Telko.id – Telkomsel secara resmi membuka gelaran Internet BAIK Festival (IBFEST) Series 10 yang mengusung tema besar “Level Up The Future with AI” di SMK Negeri 1 Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Januari 2026.
Program Corporate Social Responsibility (CSR) tahunan ini kembali hadir dengan fokus utama membekali ribuan pelajar sekolah menengah serta ekosistem pendidikan di Indonesia dengan kemampuan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara kreatif, aman, dan produktif.
Peluncuran program ini menandai satu dekade komitmen Telkomsel dalam literasi digital, di mana tahun ini perusahaan telekomunikasi tersebut menekankan pada prinsip BAIK, yakni Bertanggung jawab, Aman, Inspiratif, dan Kreatif.
Langkah ini diambil untuk memastikan generasi muda tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mampu menguasai alat-alat digital mutakhir untuk menciptakan dampak positif.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan bahwa kehadiran IBFEST Series 10 bertujuan mengubah persepsi generasi muda terhadap teknologi yang berkembang pesat.
Menurutnya, anak muda harus mampu melihat AI sebagai alat solutif, bukan sekadar tren sesaat. Ia menekankan bahwa kecerdasan buatan bukanlah ancaman, melainkan akselerator yang dapat meningkatkan kreativitas dan kapabilitas manusia jika digunakan dengan tepat.
Inisiatif ini sejalan dengan semangat Telkomsel Jaga Cita yang berupaya menciptakan ekosistem digital inklusif dan berkelanjutan.
Sebelumnya, Telkomsel juga telah konsisten menghadirkan Internet BAIK Festival sebagai wadah edukasi tahunan. Selain itu, perusahaan juga memiliki berbagai solusi digital lain seperti Ilmupedia, Skul.id, Kuncie, dan by.U yang mendukung visi tersebut.
Roadshow di Empat Kota Besar
Rangkaian kegiatan IBFEST Series 10 tidak hanya berpusat di satu lokasi. Setelah pembukaan resmi di Cimahi pada 21 Januari, program ini akan melanjutkan perjalanannya dalam bentuk roadshow ke berbagai kota di Indonesia.
Jadwal berikutnya adalah Jambi pada 5 Februari, dilanjutkan ke Pontianak pada 22 April, dan akan mencapai puncaknya pada acara penutupan di Surakarta pada 30 April.

Pemilihan kota-kota ini menunjukkan komitmen pemerataan literasi digital yang dibawa oleh Telkomsel. Di setiap kota, IBFEST menghadirkan tiga kegiatan utama yang dirancang komprehensif, yaitu AI Camp Training, AI Workshop, serta diskusi inspiratif.
Kegiatan ini melibatkan praktisi AI dan pegiat literasi digital untuk memberikan wawasan langsung kepada para peserta.
Pentingnya program semacam ini juga mendapat sorotan dari pemerintah. Inisiatif IBFEST dinilai sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 serta implementasi Peraturan Pemerintah tentang Perlindungan Anak di Dunia Maya (PP TUNAS).
Regulasi ini bertujuan memastikan generasi muda dapat terlindungi dan tetap berkembang secara positif di tengah derasnya arus informasi era digital.
Baca Juga:
Tiga Jalur Pelatihan Berbasis AI
Guna memaksimalkan potensi peserta, IBFEST Series 10 membagi program pembelajarannya ke dalam tiga jalur peminatan spesifik. Strategi ini diterapkan agar materi yang disampaikan lebih fokus dan relevan dengan minat bakat para pelajar. Jalur pertama adalah Creativa, yang dikhususkan bagi pelajar yang tertarik pada seni digital.
Dalam jalur Creativa, peserta diajak mengeksplorasi seni dengan bantuan AI. Materi pelatihan mencakup pembuatan musik, produksi film pendek, desain poster bergerak, hingga penciptaan cerita ilustrasi digital. Hal ini membuktikan bahwa teknologi dapat bersanding harmonis dengan kreativitas artistik.
Jalur kedua adalah Syntech, yang berfokus pada inovasi dan solusi praktis. Di sini, pelajar ditantang untuk mengembangkan solusi atas masalah sehari-hari. Peserta akan diajarkan cara membuat aplikasi sederhana, mini-games yang edukatif, atau prototipe produk digital. Keterampilan ini sangat relevan untuk mencetak calon wirausaha digital masa depan yang mampu berpikir kritis dan solutif.
Jalur ketiga, yang tak kalah penting, adalah Cyberlite. Jalur ini fokus pada edukasi keamanan siber yang dikemas secara kreatif.
Mengingat maraknya ancaman digital, peserta diajak membuat konten kampanye positif. Contoh luaran dari jalur ini meliputi film pendek tentang bahaya deepfake, gerakan sosial “Saring Before Sharing”, atau poster edukasi anti-penipuan (anti-scam).
Edukasi Holistik untuk Guru dan Orang Tua
Sadar bahwa pendidikan tidak hanya melibatkan siswa, IBFEST Series 10 juga merancang kurikulum khusus bagi guru dan orang tua. Langkah ini diambil untuk menciptakan lingkungan pendukung yang solid bagi perkembangan digital anak. Bagi para guru, tersedia workshop bertema “AI in Education & Digital Safety: Membimbing Siswa di Era Cerdas Digital”.
Sesi untuk tenaga pengajar ini bertujuan memperkuat peran guru sebagai mentor digital. Mereka dibekali kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi AI ke dalam metode pengajaran di sekolah, sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih relevan dengan perkembangan zaman. Hal ini penting agar pendidik tidak tertinggal dari siswa yang mereka bimbing.
Sementara itu, bagi orang tua, Telkomsel menghadirkan sesi “Safe & Smart Parenting di Era AI”. Workshop ini memberikan panduan praktis bagi orang tua dalam mendampingi anak berinternet.
Tujuannya adalah agar orang tua memahami peran AI dalam kehidupan sehari-hari dan dapat memastikan anak-anak mereka berselancar di dunia maya dengan aman.
Selain pelatihan teknis, rangkaian acara juga dilengkapi dengan diskusi inspiratif bertajuk “AI untuk Masa Depan yang BAIK”.
Forum ini secara khusus menyoroti aspek keamanan digital melalui sosialisasi PP TUNAS. Hal ini menjadi krusial untuk menjamin perlindungan menyeluruh bagi generasi muda saat bereksplorasi di ruang digital.
Dukungan Penuh Pemerintah
Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, turut memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi Telkomsel dalam menyelenggarakan Internet BAIK Festival.
Menurutnya, upaya membekali generasi muda dengan keterampilan digital dan AI adalah langkah strategis yang sangat dibutuhkan bangsa saat ini.
Meutya Hafid menekankan harapan pemerintah agar pelajar tidak hanya sekadar cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam pemanfaatannya.
Ia menyebutkan bahwa program seperti ini merupakan langkah krusial untuk mencetak inovator-inovator baru yang dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan Indonesia di masa depan.
Kolaborasi antara sektor swasta seperti Telkomsel dan pemerintah melalui regulasi yang tepat diharapkan dapat mempercepat transformasi digital nasional.
Dengan adanya pelatihan yang terstruktur, risiko penyalahgunaan teknologi dapat diminimalisir, sementara potensi manfaatnya dapat dimaksimalkan.
Satu Dekade Mencetak Agen Perubahan
Memasuki tahun kesepuluh pelaksanaannya, program Internet BAIK telah mencatatkan rekam jejak yang impresif. Pada pelaksanaan seri sebelumnya (Series 9), program ini berhasil menjaring antusiasme luar biasa dengan lebih dari 10.000 pendaftar yang berasal dari 124 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Secara kumulatif sejak pertama kali digelar pada tahun 2016, dampak program ini sangat signifikan. Internet BAIK tercatat telah menjangkau lebih dari 41.069 pelajar di 1.484 sekolah.
Jangkauan ini juga melibatkan lebih dari 9.553 guru, orang tua, dan komunitas di 296 kota/kabupaten. Angka ini menunjukkan skala masif dari upaya literasi digital yang dilakukan.
Lebih dari sekadar angka partisipasi, program ini telah melahirkan luaran nyata berupa sumber daya manusia yang berkualitas.
Telkomsel mencatat telah lahir lebih dari 1.600 “Internet BAIK Agents of Change” dan terciptanya 1.624 karya konten kreatif digital. Para agen perubahan inilah yang diharapkan akan terus menularkan semangat literasi digital yang positif di lingkungan mereka masing-masing.
Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi atau mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan pendaftaran IBFEST Series 10, Telkomsel menyediakan akses informasi lengkap melalui situs resmi internetbaik.id.
Program ini terbuka bagi pelajar SMA/SMK sederajat, guru, hingga orang tua yang ingin meningkatkan pemahaman mereka tentang era kecerdasan buatan. (Icha)


