Krisis Chipset

Telko.id – Saat ini, para produsen smartphone kuartal depan kelimpungan. Pasalnya, untuk memperoleh chipset sebagai ‘otak’ dari smartphone mereka sulit didapatkan. Banyak pihak menyebutnya dengan kondisi krisis chipset global. Lalu sebenarnya ada yang terjadi di industri chipset mobile atau smartphone ini?

Sebenarnya, industri otomotif sudah duluan merasakan krisis. Diperkirakan akan kehilangan penjualan $ 61 miliar tahun ini saja. Honda Motor Co bahkan sempat menyebutkan akan menghentikan sementara beberapa produksi di sebagian besar pabrik AS dan Kanada.

Kini giliran para produsen smartphone yang terimbas. Apakah krisis chipset ini hanya karena persoalan suplai dan demand saja? Atau ada masalah politik juga dibalik ini semua?

Kalau mau jujur, memang dengan adanya pandemi, produksi chipset ini cukup terganggu karena banyak karyawan yang harus bekerja dari rumah. Tapi untuk produksi chipset, tentu harus dilakukan di pabrik kan? Disisi lain, ternyata permintaan chipset mobile di era covid ini meningkat cukup tajam. Akhirnya terjadi kesenjangan antar suplai dan demaind. Jadi produksi pun tidak bisa mengejar kebutuhan pasar yang ada.

Hal ini sempat juga disampaikan oleh raksasa industri Continental AG di Renesas Electronics Corp dan Innolux Corp yang memperingati bahwa krisis chipset ini akan lebih lama dari perkiraan. Pasalnya, permintaan di era Covid ini belum pernah terjadi sebelumnya. Mulai dari otomotif, konsol game dan perangkat seluler.

Samsung Electronics juga sempat ‘nyentil’ masalah ini. Produsen ini menyuarakan keprihatinannya atas kekurangan chip ini. Adalah Co-CEO Koh Dong-jin yang mengatakan pada rapat pemegang saham tahunan di Seoul beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari Bloomberg.

Samsung sebagai salah satu produsen chip dan elektronik konsumen terbesar di dunia, memperkirakan krisis akan menjadi masalah bagi aktivitasnya pada kuartal berikutnya. Bahkan, perusahaan juga berencana untuk menunda peluncuran Galaxy Note baru – salah satu model terlarisnya – yang rencananya akan diluncurkan pada paruh kedua 2021 ini.

Padahal, menurut perkiraan IDC, seri Note ini telah menyumbang sekitar 5% dari pengiriman smartphone Samsung selama dua tahun terakhir. Termasuk juga menjadi menyumbang sebagian besar pendapatan produsen ini karena merupakan salah satu produk yang termahal di jajarannya.

Saat covid sendiri, para produsen chipset sempat menurunan forecast produksinya. Tapi produsen elektronik, game console, chip GPU untuk mining bitcoin, dan segala jenis semicondictor meningkat semua demand nya. Akibatnya, supplier seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) dan Samsung kelabakan.

Apalagi, Huawei yang kini juga kesulitan memperoleh chipset karena harus membeli dari supplier non USA akibat adanya larangan dari pihak Amerika. Nah, ordernya itu larinya ke TSMC dan Samsung juga. Akhirnya krisis chipset ini terjadi karena pabrikan chipset tidak bisa mengejar demand.

Begitu pula Qualcomm. Perusahaan asal Amerika ini begitu agresif mendesain chipset, tetapi dari sisi produksi, sama juga, mengandalkan Samsung dan TSMC untuk memproduksinya dan kapasitas pembuat chip Taiwan tersebut telah dibatasi.

“Pengetatan pasokan chip Qualcomm AP yang diproduksi oleh TSMC mempengaruhi semua orang kecuali Apple,” kata MS Hwang, analis di Samsung Securities, seperti dikutip dari Bloomberg.

Bahkan menurut Hwa, industry lain akan ikut terpukul juga. “PC akan segera terpukul karena kekurangan pasokan IC driver layar, dan profitabilitas TV akan terpengaruh oleh melonjaknya harga panel LCD,” ungkap nya.

Seperti hukum ekonomi dasar, ketidak seimbangan antara suplai demand akan membuat harga meningkat. Akibatnya, tentu harga chipset ini akan melesat dan merangsang harga smartphone di pasar. Mudah-mudaha, kondisi ini tidak lama ya. Jadi kita bisa merasakan smartphone dengan teknologi canggih tanpa harus dengan harga tinggi. (Icha)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.