spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1348

Mengintip 5 Teknologi Jadul di Film Captain Marvel, Pernah Ngalamin?

Telko.id, Jakarta – Salah satu film Marvel Cinematic Universe (MCU) yang paling dinanti – Captain Marvel, akhirnya resmi dirilis pada awal Maret. Menurut laporan, film yang dibintangi Brie Larson ini bahkan langsung memuncaki box office, bukan cuma domestik tetapi juga global. Tidak tanggung-tanggung, setidaknya USD455 juta atau setara Rp 6 triliun (domestik dan internasional) berhasil dikantongi film ini di minggu pertamanya.

Sontak, pencapaian ini pun menobatkan Captain Marvel sebagai salah satu film blockbuster terbesar yang dipimpin oleh wanita. Dalam Sinematik Marvel, film yang dibintangi Brie Larson tersebut berada di jajaran karakter yang paling sukses debutnya, setelah film-film The Avengers, Black Panther, Captain America: Civil War, dan Iron Man 3.

Nah, jika di film-film sebelumnya itu kita dibawa untuk berkenalan dengan seabreg teknologi canggih, di Captain Marvel ada yang sedikit berbeda. Masih tetap sama canggihnya, khususnya ketika kita diajak berkenalan pertama kali dengan Vers alias Carol Danvers alias Captain Marvell di Kree, namun dengan sedikit tambahan teknologi jadul didalamnya.

{Baca juga: Waah.. Smartphone Ini jadi Pilihan Captain Marvel!}

Captain Marvel sendiri, seperti diketahui, berkisah tentang Carol Danvers, mantan pilot Angkatan Udara Amerika Serikat, yang berubah menjadi salah satu pahlawan terkuat galaksi dan bergabung dengan Starforce, sebuah tim elit militer Kree. Ia kembali ke bumi, yang merupakan rumahnya, dengan sejumlah pertanyaan baru tentang masa lalu dan identitasnya. Film ini mengambil latar tahun 1990an (tepatnya 1995), ketika sejulmah teknologi sebelum hologram atau AI (yang kini kita sebut jadul) masih begitu populer. Nah, berikut beberapa diantaranya:

Telepon Umum

Hal pertama yang dilakukan Vers atau Carol Danvers setelah mendarat di bumi adalah mendatangi telepon umum. Bedanya, ia sedikit memodifikasi kinerja perangkat hingga akhirnya memuculkan semacam hologram yang menghubungkannya dengan pasukan Starforce di Kree.

Telepon umum sendiri pertama kali ditemukan oleh William Gray pada tahun 1889 dan dipasang pada sebuah bank di daerah hart ford Connecticut. Penemuan tersebut berkembang dengan pesat dan pada tahun 1892 jumlahnya mencapai 81.000 di Amerika Serikat. Pada tahun 1905, telepon umum koin ciptaan Bell dipasang pertama kali secara outdoor pada Jalan Cincinnati. Telepon umum ini tidak begitu menarik perhatian masyarakat karena pemakaian telepon secara pribadi kurang bisa dilakukan di tempat publik. Alhasil, pada tahun 1950-an, Bell mendesain kotak telepon (kamar untuk menelepon) dari kaca dan alumunium yang cukup memuat satu orang di dalamnya. Hal ini merupakan kemajuan pesat setelah bertahun-tahun lamanya kayu digunakan untuk membuat kotak telepon.

Pager

Radio panggil atau lebih dikenal dengan sebutan pager merupakan alat telekomunikasi pribadi yang digunakan untuk menyampaikan dan menerima pesan pendek. Dalam perjalanannya, radio panggil dibagi menjadi dua, yakni numerik satu arah yang hanya memungkinkan menerima pesan yang terdiri dari beberapa digit saja serta  alphanumerik yang tersedia dengan sistem dua arah sehingga dapat mengirim pesan melalui surat elektronik atau SMS (short message service).

{Baca juga: Unik! Situs Resmi Captain Marvel Bergaya ‘Jadul’}

Radio panggil (pager) sendiri sudah jarang ditemukan saat ini. Padahal, kalau mau main aman-amanan, pager justru lebih sulit diretas, tidak menyimpan riwayat percakapan (penting untuk privasi dan keamanan), dan lebih dapat diandalkan selama bencana alam. Meski memang memiliki jangkauan yang lebih lama daripada ponsel. Oke, kecuali pager Nick Fury, yang dimodifikasi oleh Carol Danvers hingga diklaim bisa mengjangkau beberapa galasi.

Komputer

Generasi tahun 90an pasti tak asing lagi dengan komputer model gembol seperti yang digunakan Nick Fury di film Captain Marvel. Ya, loading yang lama adalah sesuatu yang sulit terlupakan.

Secara peruntukkan, komputer sendiri adalah alat yang dipakai untuk mengolah data menurut prosedur yang telah dirumuskan. Kata computer pada awalnya dipergunakan untuk menggambarkan orang yang perkerjaannya melakukan perhitungan aritmetika, dengan atau tanpa alat bantu, tetapi arti kata ini kemudian dipindahkan kepada mesin itu sendiri. Penemu komputer pertama adalah Charles Babbage, yang dikenal dunia sebagai salah satu penemu sejarah komputer pertama kali.

Compact Disc (CD)

Bertahun-tahun yang lalu, CD mungkin masih menjadi benda yang familiar bagi sebagian orang. Tapi tidak sekarang. Karenanya, melihat benda ini terpampang nyata di film Captain Marvel adalah sebuah ajang nostalgia tersendiri. “Ahh…iya.” “Ya ampun CD.” “Waah… haha…” dan komentar lainnya.

Compact Disc (CD) atau cakram padat pada dasarnya adalah sebuah cakram optik digital yang digunakan untuk menyimpan data. Sejak diperkenalkan secara resmi pada tahun 1982, CD memperoleh puncak penjualan pada tahun 2000 yang mencapai 2.445 juta keping.

CD dibuat dari plastik polikarbonat setebal 1,2 mm dengan berat 15-20 gram. Pembagian komponen CD dari bagian tengah CD sampai luar adalah : Pusat/ poros CD, daerah transisi pertama (cincin penjepit), daerah kelm (cincin stacking), Daerah transisi kedua, daerah informasi dan RIM. Untuk ukuran CD berdiameter 120mm dapat memuat audio selama 80 menit atau data sebesar 650-870 MB, sedangkan mini cd yang memiliki diameter mulai dari 60mm sampai dengan 80mm dapat memuat audio selama 24 menit atau data sebesar 185-210 MB.

Pesawat F-16 

F-16 adalah jet tempur multi-peran supersonik yang dikembangkan oleh perusahaan General Dynamics (kemudian diakuisisi oleh Lockheed Martin), untuk Angkatan Udara Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur superioritas udara namun akhirnya berevolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer.

Di udara, kemampuan tempur F-16 tak perlu diragukan. Ini masuk kategori sangat baik, dengan inovasi seperti tutup kokpit tanpa bingkai yang memperjelas penglihatan, gagang pengendali samping untuk memudahkan kontrol pada kecepatan tinggi, dan kursi kokpit yang dirancang untuk mengurangi efek g-force pada pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur pertama yang dibuat untuk menahan daya belokan pada percepatan 9g. F-16 mempunyai senapan M61 Vulcan pada bagian dalam badan pesawat serta 11 lokasi pylon untuk mnggotong senjata dan peralatan misi lainya. Nama resmi dari F-16 sendiri ialah”Fighting Falcon”, tetapi “Viper” lebih umum digunakan oleh kru darat dan pilot-pilot pesawat tersebut, karena kemiripan bentuknya dengan ular Viperidae dan Starfighter Colonial Viper dari acara TV Battlestar Galactica.

Sub-Brand Jadi Strategi Baru Bagi Vendor Smartphone, Apa Target nya?

Telko.id – Brian Shen, Wakil Presiden perusahaan Oppo tetiba mengumumkan dalam lini masa Weibo nya nya tentang rencananya akan meluncurkan produk terbarunya yakni Reno. Oppo memang tidak menyebutkan sebagai sub-brand. Tetap banyak pihak yang menilai Reno ini merupakan sub-brand dari Oppo.

Padahal sebelumnya, Oppo juga sudah memiliki Realme.

Strategi membuat sub brand oleh para vendor smartphone seperti ini sebenarnya sudah terlihat terlihat satu tahun belakangan ini. Dan, lebih banyak dilakukan oleh vendor asal Cina. Sebut saja Huawei dengan sub-brand Honor dan Xioami dengan Pocophone. Kemudian juga Vivo, anak perusahaan lain dari BBK Electronics yang meluncurkan Vivo IQOO, produk yang menyasar segmen premium.

Samsung sendiri, sebagai vendor smartphone terbesar di dunia ini masih belum menggunakan strategi ini. Galaxy sendiri tidak diakui sebagai sub brand oleh Samsung. Walaupun Galaxy seperti sudah menjadi sub brand dari Samsung.

Lalu, apa target pembuatan subrand ini?

Dari beberapa strategi yang dilakukan para vendor ini bisa dilihat bahwa target masing-masing sub brand ini beragam. Sebut saja Xioami yang membuat Pocophone. Produk ini lebih mengarah pada segmen ditujukan untuk kelas menengah dengan kualitas premium dan harga terjangkau.

Sedangkan  Xiaomi sendiri akan diposisikan untuk fokus di segmen High-end, premium dan serial flagship.

Sebelumnya, Xiaomi ini juga memiliki sub brand Redmi yang difokuskan menjadi smartphone yang memiliki value for money tinggi, punya harga rasional yang berbanding lurus dengan kemampuan dan kualitasnya.

Namun, tidak lama Redmi pun memisahkan diri dari Xiaomi. Perpisahan merek ini diharapkan dapat fokus dan all out dalam menggarap pasar masing-masing sehingga bisa mendulang kesuksesan yang gemilang. Maklum saja, karena persaingan yang semakin ketat pada industri smartphone membuat Xiaomi lebih mempersiapkan diri agar tidak tergerus oleh para pesaingnya.

Para vendor smartphone itu memang seperti berada di sirkuit balapan. Di mana, biasanya setiap brand memiliki pembalap utama dan pembalap kedua. Tujuannya? Ya apalagi, pembalap kedua harus menjadi ‘penjaga’ agar pembalap utama dapat mulus menuju garis finish.

Rasanya, strategi ini juga berlaku bagi vendor smartphone. Supaya Oppo mulus menempati posisi yang terbaik, ada Realme yang menjaga dibelakang nya. Begitu juga Vivo yang sebagai ‘saudara kandung’ nya yang siap berjaga-jaga. Tapi ternyata, Vivo pun bisa melaju terus sehingga bisa dibilang sejajar dengan Oppo.

Sayang, Samsung belum masuk ke strategi sub-brand ini. Akhirnya, Samsung pun cukup ketar-ketir menghadapi derasnya arus perlawanan dibawah nya sendirian.

Apalagi, jika melihat ‘agresif’ nya Xiaomi yang akhirnya bisa mencapai posisi dua di Indonesia sejak kuartal dua tahun 2018 lalu.

Berdasarkan lembaga riset IDC, pada kuartal ketiga 2018, tercatat pengiriman smartphone mencapai 8,6 juta unit pada periode Juli—September 2018.

Angka itu menunjukkan terjadi penurunan sebesar 9 persen jika dibandingkan kuartal sebelumnya (April—Juni), tetapi tumbuh 18 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (2017).

Mengenai market share, tidak ada perubahan signifikan dibandingkan kuartal kedua 2018. Samsung masih merajai pasar smartphone Indonesia dengan raihan 28 persen.

Di posisi kedua masih ditempati Xiaomi dengan capaian 24 persen. Tiga posisi setelahnya juga masih didiami brand sama dengan kuartal lalu Oppo (19%), Vivo (11%) dan Advan (5 persen).

Tetapi di India, Samsung terpaksa harus bertekuk lutut dengan Xiaomi. Menurut penelitian lembaga riset Counterpoint, pangsa pasar Samsung di India berdasarkan pengiriman Samsung telah tertinggal dari Xiaomi di dua dari tiga wilayah pada 2018.

Lalu, apakah Samsung akan terus bersiteguh tidak menggunakan strategi sub-brand ke depannya? Hingga saat ini memang masih belum ada yang bisa mengkonfirmasi hal tersebut. Jadi, kita tunggu saja gebrakan Samsung selanjutnya untuk mempertahankan diri sebagai market share terbesar di Indonesia maupun kembali menjadi raja smartphone dengan market share terbesar di India. (Icha)

Begini Agresif nya XL Bangun Jaringan Yang Berkelanjutan

0

Telko.id – Jaringan yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan operator bukan hanya saja cakupan layanan yang luas tetapi juga berkualitas. Tentu hal ini tidak dapat lepas dari pemenuhan kebutuhan para pelanggannya. Seperti sekarang ini yang lagi tren video streaming. Nah, dari depan sampai belakang, jaringan operator pun harus mendukung tren tersebut.

XL merupakan salah satu operator yang cukup agresif membangun jaringan. Rancangannya ini dibangun secara bertahap tetapi terstruktur. Semua perjalanan itu dimulai dari tahun 2017. Di mana, tahun ini XL melakukan yang namanya Fixing Coverage Gap. XL Axiata terus melakukan perluasan jaringan untuk memperluas cakupan layanan di berbagai wilayah di Indonesia.

Tahun 2018 dilanjutkan dengan Reliable Experience. Di mana, selain melakukan perluasan cakupan layanan, XL Axiata juga berfokus untuk meningkatkan kualitas jaringan dan layanan sehingga bisa mendorong terciptanya pengalaman pelanggan yang lebih baik (reliable experiences).

Lanjut pada 2019 ini, yang menjadi fokus adalah Transport- Led yakni meningkatkan transmisi jaringan dengan kapsitas yang lebih besar guna mendukung penggunaan layanan data sesuai trend era konvergensi.

Itu sebabnya, medio Maret ini juga XL menunjuk Ericsson untuk melakukan modernisasi jaringan transportnya dengan router 6000 yang siap 5G selama tiga tahun ke depan di Indonesia dan dimulai pada kuartal dua tahun 2019.

“Ini merupakan salah satu inisiatif kami menuju era 5G,” kata Yessie di Jakarta, Senin (11/3/2019).

Menurut Yessie, langkah strategis ini juga termasuk untuk memenuhi persyaratan 5G di masa depan dan mendukung peningkatan signifikan dalam jumlah perangkat yang terhubung dan lalu lintas data di jaringan.

Dengan basis pelanggan yang saat ini sudah mencapai 58 juta ini maka evolusi ke 5G harus berlangsung mulus. “Itu sebabnya, jaringan transport juga harus sudah siap 5G supaya dapat berevolusi secara mulus menjadi jaringan 5G,” ujar Jerry Soper, Head of Ericsson Indonesia.

Terlebih jika merefer dari Ericsson Mobility Report edisi November 2018, lalu lintas video di jaringan seluler diperkirakan akan tumbuh sekitar 35 persen per tahun hingga 2024 dengan memperhitungkan 74 persen dari semua lalu lintas data seluler.

Dimana, lalu lintas video seluler akan terus bertambah, didorong oleh meningkatnya waktu menonton, video online dan layanan streaming, ditambah evolusi menuju resolusi yang lebih tinggi.

Semua situs yang dipilih untuk dimodernisasi akan menggunakan Router 6000 yang dioptimalkan untuk konektivitas 10/1000G, throughput yang tinggi, latensi rendah dan buffering terbaik di kelasnya.

Dengan Router 6000, jaringan juga akan memiliki kemampuan IPsec untuk meningkatkan keamanan dan high accuracy internal clock guna menghasilkan kinerja terbaik. Dengan semua ini jaringan akan siap untuk 5G.

Ericsson Router seri 6000 adalah portfolio IP transport yang terintegrasi denganradio network untuk service provider, dengan kemampuan SDN yang dikelola oleh end-to-end management system yang sama. Sistem ini dapat memberikan konektivitas kinerja yang tinggi untuk aplikasi LTE, LTE-Advanced, dan 5G.

Selain itu, XL juga menggandeng Huawei untuk memperbarui (rekonstruksi) jaringan telekomunikasi dengan menggunakan fiberisasi kabel optik milik Huawei. Pembaharuan jaringan ini diharapkan dapat memperluas jangkauan layanan telekomunikasi untuk bisnis Fixed Mobile XL, seperti diungkap CTO XL Axiata Yessy Yosetya.

“Solusi Huawei mendukung pembangunan jaringan bearer yang simpel dengan bandwith tinggi, namun memiliki tingkat latensi yang minimal. Hal tersebut selaras dengan tujuan yang hendak kami capai dalam mewujudkan simplifikasi jaringan,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Jaringan bearer biasanya digunakan untuk mengurangi latensi sehingga mempercepat respon jaringan. Sehingga, Yessy berharap solusi Optical Networking 2.0 Huawei bisa menyederhanakan arsitektur jaringan mereka menuju era 5G.

Kenapa Huawei yang dipilih? Huawei sendiri pernah menjanjikan bahwa ke depan perusahaan ini akan menghadirkan berbagai inovasi serta membangun jaringan yang berfokus terhadap peningkatan pengalaman pengguna dalam rangka menyambut berbagai kesempatan strategis di era 5G.

Hal ini diungkapkan oleh President of Huawei Transmission & Access Product Line Richard Jin di Barcelona beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari CNN Indonesia.

XL sendiri sudah bersiap menghadapi era 5G ini dari sekarang karena pada saat nya nanti, operator dituntut untuk menyediakan koneksi pita lebar yang 10 kali lebih luas, dengan latensi 10 kali lebih kecil, dan mesti menghubungkan perangkat 100 kali lebih banyak. Semua ini menyebabkan operator mesti menghadapi jaringan yang 10 kali lebih rumit.

Solusi yang ditawarkan oleh vendor jaringan asal CIna ini adalah Huawei Optical Networking 2.0 yang menggunakan OXC (all-optical cross-connect). OXC adalah peranti industri yang mampu mendukung dibangunnya jaringan mesh backbone secara 3D.

Selain itu digunakan juga untuk koneksi one-hop antar titik sehingga memungkinkan diterapkannya provisi layanan end-to-end dengan lebih cepat.

Rencana XL Di 2020 dan 2021

Melanjutkan rencana XL yang sudah dibuat dari tahun sebelumnya, maka tahun 2020 operator ini akan fokus untuk memberikan layanan True Convergence.

Dimana, pengembangan jaringan dengan memanfaatkan dan mengadopsi perkembangan teknologi terbaru (5G, FWA, dan FTTH) guna memberikan kemudahan bagi masyarakat dan industri untuk memanfaatkan jaringan dan layanan konvergensi.

Tahun 2021, XL akan fokus untuk memberikan layanan yang Simple, Agile, Sustainable. Dimana akan melakukan penyediaan jaringan yang mendukung konvergensi. Baik untuk Mobile, perumahan/home, enterprise, dan lain sebagainya. (Icha)

4 Alasan Ganti Smartphone, Kenapa Harus Sekarang?

Telko.id – Bagi sebagian orang, membeli smartphone (baru) di awal tahun mungkin sama seperti mempertaruhkan masa depan yang cemerlang. Apalagi jika jelas-jelas tahu, bahwa akan ada lebih banyak lagi smartphone yang berdatangan dalam beberapa bulan ke depan. Dengan teknologi dan fitur yang pastinya juga lebih ditingkatkan. Layar yang lebih luas mungkin? Atau, kamera yang lebih canggih?

Dengan evolusi smartphone yang bergerak sangat cepat, selalu ada  sesuatu yang menunggu di ujung jalan. Tapi sementara menunggu itu datang, mari kita juga tidak menampik kemungkinan bahwa tak sedikit pula orang di luar sana yang selalu menginginkan model terbaru secepatnya. Mereka-mereka yang suka dan mampu untuk membeli teknologi teranyar saat ini juga. Tanpa berpikir akhir tahun akan ada prosesor apa, akan ada layar teknologi apa, dan sebagainya.

Nah, kenapa kami juga berpikir bahwa membeli smartphone (baru) sekarang adalah saat yang tepat, setidaknya ada 4 alasan. Oke, kesampingkan dulu 5G, toh implementasinya belum benar-benar terlihat hingga saat ini. Di Indonesia sendiri, entah baru kapan akan benar-benar diadopsi. Cukup pikirkan keempat hal ini. Setidaknya untuk saat ini.

Desain stylish penunjang penampilan

Dalam perjalanannya, smartphone telah mengalami beberapa kali perubahan bentuk, sebelum akhirnya jadi seperti apa yang kita lihat sekarang. Bukan saja tak lagi sebesar dulu, smartphone saat ini juga dirancang untuk tampil stylish. Mulai dari bodi yang ramping, layar yang luas dengan bingkai tipis (bezel-less) hingga tentu saja, perpaduan warna yang dinamis. Warna gradasi boleh dibilang yang paling mendominasi. Ditambah layar berponi hingga kamera berjejer.

{Baca juga: Punya Tampilan Keren, Ini 3 Keunggulan Kamera Vivo V15}

Memaksimalkan potensi kecerdasan buatan

Diungkapkan perusahaan riset Gartner, AI akan menjadi salah satu fitur utama yang menjadi pembeda antar produsen smartphone, serta menjadi fitur yang esensial dalam menghadapi kompetisi pasar ke depan. Gartner pun memprediksi, bahwa setidaknya 80% produsen akan mengusung kemampuan ini dalam setiap piranti smartphone-nya pada 2022.

Jumlah ini meningkat pesat jika dibandingkan dengan data tahun 2017 yang baru mencapai 10% dari total smartphone. Dan ini pastinya bukan tanpa alasan. Terlebih, smartphone berbasis AI saat ini semakin mudah dijangkau dan didapatkan. So, kenapa harus menunggu nanti, untuk bisa mengoptimalkan AI, jika bisa dari sekarang?

{Baca juga: Ketika Kecerdasan Buatan Mengambil Alih Kinerja Smartphone}

Fitur canggih yang bisa diandalkan

Banyak alasan kenapa sebuah smartphone dikatakan canggih. Namun yang paling utama, tentu saja terkait apa yang dibenamkan produsen di dalam kepalanya. Prosesor terbaru dengan kecepatan super bisa menjadi pilihan. Namun lebih dari itu, fitur-fitur yang ada disekitarnya pun tak bisa diabaikan. Kamera depan dengan modul yang tak biasa (Pop-up Camera) misalnya, sensor sidik jari di dalam layar, dan sebagainya. Fitur-fitur futuristik ini bukan saja akan membuat ponsel berasa lebih pintar, tetapi juga canggih. Yah, meski mungkin belum akan secanggih pager Nick Fury yang bisa menjangkau hingga beberapa galaksi. Paling tidak, ini semua akan bisa memudahkan pengguna dalam mengakses smartphone, namun tetap dengan perasaan aman dan nyaman.

{Baca juga: Dibalik Konfigurasi Triple Kamera Vivo V15}

Lebih cepat lebih baik

Sebagai bagian dari peluncuran, sebagian besar produsen ponsel biasanya akan memberikan lebih banyak benefit bagi konsumen. Entah berupa cashback, diskon, bonus atau yang lainnya.

Vivo misalnya, menawarkan sejumlah benefit kepada konsumen yang membeli Vivo V15 pada periode 12-20 Maret 2019. Baik di gerai resmi dan mitra ritel vivo yang tersebar di seluruh Indonesia maupun di official online store seperti Akulaku, Blibli, JD.ID, Lazada, Shopee, dan Tokopedia. Bukan saja berupa penawaran garansi khusus 18 bulan dan 24 bulan / 2 tahun, sepanjang masa pembelian yang dipanggil Hot Selling Day ini, pabrikan yang berbasis di Tiongkok ini juga menawarkan harga menarik dan cicilan 0%. Sepanjang promo Hot Selling Day ini Vivo juga akan memberikan Sport Bluetooth Earphone dan penawaran menarik lainnya pada konsumen. Lebih dari itu, Anda bisa mendapatkan 3 hal yang kami sebutkan sebelumnya, di Vivo V15. Cek keunggulan lain dari Vivo V15 disini!

Catat! Bos Perusahaan Wajib Punya Skill Ini untuk Hadapi AI

Telko.id, Jakarta – Microsoft membagikan tips bagi pimpinan bisnis atau perusahaan dalam hadapi AI (Artificial Intelligence). Raksasa teknologi tersebut mengatakan, ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki para bos perusahaan untuk mengelola teknologi AI dan menghadapinya dengan bijak.

Dalam laporannya yang berjudul “Future Ready Business : Assessing Asia Pasific Growth Potential Through AI”, Microsoft menjelaskan kemampuan apa yang harus dimiliki para pimpinan perusahaan dalam menghadapi AI.

Hasilnya, 53% responden dari pimpinan perusahaan mengatakan bahwa kemampuan yang harus dimiliki mereka adalah quantitative, serta analytical dan statistical skill atau kemampuan analisis.

{Baca juga: 70% Pekerja Kantoran Senang “Dibantu” AI}

“Para pimpinan bisnis dituntut untuk mampu membaca data dan menganalisa data tersebut,” ucap Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Harris Izmeedi di The Ritz-Carlton Hotel, Jakarta, Selasa (12/03/2019).

Responden tersebut juga mengatakan bahwa kemampuan enterpreneurship, initiative thinking, serta IT skills dan programming harus dimiliki oleh para bos perusahaan. Pasalnya, pusat dari teknologi ini adalah manusia sehingga keputusan pimpinan tetap menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan.

“Pusat dari AI adalah manusia. Teknologi tersebut tidak dirancang untuk berinteraksi selayaknya manusia sehingga keterampilan ini dibutuhkan oleh pemimpin bisnis,” ujar Harris.

{Baca juga: Pertama di Dunia, “Robot AI” Jadi Pembaca Berita TV di China}

Sementara 47% responden setuju jika kemampuan leadership dan managing others harus dimiliki para pemimpin bisnis.

“Sehingga keterampilan yang dibutuhkan tidak hanya keterampilan bisnis ataupun mengelola data, tetapi juga keterampilan yang hanya dapat dilakukan manusia seperti keberanian mengambil inisiatif dan bekerjasama dalam tim” tambah Harris.

Dalam hasil studi Microsoft juga ditemukan bahwa para pemimpin perusahaan menyadari pentingnya kegiatan reskilling dan retraining demi peningkatan kapabilitas karyawan. Untuk membantu memberdayakan karyawan, sekitar 81% pimpinan memprioritaskan pemberdayaan keterampilan karyawan di masa depan melalui alokasi investasi.

{Baca juga: Baru 14% Perusahaan di Indonesia yang Terapkan AI}

Sayangnya, ada 48% pimpinan perusahaan belum menerapkan rencana untuk membantu karyawan mereka dalam memperoleh keterampilan yang tepat. Selain itu, sebanyak 20% pemimpin merasa karyawannya tidak tertarik untuk mengembangkan keterampilan baru.

“Kami percaya dan optimis bahwa kesempatan-kesempatan yang tercipta karena AI akan memperkuat kecerdikan manusia untuk masa depan yang lebih baik bagi semua,” pungkasnya. (NM/FHP)

Bergaya Bak Seleb dengan 5 Headphone Stylish

Telko.id – Melek teknologi dan konsumtif sepertinya tidak menjadi satu-satunya hal yang membedakan generasi millenial dengan generasi di atasnya. Lebih dari itu, generasi yang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997 ini juga dikenal sangat peduli dengan personal branding.

Tak heran, jika komentar atau review positif sebagai buah dari penampilan yang oke pun selalu menjadi begitu penting bagi mereka.

So, nggak berlaku tuh pepatah “don’t judge a book by its cover”. Karena pada praktiknya, penampilan tetap nomor satu. Terlepas dari apa yang dimiliki atau yang ada di dalamnya.

Nah, hal serupa berlaku kala ingin membeli sebuah headphone atau in-ear headphone. Meski sebagian mungkin akan berfokus pada nama – dalam hal ini yang telah dikenal luas karena keandalannya, sebagian lagi mungkin akan cenderung melihat penampilan: ringkas kah, sedap dipandang mata kah, gaya kah, dan sebagainya.

Karena headphone atau in-ear headphone modern atau kekinian yang fashionable bukan saja ranah selebritis atau fashionista saja, tapi generasi millenial juga wajib memilikinya.

Nah, buat kalian yang lagi nyari headphone keren, di bawah ini adalah beberapa pilihan headphone atau in-ear headphone yang pas buat kamu yang ingin tampil gaya bak selebritis.

AKG On Ear Headphone Y30

Warna adalah identitasnya. Y30 On Ear Headphone with Mic merupakan headphone yang didesain stylish dengan kualitas suara yang tak hanya jernih tetapi juga detail. Sama seperti beberapa rekannya di sini, Y30 juga dilengkapi dengan earcup yang lembut sehingga nyaman digunakan dalam waktu lama.

Ada kabel sepanjang 1.8 meter bersamanya, namun ini tak lantas membuatnya merepotkan. Paling tidak, kamu mendapatkan driver 40 mm untuk suara yang seimbang dan powerfull, dengan audio yang boleh dibilang… luar biasa. Singkat kata, Y30 tepat buat kalian yang tak hanya mendambakan suara terbaik, tapi juga warna dan tampilan stylish.

JBL Wireless On-Ear Headphones JR300BT

Siapa yang tak suka dibilang keren? Percayalah, bukan cuma orang dewasa, anak-anak pun juga menyukainya. Apalagi dengan semakin banyaknya role model di luaran sana. Cita-cita mereka bukan lagi sekedar menjadi guru, apalagi menjadi seorang istri seperti ibunya, lebih dari itu, mereka ingin menjadi artis. Jika tidak, ya mirip-mirip selebritis atau Youtuber. Ya dalam berpakaian, dalam berbicara, bahkan mendengarkan musik.

Suara legendaris yang ditampilkan JBL dalam JBL Wireless On-Ear Headphones JR300BT untungnya tak hanya didesain dengan warna-warna ceria, ini juga diplot untuk membatasi volume di bawah 85dB, yang pastinya aman untuk anak-anak. Soal gaya, ngga usah ditanya, koneksi nirkabel lebih dari cukup untuk membuatnya tak terlilit oleh kabel, ditambah bantalan yang empuk dan masa pakai 12 jam. Singkat kata, lebih dari cukup untuk membuat anak tampil gaya, bak boyband atau girlgroup idola mungkin?

Sony WH-CH500 Wireless Headphones

Penyuka simplisitas, dalam hal ini yang tak mau dibuat pusing oleh kabel namun tak keberatan dengan ketiadaan daun telinga mungkin akan menyukai Sony WH-CH500. Headphone ini tak hanya akan mengalirkan musik lewat koneksi Bluetooth, ini juga bisa dipasangkan dengan mudah berkat NFC One-touch. Sementara baterainya yang dapat bertahan hingga 20 jam memungkinkan kamu terbang ke Istanbul tanpa perlu sibuk mengisi ulang di tengah jalan.

Hasil gambar untuk Sony WH-CH500 Wireless Headphones

Bagian terbaiknya lagi, dengan headphone ini kamu bahkan tak perlu repot-repot mengeluarkan ponsel dari tas kala seorang teman menelpon atau saat kamu ingin berbicara dengan asisten suara. Cukup tekan dan tahan tombol putar pada headphone, maka asisten suara di Android 4 atau iOS pun aktif. “Oh halo…” Kamu kini menjawab panggilan telpon teman dengan mikrofon internal berkualitas tinggi.

Jabra Sport Pace Earphone

Kami memaafkan jika kalian tak menggunakan ini untuk berolahraga. Pasalnya, meski didesain khusus untuk kepentingan ini, nyatanya Jabra Sport Pace Earphone lebih dari cukup untuk tak sekedar memberi kamu kenyamanan dalam mendengarkan musik tetapi juga bergaya. Ada 3 pilihan warna yang bisa dipilih, yakni Merah, Biru dan Kuning.

Hasil gambar untuk Jabra Sport Pace Earphone

Kelebihan lainnya, ini dibuat dengan standar militer IP54 yang membuatnya tak hanya tahan terhadap keringat, tetapi juga guncangan dan cuaca. Tentu saja, disamping driver dinamik 12.4mm dan respon frekuensi 100hz-10000khz. Oh, mengisi ulangnya selama 15 menit bisa membuatnya bertahan selama 1 jam lho. Lumayan, 10 kali keliling lapangan sepakbola mungkin?

In-Ear Headphones JBL T210

Ada lima alasan kenapa kami menyukai JBL T210: kecil, warna hitam nan elegan, dibuat dengan baik, sangat murah dan melakukan tugasnya dengan baik. Earphone ini menggunakan sepasang driver 8.7 mm yang mampu menghasilkan vokal jernih dan bass mendalam. Earphone ini juga sudah built in mikrofon yang dapat memudahkan kamu dalam menerima panggilan telepon.

Gambar terkait

Dari segi desain, ini mungkin bukan yang paling hits. Tapi mereka yang menyukai segala sesuatu yang ergonomis tak akan menampiknya. Ditambah lagi, ini juga sangat nyaman ketika digunakan.

Nah gimana keren-keren kan headphone-nya. Sekarang sudah tahu kan pilihan headphone yang bisa bikin kamu bergaya bak selebritis. Masih mikir soal harga yang mahal? Tenang, kalau kalian belanja di iLOTTE, harga sudah tidak jadi masalah lagi. Karena sekarang iLOTTE sedang bagi-bagi diskon buat kamu yang sedang cari produk gadget dan elektronik. Khusus buat kalian, ada exclusive diskon 10% dan free ongkir nih untuk pembaca setia Telset!

Selain itu, ada juga program Best Denki Grand Launch Biggest Online Electronic Store yang menawarkan beragam paket diskon menarik untuk produk dari beberapa brand tertentu. Tunggu apalagi sob, buruan langsung belanja dan dapatkan promonya di sini! [adv]

Microsoft Tagih Bayaran Royalti ke Foxconn, Kenapa?

Telko.id, JakartaMicrosoft mengajukan tuntutan hukum pada perusahaan manufaktur raksasa asal Taiwan, Hon Hai Precision Industry atau yang lebih dikenal Foxconn Technology Group, pada hari Jumat (8/3) lalu. Ada masalah apa?

Tuntutan dilayangkan Microsoft ini karena Foxconn dituduh tidak membayar royalti paten dan tidak memberikan laporan yang sesuai.

Dalam tuntutan yang dimasukkan ke pengadilan San Jose, California, Microsoft mengatakan bahwa Foxconn telah gagal memenuhi kewajiban mereka berdasarkan perjanjian yang telah kedua perusahaan tanda tangani enam tahun lalu, menurut laporan Axios.

Sebagai bagian dari lisensi yang mereka gunakan, Foxconn seharusnya menyerahkan laporan royalti secara rutin pada Microsoft. Dalam laporan itu, Foxconn seharusnya menjelaskan tentang penjualan semua produk yang masuk ke dalam daftar produk yang dibahas dalam perjanjian.

Selain itu, Foxconn juga seharusnya membayar royalti untuk produk-produk itu. “Microsoft sangat peduli pada komitmen yang kami buat dan meminta perusahaan lain untuk melakukan hal yang sama,” kata juru bicara MIcrosoft, seperti dilansir CNET.

“Tuntutan ini kami lakukan untuk memenuhi persyaratan pelaporan dan audit dalam perjanjian yang kami tanda tangani dengan Hon Hai pada 2013. Kerja sama kami dengan Hon Hai penting dan kami mencoba untuk menyelesaikan masalah ini”.

Baca juga: Pendapatan Turun, Foxconn Sebut iPhone X Jadi ‘Biang Kerok’

Foxconn tidak segera memberikan jawaban terkait kasus ini. Namun, tuntutan dari Microsoft menjadi masalah baru bagi Foxconn. Perusahaan itu mulai dikenal pada 10 tahun lalu setelah beberapa karyawannya bunuh diri. Ini menarik perhatian masyarakat internasional tentang kondisi para buruh pabrik Foxconn.

Baru-baru ini, Foxconn mengubah besaran gaji dan tunjangan karyawan. Finansial Foxconn terganggung oleh penjualan iPhone. Asal tahu saja, selama ini Foxconn merupakan perusahaan yang paling banyak mendapat pesanan iPhone dari Apple. [BA/HBS]

Sumber: CNET

Apple Gelar Hajatan di 25 Maret, Rilis Layanan Streaming Video?

Telko.id, Jakarta – Apple menyebar undangan acara peluncuran produk di Steve Jobs Theatre, Cupertino, Amerika Serikat, pada 25 Maret 2019 mendatang. Kira-kira, produk apa yang bakal diperkenalkan oleh Apple? Rumornya layanan streaming video. Benarkah?

Apple kemungkinan akan meluncurkan layanan konten berita dan video. Hal itu diketahui dari poster undangan yang baru-baru ini tersebar di dunia maya. Poster tersebut berdesain sederhana, menampilkan logo Apple.

Dilansir Business Insider, di poster berlatar belakang warna hitam itu juga terpampang slogan, tempat, tanggal, dan waktu acara. Seperti dikutip Telko.id, Selasa (12/3/2019), Apple mengusung slogan Iit”s show time”.

{Baca juga: Apple Video Debut April, Tanpa HBO dan Netflix}

Slogan tersebut mirip acara Apple pada 2006 silam. Pada 13 tahun lalu, Apple meluncurkan layanan hiburan bernama Apple TV. Karenanya, 25 Maret 2019 nanti, Apple kemungkinan merilis layanan serupa, yakni terkait hiburan.

Banyak pihak memprediksi, layanan itu berupa streaming video mirip Hulu atau Netflix. Meski demikian, belum diketahui seperti apa bentuk layanan atau produk yang bakal diluncurkan oleh Apple pada tanggal tersebut.

Sebelumnya, Apple sepertinya benar-benar total dalam menghadirkan layanan streaming seperti yang digarap oleh Netflix, Amazon, HBO, dan lainnya. Kabar terbaru menyebut, layanan streaming perusahaan asal Cupertino ini akan berbiaya langganan lebih murah dibanding para kompetitor.

Menurut rumor bahwa Apple bakal meluncurkan sekitar 10 acara baru dan konten orisinal pada tahun ini. Kini, Apple memberi konfirmasi bahwa layanan streaming besutannya akan dibanderol terjangkau, seharga USD 9,99 atau tak lebih dari Rp 140 ribu per bulan.

Biaya berlangganan sebesar itu jelas di bawah harga bulanan akses Netflix yang diketahui sebesar USD 11 atau sekitar Rp 150 ribu. Bahkan, Apple akan memberi bonus bagi pelanggan berupa paket video, musik, serta layanan dukungan terpadu AppleCare.

Menurut laporan The Sun, dengan perpaduan harga berlangganan nan murah serta basis instalasi dan penonton potensial sebanyak lebih dari satu miliar orang di iTunes, Apple diperkirakan bisa langsung meraup kesuksesan di bisnis layanan streaming.

{Baca juga: Lebih Murah, Layanan Streaming Video Apple Siap Saingi Netflix dkk}

Ditambah, ada suguhan menarik dan berguna bagi pelanggan mengingat Apple secara resmi telah menandatangani kesepakatan selama beberapa tahun ke depan dengan aktris kondang Oprah Winfrey. Keduanya bekerja sama membuat program baru yang menarik.

Apple tidak memberi bocoran apapun terkait produk atau layanan apa saja yang akan diluncurkan pada 25 Maret 2019 nanti. Tapi, sangat diyakini, Apple juga akan meluncurkan sejumlah perangkat baru pada gelaran itu.

Perangkat yang dimaksud bisa jadi berupa iPad seri terbaru, AirPower Charging Pad, dan iPod Touch generasi teranyar. Fans Apple tentu sudah tak sabar menunggu perhelatan tersebut digelar. Bagaimana dengan Anda? [SN/HBS]

Sumber: Business Insider

BlackBerry Ogah Bikin Smartphone Layar Lipat

0

Telko.id, Jakarta – Huawei dan Samsung meyakini smartphone layar lipat merupakan masa depan ponsel cerdas. Namun, tidak demikian dengan CEO BlackBerry, John Chen, yang mengaku lebih skeptis menyoal daya tarik perangkat ini.

Orang nomor satu di BlackBerry itu berpendapat bahwa smartphone lipat kurang memiliki daya tarik, akibat sedikitnya inovasi yang diusungnya.

Secara personal, Chen mengaku menginginkan sesuatu lebih cepat dengan peningkatan fungsional, namun, menurut Chen, tidak ada terobosan baru yang akan tersedia.

{Baca juga: Tahun Ini BlackBerry Tidak Luncurkan Ponsel Baru}

Dalam beberapa tahun terakhir, elemen seperti pemindai sidik jari, pengenal wajah, dan pemindai iris mata telah diperkenalkan. Kini, fokus lebih dititikberatkan pada penciptaan layar berukuran lebih besar, hal yang dinilai Chen menghasilkan perangkat berdimensi lebih tebal dan tidak selalu menyuguhkan pengguna dengan peningkatan spesifik.

Dilansir Gizmochina, Chen berpendapat bahwa konsumen umumnya menginginkan lebih dari sekadar layar lebih besar dan peningkatan yang berulang. Sebagai informasi, BlackBerry belum memproduksi smartphone karyanya sejak tahun 2016 lalu.

BlackBerry lebih terfokus pada layanan keamanan dan komunikasi, serta software selama beberapa tahun terakhir. Perangkat terbaru bermerek BlackBerry yang saat ini tersedia di pasar diproduksi oleh TCL, di bawah naungan kesepakatan lisensi.

Berbeda dengan CEO BlackBerry, TCL menyambut baik smartphone berdesain lipat tersebut. Produsen ini belum merilis perangkat dengan desain serupa, namun baru-baru ini mengumumkan desain DragonHinge di ajang MWC 2019 pada bulan Februari lalu.

{Baca juga: TCL Ikut Bikin Ponsel Layar Lipat, Bisa Jadi Smartwatch}

Produk ini akan menjadi dasar dari perangkat berdesain lipat terbaru mereka, dan diprediksi akan diumumkan pada tahun 2020 mendatang. Hal ini juga mengindikasikan peluang kehadiran smartphone lipat bermerek BlackBerry, meski John Chen kurang meminati smartphone dengan bentuk tersebut. [BA/HBS]

Sumber: Gizmochina

70% Pekerja Kantoran Senang “Dibantu” AI

Telko.id, Jakarta – Selama ini muncul kekhawatiran bahwa kehadiran teknologi Artificial Intelligence (AI) dapat menggantikan pekerjaan manusia. Tetapi survei terbaru menunjukan bahwa 70% karyawan menilai bahwa teknologi AI justru membantu mereka dalam bekerja.

Menurut Presiden Direktur, Microsoft Indonesia, Harris Izmee terdapat 4 kategori jawaban ketika mereka bertanya soal teknologi AI. Dua kategori jawaban yang menunjukan AI justru dianggap membantu pekerjaan manusia.

Sebanyak 53% karyawan menilai bahwa AI bisa membuat hasil pekerjaan menjadi lebih baik. Kemudian sebanyak 17% karyawan menilai AI dapat mengurangi tugas rutin mereka dalam pekerjaan.

“Jadi 70% karyawan percaya AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi melahirkan jenis pekerjaan baru yang mengharuskan masyarakat memiliki keterampilan yang memadai,” ucap Harris di The Ritz-Carlton Hotel, Jakarta Selasa (12/03/2019).

{Baca juga: Pertama di Dunia, “Robot AI” Jadi Pembaca Berita TV di China}

Kemudian ada 15% karyawan yang menilai jika AI dapat memberikan pengetahuan baru bagi karyawan. Selain itu 10% menilai bahwa AI tidak berdampak bagi pekerjaan mereka. Sisanya presentase tanggapan teknologi AI menggantikan pekerjaan hanya dibawah 10%.

“Hanya 5% karyawan yang percaya bahwa AI dapat mengambil pekerjaan mereka bahkan menggantikannya,” tambah Harris.

Perlu diketahui bahwa  Microsoft dan IDC Asia Pasifik melakukan studi tentang adopsi Artificial Intelligence (AI) di Asia Pasifik dan Indonesia. Studi ini menunjukan bahwa hanya 14% perusahaan di Indonesia, yang menerapkan AI dalam startegi bisnis dan organisasi mereka.

“Ada 14% organisasi yang adopting AI dalam core strategy mereka. Lalu ada 42% perusahaan yang mulai bereksperimen dengan AI sebagai bagian dari strategi organisasi,” ujar Haris.

{Baca juga: Baru 14% Perusahaan di Indonesia yang Terapkan AI}

Survei ini dilakukan terhadap 112 pemimpin bisnis dan 101 karyawan di Indonesia. Survei juga dilakukan oleh 1605 pemimpin bisnis dan 1585 karywan berpartisipasi dalam penelitian ini. Dari ribuan tersebut, ada 112 pemimpin bisnis dan 101 karyawan di Indonesia.

Adapun 15 negara kawasan Asia Pasifik terlibat dalam penelitian ini seperti Australia, China, Hongkong, Indonesia, India, Jepang, Korea, Malaysia, New Zealand, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand dan Vietnam. [NM/HBS]

Artikel 70% Pekerja Kantoran Senang “Dibantu” AI dan info teknologi terkini lainnya bisa Anda dapatkan di Telset.