spot_img
Latest Phone

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...

Xiaomi Mijia Smart Audio Glasses Siap Masuk Indonesia

Telko.id - Xiaomi Indonesia secara resmi mengonfirmasi rencana peluncuran...

Garmin Unified Cabin 2026: Revolusi Kabin Cerdas Berbasis AI

Telko.id - Garmin secara resmi memperkenalkan Garmin Unified Cabin...

ARTIKEL TERKAIT

Table of contents

Sang Legendaris Motorola RAZR Kembali, Mampukah Tumbangkan Samsung?

Telko.id – Smartphone lipat legenda Motorola RAZR baru saja melantai lagi di pasar Indonesia. Ditengah, kesulitan mempertahankan merek Motorola di pasar. Cukup sering , masyarakat mempertanyakan brand ini.

“Emang ada merek Motorola?”. Ini pasti ditanya oleh gen Z yang memang pada jamannya, brand ini sudah tidak beredar lagi di Indonesia.

Emang Motorola masih ada? Pertanyaan ini bisa dipastikan umur nya lebih senior karena mungkin dulu pernah punya, smartphone lipat Moto RAZR dijamannya.

Namun, kehadiran Moto RAZR 60 atau Motorola RAZR 60 ditengah dominasi Samsung dengan Flip nya dan beberapa merek kecil lainnya yang mencoba peruntungan di segmen ini, pasti menjadi sangat menantang.

Padahal, Motor RAZR di jaman nya itu, merupakan smartphone lipat yang paling tangguh. Belum ada brand lain yang mampu mengganggu dominasi pangsa pasar nya. Sayang nya, dengan berbagai masalah internal dan eksternal nya, brand ini tidak bisa lagi mempertahankan keadannya di Indonesia. Walaupun di beberapa negara, bran ini masih beredar.

Artinya, Motorola tetap mengikut perkembangan teknologi smartphone lipat dan beragam teknologi terkini lainnya, seperti AI dan lainnya yang sebenar nya merupakan ‘amunisi’ yang cukup untuk bisa sukses di Indonesia.

Namun, seperti biasa di pasar smartphone Indonesia, siapa yang jor-joran melakukan promosi marketing, ‘seperti’ dipercaya oleh masyarakat hingga tergerak untuk membeli.

Nah, bagi brand yang setengah-setengah atau bahkan ‘pedit, irit atau minim’ mengeluarkan biaya marketing atau promosi, seperti sudah dapat dipastikan juga, brand nya akan biasa-biasa saja, bahkan untuk berada di posisi lima besar brand di Indonesia sangat diragukan. Yang paling parah ya akan menghilang diam-diam, tidak ada kabar nya lagi.

Seperti Sharp dan Asus yang tetiba ‘putus asa’ dan akan mengakhiri bisnis smartphone ini di Indonesia. Sharp memang belum ketok palu, namun, tipe Sharp Aquos Sense10 dan R10, menurut rumor menjadi produk terakhir, jika, kedua smartphone ini tidak sukses juga.

Nah, bagaimana dengan Motorola, mampukah sang legenda ini menjadi pionir seperti dijaman nya itu, yakni sekitar dua puluh tahunan lalu, atau hanya menjadi penggembira dan ‘menggapai-gapai’ dari pinggir lapangan ‘pertandingan’ saja?  

Walaupun tentu bukan itu target nya. Motorla Indonesia sendiri sebenar nya memiliki target yang optimis. Saat resmi kembal meramaikan pasar smartphone di Indonesia sekitar pertengah tahun 2025 lalu, Country Head Motorola Indonesia Bagus Prasetyo menargetkan masuk ke lima besar pasar di Indonesia hanya dalam waktu tiga tahun.

“Kami hadir di Indonesia memiliki satu proyeksi dalam tiga tahun akan mencapai double digit,” ujar Bagus beberapa waktu lalu.

Distribusi Pegang Peranan

Ya, untuk melenggang asyik di pasar smartphone, peran distributor memang memiliki peran penting. Salah memilih partner akan menjadi boomerang yang menyakitkan karena produk tidak bisa diserap dengan maksimal oleh pasar.

Hal ini pernah dilakukan oleh Sharp, yang begitu ‘pede’ dengan kedigdayaannya di pasar elektronik, jadi ketika ingin bermain di pasar smartphone, jejaring kuat yang dimiliki lah yang digunakan. Namun, gaya konsumen dan cara pemasaran serta pendekatan pasar smartphone yang berbeda membuat semua itu tidak jalan.

Bahkan, ketika sudah mengubah cara jualan dengan menggunakan distributor yang ‘ahli’ dalam penjualan smartphone juga tidak bisa mengeluarkannya dari kesulitannya ini.

Bagaimana dengan Motorola? Ketika masuk ke Indonesia brand ini sudah menggandeng Digiplus, unit bisnis PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP), sebagai mitra distribusi resmi dalam memasarkan produk ponsel pintarnya di Indonesia.​​​​​​​ Penunjukan itu sudah dilakukan pada saat Motorola resmi masuk ke Indonesia.

Sayang, ternyata waktu setengah tahun lebih ini, masih belum bisa juga mengangkat bran Motorola di pasar. Padahal Digiplus, cukup ahli dalam penjualan smartphone dan perangkat lainnya. Walau pun masih belum sebesar Erajaya Grup yang mendominasi pasar smartphone dan menjadi distributor banyak brand. Kenapa?

Distributor itu, boleh dibilang bekerja dengan dana dari brand. Memang benar, mereka akan membeli produk dari brand untuk berjualan. Namun, ketika bicara promosi marketing, yang boleh dibilang itu keahlian mereka, jika tidak digelontor dana ‘cukup’ oleh brand maka distributor juga akan ‘diam-diam’ saja. Mereka akan bekerja sesuai ‘support’dari brand.

Rantai yang ‘ruwet’ itu, dulu sempat didobrak Oppo, ketika baru masuk Indonesia, dengan menentukan distributor baru, channel-channel baru, dan menerapkan sistem komisi yang mengiurkan. Dan ternyata strategi ini berhasil, hingga brand Oppo saat ini bisa bertengger di 5 besar brand smartphone di Indonesia.

So, dengan kondisi saat ini, sudah terlihat kan, blunder nya ada di mana? Nama besar yang sudah legend, Produk yang bagus, pemilihan distributor yang sudah tepat pun, jika tidak disertai dana promosi yang cukup ‘gila’ tidak akan dilirik oleh Masyarakat.

Bagi Motorola, kehadiran Moro RAZR ke Indonesia ini merupakan ‘bahan bakar’ yang bisa menjadi pendorong, kesuksesannya di industry smartphone Indonesia. Jadi perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin semua potensi nya. (Icha)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU