Telko.id – Samsung Electronics menyerukan perubahan paradigma mendasar dalam sistem pengajaran global menjelang peringatan Hari Pendidikan Internasional 2026.
Melalui visi bertajuk “Kekuatan pemuda dalam membangun pengajaran bersama”, raksasa teknologi ini menegaskan pentingnya peran aktif generasi muda dalam transformasi pendidikan digital, menempatkan mereka bukan lagi sekadar sebagai objek atau penerima manfaat pasif, melainkan sebagai perancang utama masa depan pendidikan itu sendiri.
Seruan ini disampaikan langsung oleh CU Kim, President & CEO Samsung Electronics Southeast Asia and Oceania, yang menyoroti bahwa generasi muda saat ini adalah digital natives.
Mereka memiliki pemahaman yang jauh lebih mendalam mengenai dinamika masa depan dibandingkan generasi sebelumnya. Oleh karena itu, suara mereka menjadi elemen krusial dalam membentuk evolusi proses pembelajaran yang lebih inklusif, adil, dan berkualitas.
Sejalan dengan semangat Majelis Umum PBB yang menetapkan 24 Januari sebagai Hari Pendidikan Internasional, Samsung menekankan perlunya menjembatani kesenjangan dan memberdayakan pemuda.
Hal ini menjadi semakin vital di tengah laju perkembangan teknologi yang menuntut evaluasi ulang, tidak hanya pada materi yang diajarkan, tetapi juga pada bagaimana metode pengajaran tersebut disampaikan kepada siswa.
Generasi muda saat ini memegang kunci penting dalam ekosistem digital. Agar dapat bersaing, kontribusi digital yang nyata dari mereka sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang relevan dengan tantangan zaman.
Mendefinisikan Ulang Kesenjangan Digital
Dalam pandangan Samsung, tantangan di kawasan Asia Tenggara dan Oseania (SEAO) sering kali disederhanakan hanya sebagai masalah infrastruktur fisik.
Kesenjangan digital kerap diartikan sebatas kurangnya bandwidth internet atau ketiadaan perangkat keras seperti laptop dan tablet di sekolah-sekolah pedesaan.
Namun, CU Kim menegaskan perspektif yang lebih mendalam. Bandwidth bukan sekadar angka kecepatan internet, melainkan representasi seberapa cepat seorang siswa dapat mengakses pengetahuan global.
Begitu pula dengan perangkat teknologi; gadget bukanlah tujuan akhir, melainkan kanvas bagi siswa untuk menumpahkan kreativitas mereka. Ketika siswa di daerah terpencil tidak memiliki akses ini, mereka kehilangan peluang emas untuk berpartisipasi dalam ekonomi masa depan.

Data menunjukkan urgensi investasi teknologi dalam pendidikan. Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 59% sekolah di wilayah SEAO telah memiliki rencana strategis untuk memperbarui dan berinvestasi pada teknologi modern.
Langkah ini diambil untuk mendigitalisasi lingkungan belajar mereka, menegaskan bahwa investasi teknologi kini telah bergeser dari sebuah kemewahan menjadi kebutuhan primer demi menjamin akses pendidikan yang adil.
Pemberdayaan Pengajar dan Sekolah di Indonesia
Teknologi hanyalah titik awal dari transformasi. Kunci keberhasilan sebenarnya terletak pada kemampuan para pengajar untuk membimbing dan menginspirasi siswa menggunakan alat-alat tersebut.
Samsung merespons kebutuhan ini melalui Samsung Learning Hub, sebuah inisiatif yang menyediakan sarana, pelatihan, dan sumber daya untuk meningkatkan standar pengajaran.
Melalui program bootcamp dan mentoring, Samsung mendukung para pendidik dan pimpinan sekolah untuk membangun kapabilitas yang diperlukan dalam mengimbangi kurikulum yang terus berkembang.
Fokus utamanya adalah memastikan teknologi di ruang kelas berfungsi sebagai pendukung pedagogi atau metode pengajaran, bukan sebaliknya.
Salah satu implementasi nyata dari visi ini adalah program Samsung Digital Lighthouse Schools. Program ini dirancang untuk membantu sekolah memulai perjalanan transformasi digital mereka, terlepas dari titik awal kondisi sekolah tersebut.
Dukungan diberikan dalam bentuk penyediaan sarana, pengembangan kapabilitas guru, dan kerangka kerja yang berkelanjutan.
Baca Juga:
Di Indonesia, dampak program ini mulai terlihat nyata. SMP Islam Al Azhar 25 Tangerang Selatan dan Thursina International Islamic Boarding School baru-baru ini telah bergabung dalam komunitas Samsung Digital Lighthouse School.
Di institusi pendidikan ini, para guru mulai membangun kepercayaan diri dalam mengintegrasikan perangkat digital ke dalam proses belajar mengajar.
Hasilnya adalah pembelajaran yang lebih interaktif dan kolaboratif, serta efisiensi beban kerja administratif yang memungkinkan guru kembali fokus pada tugas mulia mereka: mendidik siswa.
Dukungan perangkat yang mumpuni juga menjadi faktor penting. Inovasi teknologi seperti yang ada pada kreativitas pemuda Indonesia, dapat terakomodasi dengan baik jika ekosistem pendidikannya mendukung penggunaan gadget canggih secara positif.
Membangun Kemandirian dan Solusi Nyata
Setelah akses infrastruktur terpenuhi dan tenaga pengajar diberdayakan, langkah selanjutnya adalah membangun kemandirian (agency) pada siswa.
Samsung berkomitmen membekali generasi penerus dengan keterampilan pemecahan masalah dunia nyata (real-world problem solving), menggunakan teknologi sebagai katalisator untuk berpikir kritis.
Komitmen ini tercermin dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) unggulan, yakni Samsung Solve for Tomorrow. Kompetisi ini menantang siswa untuk menerapkan keterampilan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) guna mengatasi isu-isu sosial di komunitas mereka. Program ini menanamkan pola pikir co-creation atau membangun bersama.
Antusiasme generasi muda terhadap program ini sangat tinggi. Pada tahun 2025, partisipasi tercatat mencapai hampir 17.000 anak muda di seluruh wilayah SEAO, menandai peningkatan signifikan sebesar 40% dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka ini menunjukkan dorongan kuat dari para agen perubahan muda untuk memberikan solusi kreatif bagi lingkungan mereka.
Salah satu contoh inspiratif datang dari Jack Lowe, seorang siswa asal New South Wales, Australia. Ia mengembangkan “Eilik”, sebuah platform perbandingan hasil berbasis kecerdasan buatan (AI). Inovasi ini dirancang untuk membantu pengajar mengidentifikasi potensi kecurangan akademik di era AI generatif. Jack meraih penghargaan “Runner-Up 14-18” berkat idenya yang merespons tantangan integritas akademik modern.
Kasus Jack Lowe membuktikan bahwa pemahaman tentang literasi AI sangat penting bagi generasi muda agar mereka dapat menciptakan solusi yang etis dan bermanfaat bagi sistem pendidikan itu sendiri.
Menyiapkan Talenta untuk Ekonomi Digital
Seiring pertumbuhan ekonomi digital berbasis AI di kawasan Asia Tenggara dan Oseania, kebutuhan akan talenta yang siap kerja menjadi semakin mendesak. Samsung menjawab tantangan ini melalui Samsung Innovation Campus. Program ini telah menjangkau empat pasar di wilayah SEAO dan membekali lebih dari 24.000 peserta pada tahun 2025.
Para peserta mendapatkan pelatihan intensif dalam keterampilan krusial seperti coding, pemrograman, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan.
Tujuannya bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi yang ada saat ini, melainkan mempersiapkan siswa untuk membangun teknologi masa depan. Dengan bekal keterampilan ini, diharapkan generasi muda dan UMKM dapat naik kelas dan bersaing di panggung global.
Hari Pendidikan Internasional 2026 menjadi momentum pengingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama yang berkelanjutan. Upaya menutup celah akses hari ini adalah investasi untuk membuka pintu inovasi di masa depan.
Dengan menyediakan platform bagi generasi muda untuk melatih kemandirian, berkreasi, dan memecahkan masalah, kita sedang membangun dunia yang lebih baik secara berdampingan dengan mereka. (Icha)


