Telko.id – Skyegrid, platform Cloud Gaming asal Indonesia, telah menambah sejumlah judul game populer terbaru di dalam layanannya. Game-game tersebut di antaranya Apex Legends, Resident Evil 2 (Remake), Dead by Daylight, Divinity: Original Sin 2, dan Two Point Hospital.
Apex Legends game pamungkas andalan Skyegrid pada awal tahun 2019 ini, yang merupakan game ber-genre Battle Royale terbaru dan gratis hasil kolaborasi Respawn Entertainment sebagai pengembang game dan Electronic Arts selaku penerbit game.
Dengan tersedianya Apex Legends di platform Cloud Gaming milik Skyegrid, maka seluruh pelanggan dapat memainkan game multiplayer tersebut pada berbagai platform, termasuk di PC dan laptop Windows dengan spek rendah, Macbook, hingga ponsel dan tablet berbasis OS Android.
“Saya kira semua gamer setuju, Apex Legends adalah game yang fenomenal sekarang ini. Respawn Entertainment mencatat rekor 7,6 juta total pemain Apex online selama tiga hari berturut-turut pada saat peluncurannya. Ini sangatlah fantastis,” ujar Rolly Edward, CEO Skyegrid.
“Setiap hari, tim kami menerima permintaan pelanggan (Skyegrid) untuk segera memasukkan Apex Legends. Dan, saya pastikan sekarang game ini bisa dimainkan di Skyegrid.”
“Hal ini tak lepas dari kerja keras tim Skyegrid serta dukungan seluruh mitra kami. Sekali lagi, kami membuktikan bahwa Skyegrid adalah layanan Cloud Gaming terdepan di Tanah Air,” tegasnya.
Selain Apex Legends, Skyegrid juga menambahkan satu judul populer lainnya yang tak kalah dinanti-nanti oleh para gamer, yakni Resident Evil 2 (Remake)—yakni edisi remaster dari game Resident Evil 2 besutan Capcom tahun 1998 silam.
“Reimagine adalah kata yang lebih tepat untuk menggambarkan Resident Evil 2 Remake. Tidak hanya menampilkan kualitas grafis yang lebih tajam, tapi game ini menawarkan experience baru yang sesuai dengan ekspektasi pengembang dan gamer seperti saya,” tutur Rolly.
Sejatinya, Rolly mengakui, bahwa Resident Evil 2 (Remake) tidak masuk dalam daftar game yang akan tersedia di Skyegrid pada awal tahun ini. “Namun, para gamer kami meminta RE2 Remake segera dimasukkan (ke Skyegrid), karena saya tahu, ini bukanlah sekadar game yang baru rilis, tetapi memainkan RE2 Remake di ponsel atau tablet Android adalah redefinisi memainkan game horor penyintas,” ujar Rolly.
Dengan tambahan Apex dan RE2 (Remake), serta beberapa judul game lainnya, hingga per Februari 2019, Skyegrid telah mempunyai total 82 judul game, dengan komposisi 50-50 untuk game berbayar via akun Steam dan game Free-to-Play.
Selain menambah judul game baru, Skyegrid juga fokus mengoptimalkan product experience agar pengalaman bermain game-game PC bisa lebih nyaman dan lancar kendati dengan latensi yang rendah.
“Cita-cita kami masih sama, yakni menjadi Cloud Gaming terdepan di Indonesia, terbaik untuk para gamer dan developer lokal, serta turut membangun ekosistem game lokal yang maju dan mapan hingga kita semua dikenal luas di kancah global,” tutup Rolly. (Icha)
Telko.id – XL Axiata terus memperluas jangkauan layanan data berkualitas di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sampai dengan Desember 2018, jaringan data 3G dan 4G XL Axiata telah melayani seluruh kota/kabupaten di provinsi tersebut.
Pembangunan infrastruktur data ini juga merupakan bagian dari komitmen XL Axiata untuk mendukung percepatan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia selaras dengan visi pemerintah Republik Indonesia. Sampai dengan saat ini, XL Axiata telah memperkuat jaringan data di wilayah ini dengan membangun lebih dari 400 BTS termasuk sekitar 90 BTS 4G. Di tahun 2019 ini, XL Axiata masih akan terus memperkuat jaringan data di wilayah ini dengan membangun lebih dari 220 BTS 4G.
Group Head XL Axiata East Region, Mochamad Imam Mualim mengatakan, “Perluasan jaringan data di NTT ini juga sekaligus merupakan langkah bisnis strategis XL Axiata untuk terus memperluas jaringan terutama di luar Jawa. Kami melihat NTT merupakan wilayah yang cukup potensial secara ekonomi, yang dengan dorongan layanan data digital akan bisa mengembangkan diri, terutama dari sektor pariwisata. Dari data jaringan kami, semakin banyak pula pelanggan XL Axiata yang melakukan perjalanan ke wilayah NTT, berpetualang, serta menyebarkan keindahan wilayahnya.”
Imam Mualim menambahkan, layanan 4G LTE XL Axiata mulai masuk NTT sejak Desember 2017 di Kabupaten Manggarai Barat sebagai area pertama. Lalu sepanjang 2018, XL Axiata memperluas layanan internet cepat ini, terutama di area-area tujuan wisata, antara lain Sumba dan Labuhan Bajo. Menurutnya, beberapa destinasi wisata di NTT memiliki nama yang mendunia dengan predikat yang sangat baik. Media sosial dan kemudahan akses informasi digital sangat berperan dalam meningkatkan popularitas daerah-daerah itu. Geliat industri wisata di sana juga telah menggerakkan ekonomi masyarakat.
Saat ini jaringan data XL Axiata telah tersedia di 21 kota/kabupaten di Nusa Tenggara Timur, dengan dukungan total lebih dari 400 BTS. Khusus jaringan 4G, sudah masuk ke 15 kota/kabupaten, dengan lebih dari 90 BTS.
Kota/kabupaten yang sudah terlayani jaringan Data XL Axiata, Alor, Belu, Ende, Flores Timur, Kota Kupang, Kupang, Lembata, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Rote Ndao, Sikka, Sumba Barat, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Sabu Raijua, Sumba Barat Daya, Malaka, Sumba Tengah.
Hingga akhir Januari 2019, tercatat sekitar 30 ribu pelanggan di seluruh NTT, dengan sekitar 25 ribu pelanggan di antaranya merupakan pelanggan data aktif. Imam Mualim optimis jumlah pelanggan data akan terus meningkat seiring dengan terus meningkat dan meluasnya jaringan 4G, apalagi dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat setempat yang berada di area perkotaan ataupun pedesaan untuk memanfaatkan layanan data guna mendukung aktifitas kesehariannya.
Pada tahun 2019 ini, selain akan melakukan perluasan jaringan dengan menambah BTS baru, XL Axiata juga akan meningkatkan kapasitas jaringan data di lebih dari 300 BTS. Salah satu wilayah menjadi prioritas adalah di Kota Kupang dan Flores.
Sebagai ibu kota provinsi, Kota Kupang semakin berkembang sebagai pusat pemerintahan daerah dan bisnis. Sementara itu, di Flores banyak sekali terdapat daerah tujuan wisata, seperti Labuhan Bajo dan Danau Kelimutu, serta kota-kota utama di NTT.
Dengan adanya perluasan jaringan di Nusa Tenggara Timur, diharapkan masyarakat mendapatkan kesempatan yang sama dengan masyarakat Indonesia lainnya khususnya yang berada di wilayah Barat Indonesia, untuk dapat menikmati manfaat perkembangan teknologi guna mendukung aktifitas kehidupan sehari-hari.
Hingga saat ini jumlah pelanggan XL Axiata mencapai sekitar 54,9 juta pelanggan, dengan jumlah pelanggan data mencapai sekitar 82% dari total pelanggan, yang didukung dengan infrastruktur jaringan sebanyak lebih dari 118 ribu BTS termasuk lebih dari 81 ribu BTS data (3G & 4G) yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia serta jaringan fiber optik sepanjang lebih dari 45 ribu km. Saat ini jangkauan layanan data 4G XL Axiata juga telah melayani sekitar 400 kota/kabupaten di Indonesia. (Icha)
Telko.id, Jakarta – ZTE resmi memperkenalkan smartphone 5G mereka, ZTE Axon 10 Pro di Mobile World Congress (MWC) 2019 di Barcelona, Spanyol. Namun sayangnya, perusahaan asal China ini masih enggan menjabarkan dengan lengkap terkait spesifikasi dari smartphone tersebut.
Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Selasa (26/02/2019), ZTE Axon 10 Pro mengusung desain fullscreen dengan adanya notch berbentuk waterdrop sebagai tempat bagi kamera depannya.
Smartphone ini juga telah dilengkapi dengan sensor sidik jari di bagian layar, dan memiliki tiga kamera utama di body belakangnya.
{Baca juga: 5 Smartphone Lipat yang Diperkenalkan Tahun Ini}
Axon 10 Pro ditopang oleh prosesor Snapdragon 855, dan sudah memiliki chip modem 5G dari Qualcomm, takni modem X50. Otomatis, smartphone ini pun masuk ke jajaran smartphone Android unggulan bersama dengan smartphone lain yang juga dirilis dalam waktu hampir bersamaan.
Meski demikian, ZTE belum memberikan banyak detail tentang spesifikasi perangkat ini, sehingga tidak jelas berapa besaran RAM dan penyimpanan yang dimilikinya.
Yang pasti, smartphone ini bakal didukung oleh teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang mampu menyesuaikan tugas GPU, CPU, RAM, dan ROM menggunakan algoritma khusus.
{Baca juga: Energizer Rilis Smartphone dengan Baterai Terbesar di Dunia}
ZTE juga belum memberikan informasi harga atau ketersediaan apa pun pada saat ini. Disebutkan bahwa, Axon 10 Pro 5G akan dirilis pada paruh pertama tahun ini atau Juni 2019. Selain itu, smartphone tersebut juga hanya akan tersedia di China dan Eropa.
Sebelumnya, LG juga mengikuti tren dan perkembangan zaman dengan menjadikan jaringan 5G sebagai fokus utama. Di ajang Mobile World Congress (MWC) Barcelona 2019 misalnya, perusahaan asal Korea Selatan ini tak mau ketinggalan memperkenalkan handset teranyar, LG V50 ThinQ dengan kemampuan 5G.
{Baca juga: Ikuti Tren, LG Luncurkan V50 ThinQ dengan Jaringan 5G}
Dilansir Telko.id dari GSMArena pada Senin (25/02/2019), kehadiran V5 ThinQ juga dibarengi dengan smartphone andalan lain semisal G8 ThinQ dan G8s ThinQ. Smartphone pertama menjanjikan kekuatan jaringan yang cepat, mengingat ini adalah smartphone pertama LG dengan jaringan 5G yang dibekali chipset Snapdragon 855, lengkap dengan Modem Qualcomm X50 di badannya. (NM/FHP)
Telko.id, Jakarta – MicroSD terbaru buatan Micron dan SanDisk bisa menjadi solusi bagi pengguna yang sering menyimpan banyak foto atau video di smartphone mereka. Sebab, microSD Micron dan microSD SanDisk tersebut masing-masing memiliki kapasitas penyimpanan hingga 1 terabyte (TB).
Micron dan Western Digital SanDisk baru saja merilis microSD 1TB di ajang Mobile World Congress (MWC) 2019 di Barcelona, Spanyol.
Menurut Ubergizmo, seperti dilansir Telko.id pada Selasa (26/02/2019), keduanya memiliki spesifikasi yang sama dalam hal kecepatan transfer data, karena mengusung teknologi UHS-I microSDXC.
SanDisk mengklaim jika microSD mereka memiliki read speed hingga 160MB/s, sedangkan Micron hanya mencapai 100MB/s. Sedangkan untuk write speed, Micron mengklaim microSD-nya mencapai kecepatan hingga 95MB/s, sedangkan untuk SanDisk hanya 90MB/s.
{Baca juga: Kecepatan Baca Sandisk 400GB Tembus 160MB per Detik}
Soal harga, SanDisk akan melepas microSD 1TB tersebut seharga USD 449 atau Rp 6,3 juta dan akan dijual secara resmi ke pasaran pada April mendatang. Mereka juga akan menjual microSD 512GB di harga USD 199 atau Rp 2,7 jutaan.
Berbeda dengan SanDisk, Macron masih enggan menyebut kapan MicroSD mereka akan dijual. Mereka hanya memberikan sinyal bahwa microSD 1TB tersebut akan keluar pada paruh kedua tahun ini.
Sebelumnya, Samsung baru saja meluncurkan varian Galaxy S10 + dengan penyimpanan internal 1TB hanya beberapa bulan setelah meluncurkan Galaxy Note 9. Hal ini membuktikan, smartphone dengan memori internal yang besar akan menjadi tren karena kebutuhan pengguna yang semakin banyak dalam menyimpan foto atau video.
{Baca juga: Samsung Mulai Produksi Penyimpanan Internal 1 TB}
Selain itu, Samsung juga mengumumkan bahwa mereka mulai memproduksi penyimpanan internal atau Universal Flash Storage (eUFS) sebesar 1TB untuk smartphone generasi mendatang.
Dilansir Telko.id dari CNET pada Rabu (30/01/2019), inovasi ini diklaim oleh Samsung sebagai yang pertama di industri smartphone. Selain itu, dengan penyimpanan 1TB pengguna dapat menyimpan 260 video berdurasi 10 menit dengan resolusi 4K.
Hal ini sangat jauh dibandingkan penyimpanan internal sebesar 64GB yang hanya dapat menyimpan 13 video berdurasi 10 menit dengan resolusi 4K. Samsung juga menjanjikan transfer data yang lebih cepat hingga 10 kali lipat kecepatan kartu microSD yang sudah ada selama ini. (NM/FHP)
Telko.id – Ajang Mobile World Congress yang saat ini sedang digelar di Barcelona, jadi moment penting bagi Ooredoo dan Ericsson. Pasalnya, pada event tahunan ini, kedua nya ‘berjabat tangan’ untuk membangun Ooredoo Supernet berbasis teknologi 5G dengan tujuan meningkatkan kehidupan digital orang-orang di Qatar.
Ooredoo akan memanfaatkan Ericsson Radio System, solusi 5G New Radio Ericsson, dan jaringan microwave 10 Gbps untuk mengubah secara digital dan memodernisasi jaringan seluler yang ada untuk memperkenalkan teknologi 5G terbaru di Qatar.
Saat ini, Ooredoo sedang dalam proses mempersiapkan 1.200 stasiun jaringan agar siap 5G. Setelah stasiun jaringan selesai dan perangkat yang kompatibel 5G mencapai pasar, jaringan 5G Ooredoo akan dapat memberikan kecepatan unduh sekitar 100 kali lebih cepat daripada jaringan 4G.
Sheikh Saud Bin Nasser Al Thani, Chief Executive Officer Ooredoo Group, mengatakan, “Kemitraan kami dengan Ericsson untuk menyediakan pondasi berbasis 5G pada Ooredoo Supernet sehingga kami dapat membuat Qatar menjadi Smart City, industri IoT yang kompetitif secara digital dan bisa membuat mega-event dengan pengalaman virtual reality. Begitu 5G menjadi jaringan utama di Qatar, maka kami akan mendedikasikan untuk mentransformasikan industri dan meningkatkan kehidupan digital masyarakat. ”
Dengan menggunakan teknologi 5G kecepatan tinggi dan latensi rendah milik Ericsson, Ooredoo dapat memenuhi permintaan lalu lintas data yang terus meningkat, dan memberikan pengalaman broadband seluler maupun fixed wireless berkualitas tinggi.
Ericsson akan berbagi pengalaman globalnya yang arsitekturnya multi standar dan modular yang akan memberikan kinerja 5G hanya dengan site yang kecil dan konsumsi energi terendah.
Rafiah Ibrahim, Kepala Area Pasar Timur Tengah dan Afrika di Ericsson, mengatakan: “Kami bermitra dengan Ooredoo untuk menghadirkan inovasi 5G terbaru kami di jaringan nasional mereka. 5G menjanjikan untuk mempercepat digitalisasi industri, membuat Ooredoo memiliki peluang baru dan memungkinkan mereka untuk meluncurkan teknologi paling canggih sambil meningkatkan pengalaman pengguna akhir dengan kecepatan lebih cepat dan latensi yang lebih rendah. (Icha)
Telko.id, Jakarta – Acara Mobile World Congress (MWC) 2019 menjadi ajangnya bagi smartphone dengan kemampuan berbeda. Baru-baru ini, muncul smartphone dengan baterai terbesar di dunia, yakni Energizer Power Max P18K Pop di acara yang digelar di di Barcelona, Spanyol itu.
Dilansir Telko.id dari phoneArena, Selasa (26/02/2019), kapasitas baterai smartphone ini mencapai 18,000 mAh! Jika dihitung, maka baterainya berkapasitas 4,5 kali lebih besar dari baterai Samsung Galaxy S10+ atau Galaxy Note 9.
Dengan baterai berkapasitas sebesar itu, Energizer Power Max P18K Pop mampu digunakan selama 90 jam untuk menerima panggilan telepon, dan akan bertahan hingga 50 hari dalam mode siaga.
{Baca juga: 5 Smartphone Lipat yang Diperkenalkan Tahun Ini}
Sementara untuk pemutaran video, smartphone bisa memutar tayangan video selama 2 hari tanpa henti. Smartphone ini juga dapat berfungsi sebagai powerbank bagi smartphone lainnya.
Akan tetapi, besarnya kapasitas baterai pada Energizer Power Max P18K Pop membuat waktu pengisian dayanya juga menjadi super lama. Sebab, dibutuhkan waktu ngecas hingga 9 jam hingga baterainya penuh 100%.
Secara tampilan, smartphone tersebut punya body yang sangat besar dibandingkan smartphone terbaru dari produsen lain. Energizen Power tampak lebih tebal, sehingga membuat penggunanya kesulitan ketika ingin memasukan smartphone ke dalam kantung celananya.
Untuk spesifikasinya, Energizer Power Max P18K Pop mengusung layar berukuran 6,2 inci dengan resolusi 2160×1080. Smartphone itu ditopang oleh prosesor MediaTek Helio P70, RAM 6 GB, ROM 128 GB, dan sistem operasi berbasis Android 9 Pie.
{Baca juga: Mengenal 9 Inovasi Oppo Dalam Memperkaya Ranah Fotografi}
Terdapat juga 3 kamera utama di bagian belakangnya, dan 2 kamera depan mekanik yang akan muncul dari dalam body-nya ketika fitur kamera selfie diaktifkan. Sayangnya saat dipamerkan, belum dijelaskan terkait jenis lensa, resolusi sensor, dan fitur dari kamera tersebut.
Energizer juga belum mengungkapkan soal harga dari perangkat barunya ini. Namun, bagi Anda yang berminat membelinya, smartphone itu akan diluncurkan pada bulan September 2019 mendatang. (NM/FHP)
Telko.id,Jakarta – Sony mencoba membuat terobosan baru lewat smartphone anyarnya, Sony Xperia 1. Smartphone ini mengusung layar berukuran besar dengan aspek rasio 21 : 9. Dimensi atau rasio tersebut biasanya digunakan dalam pembuatan film blockbuster.
Xperia 1 diperkenalkan Sony di ajang Mobile World Congress (MWC) 2019, di Barcelona, Spanyol. Smartphone ini mengusung layar berjenis HDR OLED berukuran 6,5 inci dengan teknologi yang biasanya disematkan pada seri TV Sony Bravia.
Sony Xperia 1 juga memiliki kemampuan handal dalam menangkap foto dan merekam video 4K dalam rasio 21 : 9.
{Baca juga: 5 Smartphone Lipat yang Diperkenalkan Tahun Ini}
Sebab, smartphone ini disematkan juga dengan tiga kamera utama dengan resolusi masing-masing 12MP lensa wide-angle, lena telephoto 52mm, dan lensa superwide 16mm.
Presiden Sony Mobile Communications, Mitsuya Kishida mengatakan Sony memiliki warisan yang kaya untuk memenuhi tuntutan teknologi dari para pembuat film profesional, baik dalam hal suara maupun tampilan.
“Xperia baru kami akan menghadirkan teknologi asli dengan banyak fitur kelas profesional untuk menciptakan pengalaman hiburan yang hanya mungkin dilakukan oleh Sony,” kata Kishida, seperti dikutip dari The Star Online, Selasa (26/02/2019).
Selain Xperia 1, perusahaan yang didirikan pada 2001 ini juga membawa layar dengan rasio 21 : 9 ke dua smartphone kelas menengah, yakni Xperia 10 dan Xperia 10 plus. Meski memiliki terobosan baru, namun menurut Ben Wood dari CCS Insight, perangkat Sony ini akan sulit untuk menonjol dari kerumunan industri smartphone sekarang.
“Kami tidak yakin bahwa rasio 21 : 9 cukup membawa perbedaan, meskipun kredensial kuat Sony dalam konten,” ungkapnya.
{Baca juga: Waduh, Nokia 9 PureView Bikin Penderita Trypophobia Ketakutan}
Sementara itu, analis industri Paolo Pescatore dari PP Foresight mengatakan, perangkat baru ini merupakan strategi tepat yang dilakukan oleh Sony. Akan tetapi, mereka akan terus menghadapi tantangan monumental dalam bersaing dengan para pesaingnya yang terus meluncurkan perangkat baru dengan fitur-fitur baru, dan dibanderol dengan harga mahal.
“Terutama produsen smartphone asal Asia yang bergerak dan meningkatkan pangsa pasar dengan sangat cepat, seperti yang dilakukan Huawei dan Xiaomi,” jelasnya.
Sekadar informasi, Huawei dan Xiaomi sama-sama mengumumkan perangkat 5G di MWC 2019. Huawei juga merupakan brand asal China yang sukses menggeser Apple dari posisi nomor dua dalam penjualan smartphone. Mereka juga berhasil membuat gebrakan dengan merilis smartphone lipat, Huawei Mate X. (BA/FHP)
Telko.id – Di tahun ini, sejumlah brand smartphone tidak hanya berlomba-lomba untuk merilis smartphone dengan layar fullscreen dengan bezel yang jauh lebih tipis, tapi juga saling meluncurkan smartphone lipat. Terbukti dengan cukup banyaknya smartphone atau perangkat lipat yang diluncurkan tahun ini.
Nah, membahas smartphone lipat, kali ini tim Telko.id mau merangkum 5 smartphone lipat yang melenggang di tahun ini.
Kelimanya adalah Samsung Galaxy Fold, Huawei Mate X, Nubia Alpha, LG V50 ThinQ, dan smartphone lipat buatan TCL.
Hampir semuanya dirilis di ajang Mobile World Congress (MWC) 2019. Hampir semuanya juga merupakan produk yang benar-benar akan dijual tak lama lagi. So, yuk simak!
Samsung Galaxy Fold
Samsung mengawali acara Galaxy Unpacked 2019 dengan sebuah kejutan. Perusahaan asal Korea Selatan ini memperkenalkan smartphone lipat yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya, yakni Samsung Galaxy Fold.
Pertama kali diperlihatkan di acara Samsung Developer Conference pada tahun lalu, Galaxy Fold punya dua layar yang dikemas dalam body berbentuk tablet masa kini.
Samsung Galaxy Fold punya layar utama berjenis AMOLED fleksibel dengan ukuran 7,3 inci dan beresolusi 1536 x 2152 piksel. Samsung mendesain Galaxy Fold agar dapat dilipat ke dalam, sehingga ketika dilipat, layar sekunder atau layar luarnya yang berukuran 4,6 inci yang akan aktif.
Smartphone ini memiliki notch atau poni di sisi kanan layarnya ketika berada di mode tablet. Notch tersebut merupakan frame untuk kamera yang berguna bagi pengguna untuk melakukan video call dalam mode layar penuh.
{Baca juga: Harga Samsung Galaxy Fold Nyaris Rp 30 Juta!}
Untuk dapur pacunya, Samsung Galaxy Fold ditopang oleh prosesor berbasis 7nm, yang diprediksi merupakan Snapdragon 855, RAM 12 GB, ROM 512 GB, dan baterai berkapasitas 4,380 mAh. Smartphone ini memiliki sejumlah fitur andalan, salah satunya adalah App Continuity.
Fitur tersebut memungkinkan pengguna untuk menampilkan aplikasi secara berkelanjutan, dari smartphone ke mode tablet. Juga, pengguna dapat menjalankan tiga aplikasi secara bersamaan dengan pengalaman yang smooth.
Di sektor kamera, Galaxy Fold punya enam kamera. Tiga kamera utama yang bisa diakses pada mode smartphone atau tablet dengan resolusi 12 MP lensa wide-angle, 12 MP lensa telephoto, dan 16 MP lensa ultra-wide.
Lalu, ada dua kamera di bagian dalam atau pada mode tablet dengan resolusi 10 MP dan 8 MP lensa RGB depth, dan satu kamera depan 10 MP pada mode smartphone. Samsung Galaxy Fold akan tersedia dalam dua versi, yakni 5G dan 4G LTE. Smartphone ini akan dijual mulai dari USD 1.980 atau setara Rp 27,7 jutaan pada 26 April mendatang.
Huawei Mate X
Kurang dari seminggu setelah Samsung merilis Galaxy Fold, Huawei langsung meluncurkan smartphone lipat andalannya di ajang MWC 2019. Smartphone bernama Huawei Mate X ini mengusung konsep desain berbeda daripada Galaxy Fold.
Huawei Mate X menggunakan layar berjenis AMOLED fleksibel berukuran 8 inci dengan resolusi 2480 x 2200 piksel. Huawei mendesain smartphone ini agar dapat dilipat ke luar.
Sehingga ketika dilipat, layar bagian depan berukuran 6,6 inci dan aspek rasio 19,5 : 9 akan aktif, sementara layar yang berada di bagian belakang dengan ukuran 6,38 inci dan aspek rasio 25 : 9 akan mati.
Tidak seperti Galaxy Fold yang punya notch saat berada dalam mode tablet, Mate X justru terlihat lebih bezel-less karena tidak memiliki ornamen atau komponen apapun yang mengganggu tampilan layar. Untuk dapur pacunya, digunakan prosesor Kirin 980 berbasis 7nm, RAM 8 GB, ROM 512 GB, dan baterai berkapasitas 4,500 mAh.
Huawei Mate X memiliki tiga kamera utama, yang diklaim memiliki kemampuan setara dengan kamera Huawei Mate 20 Pro. Ketiga kamera ini mengusung konfigurasi lensa utama RGB, lensa telephoto, dan lensa ultra-wide.
Untuk harganya, Huawei membanderol Mate X seharga USD 2600 atau sekitar Rp 36,5 juta dengan 8GB RAM dan 512GB penyimpanan. Huawei menjanjikan akan melepaskan Mate X ke pasaran pada pertengahan tahun ini.
Nubia Alpha
Wait, ini kan smartwatch lipat, bukan smartphone lipat? Memang, Nubia Alpha merupakan smartwatch lipat yang diluncurkan di MWC 2019. Akan tetapi, perangkat ini memiliki fungsi yang terbilang hampir sama dengan sebuah smartphone.
Sebab, Nubia menghadirkan versi perangkat dengan teknologi eSIM yang memudahkan pengguna melakukan panggilan suara dan dapat mengakses internet dalam jaringan 4G LTE. Secara spesifikasi, Alpha mengusung layar berjenis OLED fleksibel buatan Visionox dengan ukuran 4 inci beraspek rasio 36 : 9 dan beresolusi 960 x 192 piksel.
Nubia Alpha menggunakan mesin utama berupa prosesor Snapdragon Wear 2100, RAM 1 GB, ROM 8 GB, dan baterai 500 mAh. Nubia mengklaim, perangkat barunya ini mampu menyimpan 1.000 lagu di dalamnya.
Selayaknya sebuah smartwatch, terdapat beberapa fungsi menarik di dalamnya, seperti motion gestures, AIM (Air Interaction Mechanics), monitor detak jantung, sampai monitor tidur pengguna. Terdapat juga kamera utama dengan sensor beresolusi 5 MP aperture f/2.2 untuk keperluan video call atau mengambil foto.
Nubia Alpha dikemas dengan body berbahan dasar stainless steel dengan layar yang dilapisi oleh polimida tahan panas. Nubia juga menyediakan versi bahan dasar emas 18K. Keduanya, sama-sama sudah memiliki sertifikasi tahan air.
Nubia Alpha akan dijual secara resmi pada bulan April mendatang, dengan harga mulai dari €450 atau sekitar Rp 7,1 jutaan untuk versi Bluetooth, €550 atau Rp 8,7 jutaan untuk versi eSIM, dan €650 atau Rp 10,3 jutaan untuk versi emas 18K.
LG V50 ThinQ
Foto: 9to5Google
LG V50 ThinQ memang bukanlah smartphone lipat dengan layar fleksibel, seperti Samsung Galaxy Fold maupun Huawei Mate X. Akan tetapi, berkat adanya aksesoris Dual Screen yang disediakan LG, smartphone ini pun layak disebut sebagai smartphone lipat.
Ya, di ajang MWC 2019, LG meluncurkan V50 ThinQ dengan konsep desain yang hampir sama dengan LG V40 ThinQ. Smartphone ini mengusung layar berukuran 6,4 inci berjenis OLED FullVision Display beresolusi 3120 x 1440 piksel.
LG V50 ThinQ ditenagai oleh prosesor Snapdragon 855, dan sudah disematkan juga chip modem Snapdragon X50 yang membuatnya punya kemampuan untuk berjalan di jaringan super cepat, 5G yang diklaim punya kecepatan 20x lebih baik dari 4G LTE.
{Baca juga: LG Masih “Galau” akan Rilis Ponsel Layar Lipat}
LG V50 ThinQ secara total punya lima kamera. Tiga kamera di belakang dengan resolusi masing-masing 12 MP aperture f/1.5 lensa standar, 12 MP aperture f/2.4 lensa telephoto, dan 16 MP aperture f/1.9 lensa ultrawide. Sementara kamera depan, beresolusi 8 MP dan 5 MP wide-angle.
Nah berbicara soal aksesoris Dual Screen, perangkat ini disematkan layar berjenis OLED dengan resolusi 2160 x 1080 piksel. Aksesoris tersebut bisa dihubungkan dengan smartphone lewat pogo pins di bagian belakang body.
Ketika digunakan, smartphone pun akan terlihat seperti smartphone lipat dengan adanya engsel di bagian tengahnya. Dilansir dari GSMArena, Selasa (26/02/2019), Dual Screen akan meningkatkan multitasking pengguna, dan memudahkan para gamers untuk memiliki gamepad yang mendukungnya ketika bermain game.
Smartphone Lipat TCL
Foto: TechRadar
Perusahaan asal China, TCL juga tak mau kalah dengan memamerkan prototype dari smartphone lipatnya di MWC 2019. Smartphone TCL itu diklaim merupakan smartphone lipat dengan harga yang terjangkau, ketika resmi diluncurkan nanti.
Smartphone ini punya layar fleksibel berukuran 7,2 inci dengan konsep desain DragonHinge yang dipatenkan perusahaan sebagai konstruksi bagi perangkat lipat di masa depan.
Melansir dari The Verge, Selasa (26/02/2019), DragonHinge menggunakan perpaduan antara frame berbahan dasar logam dengan serangkaian gear kecil untuk melindungi layar lipatnya. TCL memfokuskan diri akan merilis smartphone lipatnya tersebut pada pertengahan 2020 mendatang.
Untuk harganya, kemungkinan smartphone tersebut berada di kisaran harga USD 1000 atau Rp 13,9 jutaan, jauh lebih murah dibandingkan Galaxy Fold yang dibanderol Rp 27,7 jutaan ketika dijual resmi nanti. (FHP)
Telko.id, Jakarta – Di ajang Mobile World Congress (MWC) 2019, Nubia turut merilis perangkat lipatnya. Namun, bukan smartphone lipat seperti Samsung Galaxy Fold atau Huawei Mate X, perusahaan asal China ini meluncurkan smartwatch lipat bernama Nubia Alpha.
Smartwatch yang juga dikenal sebagai Nubia α ini mengusung layar berjenis OLED fleksibel buatan Visionox dengan ukuran 4 inci.
Smartwatch yang lebih cocok disebut sebagai “gelang pintar” ini punya layar relatif tinggi, dengan aspek rasio 36 : 9 dan beresolusi 960 x 192 piksel.
Melansir dari GSMArena, Selasa (26/02/2019), Nubia Alpha menggunakan mesin utama prosesor Snapdragon Wear 2100, RAM 1 GB, dan ROM 8 GB. Nubia mengklaim, smartwatch-nya mampu menyimpan 1.000 lagu di dalamnya.
Terdapat juga baterai berkapasitas 500 mAh yang menopang sistem operasi custom dengan beberapa fitur di dalamnya. Seperti, motion gestures, AIM (Air Interaction Mechanics), monitor detak jantung, monitor tidur, dan lainnya.
“Baterai bisa bertahan seharian hingga maksimal dua hari,” klaim Nubia.
Smartwatch ini juga punya kamera utama dengan sensor beresolusi 5 MP aperture f/2.2 untuk keperluan video call atau mengambil foto. Selain itu, Nubia juga menghadirkan versi dengan fitur eSIM pada Nubia Alpha, untuk memudahkan pengguna melakukan panggilan suara dan dapat mengakses internet dalam jaringan 4G LTE.
Sehingga bisa dikatakan, smartwatch inipun layar disebut sebagai smartphone lipat. Sementara untuk versi standar, smartwatch lipat tersebut bisa terhubung ke smartphone melalui Bluetooth dan ke internet melalui Wi-Fi.
Nubia Alpha dikemas dengan body berbahan dasar stainless steel dengan layar yang dilapisi oleh polimida tahan panas. Nubia juga menyediakan smartwatch dengan bahan dasar emas 18K. Keduanya, sama-sama sudah memiliki sertifikasi tahan air.
Nubia Alpha akan dijual secara resmi pada bulan April mendatang, dengan harga mulai dari €450 atau sekitar Rp 7,1 jutaan untuk versi Bluetooth, €550 atau Rp 8,7 jutaan untuk versi eSIM, dan €650 atau Rp 10,3 jutaan untuk versi emas 18K. (FHP)
Telko.id, Jakarta – Para penderita trypophobia atau ketakutan terhadap lubang mengklaim bahwa smartphone terbaru Nokia, Nokia 9 PureView telah memicu kondisi atau respon trypophobic mereka.
Hal itu disebabkan karena smartphone memiliki fitur penta-lens atau lima lensa kamera, dan dua lubang tambahan untuk lensa ToF yang membantu kamera utama mendapatkan informasi kedalaman pada foto, serta dual-tone LED Flash.
Ketujuh lubang di body belakang Nokia 9 PureView inilah yang membuat orang yang mengidap trypophobia merasa tidak nyaman.
{Baca juga: Nokia 9 PureView, Ponsel 5 Kamera Pertama di Dunia}
Sejumlah orang mengunggah tweet tentang dampak mengejutkan yang dimiliki smartphone Nokia itu terhadap mereka, dan seorang psikolog mengatakan bahwa gadget itu dapat “memicu respon trypophobic” pada seseorang yang berpose untuk difoto menggunakan smartphone ini.
Satu di antaranya mengklaim, perangkat terbaru Nokia tersebut membuat mereka merasa diserang secara pribadi.
“Smartphone ini membuat saya merinding, “tulis netizen bernama Deanna Williams di Twitter.
Sementara itu, Noel R. Mayer, pemilik akun Twitter Noel The Walrus meminta agar Nokia melakukan pencarian tentang trypophobia sebelum merancang smartphone baru.
“Yo, @NokiaMobile! Google trypophobia sebelum Anda merancang smartphone baru, silakan. Itu ada di seluruh situs teknologi, memicu serangan panik. Jangan mencari Nokia baru! #MentalHealth,” tulisnya.
Pengalaman kurang menyenangkan juga dialami oleh seorang desainer game, Ishan Manjrekar yang merasa tidak nyaman melihat foto-foto unit dari Nokia 9 PureView.
{Baca juga: Menakjubkan! Ini Hasil Lima Kamera Nokia 9 PureView}
“Gambar foto-foto Nokia 9 ini harus disertai dengan peringatan trypophobia! Aku merasa sedikit tidak enak melihat mereka,” tulisnya.
Seorang dosen senior di Pusat Penelitian Otak di Universitas Essex, Dr Geoff Cole mengatakan kepada Metro, seperti diikutip Telko.id pada Selasa (26/02/2019), bahwa ia menerbitkan makalah akademis pertama tentang trypophobia. Ia mengatakan, pola kamera Nokia 9 PureView memiliki struktur yang menyebabkan trypophobia.
“Ketika seseorang mengambil gambar Anda, kamera pada smartphone ini dapat memicu respon trypophobia,” katanya.
Ia percaya bahwa pola lubang yang memicu trypophobia memiliki struktur matematika yang mirip dengan pengaturan warna atau tanda pada predator atau hewan dan tanaman beracun.
{Baca juga: Nokia 9 PureView akan Diluncurkan di Indonesia?}
“Saya banyak menerima surat dan email yang mengatakan mereka tidak bisa bekerja selama tiga hari ketika melihat gambar seperti itu,” jelasnya.
Ada sebagian orang yang mengaku merasa sulit berkonsentrasi setelah melihatnya. Bagi sebagian besar orang, mereka merasa melihat sesuatu yang buruk dan terus muncul di pikiran mereka. (BA/FHP)