Telko.id – Alibaba dan ByteDance resmi meluncurkan model AI pembuat gambar terbaru sebagai upaya menyaingi dominasi Google Nano Banana di pasar teknologi visual global.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa kompetisi tidak lagi fokus pada model bahasa besar (LLM), melainkan beralih ke pengembangan kecerdasan visual berbasis AI yang semakin kompleks.
Mengutip laporan SCMP, Alibaba memperkenalkan Qwen-Image-2.0 melalui ekosistem Alibaba Cloud, sementara ByteDance merilis Seedream 5.0 dengan peningkatan pada kemampuan pemahaman konteks. Kedua model tersebut diklaim menghadirkan kualitas visual yang lebih tajam serta efisiensi dalam memproses pengguna yang detail.
Qwen-Image-2.0 dirancang mampu mengubah paragraf panjang menjadi slide presentasi profesional secara instan. Alibaba menyebut model ini menjawab persoalan klasik AI pembuat gambar, terutama kesalahan penulisan teks yang sering muncul pada hasil visual.
Baca juga:
- Tolak ByteDance, CEO Manus Raup Untung Besar dari Meta
- ByteDance dan ZTE Kembangkan Ponsel AI Generasi Kedua untuk Rilis 2026
Seusai diperkenalkan melalui media sosial resmi perusahaan, model ini disebut mampu menangani kompleks prompt dan menjadi bagian penting dalam strategi ekspansi layanan digital Alibaba.
Di sisi lain, Seedream 5.0 milik ByteDance menonjolkan aspek penalaran atau logika dalam memahami konteks perintah pengguna. Model tersebut dinilai lebih adaptif terhadap instruksi bertingkat, termasuk kemampuan mentransfer gaya visual dari referensi tertentu ke gambar baru. Seusai diuji coba terbatas pada aplikasi CapCut, teknologi ini menunjukkan peningkatan detail visual melalui sistem pengayaan berbasis AI.
Meski begitu, Google Nano Banana Pro tetap tampil unggul dalam konsistensi detail dan stabilitas keluaran. Dalam sejumlah pengujian independen, model besutan DeepMind itu disebut lebih andal ketika menangani komposisi kompleks dengan banyak elemen visual.
Seusai dibandingkan dari sisi kecepatan pembuatan gambar, Google tetap menjadi pilihan utama dalam alur produksi profesional yang menuntut efisiensi tinggi.
Hingga kini, Alibaba dan ByteDance belum merilis laporan teknis komprehensif terkait benchmark resmi seperti FID maupun CLIP score. Perbandingan kinerja yang beredar masih mengandalkan uji komunitas dan peningkatan publik.
Publik kini menunggu data numerik resmi untuk memastikan siapa yang benar-benar memimpin revolusi AI pembuat gambar di pasar global.


