Telko.id, Jakarta – Huawei, Qualcomm, Intel, dan Samsung mengembangkan modem 5G bikinan sendiri. Namun, empat produsen tersebut kabarnya hanya bersedia menjual modem 5G ke Apple. Kenapa?
Awalnya, Huawei enggan menjual modem bernama Balong 5000 ke pabrikan lain. Bahkan, Huawei sempat menyebut Balong 5000 hanya dipakai untuk produk pintar buatan sendiri seperti di smartphone dan perangkat IoT.
Namun, seorang sumber menyebut bahwa perusahaan asal China itu sebenarnya cuma “cuek-cuek butuh”. Artinya, mereka tetap berharap bisa menjual modem buatan mereka. Satu syaratnya, Balong 5000 hanya dijual ke Apple. Aneh!
{Baca juga:Belum Siap, Apple Rilis Smartphone 5G Pertama di 2020}
Keputusan tersebut terbilang aneh karena Huawei adalah perusahaan yang berambisi mengincar posisi kedua dari daftar produsen ponsel terbesar dunia. Faktanya, Huawei ingin menjual modem 5G ke rival.
Menurut Engadget, dikutip Telko.id, Selasa (9/4/2019), penjualan modem bukanlah sumber pemasukan utama Huawei. Berbanding terbalik dengan Samsung, yang mengandalkan laba dari bisnis semikonduktor.
Huawei mungkin membuat keputusan itu melihat perkembangan mengenai masalah modem di Apple. Raksasa dari Cupertino itu diprediksi terlambat merilis perangkat 5G karena Intel belum bisa menyediakan modem 5G.
{Baca juga: Terkendala Modem, Mungkinkah Apple Rilis iPhone 5G pada 2020?}
Di lain sisi, Apple tak bisa menggunakan modem Qualcomm karena masih terlibat perselisihan. Apple kabarnya masih menunggak pembayaran USD 31 juta atas pelanggaran tiga hak paten milik Qualcomm. [SN/HBS]
Telko.id, Jakarta – Smartfren menggelar uji coba jaringan selulernya di Moda Raya Terpadu (MRT) mulai dari stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI) hingga Lebak Bulus. Layanan ini ada di setiap stasiun, jalur bawah tanah dan stasiun layang.
Presiden Direktur Smartfren, Merza Fachys mengatakan, kehadiran Smartfren di jalur MRT adalah bentuk layanan unlimited yang dihadirkan oleh Smartfren.
“Sama seperti layanan yang kami hadirkan, dari sisi pelayanan jaringan Smartfren selalu berusaha untuk menghadirkan unlimited connection bagi para pelanggannya atau tanpa terputus. Tidak terkecuali di sepanjang jalur MRT,” ujar Merza saat menemani media mengunjungi stasiun MRT di Bundaran HI Jakarta, Selasa (9/4/2019).
{Baca juga : Setelah Kartu Perdana BosKu, Smartfren Siapkan Bosku Lite}
Lebih lanjut Merza menjelaskan, tujuan hadirnya layanan Smartfren sangat jelas, tidak semata-mata ingin menambah revenue akan tetapi lebih kepada pelayanan pada para pelanggan selama berada di perjalanan.
Misalnya mereka dapat bermain game dengan lancar, streaming video tanpa lagging, hingga browsing, bersosial media dan berkirim pesan melalui sosial messenger, hingga mempersiapkan untuk memesan sarana transportasi online sebelum mereka sampai di stasiun tujuan.
“Mudah-mudahan, dengan hadirnya layanan Smartfren di sepanjang jalur MRT ini dapat memberikan manfaat bagi para pengguna MRT,” imbuhnya.
Sementara itu, Vice President Technology Relations and Special Project Smartfren, Munir Syahda Prabowo, mengatakan jaringan Smartfren yang ada di jalur MRT adalah 4G LTE Advanced. Sinyal di bawah tanah dipancarkan dari sistem leaky cable, yang dipasang sepanjang jalur MRT.
Leaky cable ini dibangun oleh PT Tower Bersama yang ditunjuk PT MRT Jakarta sebagai mitra strategis penyedia konektivitas seluler dan jaringan nirkabel atau WiFi.
“Dari sisi sinyal di MRT adalah 4G LTE Advanced. Sinyal ini dipancarkan melalui leaky cable yang dipasang mitra kami, jadi tugas kami hanya menyuntikkan sinyalnya,” jelas Munir.
{Baca juga : 13 Stasiun MRT Baru Ada BTS Telkomsel}
Munir juga menambahkan, Smartfren memakai dua standar 4G LTE di jalur MRT, Time Division Duplex (TDD) dan Frequency Division Duplex (FDD) untuk menyelenggarakan layanan Internet kecepatan tinggi. TDD berada di spektrum frekuensi 2.300 MHz, sedangkan FDD di 850 MHz.
“FDD dan TDD semua ada di sini, tergantung kualitas sinyalnya nanti dan device akan pilih yang paling bagus,” pungkasnya.
Ia menyebutkan bahwa sinyal Smartfren tidak hanya dapat dinikmati di sepanjang rute perjalanan, tapi juga dapat digunakan di setiap stasiun baik 6 stasiun yang berada di bawah tanah maupun 7 stasiun layang. (MS/HBS)
Telko.id – Ingin tetap asyik main game tapi nggak pake mahal? Pakai saja Skyegrid paket Lite, hanya Rp.69 ribu saja per minggu. Dan bisa main cloud gaming selama tujuh hari non-stop terhitung sejak hari pertama berlangganan.
Untuk berlangganan Paket Skyegrid Lite, Gridder–sebutan untuk pelanggan Skyegrid– dapat menempuh langkah yang sama dengan paket bulanannya, yakni membelinya via akun Skyegrid di situs e-commerce lokal, Bukalapak.com.
Bagaimana langkah-langkah berlangganannya? Ya, pelanggan cukup memilih Paket “Skyegrid Lite – Unlimited” pada rak Skyegrid di laman Bukalapak.com, klik “Beli Sekarang,” lalu “Metode Pembayaran” yang diinginkan.
“Paket Skyegrid Lite hadir untuk memenuhi hasrat bermain game para gamer yang ingin menikmati Cloud Gaming dalam waktu singkat. Paket ini pas buat mereka yang ingin menamatkan sebuah game tertentu, atau sekadar online bersama teman-teman sesama gamer,” ujar Rolly Edward, CEO Skyegrid.
Rolly menambahkan, Skyegrid Lite juga dibuat berdasarkan permintaan banyak calon pelanggan yang sangat ingin menjajal teknologi Cloud Gaming, namun dengan paket yang lebih murah dan lebih berfaedah.
Untuk diketahui, masa aktif Paket Skyegrid Lite adalah tujuh (7) hari terhitung sejak transaksi. Dalam kurun waktu tersebut, pelanggan bebas memainkan game Free-To-Play apa saja sepuasnya. Setelah itu, pelanggan diharuskan untuk membeli ulang Paket Skyegrid Lite, atau berpindah ke Paket Skyegrid bulanan yang seharga Rp179 ribu.
“Era Cloud Gaming kian terasa semenjak Google mengumumkan akan ikut terjun di bisnis ini pada ajang 2019 Game Developers Conference lalu. Sebab itu, kami berharap komunitas gamer di Tanah Air dapat mencicipi teknologi Cloud Gaming ini dengan berlangganan Skyegrid Lite yang secara harga lebih terjangkau,” tutur Rolly.
“Ini momentum yang sangat baik. Bagaimanapun, Skyegrid siap bersaing dengan Stadia dan layanan serupa lainnya. Semangat kami tetap sama seperti awal mula, tak hanya membawa solusi bermain game PC ke ponsel Android dan laptop berspesifikasi biasa, tetapi juga ingin mendukung game-game lokal agar lebih dikenal di pentas dunia, seperti DreadOut 2 yang akan rilis tahun ini.”
Baru-baru ini, Skyegrid juga menambah koleksi rak game-nya dengan tiga judul game lokal alias Made in Indonesia, yaitu Pamali (StoryTale Studios asal Bandung), Valthirian Arc: Hero School Story (Agate asal Bandung), dan Ultra Space Battle Brawl (Mojiken Studio asal Surabaya).
Dengan demikian, per hari ini, Skyegrid mempunyai total 85 judul game, dengan komposisi 50-50 untuk game berbayar via akun Steam dan game Free-to-Play.
Terkait optimalisasi product experience, Skyegrid juga akan menghadirkan pengingkatan pengalaman bermain game yang signifikan dalam waktu dekat, yakni dengan mempertajam grafis dan minimalisir input lag.
“Prosesnya telah berjalan 60 persen. Tunggu saja kejutan Skyegrid pada pertengahan tahun ini,” tutup Rolly. (Icha)
Telko.id, Jakarta – Pemerintah Malaysia mengeluarkan kebijakan baru terkait layanan digital. Negeri Jiran tersebut akan mengenakan tarif pajak bagi layanan digital seperti Netflix, Spotify, serta layanan digital lain. Aturan tersebut akan berlaku mulai 1 Januari 2020.
Dilansir Telko.id dari Mashable pada Selasa (09/04/2019) kebijakan baru tersebut, diumumkan langsung oleh Menteri Keuangan Malaysia, Lim Guang Eng.
Adapun besaran tarif pajak tersebut sebesar 6% setiap tahunnya dan harus dipatuhi kepada layanan digital yang aktif di negara tersebut.
Menurut wakil menteri keuangan, Datuk Amiruddin Hamzah, pemerintah awalnya mengajukan Revisi Undang-undang Pajak Layanan kepada parlemen.
Dalam rancangan tersebut ada peraturan terkait pajak layanan digital yang bertujuan untuk menyamakan kedudukan antara perusahaan lokal dan asing.
Pihak parlemen pun menyetujui rancangan tersebut karena memang perlu ada keadilan antara pemain industri digital baik dari pihak lokal ataupun global.
“Pajak digital adalah untuk menyediakan kompetisi yang setara antara perusahaan lokal dan asing serta penyedia layanan online dan offline,” kata salah seorang anggota parlemen.
{Baca juga: Malaysia akan Pamer Mobil Otonom dengan Jaringan 5G}
Perlu diketahui bahwa kebijakan pajak ini tidak ditanggung oleh pengguna. Kewajiban pajak digital diberikan bagi pihak pengembang seperti pihak Netflix, Spotify, Steam dan layanan digital lainnya. Walaupun tidak bisa dipungkiri, kenaikan harga layanan akan terjadi imbas dari kebijakan tersebut.
Kebijakan tarif pajak bagi layanan digital sebenarnya sudah lama diberlakukan di negara Rusia dan Norwegia yang memasang besaran tarif yaitu 18% dan 25% per tahun. Untuk itu Datuk Amiruddin menilai jika besaran tarif di Malaysia cukup rendah tetapi bukan berarti bisa diabaikan.
{Baca juga: Universitas Ini Larang Streaming Netflix, Kenapa?}
Jika ada yang tidak bayar pajak, maka dapat dikenakan denda hingga RM 50.000 atau Rp 172,4 juta atau kurungan penjara selama 3 tahun. Aturan pajak ini berlaku untuk orang atau organisasi apa pun, dari kebangsaan atau kewarganegaraan apa pun, selama layanan mereka berada di wilayah Malaysia.
Malaysia mengikuti langkah negara tetangga Singapura untuk memperkenalkan pajak untuk layanan digital. Seperti Malaysia, Singapura juga akan mulai pada 1 Januari 2020 nanti. Lantas apakah Indonesia akan mengikuti jejak kedua negara tersebut? [NM/HBS]
Telko.id – Pemerintah sedang melakukan uji coba Public Protection and Disaster Relief (PPDR) di kawasan Pangandaran, Jawa Barat, Selasa (09/04/2019) menggunakan Frekuensi 700 Mhz. Uji coba akan dilaksanakan selama satu bulan, mulai tanggal 9 April 2019 hingga 9 Mei 2019 pada kawasan Pangandaran.
Public Protection and Disaster Relief (PPDR) merupakan standar dunia untuk komunikasi radio bagi lembaga terkait perlindungan publik dan penanggulangan bencana. Perlindungan publik mencakup hal-hal terkait ketertiban dan penegakan hukum, perlindungan jiwa dan harta beda, dan situasi darurat.
Di beberapa negara, pita frekuensi radio 700 MHz telah terbukti handal dan mumpuni. Seperti di Amerika Serikat dan Korea Selatan. Frekuensi ini secara internasional pun sudah disepakati untuk komunikasi kebencanaan.
“Frekuensi 700 MHz di dunia dinamakan Digital Dividend, sebagian dialokasikan untuk kebencanaan, sebagian untuk mendukung broadband,” kata Menkominfo Rudiantara saat meresmikan uji coba di Plasa Telkom, Pangandaran, Jawa Barat, Selasa (9/4).
Frekuensi 700 Mhz ini juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan komunikasi kebencanaan yang lebih canggih, peningkatan jangkauan pita lebar di daerah rural, serta perbaikan kualitas pita lebar di kota-kota besar yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Dalam konteks komunikasi kebencanaan, dukungan infrastruktur komunikasi kebencanaan yang canggih dan mampu melayani trafik komunikasi suara (voice) dan multimedia.
Uji coba juga dilakukan di Pangandaran karena beberapa kali, wilayah ini terkena bencana, seperti Tsunami pada 2006 lalu. Selain itu, frekuensi 700 Mhz di wilayah ini tidak banyak digunakan oleh televisi analog.
Dengan uji coba itu diharapkan diperoleh data teknis mengenai kualitas layanan, pengujian aplikasi dan konektivitas, serta data non teknis di lapangan yang diperlukan sebagai rekomendasi penyelenggaraan layanan nantinya.
Penyedia perangkat telekomunikasi yang mendukung uji coba ini antara lain Motorola, Nokia, Huawei, Hytera dan Inti serta dukungan teknis PT Telkom dengan menggunakan teknologi broadband Public Safety LTE pada frekuensi 700 MHz.
Dalam uji coba dilakukan demo uji SMS Blast, Panggilan Suara antar petugas, Pengiriman Gambar dan Video secara Real Time, dan Pengujian Fitur-Fitur pada Aplikasi Layanan Radio Komunikasi.
Kementerian Kominfo melakukan pemantauan dan mengupayakan agar kanal frekuensi 700MHz dapat dimanfaatkan dalam uji coba serta tidak mengganggu kegiatan masyarakat di kawasan Pangandaran dan sekitarnya.
Sebelumnya, Kementerian Kominfo juga telah mengembangkan Sistem Penyampaian Informasi Bencana melalui SMS Blast pada daerah terdampak bencana dan Layanan Panggilan Darurat 112 yang dikelola oleh Pemda dalam penanganan kondisi darurat. Ke depan, semua layanan tersebut akan terintegrasi dengan Layanan Radio Komunikasi untuk Perlindungan Publik dan Penanggulangan Bencana.
Dengan layanan terintegrasi, diharapkan dapat memaksimalkan peran penting BMKG, BNPB, BASARNAS, POLRI, Pemda dan instansi terkait lainnya dalam manajemen penanggulangan bencana di Indonesia. (Icha)
Telko.id, Bangkok – Dua tablet Samsung kelas menengah akhirnya resmi diperkenalkan untuk para pengguna di Indonesia. Adalah Samsung Galaxy Tab A10 dan Samsung Galaxy Tab A with S Pen yang cocok disebut sebagai tablet untuk “bermain sambil belajar”.
Bagaimana tidak, keduanya dinilai bisa memenuhi kebutuhan entertainment sekaligus mendukung kegiatan belajar dan mengajar para penggunanya.
Kedua tablet ini sebenarnya mengusung spesifikasi yang hampir sama, kecuali ukuran layar, baterai, teknologi speaker, dan juga kehadiran pulpen pintar Samsung, S Pen.
{Baca juga: Main Gadget Malam Hari Bikin Anak-anak Susah Tidur}
Samsung Galaxy A10 memiliki layar berukuran 10,1 inci berjenis IPS LCD dengan resolusi 1200 x 1920 piksel. Sementara Galaxy A with S Pen, punya layar berukuran 8 inci dengan resolusi yang sama.
1. Samsung Galaxy Tab A10
2. Samsung Galaxy Tab A with S Pen
“Ini membuktikan komitmen kami untuk semakin mendekatkan teknologi kepada gaya hidup konsumen, termasuk di dunia pendidikan,” jelas Selvia Gofar, Senior Product Marketing Manager Samsung Mobile Indonesia di acara Media Session Galaxy Tab Series, di Bangkok, Thailand, Selasa (09/04/2019).
Untuk spesifikasinya, keduanya sama-sama disokong oleh prosesor octa-core 1,8 GHz Exynos 7904, RAM 3GB, ROM 32GB, dan sama-sama menjalankan sistem operasi One UI berbasis Android 9 Pie. Sementara baterainya, berkapasitas masing-masing 6,150 mAh untuk Galaxy Tab A10 dan 4,200 mAh untuk Galaxy Tab A with S Pen.
1. Samsung Galaxy Tab A10
2. Samsung Galaxy Tab A with S Pen
Khusus untuk Galaxy Tab A with S Pen, disematkan pulpen pintar ala Samsung yang biasanya terdapat pada seri Samsung Galaxy Note. S Pen di tablet ini memiliki presisi yang ditingkatkan dari seri sebelumnya, dan mempunyai 4.000 pressure level yang sangat berguna bagi pengguna yang suka menggambar.
Pindah ke bagian kamera, keduanya sama-sama memiliki kamera belakang 8MP dan kamera depan 5MP. Pembeda lainnya dari kedua tablet ini adalah, speaker.
Ya, di Samsung Galaxy Tab A10, Samsung memberikan dua speaker stereo berteknologi 3D Dolby Atmos. Sedangkan Samsung Galaxy Tab A with S Pen, hanya satu speaker saja dan dukungan Dolby Atmos hanya aktif ketika pengguna menggunakan headset.
{Baca juga: Samsung Galaxy Tab S5e, Tablet Pertama dengan Bixby 2.0}
Samsung Galaxy A10 akan tersedia berbarengan dengan seri Galaxy Tab S5e, yakni akhir April mendatang. Tablet ini dibanderol dengan harga Rp 4,9 jutaan dan memiliki tiga opsi warna, yakni Black, Silver, dan Gold.
Sedangkan Samsung Galaxy Tab A with S Pen, tersedia pada 15 April mendatang dengan dua opsi warna yaitu Black dan Silver. Tablet ini dihargai Rp 3,9 jutaan, dan Samsung akan memberikan free license dari aplikasi Ruangguru dan Dreambox Parental Control selama 1 bulan penuh untuk para pengguna.
“Tablet ini mampu mendukung aktivitas belajar pengguna, sekaligus membantu orang tua untuk mengawasi anak-anaknya,” ujar Selvia.
Selain Samsung Galaxy Tab A10 dan Tab A with S Pen, Samsung juga resmi memperkenalkan salah satu seri tabletflagship-nya, Samsung Galaxy Tab S5e. Samsung Galaxy Tab S5e memiliki desain yang tidak seperti tablet pada umumnya, yang biasanya punya bobot berat dan body yang cukup tebal.
{Baca juga: Samsung Galaxy Tab S5e Masuk Indonesia, Tebalnya Setara “5 KTP”}
Tablet ini hanya berbobot 400 gram dengan ketebalan mencapai 5,5 mm saja. Meski demikian, spesifikasi yang diusungnya terbilang mumpuni, seperti layar besar 10,5 inci Super AMOLED, prosesor Snapdragon 670, RAM 4GB, ROM 64GB, hingga baterai berkapasitas 7,040 mAh.
Samsung melepasnya dengan harga Rp 7,4 jutaan, dan akan tersedia pada akhir April mendatang. Tablet ini punya tiga pilihan warna, yaitu Black, Silver, dan Gold. (FHP)
Telko.id, Bangkok – Samsung resmi memperkenalkan salah satu seri tabletflagship-nya, Samsung Galaxy Tab S5e. Apabila dibandingkan dengan seri terdahulunya, yakni Samsung Galaxy Tab S4, tablet ini memiliki sejumlah keunggulan, terutama dalam sisi desainnya.
Samsung Galaxy Tab S5e memiliki desain yang tidak seperti tablet pada umumnya, yang biasanya punya bobot berat dan body yang cukup tebal.
Diungkapkan Randy Tonggo, Product Marketing Manager Samsung Mobile Indonesia, tablet ini hanya berbobot 400 gram dengan ketebalan mencapai 5,5 mm saja.
{Baca juga: Waah… Laptop Gaming Ini Bisa Berubah Jadi Tablet Terkencang}
“Jika dibandingkan, ketebalannya sama dengan 5 Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang ditumpuk, dan beratnya lebih ringan dari segelas kopi yang biasa kita beli,” katanya di acara Media Session Galaxy Tab Series, di Bangkok, Thailand, Selasa (09/04/2019).
Foto: Muhammad Faisal/Telko.id
Tablet ini mengusung layar berukuran besar, tepatnya 10,5 inci berjenis Super AMOLED beresolusi (2560 x 1600 piksel). Dijelaskan Selvia Gofar, Senior Product Marketing Manager Samsung Mobile Indonesia, layar sebesar itu mampu menunjang berbagai aktivitas pengguna secara maksimal, dari bekerja sampai hiburan.
Sementara untuk spesifikasinya, Samsung Galaxy Tab S5e telah menggunakan prosesor octa-core 2.0 GHz Snapdragon 670, RAM 4GB, ROM 64GB yang bisa diperluas menggunakan microSD hingga 512GB, baterai berkapasitas 7,040 mAh yang didukung fast charging 18W, dan sistem One UI berbasis Android 9 Pie.
Meskiditujukan bagi pengguna dengan mobilitas yang tinggi, namun Samsung tetap memaksimalkan sisi multimedia pada tablet terbarunya ini. Menurut Selvia, Galaxy Tab S5e telah memiliki empat speaker stereo dari AKBG dengan dukungan teknologi Dolby Atmos.
{Baca juga: Main Gadget Malam Hari Bikin Anak-anak Susah Tidur}
Yang menarik, speaker ini dapat beradaptasi secara otomatis pada saat pengguna menggunakannya secara portrait ataupun landscape.
“Tablet ini juga sudah punya empat speaker stereo dari AKG. Suaranya seperti berputar karena ada teknologi 3D Dolby Atmos,” ucapnya.
Di sisi kamera, Samsung menyematkan kamera utama dengan sensor 13MP aperture f/2.0 di belakang, dan kamera selfie dengan sensor 8MP aperture f/2.0 untuk kebutuhan memotret, video call, dan lainnya. Lantas, bagaimana dengan harga Samsung Galaxy Tab S5e?
Well, Samsung melepasnya dengan harga Rp 7,4 jutaan, dan akan tersedia pada akhir April mendatang. Tablet ini punya tiga pilihan warna, yaitu Black, Silver, dan Gold. Seperti seri Galaxy Tab S sebelumnya, Samsung juga menyediakan aksesoris berupa Pogo Keyboard yang bisa dihubungkan lewat port magnetik di body tablet seharga Rp 1,6 jutaan. (FHP)
Telset, Jakarta – Seorang wanita yang asyik berbicara di ponsel, ditabrak taksi ketika dia menyeberang jalan, Lavender Street dekat Kempas Road, Jumat (5/4/2019) kemarin.
Cuplikan kecelakanaan yang diambil melalui Dashcam beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, tampak seorang wanita sedang menggunakan ponselnya sambil terburu-buru menyeberang jalan di tengah lalu lintas yang padat.
Wanita ini tidak menggunakan tempat penyeberangan bagi pejalan kaki. Menurut keterangan waktu dalam video, insiden ini terjadi di area Bendemeer, pada Jumat pukul 15:12 sore.
{Baca juga:Seperti Pesawat, Mobil di Inggris Bakal Punya ‘Kotak Hitam’
Dalam klip tersebut, tampak wanita itu melintasi dua lajur dari jalan empat lajur sebelum berhenti di dekat tengah lajur paling kiri. Tak lama setelah itu, sebuah taksi menabraknya hingga terpental.
Sopir taksi kemudian menghentikan mobilnya dan keluar untuk membantu wanita itu. Wanita itu mampu berdiri dan sopir taksi membimbingnya hingga ke trotoar terdekat.
Rekaman kecelakaan itu diunggah di beberapa halaman Facebook termasuk di SG Road Vigilante dan District Singapore. Insiden ini mendorong para netizen untuk mendesak agar para pejalan kaki lebih berhati-hati.
Seorang pengguna Facebook, Isaac Boo, menulis bahwa bentangan Lavender Street tempat insiden itu terjadi terdapat banyak pejalan kaki.
Pengguna lain, Yusrin Yusof mengatakan, sebaiknya jangan menggnakam ponsel sambil berjalan di jalan raya. “Jangan berbicara di telepon sambil berjalan atau menyeberang. Anda harus keluar mencari untuk … lalu lintas bukan sebaliknya,” tulisnya.
{Baca juga:Google Hadirkan Aplikasi Pemandu Jalan untuk Tunanetra}
Pengguna Facebook Steven Chan menyarankan pejalan kaki agar tetap waspada terhadap kendaraan yang datang dari kiri jalan bahkan ketika terjadi kemacetan. [BA/HBS]
Telko.id – Tarif sewa infrastruktur di jalur MRT dianggap terlalu tinggi oleh beberapa operator. Tak heran, tidak semua operator sinyal nya ‘manteng’ di jalur MRT ini. Hanya ada Telkomsel dan Smartfren.
Smartfren sendiri, benar-benar memanfaatkan peluang uji coba yang diberikan oleh Tower Bersama group sebagai mitra strategis penyedia konektivitias seluler dan jaringan internet nirkabel/wifi yang ditunjuk oleh MRT Jakarta. Sambil, terus bernegosiasi untuk memperoleh titik temu tarif yang menguntungkan kedua belah pihak.
Yang sebenarnya, pihak penyelenggara, memberikan kesempatan trial pada semua operator. Ya, kalau kemudian yang melakukan trial adalah Smartfren dan Telkomsel ya ndak apa-apa. Mungkin yang lain sudah pengalaman.
Penyediaan sinyal di jalur MRT ini memang tidak mudah. Pasalnya, ada sebagian kereta cepat ini melalui tunnel atau terowongan. Lalu, area MRT ini juga banyak berada dibawah tanah, jadi, perlu infrastruktur khusus agar pengguna MRT tetap dapat nyaman berkomunikasi.
“MRT Jakarta ini kan melewati tunnel yang bisa dipastikan, signal dari luar tidak bisa masuk. Kebetulan TBG telah menyiapkan antena-antena dan kita tinggal nyantel ke sana untuk uji coba atau trial,” jelas Deputy CEO of Commercial Smartfren, Djoko Tata Ibrahim kepada awak media usia menjajal layanan Smartfren di MRT Jakarta, Selasa (9/4).
Menurut Djoko, proses negosiasi telah dilakukan Smartfren dan TBG semenjak tiga bulan yang lalu. Diklaim dia, sudah mulai terlihat titik temu dari proses negosiasi tersebut. Proses uji coba ini dilakukan sampai pada akhirnya Smartfren dan TBG menyepakati biaya sewa dan tidak ada biaya yang dikeluarkan selama proses uji coba.
Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi dari TBGI atau pun operator seluler mengenai tarif pasti penyewaan infrastruktur jaringan MRT. Sebelumnya sempat beredar laporan, TBIG menetapkan tarif sewa Rp 600 juta per bulan.
Smartfren sendiri sedang melakukan uji coba yang baru dimulai sejak dua minggu belakangan ini.
“Sudah dua mingguan lebih, kami melakukan koneksi dengan infrastruktur telekomunikasi di MRT ini. Dalam rangka uji coba atau trial. Kami monitoring semua. Apakah sinya stabil tidak, apa yang menyebabkan sinyal up and down nya bisa kita ukur, kalau kereta lewat bagaimana. Semua nya kita monitoring untuk mengantisipasi apa yang perlu di improved,” ujar Merza Fachys, Presiden Direktur Smartfren, ketika ditemui usai uji coba jaringan Smartfren di MRT Jakarta, Selasa (9/4).
Sampai kapan akan melakukan uji coba? Merza berharap trial ini dapat berlangsung sampai negosiasi selesai karena itu yang tertulis dalam surat perjanjian trial ini.
“Untuk harganya belum tahu, karena kami ingin lihat bisnis modelnya dulu bisa seperti apa saja. Apakah bisa biayanya naik pelan-pelan per bulan, per terowongan (bawah tanah), atau seperti apa. Sejauh ini belum ada ketetapan biaya,” tutur Merza.
“Kita akan cari solusi yang saling menguntungkan, pasti ada. Ini masih kami diskusikan,” ungkap Merza mempertegas.
Negosiasi tarif sewa ini berlangsung antara para ATSI atau Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia yang terdiri dari perwakilan para operator seluler dengan Tower Bersama Infrastructure (TBIG) sebagai mitra strategis yang ditujuk oleh MRT Jakarta untuk penyedia konektivitas seluler dan jaringan nirkabel atau WiFi di wilayah operasional MRT Jakarta.
TBIG, ini membangun leakage cable di terowongan jalur MRT agar para provider seluler bisa meletakkan Base Transceiver Station (BTS) mereka di sana. BTS ini yang kemudian akan menyalurkan sinyal seluler ketika konsumen berada di jalur bawah tanah MRT.
Sementara itu, dari sisi teknologinya, menurut VP Technology Relations and Special Project Smartfren Munir Syahda Prabowo, sepanjang jalur MRT Jakarta pihaknya telah menyematkan teknologi 4G Advanced.
“Untuk di indoor, kami memakai teknologi yang namanya cable leak yang dipasang oleh partner kami, TBIG. Kalau Smartfren tugasnya memberikan ‘suntikan sinyal’ ke kabel yang telah disediakan TBIG dari BTS yang kami miliki,” terangnya.
Untuk melayani para penumpang MRT Jakarta, Smartfren memasang 4 BTS di transportasi ini. Smartfren diklaim dapat menampung 2.000 pelanggan per BTS-nya secara bersamaan dan tidak akan lemot saat menggunakan jaringannya.
Sedangkan untuk bisa melayani sepanjang jalur MRT, Smartfren akan memasang 10 BTS supaya sinyal bagus, bukan hanya di dalam tunnel tetapi juga di semua area MRT. (Icha)
Telko.id – Samsung membuat lompatan besar dalam usahanya menahan gempuran dari smartphone China di pasar Indonesia, dengan meluncurkan seri Galaxy M pada awal tahun ini. Kini di segmen menengah atas, Samsung mengeluarkan kwartet A series yakni Samsung Galaxy A50, A30, A20 dan A10.
Saat peluncurannya, seri tertinggi dari kuartet A series, yakni Samsung Galaxy A50 menawarkan beberapa fitur unggulan yang biasa ada di perangkat flagship.
Sebut saja seperti sensor sidik jari optik yang berada di bawah layar, layar Super AMOLED, dan Tiga kamera belakang. Sementara jeroannya disokong chipset baru Exynos 9610.
Untuk mengetahui lebih jauh keunggulan dan kekurangan dari smartphone yang dibandrol dengan harga Rp 4.099.000 ini, kami akan mengulasnya pada review Samsung Galaxy A50 berikut ini.
Desain dan Layar
Dalam hal dimensi, Galaxy A50 sangat mirip dengan A30, memiliki layar yang persis sama dengan menggunakan layar Full HD+ (2340 x 1080) Super AMOLED Infinity-U 6,4 inci. Memang terasa sedikit besar, terutama ketika meraih keseluruhan area.
Tetapi seperti semua perangkat dengan layar besar, Anda harus menyesuaikan gengaman tangan untuk mencapai semua area terutama sudut layar dalam satu penggunaan tangan. Tetapi tidak seperti Galaxy A30 yang memiliki sensor sidik jari di belakang, saat menggenggam A50 tidak perlu repot mengatur tangan untuk menggunakan sensor sidik jari, karena sensor sidik jari optik terpasang di layar.
Foto : Helmi / Telko.id
Lalu pada layar ada lekukan kecil di bagian atas, yang oleh Samsung disebut sebagai layar Infinity-U atau yang biasa kami sebut ‘waterdrop notch’. Ini merupakan rumah untuk kamera selfie bersama dengan sensor lainnya.
Desain Galaxy A50 sendiri ramping cuma 7,7mm, dengan jack headphone 3.5mm dan USB-C di bagian bawah, Lalu ada tombol power dan volume di samping. Perangkat itu memang terasa sedikit berbobot dibandingkan dengan ponsel seri A lainnya, tetapi tidak dalam jumlah yang berarti.
Meskipun bingkainya terlihat seperti aluminium dan bagian belakangnya menyerupai kaca, ternyata masih menggunakan bahan Polimer. Sedangkan untuk ketahanan layar ada Gorilla Glass 5 di bagian depan. Ketika dirilis, Galaxy A50 akan tersedia dalam empat pilihan warna, yakni warna black, white, blue dan coral.
Hardware dan Performa
Foto : Helmi / Telko.id
Samsung Galaxy A50 ditenagai oleh chipset Exynos 9610, yang belum pernah digunakan di ponsel Galaxy apa pun. Dibangun pada proses fabrikasi 10nm, chipset ini menggunakan arsitektur octa-core big.LITTLE. Keempat inti Cortex A73 yang memiliki clock speed 2.3GHz.
Rasanya cukup kuat untuk melakukan semua kegiatan seperti main game, bersosmed, bahkan edit video dengan aplikasi pihak ketiga. Sedangkan empat core efisiensi Cortex A53 yang memiliki clock 1.7GHz, memastikan bahwa ponsel ini tidak menyedot daya saat tidak melakukan aktivitas yang berlebihan. Ada GPU MP3 Mali G72 yang menangani grafis.
Galaxy A50 yang kami review memiliki RAM 4GB untuk ROM 64GB. Akan tetapi Samsung juga menyediakan varian RAM 6GB dan ROM 128.
Kinerja Galaxy A50 yang kami pakai selama satu minggu ini terasa sangat nyaman untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Saat kami coba mengukur menggunakan aplikasi benchmarking AnTuTU, Galaxy A50 yang kami pakai mencatat skor 143.283.
Skor ini kurang lebih hampir sebanding dengan skor yang dicatat Redmi Note 7 dengan 143.976, dan Realme 3 dengan skor 132.851. Kedua smartphone tersebut juga sudah kami review sebelumnya.
Untuk performa baterai, Galaxy A50 sesuai dengan apa yang Anda harapkan dari sebuah ponsel dengan baterai 4.000 mAh. Ponsel ini tahan sehari penuh dengan berbagai aktifitas, seperti bermain game, media sosial, streaming musik, dan streaming film. Dari penggunaan aplikasi Accubattery, 4000 mAh dapat menempuh waktu penggunaan 13 jam 50 menit dari i 100% hingga 0%. Dengan catatan waktu Screen On Time 8 jam 7 menit.
Untuk pengisian baterai, Galaxy A50 sudah menggunakan fitur Fast Charging 15 watt. Waktu yang dibutuhkan untuk pengisian baterai 1% – 100% sekitar 2 jam 31 menit.
Kamera
Foto : Helmi / Telko.id
Galaxy A50 hadir dengan pengaturan tiga kamera belakang yang mencakup lensa utama 25MP, lensa ultra wide 8MP (sudat pandang 123 derajat), dan sensor Bokeh 5MP. Ini mirip dengan Galaxy A7 (2018), hanya kamera utama adalah sensor 25MP dan bukan sensor 24MP, dan kualitas gambar tidak berubah sebagai hasilnya.
Sebelum kita melihat dan berbicara tentang sampel kamera, aplikasi kamera pada Galaxy A50 mengemas sejumlah fitur yang kita bisa jelajahi. Anda mendapatkan Live Fokus (mode bokeh), mode Pro, bersama dengan Slow motion dan opsi perekaman video hyperlapse juga ada.
Kamera utama mengambil foto yang bagus dalam cahaya alami yang cukup, tetapi ada noice dalam pengambilan cahaya rendah. Detail menjadi buram dalam kondisi cahaya rendah, dan jika ada terlalu banyak lampu di sekitar objek, hasil foto menjadi sedikit berlebihan.
Pencahayaan Maksimal di Siang hari / Foto : MaulSore hari dengan pencahayaan lampu gedung / Foto : Maul
Lensa ultra-wide yang menjadi bintang menurut kami. Pasalnya ini sangat membantu kami untuk mengambil lebih banyak objek dalam satu gambar. Namun, gambar yang diambil dengan sensor ultra-wide terlihat berbeda dari yang diambil dengan kamera belakang utama. Resolusi yang lebih rendah berarti Anda tidak dapat memperbesar gambar terlalu banyak, dan karena lensa ultra-wide memiliki aperture F2.2 (kamera utama adalah F1.7).
So! Hasil foto kurang cahayanya sudah barang tertentu berbeda apalagi tidak dilengkapi autofokus. Untungnya, Samsung telah menambahkan opsi mode Pro (manual) agar bisa mengambil foto sesuai dengan keinginan kami.
Kondisi dalam ruangan dengan lensa utamaKondisi dalam ruangan dengan lensa Ultra wide
Pada lensa ultra-wide juga tidak bisa menggunakan fasilitas zoom. Oh ya..untuk fasilitas zoom 4x pada kamera utama juga belum membuat kami tersenyum, masih banyak noice dimana-mana mungkin ini cocok untuk keadaan darurat (yang penting ada fotonya).
Penggunaan Zoom 4X
Penggunaan fasilitas Burst juga agak susah mendapatkan hasil maksimal ketika mengambil foto dengan objek bergerak, ketika objek banyak bergerak yang membuat hasil foto jadi kurang bagus.
Penggunaan faslitas Burst
Lensa kamera belakang ketiga adalah sensor bokeh 5MP yang memungkinkan gambar Fokus Langsung (bokeh). Ini yang membuat kami tersenyum melihat hasilnya. Beberapa hasil foto sangat mengagumkan meski bokeh yang dihasilkan kadang-kadang kurang rapih dan terlihat aneh jadinya.
Mungkin karena perbedaan dalam resolusi kamera utama dan kedalaman. Foto-foto Live Focus yang diambil didalam ruangan dengan pencahayaan yang baik mampu menghasilkan foto dramatis pemisahan yang cukup antara subjek dan latar belakang.
Namun, hal-hal bisa sedikit berlebihan di siang hari yang cerah. Foto Live Focus pada kondisi malam biasanya baik juga, tetapi Galaxy A50 dapat gagal untuk menambahkan efek bokeh tanpa cahaya yang cukup.
Konsidi cahaya minim
Kamera depan dengan resolusi 25MP dengan aperture f2.0 juga dapat mengambil foto dengan mode Live Fokus. Dalam cahaya yang cukup dan kondisi yang tidak terlalu terang, hasilnya cenderung melembutkan wajah. Detailnya cukup bagus. Kamera berfungsi dengan baik selama menggunakan sensor wajah bahkan dalam kondisi cahaya redup.
Selfie dengan pencahayaan lampu di dalam ruangan
Video
Galaxy A50 mendukung perekaman video hingga resolusi 1080p (Full-HD) dari kamera depan dan belakang. Tidak ada rekaman video 4K, perangkat juga tidak memiliki opsi 60fps dan itu sangat mengecewakan bagi seseorang yang berencana untuk membeli ponsel ini hanya karena kameranya.
Kami merekam beberapa sampel dari Galaxy A50, satu dengan lensa standar dan lainnya dengan lensa ultra wide-angle. Meskipun reproduksi warna dan stabilisasi video sederhana, Anda juga dapat melihat kamera cepat mendapatkan fokus dan pencahayaan.
Interface
Foto : Helmi / Telko.id
Galaxy A50 (bersama dengan Galaxy A30 dan Galaxy A10) adalah perangkat di segmen menengah pertama Samsung yang hadir dengan Android Pie dan Samsung One UI dengan versi terbaru One UI 1.1, sama seperti yang ditemukan di Galaxy S10.
One UI 1.1 menghadirkan dukungan untuk fitur Digital Wellbeing, yang berfungsi yang memberi tahu Anda seberapa banyak menggunakan ponsel setiap hari dan memungkinkan Anda menyetel alarm dan timer untuk memberi tahu Anda bahwa Anda terlalu sering menggunakan ponsel atau aplikasi tertentu.
A50 mendukung Bixby Voice meskipun tidak memiliki tombol Bixby khusus . Samsung sekarang membiarkan Anda menggunakan tombol power untuk meluncurkan Bixby Voice, dan ini langkah yang cerdas.
Setelah tombol power dipetakan ke Bixby, opsi power untuk restart atau mematikan telepon dipindahkan ke di sebelah tombol pengaturan (untuk melihat geser layar dari atas kebawah) dan ini eksklusif untuk Android Pie.
{Baca juga:Segera Dirilis, Ini Harga Samsung Galaxy A40}
Fitur lain pada Galaxy A50 termasuk mode One UI Night , Always On Display, Secure Folder, Dual Messenger , mode One-handed, Game Launcher, Blue light Filter, dan navigation bar gestures. Anda bisa mendapatkan opsi isyarat seperti mengangkat telepon untuk membangunkan dan Ketuk dua kali untuk membangun,
Sensor Sidik Jari
foto : Maul / Telko.id
Ketika saya pertama kali mengatur sensor sidik jari di layar pada Galaxy A50, kami merasa seperti yang pernah kami lakukan di sensor ultrasonik pada Galaxy S10 Plus. Pendapat saya berubah setelah beberapa hari.
Sensor sidik jari A50 sayangnya meski saat pengaturan awal diminta begitu banyak sudut sidik jari, tetapi kami mengalami kesulitan untuk membukanya, terlalu banyak kesalahan. Yang lebih buruk lagi, kadang-kadang saya diminta untuk menempelkan jari lebih lama, hanya untuk memberi tahu bahwa tidak ada kecocokan saat menempelkan jari.
Samsung Pay
Foto : Helmi / Telko.id
Samsung Pay adalah pengembangan aplikasi pada smartphone Samsung Galaxy yang memungkinkan pengguna untuk dapat melakukan live transaction sehingga melakukan pembayaran lebih cepat dan mudah, dengan teknologi QR menggunakan dompet digital dari layanan mitra yang sudah bekerja sama dengan Samsung.
Aplikasi sudah pre-installed di Galaxy A50 atau Pengguna Samsung Galaxy lainnya, bisa mendapatkan aplikasi Samsung Pay pada Google Playstore dan Galaxy Store. Untuk menggunakan akun Dana sebagai sumber e-wallet Samsung Pay, pastikan pengguna telah memiliki akun Dana sebelumnya. Proses pendaftaran akun Dana juga bisa dilakukan secara mudah hanya dengan 3 langkah pada aplikasi Samsung Pay.
Kesimpulan
Galaxy A50, memiliki aspek fitur yang baik seperti layar Super AMOLED. Sedangkan Samsung terus menjadi satu-satunya pabrikan yang memberi Anda kamera belakang ultra wide untuk smartphone di segmen menengah. Galaxy A50 memiliki daya tahan baterai yang sangat baik dan dilengkapi dengan Android Pie dan antarmuka dan fitur One UI terbaru Samsung.
Sayangnya, sensor sidik jari dalam layarnya tidak sesuai dengan akurasi dan konsistensi sensor sidik jari kapasitif. Namun, jika Anda menginginkan teknologi dan perangkat lunak terbaru, Galaxy A50 adalah opsi yang cukup bagus yang bisa Anda miliki.
Kelebihan
Kekurangan
Desain yang cantik
Tampilan Layar AMOLED
Spesifikasi dapur pacu yang kuat
Sensor sidik jari dalam layar
Daya tahan baterai sangat baik, dukungan pengisian cepat
Performa kamera siang hari baik dan kamera ultra lebar berfungsi dengan baik
Mengambil selfie biasa dan bokeh yang bagus
Android Pie dengan One UI out of the box, dukungan Bixby Voice
Sensor sidik jari optik terlalu rewel, kurang akurat