula ketika dioperasikan, juga lebih mahal karena biaya produksi dan operasional jauh lebih tinggi dibandingkan di Pulau Jawa.

Namun Telkomsel tetap membangun, karena hal ini merupakan bagian dari komitmen membangun di seluruh Indonesia yang juga sudah tertuang dalam Modern Licensing, seperti yang diamanatkan dalam UU Nomor 36/1999 tentang Telekomunikasi. Hingga saat ini Telkomsel merupakan satu-satunya operator yang berkomitmen untuk melakukan pembangunan infrastruktur telekomunikasi seluler hingga ke berbagai daerah pelosok, perbatasan dan pulau terluar Indonesia, guna membuka akses telekomunikasi bagi masyarakat Indonesia.

Hal ini dapat terlihat dari tergelarnya 116.000 BTS Telkomsel yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, dimana angka penambahan jaringan ini dilakukan secara konsisten dengan rata-rata sebesar 25% setiap tahunnya.

“Konsistensi pembangunan jaringan ke berbagai daerah ini sudah merupakan semangat Telkomsel dan ke depannya komitmen ini pun akan terus dijaga sehingga lebih banyak lagi masyarakat Indonesia di berbagai lokasi yang dapat menikmati layanan telekomunikasi yang berkualitas,” tutup Adita. (Icha)

Telstra akan Selimuti 135 Area Pedesaan di Australia dengan Small Cell

0

Telko.id – Menyusul rencana pemerintah Australia untuk meningkatkan cakupan seluler di sejumlah area pedesaan, operator Telstra akan berinvestasi dalam peluncuran small cell (sel kecil), di setidaknya 135 area pedesaan di negara tersebut.

Operator incumbent ini mengatakan pemerintah membuat pengumuman tentang small cell, tapi peluncurannya akan didanai oleh Telstra sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap proyek negara sebesar A$165 juta itu.

“Pengenalan layanan data 4G yang cepat melalui small cell di lokasi tersebut akan berarti bahwa warga akan dapat mengakses media sosial dan video on the go untuk pertama kalinya serta peningkatan peluang bagi bisnis lokal,” kata Managing Director Telstra untuk jaringan, Mike Wright, dalam sebuah pernyataan.

Ia menambahkan, rencana ini juga akan membuka pintu digital untuk menuju teknologi seperti Voice over LTE (VoLTE), yang akan, pada waktunya, memungkinkan pelanggan untuk membuat panggilan suara menggunakan 4G.

“Telstra bekerja sama dengan pemerintah untuk mengidentifikasi daerah yang akan menerima small cell dan akan terus melakukannya di masa depan, untuk menghadirkan teknologi itu ke daerah yang lebih terpencil,” tambah Wright.

Dalam tahap pertama program Mobile Black Spot yang didanai pemerintah ini, eksekutif Telstra mencatat bahwa perusahaan telah meningkatkan cakupan 3G dan 4G ke 429 daerah.

“Ketika kami mengajukan tawaran pada tahap pertama, tujuan inti kami adalah untuk memaksimalkan cakupan baru untuk masyarakat daerah, yang menjadi alasan mengapa kami membuat janji tambahan ini untuk memperluas layanan mobile data dengan biaya sendiri,” kata Wright.

Saat ini, Telstra telah mulai menghubungkan ke 429 daerah pertamanya.

Telstra telah menerbitkan daftar lengkap dari 135 lokasi yang akan menerima small cell. Mereka termasuk 41 komunitas di New South Wales, 31 di Queensland, 26 di Australia Selatan, 14 di Victoria, 10 di Tasmania, 8 di Northern Territory dan 5 di Australia Barat.

30 Aplikasi Solusi Desa Broadband Terpadu Siap Bertanding

0

Telko.id – Dari statistik yang dihimpun, di Indonesia terdapat 74.094 desa, dengan 26% di antaranya, atau sekitar 19.386 desa merupakan kategori tertinggal dan lokasi prioritas (lokpri). Sedangkan 43% di antara desa tertinggal tersebut, atau sejumlah 8.447 desa merupakan desa tertinggal dengan akses sinyal telekomunikasi yang sudah baik.

Kondisi tersebut diharapkan dapat dimaksimalkan untuk mengakselerasi perkembangan ekonomi desa dengan pendekatan digital sehingga mempercepat tercapainya kesejahteraan desa. Itu sebabnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika menjalankan program Solusi desa Broadband Terpadu yang mengajak para inovator muda di Indonesia untuk menghasilkan aplikasi digital tepat guna yang mampu membantu percepatan pembangunan desa tertinggal di seluruh pelosok negeri.

Beberapa masalah dasar yang menjadi sasaran adalah seputar mata pencaharian, akses layanan kesehatan, layanan keselamatan dan layanan kenyamanan. Dan, aplikasi tersebut akan diimplementasikan didaerah pertanian, perikanan dan pedalaman.

“Peralihan dari aktivitas ekonomi tradisional ke aktivitas ekonomi digital dipastikan selain akan meningkatkan kecepatan transaksi ekonomi juga akan meningkatkan efisiensi proses ekonomi. Oleh sebab itu masyarakat harus sesegera mungkin dikondisikan untuk menyambut era ekonomi digital tersebut,” ujar Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika dalam sambutan pada saat peluncuran program ini.

Saat ini, sudah ada 30 aplikasi dari peserta terbaik yang lolos tahap Penjurian Solusi Desa Broadband Terpadu, setelah melalui tahapan pengumpulan ide-ide untuk menemukan solusi desa broadband terpadu.

Sampai akhir masa pendaftaran, tercatat ada 238 Solusi Desa Broadband Terpadu yang masuk.

Setelah melalui tahapan penjurian yang ketat selama 2 minggu, juri SDBT tgl 11 Juni 2016 mengumumkan 30 nama peserta yang lolos.

Tim Juri yang melakukan seleksi merupakan para ahli di bidang Total Sulution, Application Ecosystem, Rural Expert, Application Architecture, Fisheries Expert, Agriculture Expert dan ICT Community Engagement. Penjurian dibagi dalam 3 kategori yaitu kategori nelayan, petani dan desa pedalaman.

Dari 3 kategori tersebut, peserta yang lolos kategori Nelayan terdapat 9 tim, kategori pedalaman 6 orang dan kategori petani 15 peserta. Tim yang lolos berasal dari berbagai Propinsi di Indonesia, seperti perwakilan Kab Jeneponto, Kota Medan, Prov Sumatera Selatan dan lainnya.

Berikut 30 Tim yang terpilih:

Desa Pedalaman

  1. Hukaku (Hutanku Kantorku)
  2. Nusantara Beta Studio
  3. Postmo-care
  4. SES
  5. SOS DESAKU
  6. X-Igent

Desa Petani

  1. 8 Village, Petani
  2. BISO
  3. E-TaniPintar
  4. igrow
  5. iKiosk
  6. Jejaringnet
  7. KulDesaK
  8. Layer Farm
  9. lelanik.tk
  10. MyAgri Mobile Learning for Farming
  11. Panen.id
  12. Second Vision Corp
  13. SILAT MEDAN IT
  14. Situbondo Smart
  15. SmartVillage

Desa Nelayan

  1. 8 Village, Nelayan
  2. AngsuCorp
  3. e-Fishery
  4. ePustaka/ Mfish
  5. JukuTech Sahabat Pulau
  6. Senusa ID
  7. SINGA LAUT
  8. Smart Fisherman
  9. Smart-Fhisery

Selanjutnya, tim yang sudah lolos seleksi akan mengikuti workshop dan diberikan gambaran tentang lokasi pilot program implementasi SDBT yakni di Desa Meskom (Riau), Desa Panca Karsa (Gorontalo), dan Kelurahan Fatukbot (NTT). Setelah itu akan diberikan waktu untuk melakukan penyempurnaan ide dan pengembangan aplikasi yang telah dibuatnya. Usai itu, akan masuk boothcamp untuk mendapatkan mentoring. Baru dilanjutkan dengan pembuatan prototype yang akan dipresentasikan pada saat final pada awal Juli mendatang. (Icha)

Masih Banyak Masyarakat yang Tidak Terkoneksi Internet, Benarkah?

Telko.id – Berdasarkan penelitian dari Wireless Broadband Alliance, disoroti mengenai ketersediaan konektivitas broadband tidak lagi menjadi tantangan untuk daerah pedesaan. Sebab, penelitian tersebut mengemukakan bahwa 57% penduduk perkotaan di dunia saat ini juga tidak terhubung dengan broadband.

Inisiatif untuk meningkatkan jumlah orang yang memiliki koneksi yang konsisten untuk internet telah difokuskan di sekitar masyarakat pedesaan, namun laporan itu menunjukkan masih ada sejumlah kota di negara barat yang memiliki angka koneksi lebih sedikit ketimbang yang diharapkan.

Dilaporkan Telecoms (21/6), Penelitian yang diluncurkan bertepatan dengan Hari Wifi Dunia pada 20 Juni, menunjukkan New York dan Los Angeles saat ini memiliki 27% dan 25% dari populasi mereka yang digolongkan dalam kategori ‘Urban Broadband Unconnected’. Selanjutnya ada Shanghai yang menjadi kota lain di mana persentase warga perkotaan yang tidak terkoneksi tampaknya lebih tinggi yakni pada 42%.

Seperti diketahui,  New York, Los Angeles dan Shanghai bisa dilihat sebagai kota berteknologi maju, jumlah tinggi dari warga yang tidak terkoneksi dapat dikaitkan dengan keragaman kekayaan dan kemakmuran. Laporan tersebut juga mengklaim angka tersebut dikarenakan alasan broadband tidak yang tersedia di lingkungan tertentu, serta harga broadband yang masih sulit dijangkau.

Sementara ini hampir pasti akan dianggap sebagai ‘masalah dunia pertama’, mungkin ada dampak potensial pada masyarakat di daerah lain, misalnya politik, karena lebih banyak komunikasi bergerak secara online, khususnya media sosial.

CIA World Fact Book menyebutkan bahwa Amerika Serikat sebagai salah satu negara paling makmur di dunia, dengan akuntansi GDP sebesar USD 55.800 per kapita, yang membuat statistik yang diambil dari dua kota terkemuka tadi menjadi lebih mengejutkan, meskipun tidak memberikan kejelasan kepada persentase tinggi lainnya di negara Super Power tersebut. Sedangkan Lagos dan Karachi adalah dua dari kota yang menunjukkan jumlah tertinggi warga perkotaan yang tidak terkoneksi dengan masing-masing 88% dan 86% meskipun PDB per kapita mereka terdaftar di USD 6.100 dan USD 5.000, dan dua negara yang telah biasanya terkait dengan kerusuhan politik.

“Ada kesenjangan yang jelas antara si kaya digital dan si miskin digital miskin dan hal ini pada umumnya mencerminkan tren sosial ekonomi di seluruh dunia, cukup mengherankan dengan banyaknya warga yang tidak terkoneksi di kota-kota besar tadi,” ucap Shrikant Shenwai, CEO dari Wireless Broadband Alliance.

“Hari Wifi Dunia (20 Juni) adalah kesempatan untuk mengakui kontribusi yang dibuat untuk membantu menghubungkan masyarakat yang tidak terkoneksi di seluruh dunia, apakah mereka berada di kota-kota besar atau masyarakat pedesaan,” tambah Shenwai.

Laporan ini mengevaluasi 18 dari kota terkemuka termasuk Tokyo, Dusseldorf, New Delhi, Johannesburg dan London, yang terdaftar sebagai kota yang paling terhubung karena hanya 8% dari populasi yang tidak terhubung saat ini. Eropa adalah benua yang paling terhubung dengan menunjukkan tingkat terendah warga yang tidak terkoneksi pada angka 17%, sedangkan di Asia Pasifik 68% warga perkotaan yang tidak terkoneksi.

Lewat Blibli.com, Mums and Babes Resmi Masuk Indonesia

0

Telko.id – Belanja online semakin dirasakan sebagai solusi praktis khususnya bagi masyarakat modern dewasa ini. Termasuk diantaranya para wanita, yang saat ini semakin bisa mengaktualisasi diri melalui pekerjaan serta keluarga barunya. Mereka dituntut untuk terampil mengatur waktu, dan berbelanja online adalah salah satu solusinya.

Segmen perempuan, salah satunya ibu, memang bisa dibilang memiliki kontirbusi yang cukup signifikan terhadap bisnis e-commerce. Dari 15 kategori yang ada, kategori Ibu dan Anak menempati posisi tiga besar di Blibli.com, disamping gadget dan elektronik,” kata Fransisca Krisantia Nugraha, Trade Partnership General Manager Blibli.com.

Berangkat dari fakta tersebut, tak mengherankan jika Blibli.com kemudian dianggap sebagai mitra yang tepat bagi Mums & Babes Pte Ltd untuk melebarkan sayapnya di Indonesia. Melalui kemitraan itu, Mums and Babes hadir sebagai official online store di Blibli.com dan akan menyediakan beragam perlengkapan ibu dan anak berkualitas dari berbagai brand terkemuka seperti Beaba, Recaro, Como tomo, Bross, Mimijumi, Topfer dan brand global lainnya.

Mums & Babes sendiri merupakan penyedia beragam produk perlengkapan ibu dan anak, yang berdiri di Singapura sejak 2001 silam. Seiring dengan semakin banyaknya permintaan, perusahaan pun memperluas jaringan pemasaran lewat situs online.

Kami melihat Blibli.com sebagai situs online terpercaya dengan coverage layanan yang luas ke seluruh Indonesia, sehingga kerjasama ini akan mendukung distribusi Mums and Babes, bahkan hingga ke pelosok daerah dimana toko offline kami tidak ada,” ungkap Gunawan Tjakrakusuma, Direktur PT Utama Global Persada (Mums and Babes Indonesia).

Gunawan menambahkan, sebagai situs lokal asli Indonesia, Blibli.com memahami karakteristik konsumen online tanah air dan dapat merangkul segmen konsumen yang sama dengan Mums and Babes. “Ini membuat kami percaya untuk bekerjasama dengan Blibli.com dan mengembangkan potensi e-commerce di Indonesia,” katanya.

Sementara itu bagi Blibli.com, kemitraan dengan Mums and Babes dipercaya akan semakin memberikan banyak pilihan bagi konsumen, khususnya para ibu yang setiap harinya tak hanya disibukkan oleh pekerjaan tetapi juga keluarga. “Para Ibu akan dimanjakan oleh cara belanja online yang didukung fasilitas-fasilitas yang disediakan Blibli.com,  mulai dari bebas biaya pengiriman (free shipping), beragam cara pembayaran, cicilan 0% seua produk, dan jaminan kualitas,” tambah Fransisca.

Selain menggandeng Blibli.com untuk menjadi channel eksklusif untuk memasarkan produk-produknya secara online, Mums and Babes juga berencana untuk membuka dua outlet di Indonesia, tepatnya di Jakarta, hingga akhir tahun ini.