Telko.id – Saat pandemi, XL Axiata tetap untung dan bagi deviden. Hal ini sudah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2021 (“Rapat”). Totalnya dividen ini kurang lebih sebesar Rp 339,4 miliar yang atau setara denganRp 31,7 per saham.
“Tahun ini Rapat menyetujui penggunaan 50% dari keuntungan setelah menyesuaian untuk dibagian sebagai dividen kepada para pemegang saham. Totalnya dividen ini kurang lebih sebesar Rp 339,4 miliar yang atau setara denganRp 31,7 per saham,” ungkap Dian Siswarini, Presiden Direktur & CEO XL Axiata.
Sisa dari keuntungan lainnya akan kami pergunakan sebagai Alokasi Cadangan Umum sebesar Rp 100 juta dan selebihnya dicatat dalam Saldo Laba Ditahan untuk mendukung pengembangan usaha Perseroan.
Dalam hal pembagian device ini, terjadi peningkatan. Dari tahun sebelumnya hanya 30%, kini ditingkatkan menjadi 50%.
Kemudian, Dian juga menyebut pendapatan XL mencapai Rp 26 triliun yang merupakan peningkatan 3%. Kemudian EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) adalah yang tertinggi dengan kenaikan 31% dan mencapai jumlah Rp 13 triliun.
Sedangkan laba bersih XL Axiata dinormalisasi sebesar Rp 679 miliar dan Return on invested capital (ROIC) dinormalisasi sebesar 4,6% di tahun 2020.
“Satu hal juga yang menunjang pencapaian kami adalah berkomitmen melanjutkan investasi jaringan terutama 4G di luar Jawa, sehingga pendapatan kami di luar Jawa memberi kontribusi pada pertumbuhan secara signifikan,” tambah Dian.
Disebutkan bahwa kontribusi bisnis XL di luar Jawa pada pendapatan perusahaan di tahun 2020 mencapai 25%. Hal ini akan coba ditingkatkan di masa mendatang. “Di 2021, kita akan terus melakukan investasi di luar Jawa, dengan harapan kontribusinya tetap naik,” kata Chief Financial Officer XL Axiata, Budi Pramantika.
Mengenai strategi XL ke depan, Dian berharap dapat tetap moncer. XL akan melanjutkan strategi operational excellence yang fokus pada menekan cost dan meningkatkan profit, menargetkan pendapatan tumbuh selaras industri, EBITDA di level 50%, kemudian untuk belanja modal atau capex sekitar Rp 7 triliun seperti tahun sebelumnya.
Sumber dari belanja modal tahun ini mayoritas berasal dari kas internal perseroan. Sisanya akan dikombinasikan dengan funding dari eksternal.
“Ada beberapa fasilitas pinjaman yang akan jatuh tempo, tahun ini sekitar Rp 1,5 triliun tapi kita berencana melakukan refinancing,” imbuh Budi.
Budi menambahkan, alokasi dari belanja modal tahun ini fokus untuk peningkatan layanan di 4G dan program fiberisasi.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur & Chief Technology Officer XL Axiata I Gede Darmayusa menyebutkan perseroan akan mengalokasikan 60 persen belanja modal untuk pengembangan jaringan di luar Pulau Jawa.
“Tahun lalu masih 50:50, tahun ini (alokasi capex) 60 persen untuk luar Jawa,” kata Darmayusa. (Icha)