spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1073

Begini Strategi Pemerintah Tangani Konten Asusila di Dunia Maya

0

Telko.id – Upaya penanganan konten berbau asusila di dunia maya bukanlah perkara mudah. Butuh sinergi dan komitmen yang kuat antarpemangku kepentingan, mulai dari pegiat atau konten kreator, komunitas, tokoh masyarakat, LSM, regulator dan penegak hukum. Salah satu strategi Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menangani konten asusila dengan melakukan pembinaan.

Hasil pantauan Tim AIS Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, sampai dengan Bulan Juli 2019 ditemukenali 2.457 konten berupa berita bohong, 898.109 konten pornografi, dan 3.021 konten penipuan. Selanjutnya terdapat 10.451 konten radikalisme dan 71.265 konten perjudian.

Menteri Kominfo Rudiantara mengatakan, penetrasi konten-konten di dunia maya amat dinamis, termasuk jika berbicara hal yang berkaitan dengan asusila. Menurut Rudiantara, perlu strategi yang komprehensif dan terintegrasi.

“Sesuatu yang diatur tetapi berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, memang menjadi senantiasa dinamis. Dari waktu ke waktu bisa berbeda, katakanlah yang berkaitan dengan asusila,” kata Rudiantara dalam acara Sarasehan Nasional Penanganan Konten Asusila di Dunia Maya di Museum Nasional, Jakarta, Senin (12/8/2019).

Menteri Rudiantara menjelaskan dalam menangani persoalan ini, butuh pembinaan dan pendekatan langsung dengan pihak-pihak terkait. Tidak langsung melakukan justifikasi, tetapi lebih kepada komunikasi yang persuasif.

“Pembinaan itu artinya dipanggil dulu, undang dulu, sebaiknya jangan kayak begini. Nah, itu yang dikedepankan oleh Kominfo. ” jelas Rudiantara.

Penanganan yang tepat juga dibutuhkan karena saat ini  pengguna internet di Indonesia sudah lebih dari 170 juta orang, mayoritas ialah anak-anak. “Kita harus hindari posting konten-konten yang diperkirakan akan menuai kontroversi dan berdampak negatif,” tutur Rudiantara.

Menteri Kominfo menambahkan, penanganan konten seperti radikalisme dan terorisme memiliki lembaga khusus yakni BNPT. Begitupun dengan narkoba ada BNN, peredaran obat makanan ada BPOM. Sementara, belum ada lembaga yang secara khusus menangani konten asusila.

“Nah, kalau yang berkaitan dengan asusila ini tidak ada lembaga khusus yang menangani masalah yang berkaitan dengan asusila maupun pornografi. Kominfo selalu mengedepankan pembinaan. Jadi, sesuatu yang sifatnya bukan bertentangan langsung dengan pornografi,” imbuhnya.

Menteri Rudiantara berharap, kegiatan sarasehan seperti ini kedepannya harus diadakan secara berkala. Tujuannya tentu agar pembinaan yang dilakukan juga berjalan dengan masif.

“Sekali lagi, ini sesuatu yang dinamis karena berkaitan dengan masyarakat. Karena ini sesuatu yang bisa berbeda pemikirannya, dan kita juga dari stakeholders yang mempunyai pemikiran yang berbeda,” ungkapnya. (Icha)

Facebook Messenger Ketahuan Salin Percakapan Suara Pengguna?

0

Telko.id, Jakarta – Masalah privasi kembali menerpa Facebook. Kabarnya perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg ini membayar kontraktor pihak ketiga untuk menyalin percakapan suara pengguna Facebook Messenger.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Rabu (14/08/2019), isu tersebut berasal dari laporan Bloomberg yang terbaru. Laporan ini semakin diperkuat karena Facebook mengakui tindakan tersebut dan sudah menghentikannya.

{Baca juga: Facebook Sengaja Langgar Regulasi Privasi Data?}

Facebook mengatakan bahwa mereka sudah berhenti menyalin obrolan audio pengguna lebih dari seminggu yang lalu. “Sama seperti Apple dan Google, kami menghentikan tinjauan audio manusia lebih dari seminggu yang lalu,” tulis Facebook.

Facebook menambahkan bahwa tindakan tersebut sebenarnya atas persetujuan pengguna. Di fitur Facebook Messenger, mereka memberikan tawaran apakah pengguna ingin obrolan audio mereka ditranskrip, di mana transkrip dilakukan untuk memastikan bahwa Teknologi AI Facebook menafsirkan pesan dengan benar. Facebook juga meyakinkan bahwa percakapan itu dianonimkan.

Facebook  tidak sendirian dalam melakukan hal ini. Sebelumnya Apple juga  dituduh menyalin telah percakapan di Apple Siri dalam upaya meningkatkan akurasinya. Kasus ini membuat publik bertanya terkait komitmen Facebook untuk menjaga privasi pengguna.

Pasalnya pada Maret 2019 kemarin, CEO Mark Zuckerberg berjanji bahwa di di masa depan perusahaan yang dipimpinnya akan lebih fokus pada keamanan privasi pengguna.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Jumat (08/03/2019), komitmen tersebut merupakan upaya Facebook untuk membangun kembali kepercayaan publik terharap platform mereka.

Zuckerberg mengakui bahwa ini tampaknya berlawanan dengan intuisi perusahaan, tetapi Ia percaya bahwa ini adalah sesuatu yang dapat mereka lakukan untuk para penggunanya.

{Baca juga: Facebook Janji akan Lebih Fokus Pada Privasi Pengguna}

“Saya mengerti bahwa banyak orang meragukan jika Facebook dapat atau bahkan ingin membangun platform yang berfokus pada privasi ini. Terus terang kami saat ini tidak memiliki reputasi yang kuat untuk membangun layanan perlindungan privasi, dan kami secara historis berfokus pada alat untuk berbagi lebih terbuka,” tulis Mark. [NM/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Facebook Ketahuan Menyalin Percakapan Suara Pengguna?

0

Telko.id, Jakarta – Masalah privasi kembali menerpa Facebook. Kabarnya perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg ini membayar kontraktor pihak ketiga untuk menyalin percakapan suara pengguna Facebook Messenger.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Rabu (14/08/2019), isu tersebut berasal dari laporan Bloomberg yang terbaru. Laporan ini semakin diperkuat karena Facebook mengakui tindakan tersebut dan sudah menghentikannya.

{Baca juga: Facebook Sengaja Langgar Regulasi Privasi Data?}

Facebook mengatakan bahwa mereka sudah berhenti menyalin obrolan audio pengguna lebih dari seminggu yang lalu. “Sama seperti Apple dan Google, kami menghentikan tinjauan audio manusia lebih dari seminggu yang lalu,” tulis Facebook.

Facebook menambahkan bahwa tindakan tersebut sebenarnya atas persetujuan pengguna. Di fitur Facebook Messenger, mereka memberikan tawaran apakah pengguna ingin obrolan audio mereka ditranskrip, di mana transkrip dilakukan untuk memastikan bahwa Teknologi AI Facebook menafsirkan pesan dengan benar. Facebook juga meyakinkan bahwa percakapan itu dianonimkan.

Facebook  tidak sendirian dalam melakukan hal ini. Sebelumnya Apple juga  dituduh menyalin telah percakapan di Apple Siri dalam upaya meningkatkan akurasinya. Kasus ini membuat publik bertanya terkait komitmen Facebook untuk menjaga privasi pengguna.

Pasalnya pada Maret 2019 kemarin, CEO Mark Zuckerberg berjanji bahwa di di masa depan perusahaan yang dipimpinnya akan lebih fokus pada keamanan privasi pengguna.

Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Jumat (08/03/2019), komitmen tersebut merupakan upaya Facebook untuk membangun kembali kepercayaan publik terharap platform mereka.

Zuckerberg mengakui bahwa ini tampaknya berlawanan dengan intuisi perusahaan, tetapi Ia percaya bahwa ini adalah sesuatu yang dapat mereka lakukan untuk para penggunanya.

{Baca juga: Facebook Janji akan Lebih Fokus Pada Privasi Pengguna}

“Saya mengerti bahwa banyak orang meragukan jika Facebook dapat atau bahkan ingin membangun platform yang berfokus pada privasi ini. Terus terang kami saat ini tidak memiliki reputasi yang kuat untuk membangun layanan perlindungan privasi, dan kami secara historis berfokus pada alat untuk berbagi lebih terbuka,” tulis Mark. [NM/HBS]

Sumber: Ubergizmo

Parah! Pria Malaysia Pasang Kamera Tersembunyi di Toilet Pesawat

0

Telko.id, Jakarta Kamera tersembunyi yang dipasang di toilet bukanlah hal baru, dan tampaknya tidak akan pernah berakhir. Bahkan, laporan mengenai hal tersebut semakin marak terjadi.

Baru-baru ini, ada laporan tentang bagaimana seorang pria dituduh menyembunyikan kamera pengintai di dalam kamar mandi pesawat United Airlines. Semua terungkap setelah seorang wanita menemukannya.

Menurut laporan, seperti dilansir dari Ubergizmo, wanita itu menemukan kamera tersembunyi di kamar mandi selama penerbangan. Ia melihat sebuah benda yang terletak di pintu berengsel dengan cahaya biru berkedip.

{Baca juga: Berkat WiFi, Siswa-siswa Bandel Ini Ketahuan Aksi Vandalisme}

Ia lantas memberi tahu pramugari tentang hal tersebut. Sang pramugari lalu mengambil dan menyerahkannnya ke tim keamanan United Airlines. Tim keamanan mengonfirmasi bahwa itu adalah kamera pengintai.

Seperti dikutip Telko.id, Rabu (14/08/2019), kamera tersebut berisi rekaman si pemilik yang diketahui berwarna Choon Ping Lee, seorang warga negara Malaysia. Lee kemudian berhasil diciduk oleh pihak kepolisian setempat.

Menurut pernyataan United Airlines, keselamatan dan keamanan pelanggan adalah prioritas utama. “Ketika kru diberitahu tentang masalah itu, kami bertindak cepat untuk memberi tahu pihak berwenang,” ujar mereka.

{Baca juga: Ngeri! Black Hole Terbesar Sejagat Raya Ditemukan}

Beberapa waktu lalu, seorang pria di China Timur memasang kamera tersembunyi di kamar tidur yang disewanya via platform Airbnb. Namun, aksinya terungkap ketika seorang wanita mengenali peralatan tersebut.

Wanita itu lantas melaporkannya ke polisi. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan polisi, pria yang dikenal sebagai “Superhost” tersebut ternyata telah memfilmkan semua tamu yang masuk ke kamar tidur sejak Maret 2019. (SN/FHP)

Sumber: Ubergizmo

Harga Apple Watch, AirPods dkk Naik Bulan Depan?

0

Telko.id, Jakarta – Apabila Anda berniat untuk beli produk-produk Apple sebaiknya lakukan sejak sekarang. Pasalnya, diperkirakan harga Apple Watch, AirPods atau HomePod akan naik di bulan depan.

Baru-baru ini dikabarkan, serangkaian tarif baru produk Apple akan segera diterapkan, menyusul aturan yang diberlakukan administrasi Presiden Donald Trump soal pajak impor 10 persen.

Pajak impor tersebut berlaku untuk produk yang dapat dipakai, termasuk Apple Watch, AirPods, atau HomePod.

{Baca juga: Tak Cuma iPhone, Semua Produk Apple Bakal Naik Harga?}

Pajak baru itu kemungkinan mulai berlaku efektif pada 1 September 2019 mendatang. Sayang, tidak jelas bagaimana Apple akan merespons kebijakan Trump.

Seperti dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Rabu (14/08/2019), Apple belum mengonfirmasi strategi apa yang akan diterapkan manakala pajak impor benar-benar berlaku. Yang pasti, tidak bakal mungkin Apple akan menanggung seluruh biaya tambahan yang seharusnya ditanggung oleh konsumen.

Namun, perlu dicatat bahwa Apple sudah mengalami kenaikan pajak impor 10 persen yang memengaruhi produksi kabel pengisian daya. Beruntung, Apple punya siasat menyerap perbedaan harga sehingga tak terjadi gejolak di pasar.

Sebelumnya dilaporkan, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China membuat Apple bakal terjebak dalam pusaran. Dengan pemberlakuan pajak impor, setiap produk yang berasal dari China ke AS akan mengalami kenaikan biaya 10 persen. Apple pun merasa kebingungan.

{Baca juga: Spesifikasi dan Harga Hp Apple Terbaru}

Apple kemudian mengusulkan daftar tarif untuk semua produk, termasuk iPhone, iPad, MacBook, AirPods, dan AppleTV. Demikian halnya suku cadang dan baterai untuk dijual di AS. Kendati demikian, pemerintah AS tampak bergeming, tak menyepakati usulan tersebut.

Beberapa hari sebelumnya, harga iPhone XS diprediksi akan naik Rp 2,3 jutaan di China. Penyebabnya sama, yakni situasi perang dagang antara AS dan China. Terlebih, China telah memutuskan menaikkan tarif untuk beberapa barang AS setelah keputusan Trump. (SN/FHP)

Sumber: Ubergizmo

HarmonyOS, Sang Penantang Android, Apa Keunggulannya?

0

Telko.id – Baru saja, Huawei meresmikan sistem operasi sendiri yang disebut dengan HarmonyOS. Ada banyak spekulasi yang terjadi mengenai apakah itu akan menjadi pengganti Android untuk smartphone Huawei dan Honor atau tidak. Namun, perusahaan tersebut mengungkapkan banyak detail tentang Harmony OS dan tampaknya rencana mereka untuk OS ini lebih dari sekadar menjadikannya OS pesaing Android.

Lalu, apa keunggulan atau perbedaannya HarmonyOs ini dengan Android sehingga begitu ‘pede’ nya Huawei meluncurkannya? Berikut, Telko.id lansir dari fossbytes.

HarmonyOS Tidak berbasis Kernel Linux

Hal mendasar yang membedakan HarmonyOS dari Android adalah pada kenyataannya bahwa ia tidak memasukkan Linux sebagai intinya. Huawei telah mengembangkan microkernel yang sepenuhnya baru untuk sistem operasi yang futuristik.

Richard Yu, CEO divisi bisnis konsumen Huawei, kemudian membandingkan HarmonyOS dengan OS Fuchsia dalam pengembangan Google yang didasarkan pada mikrokernel Zircon.

Sebuah microkernel berukuran lebih kecil dari kernel monolitik (seperti Linux) karena hanya memuat jumlah minimum kode yang diperlukan untuk menjalankan sistem operasi. Microkernel Huawei memiliki kira-kira 1/1000 dari jumlah kode yang ada di kernel Linux karena hanya mencakup penjadwalan thread dan IPC. Semua layanan lain seperti sistem file, driver perangkat, driver jaringan, dan lainnya, serta berjalan di userspace.

Dalam kasus seperti itu, Inter-Process Communication (IPC) menjadi faktor penting dalam keseluruhan kinerja OS. Huawei mengklaim microkernel-nya menawarkan IPC hingga 5 kali lebih cepat daripada Fuchsia dan hingga tiga kali lebih cepat dari microkernel QNX.

Ini bukan pesaing Android, Lalu?

Saat ini Huawei teguh dalam sikapnya bahwa HarmonyOS bukan pesaing langsung Android. Mereka ingin tetap bekerja di Android tetapi mereka dapat mengganti ponsel cerdas mereka ke HarmonyOS dalam satu atau dua hari jika perusahaan dikeluarkan dari AS (dan ekosistem Android). Sebagai antisipasi ketika hubungan dagang dengan AS semakin buruk.

Awalnya, Huawei akan fokus untuk membawa OS ke layar pintar, speaker pintar, head unit mobil,dan lainnya. Namun, dalam whitepaper prediksi teknologi yang baru-baru ini dirilis, Huawei berharap bahwa akan ada banyak teknologi berbasis AI, IoT, dan 5G pada 2025. Merancang OS untuk perangkat semacam itu sepertinya merupakan langkah kedepan yang baik.

Jadi, ini lebih dari rencana B yang dibuat perusahaan. Mengingat meningkatnya ketegangan antara AS dan Cina, sedang berspekulasi bahwa Huawei dapat menanamkan HarmonyOS untuk seri Mate 30 mendatang. Pasalnya, sampai sekarang, perangkat tersebut belum menerima sertifikasi Google Play, yang merupakan keharusan untuk memuat Android OS dan layanan Google di dalamnya.

Secara teoritis lebih cepat dari Android

Huawei menggunakan “OS terdistribusi” sebagai permainan barunya untuk menjual penawaran terbarunya di industri smartphone. HarmonyOS menggunakan penjadwalan tugas terdistribusi dan manajemen data terdistribusi untuk meningkatkan kinerjanya.

Huawei berpendapat bahwa HarmonyOS yang “terdistribusi” dapat mengungguli Android dengan fakta bahwa Android menggunakan banyak kode yang berlebihan, mekanisme penjadwalan yang ketinggalan jaman dan memiliki masalah fragmentasi.

Microkernel-nya menyebarkan mekanisme penjadwalan baru yang disebut “Deterministic Latency Engine” yang menggunakan analisis beban waktu-nyata, pencocokan karakteristik aplikasi, dan perkiraan untuk mengalokasikan sumber daya sistem dengan cara yang lebih baik.

Perusahaan mengklaim bahwa ia telah menghasilkan hingga 25,7% peningkatan latensi respons dan peningkatan 55,6% dalam fluktuasi latensi.

Memberikan contoh jalan raya, Huawei mengatakan mekanisme penjadwalan adil yang populer di Linux memperlakukan semua sumber daya dengan cara yang sama, yang mengurangi kinerja. Namun, hasil akhirnya tidak dapat diprediksi sampai OS yang sebenarnya jatuh ke tangan orang-orang.

Tidak ada akses root

Banyak orang yang menggunakan Android memiliki gagasan tentang apa itu rooting Android dan keajaiban (dan havocs) yang dapat dibawa ke ponsel mereka.

Menariknya, di HDC 2019, Huawei mengumumkan bahwa sistem operasinya tidak akan mendukung akses root pada perangkat. Ini harus meningkatkan keamanan keseluruhan dari mikrokernel dan perangkat.

Lebih lanjut, Huawei mengatakan telah menggunakan “metode verifikasi formal” untuk meningkatkan keamanan microkernel-nya. Ini adalah pendekatan matematis yang digunakan dalam bidang keamanan-kritis seperti aerospace dan chipset. Ini memberikan keunggulan dibandingkan verifikasi fungsional dan simulasi serangan yang menangani sejumlah situasi terbatas.

Perang aplikasi: Android masih menjadi pemenang

Di tengah semua ini, Huawei memiliki satu perjuangan besar untuk menang, yang pada akhirnya akan menentukan pemenang utama: ekosistem aplikasi. Kita telah melihat bahwa perusahaan yang memiliki pasar aplikasi memiliki industri smartphone. Google dan Apple adalah contoh terbesar dari itu.

Saat ini, Huawei sedang coba memikat para pengembang untuk memindahkan port aplikasi mereka ke alternatif Play Store yang disebut AppGallery. Karena memang, untuk saat ini HarmonyOS tidak mendukung aplikasi Android, akan tetapi Huawei berdalih bahwa untuk perpindahan tersebut sangat mudah dilakukan oleh para pengembang. Perusahaan pun telah merilis semua SDK dan perangkat lain yang diperlukan yang akan membantu pengembang mengkompilasi ulang aplikasi mereka untuk HarmonyOS.

Dengan resminya sistem operasi multi-platform HarmonyOS ini, bermunculan juga banyak spekulasi  apakah itu akan menjadi pengganti Android untuk smartphone Huawei dan Honor atau tidak. (Icha)

Berhari-hari di Dasar Danau, Kondisi iPhone X Ini Bikin Kaget

0

Telko.id, Jakarta iPhone X punya fitur tahan air dan debu berkat sertifikasi IP67. Itu artinya, smartphone tersebut bisa diajak berenang atau tenggelam di air dalam waktu maksimal 30 menit dan kedalaman sampai 1,5 meter.

Namun demikian, kehadiran IP67 di iPhone X maupun IP68 di iPhone XS dan XS Max tak lantas membuat pengguna seenaknya saja menjatuhkan iPhone-nya ke air, bukan?

Seperti dikutip Telko.id dari Ubergizmo, Rabu (14/08/2019), belum lama ini tim penyelam di Inggris menemukan iPhone X yang telah beberapa hari berada di dasar danau dalam kondisi hidup.

{Baca juga: Paten Ini Pastikan iPhone Terbaru Kuat “Diajak Berenang”}

Para penyelam menemukan iPhone tersebut dalam kondisi baik dengan layar yang masih menyala. Di layar terdapat notifikasi panggilan tak terjawab. Rupanya, panggilan itu dari kakek sang pemilik iPhone X.

Seorang penyelam, Anthony Hanstock mengaku menemukan iPhone tersebut di dasar danau. Seketika menemukannya, ia langsung memencet tombol di bagian samping untuk dihidupkan.

{Baca juga: Spesifikasi dan Harga Hp Apple Terbaru}

Tak butuh waktu lama, layar kemudian menyala. Di layar terdapat notifikasi panggilan tak terjawab dari kakek si empunya iPhone X, yang belakangan diketahui bernama Brad Beech.

Beech adalah staf yang bekerja di danau itu. Menurut Beech, upaya para penyelam menemukan iPhone miliknya patut disyukuri. Mereka menyelamatkan £ 800 atau Rp 13,7 jutaan untuk asuransi smartphone tersebut. (FHP)

Sumber: Ubergizmo

Samsung Rilis Smartphone Sejutaan, Samsung Galaxy A10s

0

Telko.id, Jakarta – Samsung telah meluncurkan smartphone murah terbaru, Samsung Galaxy A10s. Smartphone ini dirilis di India, dan harga Samsung Galaxy A10s terbilang terjangkau meski menawarkan sejumlah fitur penting.

Samsung Galaxy A10s punya layar berukuran besar, tepatnya 6,2 inci berjenis TFT dengan resolusi HD+ (720 x 1520 piksel). Layarnya telah mengusung desain kekinian, yaitu Infinity-V Display.

Smartphone ini ditopang oleh prosesor octa-core 2.0 GHz Exynos 7884, RAM 2GB, dan ROM 32GB yang bisa diperluas hingga 512GB menggunakan microSD.

{Baca juga: Spesifikasi Lengkap dan Harga Samsung Galaxy Note 10}

A10s pun ditenagai oleh baterai berkapasitas besar, tepatnya 4,000 mAh tanpa dukungan fast charging.

Samsung menyertakan kamera ganda di bagian belakangnya. Konfigurasinya masing-masing 13MP lensa utama dengan aperture f/1.8 dan 2MP lensa depth dengan aperture f/2.4. Sementara kamera depan, hanya beresolusi 8MP dengan aperture f/2.0.

Terdapat juga sensor sidik jari di body bagian belakangnya. Posisinya, seperti smartphone menengah Samsung pada umumnya, yaitu tengah atas body.

{Baca juga: Spesifikasi dan Harga Hp Samsung Terbaru}

Fitur lainnya yang disisipkan pada A10s adalah, dual SIM plus satu slot microSD serta sistem keamanan tambahan berbasis biometrik, yaitu face recognition.

Samsung Galaxy A10s tersedia dalam empat warna, Blue Black, Green, dan Red. Di negeri Bollywood, harganya mencapai 7.990 rupee atau setara Rp 1,6 jutaan. (FHP)

Harganya Rp 1,6 Jutaan, DJI Osmo Mobile 3 Bawa Banyak Keunggulan

0

Telko.id, Jakarta – DJI telah resmi meluncurkan DJI Osmo Mobile 3. Gimbal smartphone ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan seri sebelumnya, DJI Osmo Mobile 2 ataupun produk pesaing. Apa saja?

Dilansir Telko.id dari Android Authority, Rabu (14/08/2019), Osmo Mobile 3 kini bisa dilipat, dan menjadikannya sangat mudah untuk dibawa kemana-mana.

Maklum saja, salah satu gangguan ketika membawa gimbal smartphone adalah ukurannya yang tidak portabel, dan menghabiskan ruang apabila disimpan di dalam tas.

Keunggulan lainnya adalah, gimbal ini telah didukung fast charging dengan port USB-C.

DJI mengklaim, proses charging Osmo Mobile 3 dari 0% hingga penuh hanya sekitar dua jam. Selain itu, baterainya pun bisa bertahan sampai 15 jam.

Kemudian, DJI turut menghadirkan fitur Quick Roll yang bisa memutar orientasi smartphone dari Portrait ke Landscape dengan menekan tombol. Fitur ini membuat pengguna tidak perlu melepas smartphone dari gimbal, seperti dua seri Osmo Mobile sebelumnya.

Disematkan pula dua fitur dari Osmo Pocket, yaitu Active Track dan Story Mode. Active Track mampu melacak dan menjaga subjek utama tetap di tengah frame, sementara Story Mode merupakan fitur edit footage otomatis untuk pemula.

DJI membanderol harga Osmo Mobile 3 sekitar USD 119 atau setara Rp 1,6 jutaan DJI juga memberikan “harga paket” senilai USD 139 atau Rp 1,9 jutaan yang berisi tas jinjing tambahan dan dudukan tripod. (FHP)

Sumber: Android Authority

Layar Samsung Galaxy Note 10+ Kualitasnya Terbaik, Ini Buktinya

0

Telko.id, Jakarta – Samsung Galaxy Note 10+ menorehkan banyak rekor dalam hal layar, menurut pengujian DisplayMate. Smartphone ini mengikuti jejak Galaxy S10 yang sebelumnya juga memecahkan banyak rekor DisplayMate.

Berdasarkan pengujian, layar Samsung Galaxy Note 10+ memecahkan setidaknya 12 rekor berkat kualitas dan karakteristik performa layarnya yang mengalami peningkatan.

Layar Note 10+ mencetak rekor untuk akurasi warna, kontras, dan akurasi skala intensitas.

{Baca juga: Gusur P30 Pro, Galaxy Note 10+ jadi Smartphone Kamera Terbaik}

Dilaporkan GSMArena, seperti dilansir Telko.id pada Rabu (14/08/2019), layar phablet premium ini punya manajemen warna otomatis yang memastikan profil warna yang pas ketika menampilkan konten ke pengguna

Layar smartphone ini sudah DCI-P3 natural yang mencapai akurasi warna Absolute 0,4 JNCD yang menjadi catatan rekor baru. DisplayMate mengatakan, berkat OLED “Deep Red” yang digunakan, Note 10+ menjadi yang pertama mencapai cakupan 100% DCI-P3, apabila pengguna memilih mode layar secara manual.

Sementara untuk mode sRGB, layar menghasilkan Absolute 0,4 JNCD. Mode ini sendiri biasanya digunakan untuk menampilkan foto dan video dari kamera, serta konten lainnya.

{Baca juga: Spesifikasi dan Harga Hp Samsung Terbaru}

Dibandingkan seri Note 9, layar Note 10+ pun terbilang lebih cerah 10% berkat mode High Brightness pada layar putih yang mencapai angka 778 nits. Bahkan, smartphone ini punya kecerahan maksimal hingga 1.308 nits, dan menjadi rekor baru (lagi).

Berikut daftar 12 rekor DisplayMate yang disamai atau dipecahkan oleh Samsung Galaxy Note 10+:

  • Highest Absolute Color Accuracy (0.4 JNCD) – Visually Indistinguishable From Perfect
  • Highest Image Contrast Accuracy and Intensity Scale Accuracy (2.17 Gamma) – Visually Indistinguishable From Perfect
  • Smallest Shift in Color Accuracy and Intensity Scale with the Image Content APL (0.8 JNCD) – Visually Indistinguishable From Perfect
  • Smallest Shift in Image Contrast and Intensity Scale with the Image Content APL (0.03 Gamma) – Visually Indistinguishable From Perfect
  • Smallest Change in Peak Luminance with the Image Content Average Picture Level APL (6 percent)
  • Highest Full Screen Brightness for OLED Smartphones (793 nits at 100% APL)
  • Highest Peak Display Brightness (1,308 nits for Low APL)
  • Largest Native Color Gamut (113% DCI-P3 and 142% sRGB / Rec.709)
  • Lowest Screen Reflectance (4.3 percent)
  • Highest Contrast Rating in Ambient Light (184 for 100% APL and 304 for Peak Brightness)
  • Smallest Brightness Variation with Viewing Angle (24 percent at 30 degrees)
  • Highest Visible Screen Resolution 3K (3040×1440) – 4K Does Not Appear Visually Sharper on a Smartphone

(FHP)

Sumber: GSMArena, DisplayMate