Telko.id – Biznet secara resmi memaparkan arah kebijakan dan strategi bisnis perusahaan untuk menghadapi tahun 2026, dengan berlandaskan pada pencapaian positif sepanjang tahun 2025.
Di tengah kompetisi industri telekomunikasi yang semakin ketat, perusahaan menegaskan bahwa indikator kesuksesan tidak lagi sekadar perang harga, melainkan bergeser pada pengalaman pelanggan dan kualitas layanan yang prima.
Perubahan fokus ini didasari oleh hasil survei yang dilakukan Biznet bersama Ipsos, sebuah perusahaan riset pasar global.
Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aspek Customer Experience (CX) dan loyalitas pelanggan terhadap layanan Biznet.
Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa pasar internet di Indonesia sedang mengalami pendewasaan, di mana pengguna mulai lebih selektif dalam memilih penyedia jasa konektivitas.
Senior Manager Marketing Biznet, Adrianto Sulistyo, menjelaskan bahwa tingginya nilai rekomendasi dari pelanggan menjadi salah satu tolak ukur utama keberhasilan mereka di tahun 2025.
Fenomena ini didorong oleh konsistensi perusahaan dalam memberikan kualitas layanan yang sesuai dengan janji kampanye pemasaran. Strategi ini terbukti efektif dalam membangun kepercayaan jangka panjang dibandingkan sekadar menawarkan promosi sesaat.
Pergeseran Perilaku Konsumen: Kualitas di Atas Harga
Berdasarkan analisis data internal dan survei pasar yang komprehensif, Biznet menyoroti adanya perubahan fundamental dalam perilaku konsumen di tanah air. Jika beberapa tahun lalu harga murah menjadi satu-satunya faktor penentu dalam memilih provider internet, kini variabel tersebut bukan lagi prioritas tunggal.
Masyarakat modern cenderung mengutamakan stabilitas dan kecepatan koneksi sebelum mempertimbangkan biaya berlangganan.
Adrianto Sulistyo mengungkapkan pandangannya mengenai tren tersebut dalam pemaparan resminya di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, edukasi pasar yang berjalan seiring waktu membuat pelanggan semakin kritis. Mereka tidak ragu untuk mencari informasi mendalam mengenai performa jaringan sebelum memutuskan untuk berlangganan, bahkan jika itu berarti harus membayar lebih mahal.
“Masyarakat Indonesia kini lebih pintar. Mereka bertanya dulu kualitasnya bagus atau tidak, baru bicara harga. Jika kualitasnya terbukti baik melalui rekomendasi orang terdekat, harga yang lebih tinggi pun dianggap wajar,” tegas Adrianto. Hal ini sejalan dengan upaya operator lain yang juga terus meningkatkan kualitas internet demi kepuasan pelanggan.
Data kepuasan pelanggan Biznet mencatatkan kenaikan sebesar 3% dibandingkan tahun 2024. Indikator positif lainnya terlihat dari porsi pelanggan lama—mereka yang telah berlangganan lebih dari 3 hingga 12 bulan—yang terus meningkat.
Angka turnover atau perpindahan pelanggan ke provider lain yang rendah menandakan bahwa retensi pelanggan berhasil dijaga melalui performa layanan yang stabil.
Baca Juga:
Posisi Top of Mind dan Ekspansi Layanan
Keberhasilan strategi yang berpusat pada kualitas ini juga berdampak langsung pada kekuatan merek Biznet di pasar nasional. Dalam survei yang melibatkan lima penyedia layanan internet besar di Indonesia, Biznet berhasil menempati posisi Top of Mind nomor dua. Skor pengingat merek ini melonjak cukup drastis dari angka 9% menjadi 14%.
Pencapaian ini mengindikasikan bahwa merek Biznet telah menjadi salient atau menonjol secara spontan di benak konsumen ketika mereka memikirkan internet cepat.
“Jika orang mencari internet cepat dan berkualitas, pilihannya langsung ke Biznet. Ini menunjukkan brand kami sudah menjadi pilihan utama yang muncul secara spontan,” tambah Adrianto.
Terdapat beberapa faktor kunci yang mendorong tingginya tingkat kepuasan dan penguatan merek tersebut. Pertama adalah ekspansi kapasitas. Biznet telah melakukan penambahan kapasitas bandwidth sebesar 30% pada tahun 2025.
Langkah ini krusial untuk memastikan jaringan tetap stabil meski jumlah pengguna terus bertambah, sebuah langkah yang juga krusial bagi penyedia layanan hiburan digital.
Faktor kedua adalah strategi harga wilayah yang adaptif. Biznet melakukan penyesuaian harga khusus untuk kota-kota lapis kedua dan ketiga, seperti di tingkat kabupaten.
Dengan harga mulai dari Rp 175.000, perusahaan berupaya menjangkau daya beli masyarakat di daerah tanpa mengorbankan kualitas.
Strategi pemerataan akses ini mirip dengan inisiatif perluasan internet cepat ke area perumahan yang dilakukan oleh operator seluler lainnya.
Faktor ketiga yang tak kalah penting adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Performa teknisi lapangan dan tim penjualan Biznet dinilai memuaskan oleh pelanggan, yang berkontribusi besar terhadap persepsi positif brand secara keseluruhan.
Strategi 2026: Mengandalkan Rekomendasi Jujur
Memasuki tahun 2026, Biznet berencana menerapkan pendekatan yang lebih personal dalam strategi pemasarannya. Perusahaan menyadari bahwa di era digital saat ini, promosi konvensional atau penggunaan Key Opinion Leader (KOL) berbayar memiliki keterbatasan efektivitas dibandingkan dengan ulasan autentik dari pengguna asli.
Oleh karena itu, Biznet akan memanfaatkan kekuatan “rekomendasi jujur” atau word of mouth sebagai ujung tombak pemasaran.
Adrianto menekankan bahwa bisnis penyedia jasa internet sangat bergantung pada kepercayaan. Ulasan positif yang disebarkan secara sukarela oleh pelanggan kepada keluarga atau rekan kerja dinilai memiliki dampak konversi yang jauh lebih tinggi.
“Bisnis ini adalah bisnis rekomendasi. Kami harus menjaga tingkat satisfaction tetap tinggi agar pelanggan secara sukarela merekomendasikan layanan kami kepada keluarga dan rekan mereka. Inilah yang menjadi fondasi strategi kami ke depan,” pungkas Adrianto.
Fokus pada akses internet yang andal akan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga siklus rekomendasi positif tersebut. (Icha)


