Cerita Di Balik 4G LTE Smartfren

Telko.id – Ketika Smartfren pertama kali meluncurkan 4G LTE dipertengahan tahun 2015, banyak pihak yang kaget. Bagaimana tidak, tiga operator besar saja belum memiliki layanan ini. Lalu muncul pertanyaan, kenapa Smartfren bisa duluan? Hebat juga Smartfren ini, bisa dapat duluan. Ternyata dibalik itu semua, banyak cerita menariknya.

Merza FachysPresident Director Smartfren Telecom bercerita panjang lebar tentang latar belakang kenapa Smartfren bisa punya layanan 4G LTE lebih dulu dibandingkan operator lain.

Berawal ketika tahun 1998, Indonesia terjadi krisis moneter. Di mana, seluruh pembangunan infrastruktur terhambat. terutama di bidang telekomunikasi. Saat itu harga kabel naik dan menjadi mahal. Begitu juga dengan peralatan lainnya.

Solusinya, agar masyarakat Indonesia tetap dapat menikmati telekomunikasi adalah mengijinkan pembangunan telepon rumah dengan menggunakan wireless. Apa teknologi yang tersedia pada saat itu untuk telekomunikasi wireless? Kalau menggunakan GSM kemahalan. Yang sesuai adalah CDMA. Lalu, CDMA bisa bekerja di frekuensi mana? Pada saat itu, 1900 Mhz yang memungkinkan digunakan. Lalu, mulailah Flexi bangun, diikuti oleh Indosat, Starone. Demikian juga dengan yang lain-lain yang berada di 1900 Mhz. Ketika teknologi GSM berevolusi ke 3G, ternyata 1900 Mhz adalah frekuensi nya 3G.

Pada saat yang sama, operator yang berada di frekuensi yang benar adalah Mobile8, yakni di 800 Mhz, menguasai semua spektrum yang ada. Sebesar 20 Mhz. Lalu, pemerintah minta agar frekuensi itu dibagi. Akhirnya dibagi. Flexi, Esia ikut turun ke 800 Mhz. Mobile 8 yang asalnya punya 10 jadi tinggal 5 Mhz. Indosat lebih dipepet lagi akhirnya hanya punya 3 MHz. Asalnya mau dibagi 5. Supaya Smart juga ikut turun juga. Tapi terlalu sempit. Karena pada saat itu, Flexi sudah mulai berkembang dan Esia juga mulai berkembang. Asalnya, Smart mau dipaksa turun juga, tetapi karena terlalu ‘mempet’ tidak jadi. “Ya sudah, akhirnya di tinggalin dulu,” ujar Merza menceritakan kronologis penataan frekuensi 1900 Mhz pada tahap awal.

Kebetulan, Smart tidak ‘nongkrong’ di pas 3G nya, tetapi di pinggirnya 3G. Agak di luar pager. Tidak masuk dalam pager. Tapi di dalam licensi nya Smart, ‘any time governor’ akan memindahkan frekuensi Smart. Itu awal muasal kenapa Smart (sebelum menjadi Smartfren) bisa menggelar 4G terlebih dahulu. “Bukan karena Smartfren brilian,” ujar Merza.

Kemudian, pemerintah melelang 3G satu persatu. Pas sampai pinggir kanan, mepet dengan frekuensi yang dimiliki oleh Smart. Dan yang dapat pada waktu itu adalah Axis. Mulai terjadi ‘keributan’. Tiap hari Axis protes karena Smart menggangu. Jadi, bolak-balik, Smart di tegur kominfo, “hei, frekuensi nya kecilin,”.

Kenapa bisa mengganggu? Teknologi CDMA itu menggunakan frekuensi itu untuk memancarkan sinyal dari BTS ke handset. Sementara GSM yang berada di sebelahnya persis, yang hanya dipisahkan oleh ‘pager’ itu kebalikannya. Dari hanset ke BTS. Power dari BTS sudah pasti besar karena digunakan untuk banyak pengguna. Sedangkan dari handset hanya mili watt saja. “Dihantam dari BTS, jebret.. ya tidak pernah bunyi. Jadi yang namanya Axis, menggunakan 3G tidak pernah sukses, karena diganggu oleh Smart terus.

Merza mengibaratkan, dulu ada tanah kosong, lalu Smart itu memiliki ijin untuk buat usaha karoseri yang selalu ‘berisik’ selama proses produksi. Tiba-tiba, di sebelahnya dibangun Rumah Sakit yang membutuhkan ketenangan. “Hei berisik…”. Nah, keributan itu berlangsung cukup lama. Smart mengecilkan power membuat yang asalnya ada coverage menjadi tidak ada coverage. Lalu, Axis juga tidak happy. Kemudian terjadilah rembukan dan Smart harus pindah. Pindah frekuensi. Perbincangan ini terjadi tahun 2010 – 2011. Pada saat itu WiMax sudah ada di 2300 Mhz.

“Bagi Smart, pindah frekuensi bukan pilihan yang baik karena Smart sudah memiliki pelanggan yang banyak,” ujar Merza.

Pada saat itu, yang kosong adalah frekuensi 2300 Mhz. Dan, itulah satu-satunya frekuensi yang paling memungkinkan untuk Smart di pindahkan. Kenapa tidak dari dulu-dulu pindah? Karena memang tidak ada teknologinya di frekuensi tersebut. Baru, ketika standarisasi 4G diumumkan, teknologi di frekuensi 2300 Mhz pun berkembang.

Jika dari dulu dipindahkan dan hanya ada teknologi WiMax, maka tidak memungkinkan Smart menggunakan frekuensi tersebut karena pelanggan nya sudah terbiasa berhalo-halo, tapi kemudian tidak diberikan layanan suara? Pasti akan marah para pelanggan Smart.

Tapi, Smart juga tidak serta merta mengiyakan permintaan dari pemerintah untuk menggunakan frekuensi 2300 Mhz. Pasalnya, di dunia pada saat itu belum ada yang pakai. Belum ada ekosistemnya. Baru saja distandarisasi.

Itu sebabnya, ketika WiMax tidak berhasil dan pemerintah menetralisir, pemerintah minta dikembalikan frekuensi nya. Walaupun pada saat itu sudah ada 4G. Yang berani hanya Bolt. Bolt berani ‘Futuristic Thing”. Jadi berani jualan. Yang lain tidak berani karena tidak ada ekosistemnya.

Smart ‘dipaksa’ pindah

Tentu apa yang dihadapi oleh Smartfren ini menjadi dilema. Pasalnya, Smartfren sudah melakukan investasi yang sangat besar di CDMA dan harus ‘dibuang’ begitu saja karena tidak akan digunakan lagi ketika pindah ke 2300 Mhz.

“Ketika laporan ke pemenang saham, menjadi cerita yang menarik juga. Lha, mana ada investor yang mau ‘buang’ begitu saja investasi yang sudah dikeluarkan dan besar seperti itu. Sangat alot. Setelah bolak-balik, ujungnya, saya diminta untuk buatkan hitungannya,” ujar Merza menceritakan kronologis kejadiannya pada tahun 2011 lalu itu.

Padahal, saat itu belum ada yang jual peralatan 4G itu. Jadi hitungannya pada saat itu adalah estimasi semua. Berdasarkan bicara dengan para vendor jaringan. Dan, dengan langkah tersebut maka layanan CDMA dari Smartfren akan mati. Tapi paling tidak, jika mengambil pilihan untuk pindah frekuensi, maka kelanjutan dari perusahaan ada, walaupun masih belum jelas akan seperti apa. Sedangkan, jika tidak mengambil pilihan untuk pindah frekuensi, maka sudah dipastikan bisnis akan berhenti. Itulah sebabnya, Smartfrfen mau mengambil langkah untuk pindah frekuensi ini.

Semua itu adalah cerita infromalnya yang terjadi pada tahun 2012 – 2013. Cukup panjang juga waktu yang digunakan untuk bisa mendapat persetujuan dari pemilik saham. Setelah itu baru pemerintah melakukan proses pengesahannya setelah Smart mau.

Proses itu berlangsung, bersamaan dengan mergernya Axis. Blessing in disguise bagi Smartfren. Kenapa? Karena Smartfren tidak perlu terburu untuk pindah dari frekuensi tersebut dan karena frekuensi tersebut juga sudah diambil lagi oleh pemerintah. Alasannya, adalah karena merger, tetapi sebenarnya adalah karena frekuensi itu ‘kotor’ sepanjang Smart hidup. Akhirnya, Smartfren dipindahkan ke 2300 Mhz dan mengaplikasikan 4G. Perpindahan itu harus selesai dalam jangka waktu 2 tahun.

Awalnya, cukup membingungkan juga ketika harus pindah ke 4G di 2300 Mhz. Pasalnya, belum ada operator lain di dunia yang menggunakan teknologi ini. Namun, nasib baik berpihak pada Smartfren. Beberapa waktu setelah itu keputusan pemerintah keluar berkenaan dengan perpindahan frekuensi Smartfren ini, Cina mengumumkan, 2300 Mhz, ditetapkan sebagai frekuensi untuk 4G LTE nya. “Begitu Cina mengumumkan itu, maka kami sangat yakin, bahwa ekosistem pun akan terbentuk dengan cepat,” ujar Merza.

Pada 1900 Mhz, Smartfren memiliki 2 kali 6.3 Mhz. Artinya total 13.7 Mhz. Diganti dengan 2300 Mhz, 30 Mhz. “Saya tahu bahwa di 2300Mhz ada 60 MHz. Saya ingin dapat semua,” ujar Merza sampir tersenyum. Tapi ternyata diberi oleh pemerintah 30 Mhz. Diskusi masalah kompensasi ini juga terjadi cukup panjang dan lama.

Sebagai analogi, Merza mencontohkan, jika punya 100 meter persegi tanah di Menteng, lalu dipindahkan ke kawasan BSD, seharusnya tidak memperoleh luas yang sama, tetapi lebih dari 100 meter. Namun, tetap pemerintah memberikan alokasi frekuensi sebesar 30 Mhz pada Smartfren.

Dari frekuensi 1900 Mhz ke 2300 Mhz, ada defisiensi faktor 1.6. Kemudian teknologi TDD dibandingkan dengan FDD, ada defisiensi juga. Totalnya, ada defisiensi mendekati angka tiga. Jadi, kalau Smartfren punya 15 Mhz, maka paling tidak harus punya 45 Mhz. Tapi karena slicing nya LTE itu 20 maka, Smartfren harus punya tiga slice atau 60 Mhz. “Itu yang kami minta pada waktu itu,” ujar Merza.

Yang ke dua, dari nilai ekonomi. Mulai dari kapasitas, jumlah BTS, dan lainnya. Termasuk juga jumlah investasi yang sudah dikeluarkan oleh Smartfren. Semua ‘jurus’ itu dikeluarkan dan dipaparkan sebagai bahan justified.

Jadi sebenarnya, secara akademik, apa yang dipaparkan oleh Smartfren sesuai. Hanya saja, tidak mungkin diberikan semua alokasi frekuensi di 2300 Mhz ini pada Smartfren. Akhirnya, dapat 2 slice, 30 Mhz.

Pendekatannya adalah logika. Ketika tender WiMax waktu itu, adalah 30 Mhz. Tapi WiMax itu, block nya 5 per slice. Walaupun begitu, tetap pemerintah mengalokasikannya adalah 30 Mhz, tidak boleh lebih dari itu.

Kerugian yang dialami oleh Smartfren dengan adanya peralihan frekuensi ini sangat besar. Pertama, investasi yang dilakukan untuk mengimplementasikan CDMA selama ini akan dibuang total. Padahal, selama ini, raport Smartfren masih merah terus. Artinya investasi yang dikeluarkan belum kembali juga. “Dari awal bangun sampai sekarang, Smart Telecom belum pernah biru raportnya,” ujar Merza. Dengan kata lain, investasi itu belum pernah kembali. Tapi sudah harus dibuang.

Kedua, biaya BHP atau Biaya Hak Penggunaan, walaupun sudah harus pindah tetap harus dibayar. Jadi, selama 2 tahun ini, Smartfren tetap membayar BHP untuk 2 frekuensi. Karena kalau kompensasi, termasuk di dalamnya adalah bebas BHP, maka berhadapannya dengan hukum, masuk penjara.

Begitu Smartfren launching layanan 4G LTE di 2300 Mhz dan memperoleh 30 Mhz dari pemerintah, banyak pihak yang membicarakan. Padahal, dibalik itu semua, Smartfren sudah begitu ‘menderita’. Investasi sekitar Rp.10 Triliun yang sudah dikeluarkan untuk membangun jaringan CDMA terancam hilang begitu saja.

Dengan latar belakang itu semua, maka Smartfren akhirnya menjalankan strategi untuk sekaligus membangun jaringan di seluruh Indonesia. Bukan karena sombong, karena dalam waktu satu tahun, semua pelanggan Smartfren harus migrasi ke 2300 Mhz. Kalau tidak di mulai sedini mungkin, tidak akan cukup waktunya. Sebenarnya, Smartfren minta waktu 4 tahun. Tapi diberi waktu oleh pemerintah hanya 2 tahun karena pemerintah juga berkepentingan untuk melakukan lelang blok 11 dan 12 secepatnya.

Dari sejak mendapatkan lisensi yang diperoleh pada tahun 2014. Baru pada bulan Juni 2014, Smartfren memilih vendor yang akan membantu mengimplementasikan jaringan 4G LTEnya.“Pemilihan vendor ini juga cukup sulit,” ujar Merza menjelaskan. Pertama karena Smartfren sendiri belum pengalaman, di mana teknologi 4G LTE ini juga masih baru. Jadi perlu kehati-hatian dalam memilih.

“Jangan sampai membeli barang yang tidak bagus. Untuk itu, kami melakukan fact finding ke Korea ke Cina, untuk melihat network operator lain. Itu semua dilakukan, sebelum mendapat linsensi dan lebih intens lagi ketika sudah mendapatkan lisensi,” ujar Merza lebih lanjut.

Baru setelah itu melakukan penentuan spesifikasi dan lainnya. Baru bulan Desember 2014 melakukan tender. Setidaknya, semua itu dilakukan dalam waktu 6 bulan. Tender dilakukan dengan diikuti 2 perusahaan dari Cina dan 2 perusahaan dan Eropa. Dari keempat perusahaan itu, dua kami pilih pada bulan Desember 2014. Baru pada bulan Juli, Smartfren melakukan ULO atau Uji Laik Operasi. Yang dipilih adalah Nokia dengan ZTE. Dengan total investasi sebesar, 760 juta USD. Dengan perbandingan Timur 40% dan Barat 60%. Untuk Timur dipegang oleh ZTE dan Barat oleh Nokia.

Frekuensi 850 Mhz pun Bermasalah

Masalah yang dihadapi oleh Smartfren belum tuntas. Untuk frekuensi 850 Mhz juga masalah. Seperti di Batam, ada masalah dengan Malaysia dan Singapura. Kenapa kasus? Karena di Malaysia dan Singapura, frekuensi itu digunakan untuk GSM. Di Indonesia, dipergunakan untuk CDMA. Di mana, terjadi tabrakan sinyal. CDMA sudah pasti menang karena yang dipancarkan lebih kuat karena sinyal dipancarkan dari BTS ke ponsel. Sedangakn GSM, sinyal yang dipancarkan dari ponsel yang tentu saja sangat kecil. Akibatnya, GSM di Singapura, di frekuensi 850 Mhz tidak pernah bisa dipakai. Tak pelak, Mobile 8 -waktu itu belum menjadi Smartfren- bolak-balik dikirimin surat oleh Singapura.

Akhirnya, karena tidak selesai juga masalahnya, Singapura mengirim surat pada ITU dan organisasi tersebut memutuskan bahwa Indonesia tidak boleh menggunakan CDMA di frekuensi 850 Mhz di semua wilayah perbatasan. Dengan adanya surat itu maka Mobile 8 pun, yang memiliki 4 channel di frekuensi 850 Mhz, hanya bisa menggunakan 1 channel saja. “Ini memang pelajaran penting juga untuk Indonesia. Di mana, setiap negara itu harus melakukan pemberitahuan pada ITU tentang penggunaan frekuensi. Jika sudah declear duluan, maka negara lain tidak bisa mengganggu gugat,” ujar Merza.

Hal itu membuat Mobile 8 tidak dapat berkembang di Batam, Riau dan wilayah sekitarnya karena hanya punya 1 channel. Apalagi, kalau di teknologi CDMA itu, antara voice dan data itu dipisah. Satu channel untuk voice dan satu lagi untuk channel. “Lalu, dengan hanya punya satu channel maka kita tidak berbisnis,” ujar Merza menjelaskan. Sehingga, Mobile 8 memilih hanya melayani voice saja di wilayah perbatasn tersebut.

Hal lain adalah dalam penataan frekuensi 850 Mhz. Ide pertama kali datang dari Indosat. Waktu itu, Starone milik Indosat itu, kurang tumbuh dengan baik. Itu sebabnya Indosat minta ijin pada pemerintah. CDMA nya untuk dijadikan GSM. Tapi, kalau diijinkan, nasib Indosat juga akan terganggu oleh Mobile 8 yang waktu itu sudah menjadi Smartfren karena bersebelahan. Jalan satu-satunya adalah di wilayah itu harus menggunakan teknologi GSM. Caranya adalah ‘merayu’ Smartfren agar bergeser dan berdekatan dengan Esia. Jadi, keduanya masih bisa menggunakan teknologi CDMA. Sedangkan Telkom di pindah untuk berdekatan dengan Indosat. Yang akhirnya frekuensi Telkom Flexi diambil oleh Telkomsel dan jadi GSM.

Kenapa pemilik Smartfren mau waktu itu? Karena ada Esia, di mana operator ini kesulitan keuangan. Jadi ada potensi Smartfren untuk ambil alih. Akhirnya, mau. Setelah bicara dengan orang teknik pun tidak masalah. Tidak perlu ada investasi lagi. Setelah itu di proses lah.

Ternyata, setelah berjalan, muncul masalah. Di mana, handset Smartfren, Andromax yang sudah dibuat dan disubsidi oleh Smartfren, selama ini banyak ‘dibajak’ oleh pengguna operator lain. Sehingga diputuskan lah, membuat handset yang hanya mampu digunakan dengan jaringan Smartfren. Padahal, Smartfren sudah harus pindah. Jadi, proses migrasi yang harus dilakukan oleh Smartfren pun terkendala karena handset milik pelanggan smartfren tidak bisa bekerja di jaringan 850 Mhz. Paling tidak, saat ini masih ada 2 juta pelanggan Smartfren yang menggunakan ponsel CDMA. Dengan waktu yang telah ditentukan oleh pemerintah hanya 2 tahun, maka Smartfren pun harus agresif mendorong para pelanggannya untuk migrasi.

Disisi lain, ada Esia, di mana saat itu sedang kesulitaan keuangan karena tidak mampu membayar BHP. Akhirnya, Merza membawa konsep konsolidasi pada pemerintah untuk menjadikan Smartfren sebagai penyelenggara jaringan, sedangkan Bakrie hanya sebagai penyelenggara jasa. Jadi, seluruh jaringan Bakrie harus diberikan ke Smartfren. Selanjutnya, Smartfren yang bertanggung jawab untuk membangun jaringan termasuk membayar biaya frekuensi. Secara hukum dan peraturan semua nya ada. Jadi, tidak masalah. Total frekuensi Smartfren di 850 Mhz punya 10 Mhz.

Memang jika dilihat dari luar, Smartfren ini sangat menarik, karena memiliki 30 Mhz di 2300Mhz, dan 10 Mhz di frekuensi 850 Mhz. Kemudian, Smartfren bisa duluan memberikan layanan 4G LTE. Namun, di dalamnya, banyak PR yang harus dilakukan. Masih harus mendorong agar para pelangganya untuk migrasi. Dan kini, waktu yang diberikan oleh pemerintah tidak sampai satu tahun lagi.

Akan kah, persoalan frekuensi ini selesai? Masih belum. Pasalnya, untuk 5G, yang rencanaya akan diadopsi tahun 2020 mendatang masih belum keluar standarisasinya. (Icha/Hamzah)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Hey there!

or

Sign in

Forgot password?
Close
of

Processing files…