Telko.id – Apple secara resmi menghentikan produksi komputer Mac Pro, mengakhiri perjalanan lini produk flagship-nya yang telah berlangsung selama dua dekade.
Pengumuman ini menandai babak akhir untuk salah satu komputer desktop paling ikonik perusahaan yang dikenal dengan performa tinggi dan modularitas ekstrem.
Keputusan penghentian ini terlihat pada halaman dukungan Apple, di mana Mac Pro dengan chip M2 Ultra telah berpindah status menjadi “vintage” atau usang.
Perubahan status ini mengindikasikan bahwa perangkat tidak lagi diproduksi atau didistribusikan oleh Apple. Langkah ini mengonfirmasi akhir dari era komputer desktop pro yang dapat dikonfigurasi dengan berbagai komponen internal oleh pengguna.
Mac Pro pertama kali diperkenalkan pada tahun 2006, dirancang sebagai penerus Power Mac G5. Komputer ini dengan cepat menjadi andalan bagi profesional di bidang kreatif seperti editing video, audio, dan desain 3D yang membutuhkan daya komputasi maksimal.

Selama dua puluh tahun, Mac Pro mengalami beberapa iterasi desain, dari tower konvensional hingga model silinder “trash can” yang kontroversial, sebelum kembali ke bentuk tower modular dengan Mac Pro 2019.
Transisi Apple ke chip silikon buatannya sendiri, Apple Silicon, menjadi faktor kunci di balik keputusan ini.
Seluruh lini produk Mac, termasuk iMac, MacBook Air, dan MacBook Pro, telah beralih dari prosesor Intel ke chip M-series.
Mac Pro dengan chip M2 Ultra yang dirilis tahun lalu menjadi model terakhir yang menggunakan arsitektur Apple Silicon, sekaligus penutup rangkaian transisi.
Performa yang ditawarkan oleh chip M-series pada Mac Studio dan MacBook Pro high-end dianggap telah memenuhi, bahkan melampaui, kebutuhan banyak pengguna yang sebelumnya mengandalkan Mac Pro.
Model Mac Pro terakhir menawarkan konfigurasi dengan chip M2 Ultra yang menyatukan CPU 24-core, GPU hingga 76-core, dan memori unified hingga 192 GB.
Meski powerful, desainnya yang lebih tertutup dibanding pendahulunya yang menggunakan Intel membatasi opsi upgrade yang menjadi ciri khas awal Mac Pro. Pergeseran filosofi desain ini mengurangi daya tarik utama Mac Pro sebagai mesin yang sepenuhnya dapat disesuaikan.
Pasar workstation high-end sendiri telah mengalami perubahan signifikan. Banyak tugas komputasi berat kini dapat ditangani oleh laptop profesional atau komputer all-in-one yang lebih ringkas, mengurangi permintaan untuk desktop tower besar dan mahal.
Apple tampaknya memusatkan upaya pengembangan untuk segmen pro pada Mac Studio dan MacBook Pro, yang menawarkan portabilitas atau footprint lebih kecil tanpa mengorbankan performa ekstrem.
Keputusan produksi Mac Pro juga pernah menjadi perhatian publik beberapa tahun lalu. Apple sempat berencana memindahkan produksi Mac Pro 2019 ke China, sebuah langkah yang menuai sorotan. Bahkan, perusahaan dilaporkan minta izin Trump terkait rencana tersebut, menunjukkan kompleksitas rantai pasokan untuk produk niche ini.
Bagi pengguna setia dan profesional yang masih bergantung pada Mac Pro, Apple akan terus menyediakan layanan dan suku cadang untuk model-model terbaru sesuai kebijakan garansinya.
Namun, tidak akan ada lagi pembaruan atau generasi penerus untuk lini produk ini. Fokus perusahaan kini sepenuhnya pada pengembangan ekosistem yang didukung Apple Silicon di seluruh portofolio Mac-nya.
Penghentian Mac Pro menandai tertutupnya sebuah babak penting dalam sejarah Apple, di mana perusahaan secara konsisten melayani pasar profesional high-end dengan solusi komputasi khusus.
Meski babak ini berakhir, warisan Mac Pro dalam mendorong batas performa desktop akan tetap dikenang, sementara masa depan komputasi pro Apple kini bertumpu pada arsitektur chip yang lebih terintegrasi dan efisien. (Icha)


