Tawan Pelajar China, Penculik Minta Uang Tebusan 80 Bitcoin

Telko.id, Jakarta – Ada peristiwa yang memilukan sekaligus unik. Pelajar asal China ditawan dan penculik meminta uang tebusan dalam bentuk 80 bitcoin atau USD$ 842 ribu atau Rp 11 miliar. Bagaimana akhirnya?

Dilansir Telko.id dari Nextshark pada Minggu (08/09/2019), pria tersebut bernama Ye Jingwang (20) yang sedang belajar di Australia. Sebelum peristiwa naas itu Jingwang terlihat sedang meninggalkan Apartemen di Hurstville, Sydney Australia pada 23 Agustus 2019.

Namun pada tanggal 24 Agustus 2019 ayah Jingwang menerima sebuah video yang memperlihatkan jika Jingwang sedang ditutup matanya dengan wajah berlumuran darah, News.com.au melaporkan.

{Baca juga: Bisnis Bitcoin, Pria Ini Dipenjara Dua Tahun}

Di negeri kangguru tersebut, Jingwang diculik dan orangtuanya harus membayar tebusan agar anaknya bebas. Tetapi bukan uang dollar atau Yuan yang mereka inginkan.

Para penculik meminta uang tebusan berupa 80 bitcoin dari keluarga dan memperingatkan mereka jika mereka gagal mematuhinya, Jingwang akan mengalami kecelakaan.

Dua hari kemudian, ayahnya pun kembali menerima video lain berupa adegan Ye Jingwang yang  memohon ayahnya untuk menyelamatkannya. Keluarga pun menyetujuinya. Alhasil Jingwang pun dibebaskan dan ditemukan disebuah tempat di Central Coast, Australia.

“Setelah investigasi yang ekstensif, pria itu ditemukan oleh polisi di Mooney Mooney di Central Coast negara bagian sekitar pukul 5.30 sore pada hari Minggu, 1 September 2019,” kata juru bicara kepolisian Pasukan Perampokan dan Kejahatan Berat atau Strike Force Galleghan.

“Sejak itu dia telah bersatu kembali dengan keluarganya. Tidak ada penangkapan atau dakwaan dilakukan pada tahap ini dan investigasi sedang berlangsung. Tidak ada informasi lebih lanjut, ”lanjut juru bicara itu.

{Baca juga: Transaksi Bitcoin Ternyata Penuh Tipuan, Kok Bisa?}

Ada spekulasi yang menyatakan bahwa Ye Jingwang bisa menjadi salah satu dari banyak korban dari penculikan palsu. Kejahatan tersebut sebuah penipuan baru yang menargetkan komunitas China di Australia. [NM/HBS]

Sumber: Nextshark

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.