Saturday, December 15, 2018

Open Signal: Jaringan 4G Paling Terdampak Paska Gempa Sulawesi

Telko.id – Open signal OpenSignal mengukur dampak yang dialami pengguna ponsel sebelum dan sesudah gempa Bumi sebesar 7.5 dennen pusar gempa berada di pulau Sulawesi Indonesia, pada harı Jumat 28 September 2018.

Gempa bumi yang memicu tsunami dengan ketinggian hingga 6 m dan bersamaan dengan itu menyebabkan berbagai macam kerusakan di kota Palu serta daerah di sekitarnya. Dampak pada teknologi mobil sangatlah luas tapi berdasarkan data Open signal, hal tersebut tidak menyebabkan pemadaman total di seluruh wilayah tersebut.

Setelah bencana, layanan 4G di Palu memerlukan waktu hampir dua minggu untuk kembali normal. OpenSignal mengamati bahwa terjadi penurunan ketersediaan 4G secara drastis, di mana layanan memerlukan hampir dua minggu untuk kembali seperti 30 hari sebelumnya bagi rata-rata pengguna ponsel.

Meskipun demikian, ketersediaan 4G tidak tampak menurun parah pada hari pertama saat gempa namun pada hari kedua — Minggu 30 September — ketika ketersediaan LTE turun hingga hampir 60%. Dampak yang terlambat ini mempengaruhi penggunaan jaringan seluler dengan menunjukkan bahwa kerusakan langsung pada menara transmisi akibat gempa bumi bukanlah penyebab utama dari pemulihan jaringan yang terlambat.

Setelah gempa para pengguna ponsel lebih sulit untuk menemukan sinyal LTE. Berdasarkan pengamatan Open Signal, penerapan distribusi data yang dilakukan secara geografis, di ketahui bahwa pembacaan sebelum gempa bumi cukup menyebar di seluruh kota dan kota administratif di sekitarnya.

Sementara data yang dikumpulkan pada hari setelah bencana alam kebanyakan berada di tengah kota dan di dekat bandar udara, dengan sebaran pengukuran di seluruh wilayah yang lain.

Distribusi tersebut menunjukkan bahwa pengguna ponsel tampaknya dapat menemukan sinyal ponsel di tengah kota — di mana penyedia layanan memasang sejumlah menara transmisi untuk melayani kepadatan populasi yang lebih tinggi.

Petak peta oleh Stamen Design, di bawah CC BY 3.0. Data oleh OpenStreetMap, di bawah ODbL.

Meskipun begitu, peta menunjukkan penekanan hasil yang berbeda dalam pembacaan yang di dapat dari berbagai macam teknologi seluler yang berbeda.

Sebelum bencana alam, pengguna ponsel dapat mengakses jaringan 4G di mana saja di mana terdapat sinyal, sedangkan setelah itu wilayah yang tercakup oleh layanan LTE menyusut dibandingkan dengan di mana perangkat memiliki konektivitas mobil, hal tersebut memberikan petunjuk tambahan mengenai penurunan ketersediaan LTE.

Perangkat 4G rata-rata tersambungkan dengan menara transmisi LTE yang lebih jauh. OpenSignal mengukur jarak rata-rata perangkat 4G dari menara transmisi LTE setiap hari setelah bencana alam, dan membandingkannya dengan jarak rata-rata di lokasi yang sama dalam waktu 30 hari sebelum gempa bumi. Kami amati bahwa rata-rata perangkat setelah bencana alam tersambungkan dengan menara transmisi yang lebih jauh, dan hal tersebut memerlukan 11 hari untuk kembali normal.

Pada 30 September — dua hari setelah gempa bumi — rata-rata perangkat tersambungkan ke menara transmisi LTE yang berjarak lebih dari 1.400 meter jauhnya, sedangkan dalam 30 hari sebelum jarak rata-rata di lokasi yang sama — kami melihat, bahwa umumnya pusat kota — kurang dari 500 meter.

Peningkatan rata-rata jarak sambungan yang jauh menunjukkan bahwa lebih sedikit menara transmisi LTE yang beroperasi dalam beberapa hari setelah gempa bumi, di mana perangkat tidak dapat tersambungkan ke menara transmisi 4G terdekat perangkat tersebut malah tersambungkan ke menara transmisi yang lebih jauh.

Hal ini juga menunjukkan bahwa rata-rata lebih banyak perangkat tersambungkan ke menara transmisi yang sama, sehingga meningkatkan kepadatan pada sebagian jaringan yang masih hidup tersebut.

Ketika bencana alam terjadi, operator penyedia layanan mobil menghadapi tantangan yang signifikan untuk memulihkan layanan menjadi normal dan tergantung ukuran bencana yang dapat memerlukan waktu berhari-hari — saat kami ukur dengan hurricane Florence di Amerika. — atau minggu-minggu, setelah gempa bumi di Sulawesi, Indonesia.

Dalam situasi tersebut, operator tidak hanya harus menghadapi pemulihan sebagian jaringan yang terputus, tapi juga menghadapi penurunan penggunaan ponsel karena lebih banyak pengguna yang tersambungkan ke menara transmisi yang lebih kecil, selanjutnya meningkatkan kepadatan di jaringan.

Untuk analisa tersebut, OpenSignal melakukan pengukuran berdasarkan pengalaman para konsumen secara langsung dalam penggunaan jaringan ponsel saat mereka melakukan aktivitas sehari-hari. Setidaknya, ada 3 miliar pengukuran individu setiap hari dari sepuluh juta ponsel pintar di seluruh dunia. Yang dilakukan setiap jam dalam sehari, setiap hari selama setahun. Baik, dalam kondisi penggunaan secara normal, termasuk dalam dan luar ruangan, di kota dan di desa, di setiap tempat di wilayah tersebut.

Dengan menganalisis pengukuran perangkat yang terekam di tempat di mana pelanggan sebenarnya tinggal, bekerja dan bepergian, kami melaporkan layanan jaringan mobil sebagaimana pengguna benar-benar mengalaminya.

Khusus untuk analisa di Palu ini, terkumpul 8.854.926 pengukuran yang berasal dari 1.762 perangkat di kota Palu – Pulau Sulawesi, Indonesia –- selama periode waktu: 29 Agustus – 20 Oktober 2018.

Data dikumpulkan setiap hari dan membandingkan pengalaman pengguna ponsel pintar selama hari-hari setelah gempa bumi, versus rata-rata pengalaman pada 30 hari sebelumnya. (Icha)

 

 

 

Hey there!

Sign in

Forgot password?
Close
of

Processing files…