spot_img
Latest Phone

Huawei Band 10, Smartband ala Smartwatch Ini Kecanggihannya!

Telko.id - Huawei Device Indonesia resmi meluncurkan Huawei Band...

Xiaomi Smart Display Max 100, Layar Pintar Ultra Besar Pertama di Indonesia

Telko.id - Xiaomi Indonesia meluncurkan Xiaomi Smart Display Max...

Garmin Connect, Bisa Rancang Rute Lebih Personal dan Menyenangkan

Telko.id - Dalam aplikasi Garmin Connect terdapat fitur khusus...

Oppo Campus Ambassador, Siapkan Talenta Muda di Bidang Teknologi dan Digital

Telko.id – Oppo Indonesia memperkenalkan program terbaru Oppo Campus...

Huawei Watch D2, Bisa Pantau Tekanan Darah 24 Jam

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan Huawei Watch D2 di...

ARTIKEL TERKAIT

Kaji Ulang Tarif Interkoneksi, Ini Harapan XL

Telko.id – Pemerintah saat ini sedang melakukan pengkajian ulang mengenai tarif interkoneksi pada operator seluler. Tarif interkoneksi yang mahal sejatinya akan berdampak pada mahalnya tarif telepon untuk end user.

Sejatinya, penghitungan ulang tarif interkoneksi sendiri bertujuan untuk menyehatkan industri telekomunikasi indonesia sekaligus juga memberikan layanan yang terjangkau bagi masyarakat umum sebagai end user.

Interkoneksi sendiri memiliki arti keterhubungan antarjaringan telekomunikasi dari penyelenggara jaringan telekomunikasi yang berbeda. Penetapan tarif interkoneksi sejatinya berlaku efektif sejak 1 Januari 2011. Penghitungan tarif dasar ini ditetapkan oleh BRTI selaku pihak regulasi dalam surat bernomor 227 tahun 2010. Berdasarkan surat tersebut, BRTI memutuskan untuk mengubah tarif interkoneksi layanan pesan singkat (sms) dari berbasis sender keep all (SKA) menjadi berbasis biaya (Non-SKA). Keputusan tersebut kemudian efektif pada 1 Juni 2012 dan berlaku untuk seluruh operator penyelenggara telekomunikasi.

Komisioner BRTI I Ketut Prihadi menyebutkan, “Saat ini beban biaya yang harus dibayar oleh pengguna saat menelpon beda operator (off net) lebih tinggi daripada menelepon ke sesama operator (on net) dan kami hanya boleh mengusulkan formula perhitungan saja,” ucapnya pada Rabu kemarin di Jakarta.

Formula terbaru yang diusulkan oleh BRTI adalah tadif off net 2-3 kali lebih tinggi dari on net. Perhitungan tarif interkoneksi ini juga harus dilihat dari beban yang dipanggul oleh operator.

Mahalnya tarif interkoneksi telepon melalui jaringan voice menjadi salah satu alasan pengguna untuk lebih memilih OTT asing yang menggunakan jaringan data untuk telepon seperti Whatsapp dan Line. Padahal hal ini tentunya akan sangat menguntungkan mereka para raksasa OTT asing.

Berbicara mengenai jaringan data, nyatanya sebentar lagi para operator telah menyiapkan alternatif layanan voice lain dengan menggunakan layanan data. Alternatif tersebut ialah dengan menyelenggarakan layanan VoLTE.

VoLTE nantinya juga akan ‘menyedot’ pulsa dan bukan kuota data pengguna. Yang menjadi permasalahan adalah tarif interkoneksi yang masih belum diatur Pemerintah.

Head Of Networking Planning PT XL Axiata, Rahmadi Mulyohartono mengungkapkan adanya tarif interkoneksi yang cenderung murah antar operator. Hal ini bertujuan untuk memberikan pelayanan yang murah dan berkualitas bagi pelanggan.

VoLTE nantinya akan menjadi salah satu cara baru bagi operator untuk menghadirkan paket nelepon yang berimbas pada peningkatan revenue mereka.

Di seluruh dunia, tercatat penyelenggara VoLTE sudah mencapai angka 40 dan diperkirakan jumlah penyebarannya akan bertambah pada kuartal pertama di tahun depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU