Telko.id – Setiap operator pasti selalu memutar otak membangun arsitektur jaringannya agar dapat efisiensi biaya. Namun di sisi lain, kenyaman pelanggan harus tetap nomor satu. Hal ini juga dilakukan oleh Sprint. Di mana, operator ini akan melakukan penjajak untuk melakukan perubahan besar yakni dengan melakukan upgrade jaringan. Diharapkan dengan langkah ini dapat memotong biaya perusahaan secara keseluruhan.

Salah satu biaya terbesar yang dikeluarkan oleh Sprint saat ini adalah biaya yang terkait dengan penyebaran small cell adalah backhaul, koneksi yang membawa lalu lintas jaringan mobile dari situs sel kembali ke inti jaringan. Itu sebabnya, Sprint akan mengurangi biaya tersebut untuk sejumlah situs dengan menggunakan wireless backhaul.

Backhaul ini sangat banyak berfungsi, terutama ketika akan melakukan perubahan pada jaringan,” ujar Tarek Robbiati, CFO Sprint menjelaskan. Lebih lanjut, Tarek menyatakan bahwa Sprint akan memiliki jaringan yang begitu pada. Tapi dibagian lain, untuk mencapai kapasitas yang dibutuhkan, maka kami juga harus memikirkan kembali strategi backhaul yang diterapkan. Dan itu akan menggunakan mix ethernet, fiber dan wireless backhaul agar kami tetap dapat menurunkan biaya.

Biasanya, operator menggunakan line-of-sight wireless backhaul. Terutama untuk memenuhi kebutuhan di wilayah pedesaan yang jaringan tidak terjangkau oleh Fiber. Padahal, yang ingin dilakukan oleh Sprint adalah menyebarkan puluhan ribu small cell. Yang rata-rata area yang disasar tidak memilki akses fiber yang sudah pastinya akan menambah biaya setiap penyebarannya secara signifikan. Itu sebabnya, Sprint harus melakukan atur ulang arsitektur jaringannya dengan mengimplementasikan wireless backhaul. Langkah ini akan menghemat biaya yang dikeluarkan oleh Sprint hingga 1 miliar US$ setiap tahunnya, seperti yang diungkapkan oleh Walter Piecyk, analis dari BTIG Research

“Sprint bisa menghemat 600 juta US$ hingga 1,2 miliar US$ untuk penambahan jaringan setiap tahunnya jika menggunakan wireless, bukan fiber,” tulis Piecyk dalam sebuah catatan penelitian yang dilansir dari RCR Wireless. Lebih lanjut, Pieck menjelaskan bahwa angka tersebut berdasarkan asumsi penggunaan backhaul tradisional yang membutuhkan biaya 1000 US$ per bulan dan Sprint membutuhkan backhaul untuk yang bisa menangani 50.000 sampai 100.000 small cell. Namun sejauh ini, masih sedikit laporan yang menyebutkan penyebaran small cell oleh Sprint.

Hanya saja, Softbank sebagai pemilik Sprint dari Jepang menyebutkan bahwa operator ini akan melakukan penggunaan spektrum 2.5 GHz yang sebelumnya digunakan untuk jaringan WiMAX.

Selanjutnya muncul pertanyaan, siapa yang akan menjadi vendor Sprint untuk melakukan perubahan ke wireless backhaul? Kemungkinan jawaban tersebut datang dari Jepang, di mana Softbank sudah melakukan ujicoba teknologi small cell dengan Airspan, perusahaan dari Florida. Ke dua perusahaan tersebut sudah melakukan uji coba dengan koordinasi multipoint technology untuk LTE small cell dan rencananya, untuk implementasi tersebut akan menggunakan Airspan wireless Ibridge backhaul solutions.

Airspan pun sudah memiliki produk yang disebut AirSynergy yang dirancang untuk mendukung wireless backhaul. Sayang, perusahaan belum menanggapi informasi tentang produk yang akan digunakan dan vendor yang dipilih untuk mengimplementasi kebutuhannya.

Piecyk melihat bahwa radio untuk wireless backhaul yang digunakan oleh Sprint harus dapat di dedikasikan ke dalam spektrum 2.5 GHz ke backhaul. Dan, hal itu tidak dapat dilakukan oleh operator lain karena Sprint memiliki spektrum yang cukup. Lebih lanjut Piecyk menilai bahwa apa yang dilakukan Sprint ini, selain akan mengurangi biaya, wireless backhaul juga akan mempercepat implementasi small cell ke pasar.

“Dari sudut pandang Sprint, jika akan menempatkan puluhan ribu small cell akan membutuhkan waktu untuk menemukan perusahaan telepon atau perusahaan kabel atau Zayo atau Crown Castle atau siapa pun itu untuk mendapatkan fiber atau tipe lain untuk koneksi fixed,” ujar Piecyk menjelaskan. Namun, ke depan ketika lalu lintas sudah bertambah, Sprint juga akan membutuhkan fiber backhaul. Namun, untuk saat ini, wireless backhaul bisa menjadi langkah yang cerdas. Langkah inipun akan memungkinkan Sprint mendapatkan perhatian dan memberikan kecepatan yang dibutuhkan oleh para pelanggan mereka.

Untuk saat ini saja, beberapa analis melihat bahwa Sprint sudah memiliki potensi yang baik dan terlihat juga progress ke depannya yang menjanjikan. Seperti yang dikatakan oleh Roger Entner dari Recon Analytics yang mengatakan Sprint sudah menawarkan koneksi lebih cepat dari pesaingnya di pasar. Di mana Sprint Spark telah dikerahkan. Entner berpikir kecepatan jaringan akan menjadi fokus utama untuk Sprint tahun ini.

Tetapi fokus Sprint pada kecepatan jaringan telah diimbangi oleh dorongan berkelanjutan untuk memotong biaya. Saat ini, Sprint masih memiliki hutang lebih dari 30 miliar US$ dan belum berubah sejak 2014. (Icha)

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.