Telko.id – Persaingan di pasar smartphone flagship kembali memanas dengan hadirnya laporan terbaru mengenai kemampuan Huawei Mate 70 Air.
Perangkat ini diklaim berhasil mengalahkan dua pesaing utamanya, yakni Galaxy S25 Edge dan iPhone Air, khususnya dalam aspek ketahanan baterai tanpa mengorbankan estetika desain.
Berdasarkan informasi yang beredar, Huawei Mate 70 Air mampu menghadirkan kapasitas daya yang jauh lebih besar dibandingkan kompetitornya.
Meskipun perangkat ini mungkin tertinggal beberapa milimeter dalam perlombaan ketipisan bodi, Huawei membuktikan keunggulannya di area yang sering kali dikompromikan oleh merek lain demi penampilan fisik semata.
Baterai merupakan komponen vital yang menentukan pengalaman pengguna sehari-hari. Kualitas sel baterai yang baik memungkinkan pengguna beraktivitas tanpa rasa cemas dan bebas dari ketergantungan pengisi daya selama beberapa hari.
Sebaliknya, sel baterai dengan densitas rendah tidak hanya boros daya, tetapi juga dapat menghambat kenyamanan penggunaan perangkat dalam jangka panjang.
Dilema Ketipisan dan Kapasitas Baterai
Jika melihat strategi yang diterapkan pada perangkat Samsung dan Apple, kedua raksasa teknologi ini memang konsisten menawarkan spesifikasi dan fitur yang mumpuni.
Namun, satu aspek yang terus menjadi tantangan bagi kedua merek tersebut adalah masa pakai baterai. Hingga saat ini, Apple dan Samsung tampaknya masih kesulitan untuk menyematkan baterai dengan densitas lebih tinggi pada jajaran ponsel flagship mereka.
Keterbatasan ini terlihat jelas pada model-model papan atas seperti iPhone 17 Pro Max dan Galaxy S25 Ultra. Kedua perangkat tersebut masing-masing hanya membekali diri dengan baterai berkapasitas 4823mAh dan 5000mAh.
Angka ini menunjukkan stagnasi kapasitas daya di tengah tuntutan performa yang semakin tinggi.

Kondisi ini menegaskan bahwa mengharapkan kapasitas baterai besar dari perangkat tipis buatan merek-merek tersebut sering kali tidak efektif.
Upaya mengejar profil bodi yang ramping sering kali memaksa produsen untuk memangkas ruang internal perangkat.
Akibatnya, para pembuat teknologi harus memilih antara mengurangi kapasitas baterai atau mengorbankan spesifikasi lain, seperti sensor kamera, demi mencapai ketipisan yang diinginkan.
Baca Juga:
Terobosan Teknologi Silikon-Karbon
Huawei mengambil pendekatan berbeda dengan Mate 70 Air. Perusahaan ini menunjukkan kepada pembuat perangkat iPhone dan Galaxy bahwa menanamkan baterai besar dalam desain yang ramping bukanlah hal yang mustahil.
Kunci dari pencapaian ini terletak pada penggunaan teknologi baterai anoda silikon-karbon yang sangat tipis.
Teknologi ini memungkinkan Huawei Mate 70 Air membawa baterai berkapasitas jumbo sebesar 6500mAh. Angka ini jauh melampaui standar industri saat ini untuk perangkat dengan profil serupa.
Penggunaan material silikon-karbon memberikan densitas energi yang lebih tinggi, sehingga ukuran fisik baterai dapat ditekan tanpa mengurangi kapasitas dayanya secara signifikan.
Selain kapasitas yang masif, Huawei juga menyertakan dukungan pengisian daya cepat. Perangkat ini mendukung pengisi daya kabel cepat 66W yang mampu memberikan asupan daya rapid tanpa mengganggu aktivitas pengguna.
Fitur ini sangat krusial bagi mereka yang gemar bermain gim atau melakukan pemutaran video secara intensif, memastikan perangkat dapat segera digunakan kembali dalam waktu singkat.
Dengan kombinasi kapasitas 6500mAh dan pengisian cepat 66W, pengguna mendapatkan pengalaman yang utuh.
Huawei Mate 70 Air menawarkan masa pakai baterai kelas flagship yang sebenarnya, memberikan pilihan nyata bagi konsumen: apakah menginginkan perangkat yang hanya menang di ketipisan, atau model tipis yang bertenaga penuh.
Inovasi ini sejalan dengan komitmen Huawei dalam menghadirkan teknologi terdepan, seperti yang terlihat pada Layar Canggih di seri Mate lainnya.
Keunggulan manajemen daya ini juga melengkapi ekosistem perangkat mereka, mulai dari Smartwatch Premium hingga Gelang Pintar yang dikenal memiliki efisiensi daya tinggi.
Kehadiran Huawei Mate 70 Air dengan spesifikasi baterai yang superior ini memberikan standar baru dalam industri smartphone.
Hal ini membuktikan bahwa batasan fisik bodi ponsel tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengorbankan performa daya, sebuah pesan kuat bagi kompetitor seperti Samsung dan Apple untuk terus berinovasi. (Icha)


