spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1423

Pemerintah Usulkan Perubahan Penggunaan Frekuensi 2.3 GHz

0

Telko.id – Pemerintah dalam hal ini Kominfo akan melakukan perubahan penggunaan spektrum frekuensi radio pada pita frekuensi radio 2.3 GHz. Dengan Memperhatikan ketentuan Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.

Menurut Ferdinandus Setu, Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Konsultasi publik RPM Perencanaan Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio pada Pita Frekuensi Radio 2.3 GHz perlu dilakukan dengan alasan, untuk pencegahan terjadinya saling mengganggu, efisiensi dan ekonomis, perkembangan teknologi, dan kebutuhan spektrum frekuensi radio di masa depan. Termasuk juga dalam rangka rencana pengurangan 100 Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika, Kementerian Kominfo.

Adapun yang dilakukan oleh Kominfo ini adalah menggabungkan, mengubah, dan mencabut 4 (empat) Peraturan Menteri. Pertama Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 08/PER/M.KOMINFO/01/2009 tentang Penetapan Pita Frekuensi Radio untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband) pada Pita Frekuensi Radio 2.3 GHz. Kedua, Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 19 Tahun 2011 tentang Penggunaan Pita Frekuensi Radio 2.3 GHz untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband) Berbasis Netral Teknologi.

Peraturan ketiga yang digabung adalah Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 29 Tahun 2012 tentang Prosedur Koordinasi Penggunaan Pita Frekuensi Radio 2.3 GHz untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband) Berbasis Netral Teknologi.

Dan keempat adalah Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 28 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 08/PER/M.KOMINFO/01/2009 tentang Penetapan Pita Frekuensi Radio untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband) pada Pita Frekuensi Radio 2.3 GHz.

Lalu, rencananya penggunaan dari frekuensi 2.3 GHz untuk pemanfaatan moda time division duplexing(TDD) berbasis netral teknologi. Pembagiannya, rentang frekuensi radio 2300-2360 MHz untuk keperluan layanan jaringan bergerak seluler dengan cakupan layanan nasional. Rentang frekuensi radio 2360-2390 MHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband) dengan cakupan layanan berbasis zona dan rentang frekuensi radio 2390-2400 MHz untuk keperluan kewajiban pelayanan universal telekomunikasi.

Untuk itu diperlukan koordinasi dalam penggunaan pita frekuensi radio 2.3 GHz. Yang pertama perlu melakukan koordinasi penggunaan pita frekuensi radio 2.3 GHz dengan negara tetangga yang dilakukan melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika.

Selain itu juga perlu koordinasi penggunaan pita frekuensi radio 2.3 GHz untuk keperluan layanan jaringan bergerak seluler dan koordinasi untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband).

Koordinasi juga diperlukan untuk penggunaan pita frekuensi radio 2.3 GHz antar penggunaan untuk layanan jaringan bergerak seluler dengan penggunaan untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel (wireless broadband).

Untuk menanggapi Rancangan Peraturan Menteri dimaksud, masyarakat bisa memberikan masukan dari tanggal 16 sampai dengan 21 Oktober 2018 melalui email muht005@kominfo.go.idsiti008@kominfo.go.idkama001@kominfo.go.id, dan lign001@kominfo.go.id. (Icha)

GO-JEK Dorong UMKM Naik Kelas Lewat ‘GO-JEK Wirausaha’

0

Telko.id – Digitalisasi merupakah salah satu alternatif untuk UMKM naik kelas.  Setidaknya dapat mengakselerasi usaha nya ke pasar yang lebih luas lagi dengan lebih efektif. Sayangnya, dengan skala kecil menengah ini, upaya digitalisasi tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu juga ‘bantuan’ dari pengusaha besar untuk membentuk ekosistem yang bersahabat dengan pengusaha kecil menengah. Seperti yang dilakukan oleh GO-JEK. Perusahaan rintisan ini menggelar kegiatan GO-JEK Wirausaha di Purwokerto.

Target dari event ini adalah membantu para pengusaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Purwokerto supaya bisa meningkatkan skala bisnisnya usaha dan memperluas pasar mereka melalui teknologi.

“Sejak GO-JEK hadir di Purwokerto tahun 2017, kami berkomitmen meningkatkan perekonomian di Purwokerto. Komitmen ini kami wujudkan melalui akses bagi para pekerja sektor informal dan UMKM untuk mendapatkan penghasilan tambahan dan perluasan pasar. Melalui program GO-JEK Wirausaha, kami memperkuat komitmen tersebut dengan memberikan pelatihan, bukan hanya bagi para UMKM namun juga para calon wirausaha mandiri agar mereka bisa lebih maju lagi,” kata Delly Nugraha – SVP Central Region GO-JEK menjelaskan.

Acara yang digelar di Oemah Daun Cafe & Resto, Purwokerto bersama Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) dan Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Satria Banyumas ini disambut antusias oleh UMKM. Setidaknya ada 200 pengusaha UMKM menghadiri nya.

GO-JEK Wirausaha adalah program pelatihan berbisnis yang diberikan oleh GO-JEK kepada pelaku industri UMKM dalam bentuk kelas tatap muka. Purwokerto menjadi kota ketiga setelah Kota Depok dan Kota Tangerang Selatan. Dengan pelatihan di Purwokerto ini, maka sudah terdapat hampir 400 pelaku UMKM se-Indonesia yang sudah mengikuti program GO-JEK Wirausaha sehingga menjadi #WirausahaNaikKelas.

Materi yang diajarkan di GO-JEK Wirausaha mulai dari perencanaan bisnis hingga mengelola keuangan yang baik sebagai fundamental membangun bisnis.

“Mereka yang ingin memulai usaha banyak terkendala dengan berbagai macam halangan, terutama mentalitas dan kemampuan dasar berbisnis. Oleh karena itu disini mereka akan belajar untuk berani dan cerdas dalam memulai bisnis.” tambah Delly.

Selain belajar bersama tentang kemampuan fundamental dalam berbisnis, peserta pelatihan yang sudah memiliki bisnis dapat langsung mendaftarkan usahanya ke dalam platform GO-FOOD dan GO-PAY. Hal ini agar para pelaku UMKM bisa langsung memasarkan, menjual, dan mengembangkan usahanya secara digital.

Berdasarkan riset yang diterbitkan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) pada tahun 2017 menemukan bahwa GO-JEK telah berkontribusi sebesar Rp 1.7 triliun per tahun untuk perekonomian Indonesia melalui penghasilan mitra UMKM. Para mitra UMKM ini pun mengalami peningkatan volume penjualan sebesar tiga kali lipat setelah mereka bergabung di GO-FOOD.

Program ini pun tentu menjadi ‘angin’ segar bagi para UMKM di Purwokerto. Tak heran, Bupati Banyumas, Achmad Husein pun menyambut baik inisiatif GO-JEK untuk membantu UMKM di Purwokerto meningkatkan skala bisnisnya.

Pernyataan serupa diamini oleh Ketua II Induk Koperasi An-Nisa Muslimat NU (Inkopan MNU), Dara Eriza Iswari. “Kami melihat ilmu yang diberikan sangat bermanfaat dan besar harapan Kami kegiatan ini dapat direspon positif juga oleh Primkopan (Primer Koperasi An-Nisa) khususnya Pengurus Cabang Muslimat NU Banyumas”, kata Dara. (Icha)

‘Gemerlap’ nya Startup Indonesia

0

Telko.id – Pemerintah ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Digital Economy terbesar di Asia Tenggara dan menciptakan 1.000 technopreneurs baru pada dengan valuasi bisnis USD 10 miliar pada tahun 2020.

Mungkin ada orang yang ‘mencibir’ dengan target pemeritah itu. Tapi jangan salah, Indonesia ini memiliki potensi yang luar biasa. Bayang kan saja, dua tahun lalu, orang yang berbelanja online baru 7,4 juta jiwa dengan transaksi Rp 48 triliun. Tahun lalu, angka itu naik menjadi 11 juta dengan total transaksi Rp 68 triliun. Meski belum diketahui persisnya, taksiran total transaksi tahun ini mencapai Rp 95,48 triliun.

Nyatanya, perkembangan ekonomi digital melampaui daya ramal manusia. Praktik e-commercedalam bentuk iklan jual-beli, retail, hingga mal online menanjak cepat. Tahun ini, nilai transaksinya diperkirakan mengambil 3,1 persen pasar retail. Transaksi melalui teknologi finansial atau fintechmenyentuh Rp 252 triliun, yang sebagian besar berasal dari pembayaran digital. Sedangkan e-travel, yang diwakili bisnis mobilitas dan perjalanan, menyumbang Rp 105,798 triliun pada tahun ini.

Bahkan Tempo memprediksikan pada 2020 yang akan datang, valuasi bisnis digital akan mencapai  Rp 135,364 triliun. Dengan Prediksi Nilai Transaksi 2020 sebesar Rp 1.759 triliun.

Angka-angka itu baru dari perdagangan online atau e-commerce. Tak aneh bila perkembangan perusahaan rintisan berbasis digital alias startup menarik perhatian pemerintah. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara masih ingat, dua tahun lalu, ia tanpa pikir panjang menyebut bakal ada lima unicorn di Indonesia pada 2019. “Waktu itu saya ditanya petinggi-petinggi perusahaan modal ventura di Silicon Valley, Amerika Serikat,” kata Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika beberapa waktu lalu. “Saya jawab saja lima. Gak tau dari mana.”

Untuk mencapai target itu memang Indonesia, dalam hal ini pemerintah perlu banyak ‘campur tangan’. Ekosistem yang dibuat agar mendukung pertumbuhan tersebut. Itu sebabnya, pemerintah pun membuat berbagai inisiatif.

“Kami memiliki ribuan startup yang telah melalui proses inkubasi dan akselerasi. Target kami di tahun depan, setidaknya kami sudah memiliki 5 unicorn. Jadi itulah mengapa pemerintah bertindak sebagai match-maker, bukan hanya pemerintah, tetapi juga dengan ekosistem dengan orang-orang di dalamnya, misalnya bersama dengan pendiri unicorn itu sendiri,” paparnya. 

Setidaknya, saat ini ada empat dukungan yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Pertama, pemerintah itu sudah diwujudkan dalam reformasi kebijakan dan sudah ada 16 paket kebijakan ekonomi sejak tahun 2015. Kedua, saat ini  pemerintah tengah gencar membangun infrastruktur. Ketiga, pemerintah juga telah melakukan reformasi fiskal bagi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Dan keempat, Indonesia melakukan reformasi hukum bagi kemudahan berusaha dan investasi.

“Saat ini waktu yang tepat karena, pertama, reformasi regulasi, kemudian pembangunan infrstruktur paling gencar dilakukan dalam sejarah Indonesia, reformasi fiskal dan hukum untuk kemudahan berusaha dan investasi,” ujar Rudiantara pada pembukaan Konvensi Internasional Next Indonesia Unicorn (NextIcorn): Digital Paradises Weekend.

Rudiantara pun optimis Indonesia menjadi negara yang tepat buat para investor menanamkan modal. Menurut Data dari Asia Business Outlook Survey 2017, The Economist Corporate Network 2017, Indonesia juga ternyata berada diposisi ke-3 dalam kesediaan investor menambahkan investasi setelah Tiongkok dan India. Kondisi seperti itu  akan membuat keyakinan investor untuk menanamkan modal di Indonesia.

Konvensi Internasional NextIcorn

Insiasi lain yang dibuat oleh pemerintah adalah menggelar Konvensi Internasional NextIcorn. Targetnya adalah mempertemukan mempertemukan perusahaan berbasis teknologi atau start up digital potensial dan terkurasi di Indonesia dengan venture capital global.

“KIta menyediakan platform yang dapat mempertemukan perusahaan berbasis teknologi atau start up digital potensial dan terkurasi di Indonesia dengan venture capital global. Tujuannya mempersingkat proses berinvestasi dengan menyediakan investor yang serius dari seluruh dunia dengan start-up Indonesia agar mudah menjadi unicorn,” jelas Rudiantara.

Di mana, pada NextICorn konvensi kali secara eksklusif mengundang para investor paling terkemuka dari pasar-pasar utama di seluruh dunia untuk berinteraksi dengan para pengusaha terkemuka Indonesia, investor teknologi lokal, dan perwakilan pemerintah di Bali.

Event ini terbukti ampuh. Pasalnya, pada NextICorn yang terakhir diadakan pada Mei 2018 lalu telah berhasil menciptakan permintaan lebih dari 2.000 permintaan pertemuan antara investor dan perusahaan yang dikurasi.

“Di mana 1.035 pertemuan berhasil difasilitasi hanya dalam waktu 1,5 hari. Kami telah mencatat 294 tindak lanjut sejak acara tersebut dengan beberapa yang telah diubah menjadi transaksi,” jelas Rudiantara.

Kali ini tercatat lebih dari 125 investor dan pemodal ventura hadir di event ini, dengan jumlah pertemuan yang diajukan mencapai lebih dari 3200 pertemuan. Lebih tinggi dibandingkan dengan pertemua sebelumnya. Tentu harapannya, tindak lanjut dari pertemuan tersebut juga berubah jadi transaksi.

Menariknya, NexICorn International Convention 2018 ini dihadiri oleh Top-Tier pemodal ventura dan investor global. Panitia begitu selektif hingga yang bukan Principle dan Partner ditolak!.

“Kita tidak terima kalau bukan Principle dan Partner. Gaungnya startup Indonesia sudah membuat VC dunia mau hadir datang langsung ke sini,” ungkap Lis Sutjiati, Deputy to the Chairman for NextICorn Strategy Formulation Coordination.

Jadi yang hadir untuk melakukan pertemuan setingkat dengan para startup adalah tingkat partner dan principle.

Namun, startup di Indonesia juga dipersiapkan agar memang layak bertemu dengan para calon partner maupun principle.

“Di Kominfo sendiri saya lihat sebagai pengamat juga memainkan perannya sudah sangat tepat. Kalau kita tempatkan posisi sebagai investor, ada banyak banget yang bikin startup. Harus ada proses kurasi untuk menemukan potensinya, seperti yang kita jalankan di Nexticorn ini. Jadi sebagai investor, cari startup tuh setengah mati di Indonesia. Dari sudut pandang startup juga sama, sangat-sangat buta. Program ini biar perusahaan punya brosur (compendium) yang bisa mudah dicerna, jadi proposalnya bisa paling atas di mejanya investor,” jelas Daniel Brand Ambassador NextICorn juga juga sebagai pengamat startup.

Indonesia ‘Surga’ nya Investor

Berdasarkan pengamatan Kementerian Komunikasi dan Informastika yang disampaikan oleh Menteri Kominfo Rudiantara optimistis Indonesia ada lima faktor yang menjadi penarik minat investasi di Indonesia.

Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 10 tahun terakhir relatif stabil. Kedua, Indonesia memiliki kepercayaan yang tinggi dari para investor untuk berinvestasi. Ketiga,terjadi peningkatan signifikan dalam lingkungan peraturan seperti kemudahan berusaha. Keempat,  indonesia memiliki prospek sebagai negara ekonomi terbesar ke-5 di dunia tahun 2030.

“Kelima, di tahun 2030 juga Indonesia akan menembus angka 135 juta kelas konsumen. Terakhir, ditahun 2030 Indonesia memiliki 180 juta penduduk usia produktif,” tuturnya.

The Next Unicorn: HealthTech dan EduTech

Indonesia dengan jumlah penduduk dan penetrasi internet yang tinggi memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi digital. Apalagi terdapat Dua sektor yang memiliki potensi besar yaitu basis pendidikan atau edutech dan kesehatan atau healthtech. 

“Dua sektor tersebut memiliki potensi untuk digarap oleh startup digital dan modal ventura karena dana pemerintah yang digelontorkan ke sektor tersebut sangat besar,” ungkap Rudiantara.

Potensi sektor pendidikan menurut Rudiantara sangat besar, jika dibandingkan dengan APBN angkanya bisa mencapai Rp10 Triliun. “Apalagi untuk menjadi startup unicorn, kuncinya ada di pendidikan. Dalam APBN, 20% harus dialokasikan ke sektor ini. Tahun ini, anggaran pendidikan sekitar Rp 400 triliun. Dari angka itu, jika pendapatan yang diraih hanya 2%, nilainya sudah mencapai Rp 10 triliun,” paparnya.

Selain sektor pendidikan, menurut Menteri Kominfo, undang-undang juga mewajibkan pemerintah mengalokasikan APBN sebesar 5% ke sektor kesehatan. Dengan Rp 100 triliun anggaran pemerintah untuk kesehatan, maka jika 2% yang didapat, nilainya sudah Rp 2 triliun. ”It’s a big value, ” jelasnya.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital, Menteri Rudiantara mengaku, pemerintah akan terus mengurangi fungsi regulator dan lebih menonjolkan fungsi fasilitator dan akselerator.

“Less of a regulator, more of a facilitator, even more of an accelerator,” katanya.

Dengan dukungan oleh pemerintah itu, Rudiantara yakin, Bali akan menjadi acuan pengembangan ekonomi digital selain Beijing (China), Bangalore (India), dan Silicon Valey (AS). (Icha)

 

 

 

Belum Sebulan Dirilis, Adopsi iOS 12 Capai 50 Persen

Telko.id, Jakarta – Terhitung sejak kamis (11/10), sudah 50% produk Apple seperti iPhone dan iPad telah mengadopsi iOS 12.  Ini artinya, setengah dari produk Apple telah memakai sistem operasi terbaru dari perusahaan. Menariknya, iOS 12 sendiri baru dirilis kurang dari sebulan.

Dilansir Telko.id dari PhoneArena, setelah dua hari dirilis, baru sekitar 10,4% produk yang melakukan pembaruan. Namun dua minggu setelahnya terjadi pertumbuhan yang signifikan sebesar 46% dan sekarang sudah mencapai 50%.

Prestasi iOS 12 ini tampaknya setara dengan pendahulunya, iOS 10. Saat dirilis pada Oktober 2016 lalu, sistem operasi Apple ini sudah digunakan di hampir 60% perangkat. Bandingkan dengan iOS 11, yang membutuhkan waktu hingga 1,5 bulan sejak peluncuran, untuk mencapai tingkat adopsi 50%.

Baca Juga : Dua Minggu Rilis, Adopsi iOS 12 Kalahkan iOS 11

Mengenai tingkat pemasangan perangkat iOS, seri iOS 11 mengalami penurunan pada awal September dari 85% menjadi 39% pada 10 Oktober 2018. Demikian pula pada produk iOS lainnya yang duduk di angka 11%. Sedangkan sisanya adalah 50% produk Apple sudah memiliki iOS 12.

Tidak seperti versi terbaru dari sistem operasi, iOS 12 berkonsentrasi terutama pada peningkatan kinerja untuk semua perangkat yang berasal dari iPhone 5S seri tahun 2013. Faktor itu yang membuat  pengguna iPhone dan iPad melakukan pembaruan menjadi iOS 12 dari perangkat sebelumnya.

Baca Juga : Bug iOS 12 Bikin iPhone Xs Rentan Dihack

iOS 12 memulai debutnya pada 17 September dengan memperkenalkan iPhone XS dan XS Max. Perubahan terbesar pada perangkat lunak ini adalah fitur Memoji baru, peningkatan penanganan notifikasi, perubahan fitur Do Not Disturb dan aplikasi Measure.

Apple juga menambahkan fitur pengawasan orang tua dan fitur Screen Time yang memungkinkan pengguna memantau penggunaan perangkat anak-anak atau diri sendiri.

Pengguna iPhone awalnya sempat enggan memasang iOS baru lantaran banyak ditemukan bug dalam iOS 12 versi sebelumnya. Bug tersebut memungkinkan hacker untuk bypass passcode iPhone dan berpotensi mengambil data-data pribadi pengguna.

Baca Juga : iOS 12 Dirilis, Apple Langsung Ubah Panduan Keamanannya

Kasus itu pertama kali ditemukan oleh Jose Rodriguez, yang memperlihatkan bug iOS 12 dalam video yang tersebar di YouTube. Dalam video ditunjukkan, untuk bypass passcode iPhone, dibutuhkan penggunaan fitur Siri, yakni VoiceOver.

Ketika VoiceOver aktif, hacker cukup menggunakan ponsel lain untuk memanggil nomor ponsel dan mengirim pesan ke iPhone yang ingin di-bypass. Kemudian, dengan beberapa trik lain, mereka bisa mengakses kontak dan foto pengguna.

Bug keamanan tersebut bisa diterapkan di iPhone apapun yang berjalan di iOS 12, termasuk iPhone XS dan iPhone XS Max. Apple pun memperbaiki bug itu dalam pembaruan sistem iOS 12.1 Beta yang mungkin akan dirilis tak lama lagi. [NM/IF]

Sumber : PhoneArena

Sumber : Telset

10 Perubahan Penting Dibalik Strategi Huawei Kembangkan Artificial Inteligent

0

Telko.id – Huawei memprediksi bahwa pada tahun 2025, di dunia akan terdapat lebih dari 40 miliar smart device, dan 90% nya sudah memiliki fasilitas smart digital assistant. Pemanfaatan data pada saat itu akan mencapai 86% dan yang menyediakan adalah layanan Artificial Inteligent atau AI. Hal itu yang menurut perusahaan teknologi asal Cina ini bahwa AI akan mengubah semua industri dan organisasi yang ada di dunia.

Tak pelak, Huawei pun merasa perlu untuk memperdalam lagi teknologi yang dimilikinya berkenaan dengan AI ini.

Huawei Rotating Chairman Eric Xu, menjelaskan semua scenario strategi AI Huawei ini dalam HUAWEI CONNECT 2018 beberapa waktu lalu.

Dalam penjelasannya, Huawei melihat bahwa ada 10 poin yang akan menjadikannya inspirasi di balik strategi AI-nya. Perubahan tersebut yang akan membantu membuka jalan menuju masa depan AI yang lebih baik. Kesepuluh poin tersebut adalah:

  1. Pelatihan model yang lebih cepat
  2. Daya komputasi yang melimpah dan terjangkau
  3. Penerapan AI dan privasi pengguna
  4. Algoritme baru
  5. Otomatisasi AI
  6. Aplikasi praktis
  7. Sistem real-time, closed-loop system
  8. Sinergi multi-teknologi
  9. Platform support
  10. Talent availability

Sebagai langkah pertama dalam menjalankan strategi nya itu, Huawei akan melakukan investasi dalam basic research dan talent development, lalu membangun portofolio AI yang lengkap, membuat skenario AI dan menumbuhkan ekosistem global terbuka.

“Secara internal, kami akan terus mengeksplorasi cara-cara untuk meningkatkan manajemen dan efisiensi dengan AI. Sedangkan di sektor telekomunikasi, kami akan mengadopsi SoftCOM AI untuk membuat jaringan O&M lebih efisien,” ujar Eric Xu.

Di pasar konsumen, Eric menyatakan bahwa ada HiAI yang akan membawa kecerdasan sejati ke perangkat konsumen dan menjadikannya lebih pintar dari sebelumnya. Ditambah juga ada layanan cloud publik Huawei EI dan solusi cloud pribadi FusionMind yang akan memberikan kekuatan komputasi yang melimpah dan terjangkau untuk semua organisasi – terutama bisnis dan pemerintah – dan membantu dalam menggunakan AI dengan lebih mudah.

“Portofolio kami juga akan mencakup kartu akselerasi AI, server AI, alat AI, dan banyak produk lainnya,” ungkap Eric.

Chipset Khusus AI

Sebagai bagian penting dari langkah strategi nya dan juga untuk memenuhi portofolio AI yang lengkap, Huawei meluncurkan Ascend AI IP dan seri chip, seri IP dan chip AI pertama di dunia yang secara alami melayani semua skenario, memberikan TeraOPS per watt yang optimal.

Serangkaian Ascend tersebut memberikan kinerja yang sangat baik per watt di setiap skenario, apakah itu konsumsi energi minimum atau daya komputasi maksimum di pusat data. Arsitektur terpadu nya juga akan mempermudah penerapan, migrasi, dan interkoneksi aplikasi AI di berbagai skenario.

Chip Ascend 910 dan Ascend 310, yang diumumkan tersebut, menandai kemampuan AI terdepan Huawei di level chip – lapisan bawah tumpukan. Chipset ini juga dijanjikan akan sangat membantu mempercepat adopsi AI di semua industri. (Icha)

Menteri KKP Resmikan Aplikasi “Laut Nusantara” Untuk Nelayan Indonesia

Telko.id – Para nelayan Indonesia agar mampu menangkap ikan lebih banyak lagi dan tetap terjaga keamanannya membutuhkan alat bantu. Balai Riset dan Observasi Laut (BROL), Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan XL Axiata berkolaborasi melahirkan aplikasi digital bernama “Laut Nusantara” yang bisa membantu meningkatkan produktivitas dan keamanan kerja masyarakat nelayan Indonesia.

Dan boleh berbangga karena aplikasi berbasis Android yang 100% buatan Indonesia. Data-data yang disajikan pun mendapatkan dukungan data kelautan yang sahih dan real time.

Sebenarnya, beberapa waktu aplikasi ini sudah diperkenalkan pada komunitas nelayan. Namun, baru sekarang diresmikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di tengah-tengah komunitas nelayan Bali di Jembrana, Rabu (10/10).

Launching ditandai dengan penyerahan secara simbolis tiga paket perangkat Laut Nusantara yang terdiri dari smartphone yang berisi aplikasi Laut Nusantara, sim card dengan paket data 1GB dan satu buku panduan penggunaan aplikasi Laut Nusantara kepada tiga nelayan Pengambengan, Bali.

“Aplikasi Laut Nusantara ini menyediakan berbagai informasi yang paling dibutuhkan oleh nelayan kecil, baik mengenai wilayah tangkapan, informasi sebaran ikan di pelabuhan, hingga kondisi cuaca di laut,” ujar I Nyoman Radiarta, Kepala BROL.

Menurutnya, aplikasi ini juga akan sangat bermanfaat bagi para nelayan kecil perorangan di seluruh wilayah Indonesia yang selama ini sangat mengandalkan hasil tangkapan untuk menopang kehidupan keluarganya sehari-hari. Informasi mengenai kondisi cuaca juga cukup lengkap yang akan menjadi panduan sekaligus peringatan bagi para nelayan untuk mempertimbangkan keselamatannya.

“Aplikasi “Laut Nusantara” ini dibangun selama kurang lebih 5 bulan. Ini adalah aplikasi untuk nelayan yang kedua diluncurkan oleh XL Axiata, setelah sebelumnya disebut aplikasi “mFish,” ujar Yessie D Yosetya, Direktur Teknologi XL Axiata.

Yang membedakan aplikasi “Laut Nusantara” dengan aplikasi sebelumnya adalah basis informasi yang lebih lengkap dan real time, serta sumber data sepenuhnya disuplai oleh data resmi dari BROL.

BROL sendiri merupakan satuan kerja pada Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mempunyai tugas dan fungsi  melaksanakan penelitian dan observasi sumber daya laut di bidang fisika dan kimia kelautan, daerah potensial penangkapan ikan, dan perubahan iklim, serta pengkajian teknologi kelautan.

Dalam riset kelautan yang dilakukan oleh BROL ini terdiri dari tiga pilar, yaitu research excellent, masyarakat industri dan education. Hasil keluaran riset harusnya bukan hanya berwujud tulisan, tapi implementasinya harus sampai pada masyarakat, terutama nelayan sehingga manfaatnya dapat dirasakan dengan nyata. Adanya peluncuran Laut Nusantara yang merupakan bentuk hilirisasi produk unggulan BROL ini, dapat dikatakan merupakan dukungan terhadap terwujudnya tiga pilar tersebut.

Data-data dari BROL juga up to date dan berdasarkan riset dan observasi laut di seluruh wilayah nusantara. Semua informasi kelautan yang terdapat dalam Aplikasi Laut Nusantara ini didapat secara langsung dari stasiun bumi Balai Riset dan Observasi Laut, sehingga tidak diragukan keakuratannya. Updating data dilakukan setiap tiga hari berdasarkan data dari satelit khusus.

Sementara itu, data yang bersifat prakiraan berdasarkan analisa data selama 20 tahun ke belakang. Tim XL Axiata dan BROL sebelumnya sudah melakukan penelitian dan survey ke sejumlah komunitas nelayan di berbagai daerah untuk mengetahui kebutuhan mereka terkait informasi seputar aktivitas penangkapan ikan.

Aplikasi “Laut Nusantara” sudah bisa dimanfaatkan sejak 30 Agustus 2018. Masyarakat nelayan di seluruh Indonesia bisa mengunduhnya di Play Store secara gratis melalui smartphone Android dengan menggunakan operator layanan data. Aplikasi ini bisa dipergunakan oleh nelayan saat melaut sejauh smartphone mereka masih bisa menangkap sinyal data dari operator.

Berdasarkan ujicoba di sejumlah daerah, aplikasi masih bisa dibuka hingga jarak 10 mil dari pantai. Jarak ini masih sangat relevan mengingat nelayan kecil, dengan perahu berjungkung dan bentuk perahu tradisional berukuran kecil lainnya memiliki daya jangkau rata-rata kurang dari 20 mil laut. (Icha)

 

 

Telkomsel dan Angkasa Pura II Implementasikan Digitalisasi Airport

0

Telko.id – Digitalisasi bandara sudah menjadi keharusan saat ini. Hanya saja, tidak bisa serta merta dapat diimplementasikan secara serentak. Angkasa Pura II bersama Telkomsel sudah memulainya. Kali ini untuk mengimplementasikan program Airport Community and Integrated Digital Airport di lingkungan bandara Angkasa Pura II. Kerjasama tersebut berupa pemanfaatan layanan produk telekomunikasi dan pembayaran berbasis digital (E- Payment) , dan solusi business lainnya.

Penandatangan dilakukan oleh Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah dan Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin di Hotel Club Med Nusa Dua, Bali kemarin (10/10).

Ririek mengatakan, “Kerjasama dengan Angkasa Pura II merupakan keseriusan kami dalam bersinergi dengan BUMN. Sinergi ini kami wujudkan dalam memberikan layanan produk telekomunikasi dan layanan pembayaran berbasis digital (e-payment) meliputi layanan paket data dan e-payment system di lingkungan bandara Angkasa Pura II.”

Selain itu, Ririek juga mengaku bahwa memberikan solusi layanan Telkomsel myBusiness Solution adalah untuk mendorong terwujudnya integrated airport di bandara Angkasa Pura II. Kerjasama ini sejalan dengan misi Telkomsel untuk membangun ekosistem digital Indonesia dengan platform Device, Network dan Application (DNA).

“Layanan yang akan segara kita digitalkan antara lain adalah e-payment system dengan TCASH dan e-parking. Dalam waktu dekat e-parking akan kita coba dahulu untuk parkir sepeda motor. Ditambah lagi teknologi Internet of Things (IoT) dari kami akan sangat membantu bisnis proses dalam segala bidang di lingkungan bandara. Untuk itu kami sangat senang dapat mendukung pengembangan smart airport ini,” lanjut Ririek.

Tahapan awal dari kerjasama ini antara lain penjualan paket data Telkomsel. Dalam seminggu ke depan akan dibangun booth Telkomsel di kawasan transit terpadu atau transit oriented development (TOD) di pintu M1 Bandara Soekarno Hatta yang akan menjual produk-produk Telkomsel. Akan dirancang juga produk-produk khusus untuk memudahkan dan meringankan biaya para pekerja bandara.

Awaluddin mengatakan “Kami berterimakasih kepada Telkomsel atas kerjasama yang kembali terjalin. Kerjasama ini akan menjadi payung besar dalam fokus pengembangan bisnis digital airport dan airport community. Pengembangan bisnis ini menggunakan layanan Telkomsel di lingkungan bandara-bandara yang dikelola Angkasa Pura II. Kami optimis kerjasama dengan Telkomsel akan memberikan pertumbuhan dan percepatan layanan di bandara.”

Menurut Awaluddin, kerja sama dengan Telkomsel akan punya daya sinergi besar. Sebab, masing-masing punya basis pelanggan yang besar.

“Saat ini, pelanggan Telkomsel saat ini berjumlah 170 juta. Sementara AP II dengan 15 bandara yang dikelola, pada tahun lalu, melayani 105  juta traffic passenger. Tahun ini, ditargetkan 116 – 117 juta pergerakan penumpang. “Kalau ini disinergikan menjadi sebuah community program, saya rasa akan sangat dahsyat sekali,” ujarnya. (Icha)

 

 

Demi Tambah Pelanggan Paskabayar XL Bundling Dengan Samsung Galaxy Tab S4

0

Telko.id – Punya pelanggan paskabayar memang lebih terjamin. Tak heran XL begitu agresif menelurkan banyak program untuk pelanggan XL paskabayarnya, XL Prioritas. Kali ini, program nya ditujukan bagi yang hobi nonton film online dan gandeng Samsung untuk program bundling nya.

Program tersebut namanya XL PRIORITAS Shopping Points Data paket baru dengan menggandeng Samsung Electronics Indonesia untuk menyediakan penawaran bundling eksklusif produk terbaru Samsung.

“Trafik akses ke layanan video atau film terus meningkat. Jaringan internet yang terus meningkat kualitasnya dan juga semakin merata di berbagai daerah membuat pelanggan merasa nyaman untuk menonton film-film pilihannya,” kata Mark Jefferson Chua Go, Group Head Device Management and Innovations XL Axiata dalam peluncuran Paket Baru XL PRIORITAS Shopping Point Data dan program Bundling Eksklusif dengan Samsung Galaxy Tab S4 di Jakarta, Selasa (9/10).

Ditambah lagi, menonton film online melalui smartphone atau tablet juga sangat praktis karena dapat dilakukan kapan dan di mana saja.

“Itu sebabnya kami merespon besarnya minat pelanggan tersebut dengan meluncurkan paket baru XL PRIORITAS Shopping Point Data Plan, serta menggandeng Samsung yang memiliki produk tablet terbaru yang canggih, yaitu Galaxy Tab S4,” tambahan Mark

Mark menambahkan, melalui bundling eksklusif antara XL PRIORITAS Shopping Points Data Plan dan Samsung Galaxy Tab S4, program ini dipercaya mampu menjangkau khalayak yang gemar streaming film dan menginginkan pengalaman berinternet yang lebih baik dengan perangkat tablet.

Perpaduan antara kuota internet besar di semua jaringan yang ditawarkan oleh XL PRIORITAS dan fitur-fitur terbaru yang dimiliki oleh Samsung Galaxy Tab S4 tentu dapat membuat pelanggan jadi lebih menikmati pengalaman berinternet, terutama continuous streaming, yang berkualitas.

XL PRIORITAS Shopping Points Data Plan ini dirancang khusus dengan tiga paket pilihan, yaitu Gold (Rp 150 ribu/bulan) dengan benefit kuota 10 GB per bulan; Platinum (Rp 250 ribu/bulan) dengan benefit 25 GB per bulan dan Unlimited JOOX; serta Diamond (Rp 450 ribu/bulan) dengan benefit 50 GB per bulan dan Unlimited Netflix, Joox dan Iflix.

Selain paket kuota, XL PRIORITAS Shopping Points Data Plan juga memiliki benefit cashback untuk pembelian device hingga Rp 7,2 juta.

Secara industri, pasar paskabayar ini menyenangkan bagi operator karena bad debt nya hanya sekitar 3% saja.

“Biasanya, hanya dua sampai tiga bulan saja pelanggan itu galau. Lebih dari itu pelanggan sudah paham cara bayar, layanan yang diberikan dan lain-lainnya sehingga akan loyal, ” ujar Roswida Sidauruk, Group Head Indirect Channel XL Axiata menjelaskan.

Itu sebabnya, XL juga cukup agresif mengejar pelanggan. Bahkan karena agresif nya itu, target XL untuk paskabayar tahun ini sudah tercapai pekan kedua September, lebih cepat dari yang diharapkan.

Hal itu disampaikan Chief Premium Segment Officer XL Axiata, Rashad Javier Sanchez beberapa waktu lalu. Dimana, pelanggan XL Prioritas dibagi menjadi dua, yaitu ritel dan corporate. Khusus ritel, tahun ini XL Axiata memasang target 600.000 pelanggan. Dan jika diakumulasi, total pelanggan XL Prioritas hingga saat ini sudah mendekati angka 1 juta pelanggan. Jumlah ini dinilai cukup besar mengingat XL Prioritas baru meluncur pada 2016 lalu.

Bundling Samsung
Sementara itu, untuk bisa mendapatkan Samsung Galaxy Tab S4 dan keyboard cover, pelanggan bisa mendapatkannya dengan harga Rp 2,5 juta plus berlangganan paket XL PRIORITAS Shopping Points Data Plan Diamond selama 24 bulan.

Penawaran ini dapat diperoleh di PRIORITAS Center, XPLOR, XL Center, Samsung Experience Stores, dan partner online e-commerce JD.ID tertentu selama bulan Oktober 2018.

Jaringan 4G LTE XL
Saat ini, XL Axiata telah menyediakan  layanan 4G LTE bagi pelanggan di lebih dari 380 kota/kabupaten di Indonesia, termasuk wilayah-wilayah pedalaman serta infrastruktur jaringan fiber optik sepanjang lebih dari 45 ribu km yang menghubungan berbagai pulau di Indonesia.

Selain ditunjang dengan kapasitas besar, 4G LTE XL Axiata juga ditopang  lebih dari 25 ribu BTS 4G. Pembangunan jaringan internet cepat tersebut juga masih akan terus berlanjut di tahun ini. (Icha)

 

Bill Gates, Anak Mama Jadi Inspirasi Dunia

0

“Cara Anda melihat realitas akan sangat memengaruhi kesuksesan. Daripada selalu mengkhawatirkan kegagalan, lebih baik tarik momentum demi menggapai kesuksesan Anda”

Telko.id– Bill Gates terlihat sangat antusias mendiskusikan strategi dalam konteks inisiatif filantropis global saat menjadi pembicara tamu inspiratif dalam acara “The Daily Show”. Gates memang terkenal sebagai sosok yang penuh optimisme dan aktif di bidang filantropis.

Gates yakin betul terhadap apa yang dikerjakan meski mayoritas orang cenderung pesimistis dengan kondisi saat ini. Gates merasa telah berkontribusi terhadap dunia atas apa yang digelutinya.

“Angka kemiskinan turun drastis dari 36 persen menjadi sembilan persen. Setiap hari, 137 ribu orang mentas dari keterpurukan kesejahteraan. Saya bahkan turut meningkatkan produktivitas pertanian. Disadari atau tidak, apa yang saya lakukan berkontribusi terhadap penurunan jumlah kematian anak-anak dalam 25 tahun terakhir,” imbuh Gates.

Pria 62 tahun ini menyebut, rata-rata orang tidak pernah melihat serta merasakan adanya perubahan. Mereka tidak menyadari bahwa perbaikan sesuatu ke arah positif harus berjalan secara bertahap. Seperti pula yang ia gagas bersama para relawan melalui yayasan bernama Bill and Melinda Gates Foundation.

Lewat lembaga nirlaba tersebut, Gates menyumbangkan kocek hingga miliaran dolar Amerika Serikat demi membantu mengurangi ketidaksetaraan, termasuk meningkatkan perawatan kesehatan penduduk di negara-negara berkembang.

Yayasan yang ia bentuk bersama sang istri, Melinda Gates, itu juga memberdayakan perempuan dan berinvestasi vaksin, terutama diperuntukkan daerah miskin.

“Sudah menjadi sifat manusia untuk melulu mengambinghitamkan ancaman. Manusia sering berpikir, evolusi membawa kekhawatiran bahwa hewanlah yang akan memangsa kita. Padahal, yang terjadi malah kerap sebaliknya. Satu hal penting lain yang patut digarisbawahi, manusia kini semakin tidak sabar menghadapi permasalahan,” tegas Gates.

Gates pun menyoroti praktik kesenjangan di ranah global. Dari sudut pandangnya, hal-hal buruk terus saja terjadi. Ironi kian menjadi manakala manusia justru toleransi terhadapnya. Dan taukah, Gates mengemukakan bahwa upaya perbaikan ternyata belum bisa mengikuti harapan.

“Ketika keadaan seperti berjalan di tempat, fokus kepada apa yang berhasil tidak berarti Anda menganggap semuanya telah sempurna. Saya pribadi tidak mencoba mengecilkan pekerjaan yang tersisa. Menjadi seorang yang optimistis tidak lantas mengabaikan tragedi dan nilai-nilai ketidakadilan,” tutur Gates saat mengulas lewat artikel di Time.

Gates kemudian mendeskripsikan beberapa karakter yang dapat sukses dalam pekerjaan. Perkataan Gates jelas tak bisa dipandang sebelah mata. Gates sering bekerja dengan para inventor yang selama ini mendisrupsi industri. Nah, dari penuturan Gates, ada tiga orang berlatar belakang khusus yang akan menjadi incaran perusahaan besar.

“Sains, teknik, dan ekonomi. Tiga keahlian di tiga keilmuan tersebut bakal menjadi agen perubahan di semua institusi. Pengetahuan dasar soal sains, kemampuan matematika, dan keahlian ekonomi akan sangat berguna dalam karier. Kalau ingin berhasil, Anda harus mengetahui apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa mereka lakukan,” kata Gates.

Anak Mama yang Drop Out dari Harvard

Bill Gates adalah nama paling terkenal di jagat teknologi. Ia mendirikan Microsoft yang menjelma menjadi perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia. Nama Gates sering dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia. Padahal, perjalanan hidupnya bisa dibilang tidak selalu mulus. Semasa muda, ia lebih memilih drop out dari universitas.

Lahir di Seattle, Washington, Amerika Serikat, pada 28 Oktober 1955, bernama lengkap William Henry Gates III. Ayahnya bernama William Henry Gates II, yang berprofesi sebagai pengacara kondang. Sementara sang ibu, Mary Maxwell Gates, pernah menduduki dewan pimpinan di berbagai perusahaan bonafid.

Gates punya dua saudara wanita bernama Kristianne dan Libby. Berasal dari keluarga berada, Gates tumbuh besar. Meski kemudian mampu membuktikan diri hidup mandiri, dalam proses tumbuh dan berkembang, Gates terkenal sebagai anak mama. Gates sangat dekat dengan Mary, yang juga mahsyur sebagai atlet dan mahasiswa top.

Alih-alih dimanja, predikat anak mama yang melekat tak lantas membuat Gates menjadi pribadi yang manja, apalagi cengeng. Semua tak lain karena didikan Mary yang selalu menanamkan nilai kedisplinan, menuntut anak-anaknya untuk selalu belajar keras, rajin berolahraga, serta wajib mengikuti les musik. Ia mengajari anak-anaknya ramah kepada setiap orang.

Bill Gates kecil sangat suka belajar dan membaca. Bahkan, sejak usia sekira 10 tahun, dia sudah tamat membaca buku dengan “kategori berat”, yakni World Book Encylopedia dari seri awal sampai akhir.

“Saya sungguh memiliki banyak impian ketika masih kecil. Sepertinya, hal itu tumbuh dari fakta bahwa saya punya kesempatan untuk banyak membaca,” kata Gates.

Pada usia 11 tahun, Gates sudah aktif bertanya kepada ayahnya soal topik bisnis sampai peristiwa dunia. Menurut ayahnya, Gates sudah dari kecil memperlihatkan bakat ‘kutu buku’ dengan malahap beragam bacaan.

“Saya pikir, hal tersebut adalah sesuatu yang hebat. Sayang, Mary tidak suka karena Gates mulai cenderung suka berkutat dengan buku ketimbang berhubungan dengan orang lain. Gates pun jadi sering bertengkar dengannya,” kata ayah Gates.

Pada umur 13 tahun, Gates menuntut ilmu di sekolah eksklusif, Lakeside School, Seattle. Ia dikenal sebagai siswa yang sangat pandai. Ia pernah menghabiskan beberapa malam di University of Washington hanya untuk main komputer secara gratis. Ia pernah pula bekerja paruh waktu sebagai programmer di sebuah power plant di selatan Washington.

Gates digadang oleh orangtua menjadi seorang pengacara. Namun, ia sama sekali tak tertarik dengan bidang itu. Gates memilih menekuni bisnis komputer. Kecintaannya terhadap komputer muncul saat bersekolah di Lakeside School. Di sana, ia bertemu dengan Paul Allen, yang kelak menjadi mitranya saat mendirikan Microsoft.

Setelah mendirikan Microsoft bersama Allen, Gates memutuskan drop out dari Harvard University. Meski berat, orangtuanya tetap mendukung keputusan tersebut. Namun, Gates tak ingin sikapnya (drop out dari kuliah) ditiru oleh orang lain.

“Saya kira drop out kuliah bukanlah ide yang bagus. Sebab, saya harus melanjutkan pendidikan dengan kursus online,” ujar Gates.

Tak lagi kuliah, Gates fokus mengembangkan Microsoft yang kemudian berjaya sebagai produsen perangkat lunak komputer. Sistem operasi Windows sampai sekarang masih sangat dominan dipakai di mayoritas komputer. Akan tetapi, dalam meniti karier, Gates mengalami pasang surut, layaknya orang-orang kebanyakan. Ia bukanlah sosok yang sempurna.

Merintis Microsoft

Pada tahun 1973, Bill Gates diterima sebagai mahasiswa di Harvard University. Tapi, waktunya habis untuk “bermain-main” dengan komputer. Ia pun tak pernah menyelesaikan studinya. Pada 1974, Gates dan Paul Allen lalu memilih bekerja sama dengan sebuah perusahaan komputer, MITS. Mereka pun bekerja sama dengan perusahaan tersebut dengan menamai kemitraan mereka Micro-soft dan membuka kantor kecil di Albuquerque.

Pada akhir 1976, mereka keluar dari perusahaan MITS dan mengubah nama perusahaan menjadi “Microsoft”. Pada 1980, perusahaan komputer IBM memerlukan sebuah sistem operasi untuk komputer terbarunya. Gates mengambil kesempatan itu dengan menciptakan sebuah sistem operasi yang disebut 86-DOS atau disk operating system yang berganti nama menjadi PC DOS dan menjualnya ke IBM seharga USD 50.000.

Meski demikian, ternyata IBM tak meminta hak cipta perangkat lunak tersebut. Gates juga tak pernah menawarkannya. Melihat kesuksesan IBM PC, banyak perusahaan teknologi lain yang ingin membangun komputer pribadi dan menjadi kompetitor bagi IBM. Untuk bisa melakukannya, perusahaan-perusahaan itu membutuhkan orang sekaliber Gates.

IBM, Compaq, Dell, dan perusahaan lain berlomba-lomba untuk membuat komputer. Mereka membutuhkan DOS sebagai perangkat lunak yang kemudian berkembang menjadi Windows. Karenanya, Microsoft disebut sebagai pusat Revolusi PC. Pada 1983, Microsoft menghasilkan USD 55 juta sehingga Microsoft menjadi perusahaan terbesar dalam bisnis komputer.

Pada 13 Maret 1986, Microsoft menjual saham kepada publik dengan harga USD 21 per lembar. Gates menjadi seorang miliarder pada 1987 saat memasuki usia ke-31 tahun. Kekayaan Gates semakin menumpuk seiring berjalannya waktu. Tak heran, ia lantas dinobatkan sebagai pelaku bisnis teknologi yang menjadi orang terkaya di dunia dengan kekayaan puluhan miliar dolar Amerika Serikat.

Steve Jobs, Kawan Jadi Lawan

Saat baru merintis bisnis Microsoft, Gates mendapat perlawanan dari karibnya, Steve Jobs, yang tak lain adalah pendiri Apple. Hubungan keduanya naik turun: kadang sebagai kawan, kadang menjadi lawan. Gates dan Jobs awalnya memang berteman, terutama saat Microsoft membuat perangkat lunak awal untuk komputer Apple II. Saat itu, Gates secara rutin datang ke Cupertino untuk melihat proyek garapan Apple.

Namun, hubungan Gates dan Jobs kemudian memburuk. Semua berawal pada 1980an. Jobs terbang ke Washington untuk mengajak Gates menggarap perangkat lunak untuk Apple Macintosh yang berbasis antarmuka grafis nan revolusioner. Bagaimana tanggapan Gates? Ia tak menyukainya. Ia menyebut proyek tersebut sebagai platform terbatas yang tak bisa diakses oleh semua orang.

Di lain sisi, Gates sebenarnya juga kurang sreg dengan sikap Jobs. Ia menganggap Jobs berperilaku eksklusif, pura-pura tak butuh padahal memang butuh. Jobs berkata kalau Apple tak membutuhkan Gates.

“Dengan penuh gaya, Jobs seolah berkata: ‘Saya tak membutuhkanmu, tapi, saya bisa saja membolehkanmu untuk ikut serta dalam proyek ini’,” beber Gates soal sikap Jobs.

Puncak perselisihan Gates dan Jobs terjadi saat Microsoft merilis Windows pertama pada 1985 yang menggunakan tampilan antarmuka grafis. Jobs menuding Gates mencuri idenya. Jobs marah dan menuduh Microsoft meniru mentah-mentah konsep Macintosh. Alih-alih menanggapi, Gates justru cuek tak ambil pusing. Ia sudah yakin kalau ide tampilan antarmuka akan menjadi besar.

“Apple tak punya hak eksklusif atas ide tersebut. Lagipula, Apple punya ide tampilan antarmuka grafis Apple karena terinspirasi dari Xerox, yang dikembangkan oleh Palo Alto Research Center. Perumpamaannya, saya membobol rumah Xerox untuk mencuri televisi, tetapi ternyata Jobs sudah mencurinya terlebih dahulu,” ujar Gates menjawab tuduhan Jobs.

Apapun jawaban Gates, Jobs sudah terlalu kesal. Sampai-sampai, ia menyebut Gates sebagai orang yang tak tahu malu. Jobs tetap mengklaim bahwa Microsoft mencuri konsep Macintosh besutan Apple. Tak tinggal diam, Jobs melayangkan gugatan hukum terhadap Microsoft atas pelanggaran hak cipta. Namun, Microsoft berhasil memenangkan kasus tersebut pada 1993.

Sukses karena Persahabatan

Bill Gates juga manusia biasa yang tak jauh dari kebiasaan-kebiasaan buruk, termasuk kurang bisa memercayai orang lain. Ia merasa dirinya paling mampu, paling hebat, sehingga enggan berbagi tanggung jawab kepada sahabat maupun rekan kerja. Pada awal Microsoft berdiri, Gates hampir melakukan semua pekerjaan. Ia mengembangkan perangkat lunak sampai perusahaan berkembang pesat.

Kendati demikian, proses menuju capaian itu ternyata bukan berkat kontribusinya seorang diri. Kunci kesuksesan Microsoft menjadi raksasa teknologi sejagat adalah berkat kemitraan atau persahabatan dan kerja sama.

“Saat mengembangkan Microsoft, saya tak sendirian membaca dan menulis coding. Ada campur tangan orang lain. Saya dan para sahabat bahu-membahu,” tandas Gates.

Uniknya, di kantor, ia sampai menghapal pelat nomor kendaraan pegawai untuk mengetahui siapa yang paling lama bekerja. Steve Ballmer, teman semasa di bangku kuliah, juga mengajari Gates bagaimana cara merekrut karyawan guna membentuk tim nan solid. Sejak titik itu, Gates memercayakan semua pekerjaan kepada kolega sejatinya tersebut.

Seiring waktu berlalu, Gates menyadari bahwa Microsoft bisa sukses berkat keterlibatan “banyak tangan”. Ia paham betul, sebuah pekerjaan tak akan bisa tuntas secara sempurna tanpa kerja sama dengan orang lain. Pada puncak kejayaan Microsoft, Gates pun fokus kepada tugas mengkaji kinerja para manajer untuk menjaga visi dan misi perusahaan.

Sekarang, Gates lebih sibuk mengelola yayasan Bill & Melinda Gates Foundation dan duduk sebagai komisaris di Microsoft. Ia juga menjadi investor beberapa proyek, termasuk satelit komunikasi. Namanya bersanding dengan CEO SoftBank, Masayoshi Son. Mereka menggarap proyek EarthNow LLC, perusahaan yang berambisi meluncurkan 500 satelit untuk layanan video.

Kesuksesan Gates membersarkan Microsoft berbuah harta yang berlimpah. Dia bahkan 18 tahun tak tergoyahkan sebagai orang paling tajir sejagat, dan baru berhasil dilengserkan oleh Jeff Bezos, pemilik raksasa e-commerce, Amazon pada akhir 2017 lalu.

Saat ini kekayaan Gates tercatat mencapai USD 97,9 miliar atau setara Rp 1.458 triliun. Ia cuma kalah dari Jeff Bezos, pemilik Amazon, yang mengantongi kekayaan bersih hingga USD 150 miliar atau setara Rp 2.156 triliun, baik dari saham maupun lainnya.

Meski kini Bezos telah berhasil mengungguli Gates dari sisi jumlah kekayaan, namun bagi Gates, bukan lagi harta yang diunggulkan olehnya, melainkan ilmu, pengalaman, dan sifat sosial. [SN/HBS]

 

Akhir dari Perjalanan Singkat Path

0

Telko.id – Seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di bilangan Jakarta Barat nampak asyik menggulir layar smartphone-nya. Mahasiswi program studi Film dan Televisi itu menatap linimasa media sosial yang dipadati dengan lokasi-lokasi yang dikunjungi teman-temannya dan lagu-lagu yang sedang didengarkan.

Remaja berusia 19 tahun itu nampak menyimpan layar tampilan gawainya. Kemudian, perempuan berkerudung bernama Nanda Salsabilaviani itu membuka akun Instagram dan memasukkan gambar tadi ke fitur story.

“Thank you udh nemenin gw disetiap blan puasa~ Bai path”. Tulisan dengan huruf berwarna merah itu ia sematkan ke gambar tadi sebelum ia unggah untuk dilihat oleh teman-temannya.

Nanda merupakan satu dari banyak pengguna Path yang merespons pengumuman penutupan media sosial yang sempat “ngehits” itu dengan mengunggah tangkapan layar linimasa Path dan mengucapkan kata perpisahan lewat story Instagram.

Path telah mengeluarkan pernyataan akan menutup media sosial yang telah berdiri selama delapan tahun itu di situs resminya pada 17 September lalu. Dan tanggal 1 Oktober nanti, aplikasi Path sudah tidak tersedia di iTunes maupun Google Play. Path akan menutup aksesnya di tanggal 18 Oktober dan pada tanggal 15 November layanan pelanggan yang berkaitan dengan Path akan diputus. So, sejarah Path akan terhenti dipenghujung tahun 2018 ini.

Melesat Sejak Awal Peluncuran

Sejarah Path dimulai dengan peluncuran aplikasi Path di bulan November 2010 oleh mantan manajer sekaligus ‘investor malaikat’ (angel investor) Facebook, Dave Morin bersama dua rekannya, yakni Shawn Fanning dan Dustin Mierau di San Fransisko, Amerika Serikat.

Fitur-fitur yang disajikan Path pada awalnya tidak jauh berbeda dengan Facebook. Pengguna Path dapat mengunggah gambar, membagikan lokasi, dan menandai teman. Selain itu, Path juga memungkinkan penggunanya untuk membagikan judul lagu yang sedang didengarkan, film yang sedang ditonton, dan buku yang sedang dibaca di linimasanya.

Namun berbeda dengan Facebook, di versi awalnya Path hanya membatasi setiap penggunanya dengan maksimal 50 teman. Di laman blog mereka, Path menjelaskan bahwa ada alasan di balik angka tersebut.

“Kami terinspirasi oleh Profesor Robin Dunbar dari Universitas Oxford yang penelitiannya menggali tentang jumlah hubungan kepercayaan antarmanusia yang dapat dipertahankan seumur hidup. Kita memiliki tendensi untuk mempunyai 5 sahabat, 15 teman baik, 50 teman dekat dan keluarga, dan 150 total teman,” tulis Path.

Keterbatasan ‘teman’ yang dimiliki pengguna di Path menantang standar media sosial pada umumnya yang kebanyakan bertujuan untuk berbagi konten ke banyak orang. Namun, karakteristik Path itu rupanya disenangi oleh warganet.

Terbukti, hanya dalam waktu tiga minggu setelah diluncurkan, Path telah diunduh sebanyak 1,5 juta kali. Popularitas Path mencapai puncaknya ketika Google menawarkan 100 juta dolar AS atau setara Rp 1,5 triliun untuk membeli Path, tiga bulan setelah diluncurkan. Namun, Dave Morin tak bergeming, dan memilih untuk menolaknya.

Seakan menunjukkan bahwa Path baik-baik saja setelah mengabaikan tawaran Google, Path akhirnya mencapai kejayaan dengan meraup 2 juta pengguna dengan interaksi harian sebanyak 15 juta di bulan Februari 2012, atau kurang dari 2 tahun sejak diluncurkan.

Keberhasilan Path bahkan masih terus berlanjut. Selang empat bulan kemudian, Path telah mendapatkan 3 juta pengguna. Dan puncaknya, pada April 2013, pengguna Path dengan cepat menyentuh angka 10 juta pengguna di seluruh dunia.

Path dan Privasi Pengguna yang Dikhianati

Tahun 2012, Path dianggap melakukan kesalahan fatal. Seorang pengguna sekaligus programmer Arun Thampi menulis di laman blognya bahwa ia menemukan seluruh daftar kontak (termasuk nama lengkap, alamat e-mail, dan nomor telepon) dikirim ke Path. Thampi menambahkan bahwa ia tidak merasa Path pernah meminta izinnya untuk mengambil data-data sensitif di daftar kontaknya.

Merespons postingan Thampi, Morin menulis bahwa daftar kontak tersebut digunakan untuk mempermudah pengguna mencari dan terhubung dengan teman-teman dan keluarga. Morin juga menambahkan bahwa Path telah meminta izin dari pengguna Android untuk mengunggah daftar kontak, tapi fitur tersebut memang belum diberlakukan bagi pengguna iPhone.

CEO Path itu kemudian meminta maaf dan mengaku telah menghapus semua daftar kontak yang telah dikumpulkan. Versi baru Path untuk pengguna iPhone pun diluncurkan, kini disertai dengan permintaan izin bagi pengguna sebelum mengunggah daftar kontak ke server.

Komisi Perdagangan Federal (FTC) Amerika pun menindak kasus itu. Selain karena telah mengumpulkan informasi pengguna tanpa izin, Path juga dikenai sanksi akibat mengoleksi data anak di bawah umur secara ilegal tanpa izin orang tua mereka. Jejaring sosial yang baru berusia tiga tahun itupun dikenakan denda sebesar 800 ribu dolar AS atau sekitar Rp 12 miliar.

Dalam laman blognya, Path menuliskan bahwa di awal peluncuran, anak-anak berusia di bawah 13 tahun masih bisa membuat akun karena sistem mereka saat itu tidak secara otomatis menolak pembuatan akun bagi pengguna di bawah usia 13 tahun.

Path kemudian menyatakan bahwa mereka telah menghapus akun-akun terkait. FTC juga mewajibkan Path untuk menghapus informasi-informasi yang telah mereka kumpulkan dari pengguna berusia di bawah 13 tahun .

Bakrie dan Dinamika Bisnis Path

Masalah yang menimpa Path rupanya tidak mempengaruhi popularitas Path di Indonesia. Di tahun 2013, Kominfo menyebutkan Path sebagai salah satu media sosial yang paling sering dipakai di Indonesia dengan pengguna sebanyak 700 ribu orang.

Angka tersebut meningkat drastis ketika Dave Morin menyebutkan Indonesia sebagai pengguna terbanyak Path dengan jumlah mencapai 4 juta pengguna, melampaui pengguna Path di negara asalnya, Amerika Serikat. Saat itu, Path telah memiliki 20 juta pengguna aktif di seluruh dunia.

Pertumbuhan Path di Indonesia dilirik oleh Bakrie Global Group (Bakrie Telecom). Di tahun 2014, perusahaan keluarga Bakrie tersebut menginvestasikan dana sebesar 25 juta dolar AS atau sekitar Rp 373 miliar. Walaupun pihak Bakrie mengklaim mereka memiliki saham mayoritas di media sosial tersebut, Path mengklarifikasi bahwa Bakrie tidak memegang saham lebih dari satu persen.

Dave Morin tampak menyadari kesempatan Path untuk tumbuh besar di Indonesia. Dari 23 juta pengguna Path di dunia saat itu, seperlimanya adalah pengguna Indonesia. Path bahkan berencana untuk membuka kantor di Jakarta pada awal tahun 2015.

Peminat Path menurun di AS dan Eropa menurun drastis, tapi Path bertahan di Asia, khususnya di Indonesia. Tanda-tanda kehancuran Path sudah mulai nampak, dengan pengguna harian global hanya 5 juta orang.

Melihat gelagat buruk itu, Morin memutuskan untuk menjual jejaring sosialnya pada Daum Kakao, perusahaan asal Korea Selatan yang meluncurkan aplikasi Kakao Talk. Strateginya adalah agar Daum Kakao mendapat lebih banyak pengguna di Indonesia untuk menyaingi rivalnya, yaitu aplikasi chatting asal Jepang, LINE.

Namun rencana itu tidak berjalan mulus. Akuisisi Daum Kakao dan pilihan Path untuk memfokuskan targetnya di Indonesia rupanya tidak membawa keuntungan yang berarti. Di tahun 2017, survei yang dilakukan oleh JakPat menunjukkan bahwa Path masih menjadi media sosial keempat yang paling banyak digunakan di Indonesia dengan persentase sebesar 24 persen.

Meski begitu, masa depan Path di Indonesia dinilai tidak begitu cerah, karena harus bersaing dengan para rival-rivalnya yang semakin besar. Seperti misalnya aplikasi berbasis foto lainnya, Instagram, yang kokoh berada di posisi kedua dengan tingkat penetrasi sebesar 70 persen.

‘The Last Goodbye’

Di tahun kedelapan, Path akhirnya lempar handuk alias menyerah. Path pada akhirnya harus mengucapkan selamat tinggal kepada penggunanya. Pengumuman yang dirilis di situs resminya membawa para pengguna Path di Indonesia pada nostalgia.

Banyak yang mengunduh kembali aplikasi Path dan memandang linimasa akun mereka, mengenang masa ketika media sosial tersebut masih ramai digunakan. Namun, ada pula yang masih memiliki aplikasi Path di gawai mereka, walaupun kini sudah tidak mereka gunakan lagi.

Nanda merupakan salah satunya. Ia mengaku tidak menggunakan Path sehari-hari, tapi jejaring sosial tersebut telah menemaninya di tiap bulan Ramadan sejak tahun 2012. “Iya, pokoknya tiap bulan puasa aku pakai Path,” sebutnya.

Nanda menjelaskan bahwa ia senang menggunakan fitur di Path yang memungkinkan penggunanya untuk membagikan waktu saat ia tidur dan kapan ia bangun di linimasa.

Alvin Filbert (19) juga masih menyimpan Path di gawainya. Ia bercerita bahwa teman-temannya yang membuatnya bergabung ke media sosial Path di tahun 2013. Mahasiswa program studi Akuntansi ini mengaku bahwa ia terakhir kali membuka Path di tahun 2017.

“(Tidak aktif lagi) karena yang lain juga udah jarang update, kan,” terangnya. “Ngapain lagi ngeliatin (linimasa) yang sama terus,” sambung Alvin menjelaskan alasannya meninggalkan Path.

Baik Nanda maupun Alvin menyayangkan tutupnya media sosial yang pernah mereka gunakan dalam waktu lama. Namun, mereka berpendapat bahwa kegagalan Path diakibatkan karena fitur-fiturnya yang tidak berkembang dan kalah bersaing dengan aplikasi-aplikasi pesaingnya.

Kedua mahasiswa ini sama-sama menyebutkan Instagram sebagai aplikasi saingan yang telah mengalahkan Path. Mereka menilai fitur-fitur Instagram yang terus bertambah sebagai keunggulannya.

“Instagram sekarang lagi hits banget tuh, update-nya lagi bagus-bagus juga kan. Mungkin karena itu (Path) kalah, karena fitur dan perkembangannya kurang,” tutur Alvin.

Nanda turut mengamini pendapat Alvin. “Karena fiturnya (Path) gitu-gitu doang, makanya aku mainnya di bulan Ramadan doang,” ucap Nanda.

“Yang ngebosenin (karena) gitu-gitu doang fiturnya. Kayak enggak ada berkembangnya. Kalau Instagram kan sekarang bisa IGTV, tiba-tiba story-nya bisa di-zoom,” tambah Nanda, menyebut berapa kelebihan aplikasi pesaing Path.

Begitupun Livyani (20), mahasiswi program studi Manajemen ini memiliki pendapat yang hampir-hampir mirip. Dia mengatakan pernah menggunakan Path selama dua tahun, dan menganggap bahwa banyaknya fitur tidak menjadi standar popularitas suatu media sosial.

“Path itu (perlu) inovasi. Walaupun sedikit fitur, paling enggak ada keunikan sendiri. Sayangnya enggak ada inovasi. Snapchat aja walaupun (hampir) sama kayak Instagram, ada keunikan sendiri, kan? Kalau dia (Path) enggak. Mau gimana?” terangnya.

Kurang Inovasi dan Kurang Duit

Kabar tutupnya Path juga mendapat perhatian dari sejumlah pengamat media sosial di Tanah Air. Nukman Luthfie adalah salah satu pengamat yang banyak dimintai pendapatnya soal penyebab Path akhirnya ditinggalkan penggunanya.

Menurut Nukman Luthfie, masalah tutupnya Path ada pada masalah finansial dan karakteristik Path yang berubah. “Awalnya Path membatasi hanya 150 teman. Ketika ditambah menjadi 500, apa bedanya dengan Facebook?” ujar Nukman kepada tim Telko.id.

Pria berusia 53 tahun itu juga menambahkan bahwa di awal peluncurannya, orang-orang beralih ke Path karena mencari kenyamanan dari Facebook. Keterbatasan jumlah teman di Path menjadikan media sosial itu lebih eksklusif dan privat, sehingga pengguna bisa leluasa untuk memposting gambar maupun status di antara teman-teman dekatnya.

“Sudah produk (Path) lari dari fitrah awal, muncul pesaing baru yang lebih menarik, yaitu Instagram,” tuturnya.

Nukman menjelaskan, media sosial yang kini digunakan oleh warganet di Indonesia terbagi tiga kelompok besar, yakni Facebook, Instagram, dan Twitter, dan ketiganya memiliki karakteristik masing-masing.

Facebook yang berbasis pertemanan memungkinkan pengguna untuk memiliki teman sebanyak-banyaknya. Sementara itu, pengguna Instagram dan Twitter yang berbasis informasi dalam bentuk gambar (Instagram) dan teks (Twitter) dapat mengikuti (follow) pengguna lain dengan bebas.

“Orang Indonesia itu cerewet dan mereka mencari media sosial yang bisa menampung kecerewetan mereka,” sebut Nukman, menggambarkan karakteristik pengguna media sosial di Indonesia.

Ia menyebutkan, saat ini Facebook, Instagram, dan Twitter mampu memfasilitasi pengguna-penggunanya dengan baik, termasuk dari Indonesia, dengan interaksi dan percakapan lewat status maupun komentar.

Mulanya, kata Nukman, Path telah memenuhi syarat itu. Keterbatasan teman membuat pengguna Path hanya berjejaring dengan orang-orang terdekatnya saja dan mereka bisa berinteraksi dengan lebih nyaman.

Namun sayangnya, karena ingin menanggapi desakan pengguna di Indonesia, Path kemudian menambah batasannya menjadi 500 teman. “Path mengambil langkah yang salah,” tandas Nukman.

Selain melanggar “fitrah awal”, kejatuhan Path juga dianggap karena kesalahan me-manage keuangan. Michael Carney, lewat tulisannya di Pando.com, bahkan sudah mencemaskan kejatuhan Path di tahun 2014, karena masalah keuangan.

Kala itu, Path masih mendapat kucuran dana dari banyak investor. Carney berpendapat bahwa Path tidak berkembang akibat eksekusi yang buruk, fokus berlebih pada desain dibandingkan kegunaan, dan pengeluaran yang “terlampau mewah”.

Hal tersebut tercermin dari tim awal Path dengan rasio desainer dan pengembang aplikasi sebesar 1 banding 2 ketika rata-rata seharusnya adalah 1 banding 20. Path juga dinilai menggunakan uangnya dengan berlebihan untuk kantornya yang disebut-sebut pernah memakan biaya 2,5 juta dolar AS (setara Rp 37 miliar) per bulan.

Well, kini nasib Path sudah menjadi bubur. Aplikasi yang sempat digadang-gadang akan menjadi pesaing berat Facebook itu akhirnya tersungkur dan tak bisa bangkit lagi. Kesalahan manajemen keuangan dan kurangnya inovasi, membuat Path harus gulung tikar dan tinggal nama.

“Kurang inovasi, kurang pelanggan, kurang duit,” ujar Livyani menyimpulkan alasan kegagalan Path dengan singkat dan padat. [AF/HBS]