Wednesday, November 21, 2018

‘Gemerlap’ nya Startup Indonesia

Telko.id – Pemerintah ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Digital Economy terbesar di Asia Tenggara dan menciptakan 1.000 technopreneurs baru pada dengan valuasi bisnis USD 10 miliar pada tahun 2020.

Mungkin ada orang yang ‘mencibir’ dengan target pemeritah itu. Tapi jangan salah, Indonesia ini memiliki potensi yang luar biasa. Bayang kan saja, dua tahun lalu, orang yang berbelanja online baru 7,4 juta jiwa dengan transaksi Rp 48 triliun. Tahun lalu, angka itu naik menjadi 11 juta dengan total transaksi Rp 68 triliun. Meski belum diketahui persisnya, taksiran total transaksi tahun ini mencapai Rp 95,48 triliun.

Nyatanya, perkembangan ekonomi digital melampaui daya ramal manusia. Praktik e-commercedalam bentuk iklan jual-beli, retail, hingga mal online menanjak cepat. Tahun ini, nilai transaksinya diperkirakan mengambil 3,1 persen pasar retail. Transaksi melalui teknologi finansial atau fintechmenyentuh Rp 252 triliun, yang sebagian besar berasal dari pembayaran digital. Sedangkan e-travel, yang diwakili bisnis mobilitas dan perjalanan, menyumbang Rp 105,798 triliun pada tahun ini.

Bahkan Tempo memprediksikan pada 2020 yang akan datang, valuasi bisnis digital akan mencapai  Rp 135,364 triliun. Dengan Prediksi Nilai Transaksi 2020 sebesar Rp 1.759 triliun.

Angka-angka itu baru dari perdagangan online atau e-commerce. Tak aneh bila perkembangan perusahaan rintisan berbasis digital alias startup menarik perhatian pemerintah. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara masih ingat, dua tahun lalu, ia tanpa pikir panjang menyebut bakal ada lima unicorn di Indonesia pada 2019. “Waktu itu saya ditanya petinggi-petinggi perusahaan modal ventura di Silicon Valley, Amerika Serikat,” kata Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika beberapa waktu lalu. “Saya jawab saja lima. Gak tau dari mana.”

Untuk mencapai target itu memang Indonesia, dalam hal ini pemerintah perlu banyak ‘campur tangan’. Ekosistem yang dibuat agar mendukung pertumbuhan tersebut. Itu sebabnya, pemerintah pun membuat berbagai inisiatif.

“Kami memiliki ribuan startup yang telah melalui proses inkubasi dan akselerasi. Target kami di tahun depan, setidaknya kami sudah memiliki 5 unicorn. Jadi itulah mengapa pemerintah bertindak sebagai match-maker, bukan hanya pemerintah, tetapi juga dengan ekosistem dengan orang-orang di dalamnya, misalnya bersama dengan pendiri unicorn itu sendiri,” paparnya. 

Setidaknya, saat ini ada empat dukungan yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Pertama, pemerintah itu sudah diwujudkan dalam reformasi kebijakan dan sudah ada 16 paket kebijakan ekonomi sejak tahun 2015. Kedua, saat ini  pemerintah tengah gencar membangun infrastruktur. Ketiga, pemerintah juga telah melakukan reformasi fiskal bagi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Dan keempat, Indonesia melakukan reformasi hukum bagi kemudahan berusaha dan investasi.

“Saat ini waktu yang tepat karena, pertama, reformasi regulasi, kemudian pembangunan infrstruktur paling gencar dilakukan dalam sejarah Indonesia, reformasi fiskal dan hukum untuk kemudahan berusaha dan investasi,” ujar Rudiantara pada pembukaan Konvensi Internasional Next Indonesia Unicorn (NextIcorn): Digital Paradises Weekend.

Rudiantara pun optimis Indonesia menjadi negara yang tepat buat para investor menanamkan modal. Menurut Data dari Asia Business Outlook Survey 2017, The Economist Corporate Network 2017, Indonesia juga ternyata berada diposisi ke-3 dalam kesediaan investor menambahkan investasi setelah Tiongkok dan India. Kondisi seperti itu  akan membuat keyakinan investor untuk menanamkan modal di Indonesia.

Konvensi Internasional NextIcorn

Insiasi lain yang dibuat oleh pemerintah adalah menggelar Konvensi Internasional NextIcorn. Targetnya adalah mempertemukan mempertemukan perusahaan berbasis teknologi atau start up digital potensial dan terkurasi di Indonesia dengan venture capital global.

“KIta menyediakan platform yang dapat mempertemukan perusahaan berbasis teknologi atau start up digital potensial dan terkurasi di Indonesia dengan venture capital global. Tujuannya mempersingkat proses berinvestasi dengan menyediakan investor yang serius dari seluruh dunia dengan start-up Indonesia agar mudah menjadi unicorn,” jelas Rudiantara.

Di mana, pada NextICorn konvensi kali secara eksklusif mengundang para investor paling terkemuka dari pasar-pasar utama di seluruh dunia untuk berinteraksi dengan para pengusaha terkemuka Indonesia, investor teknologi lokal, dan perwakilan pemerintah di Bali.

Event ini terbukti ampuh. Pasalnya, pada NextICorn yang terakhir diadakan pada Mei 2018 lalu telah berhasil menciptakan permintaan lebih dari 2.000 permintaan pertemuan antara investor dan perusahaan yang dikurasi.

“Di mana 1.035 pertemuan berhasil difasilitasi hanya dalam waktu 1,5 hari. Kami telah mencatat 294 tindak lanjut sejak acara tersebut dengan beberapa yang telah diubah menjadi transaksi,” jelas Rudiantara.

Kali ini tercatat lebih dari 125 investor dan pemodal ventura hadir di event ini, dengan jumlah pertemuan yang diajukan mencapai lebih dari 3200 pertemuan. Lebih tinggi dibandingkan dengan pertemua sebelumnya. Tentu harapannya, tindak lanjut dari pertemuan tersebut juga berubah jadi transaksi.

Menariknya, NexICorn International Convention 2018 ini dihadiri oleh Top-Tier pemodal ventura dan investor global. Panitia begitu selektif hingga yang bukan Principle dan Partner ditolak!.

“Kita tidak terima kalau bukan Principle dan Partner. Gaungnya startup Indonesia sudah membuat VC dunia mau hadir datang langsung ke sini,” ungkap Lis Sutjiati, Deputy to the Chairman for NextICorn Strategy Formulation Coordination.

Jadi yang hadir untuk melakukan pertemuan setingkat dengan para startup adalah tingkat partner dan principle.

Namun, startup di Indonesia juga dipersiapkan agar memang layak bertemu dengan para calon partner maupun principle.

“Di Kominfo sendiri saya lihat sebagai pengamat juga memainkan perannya sudah sangat tepat. Kalau kita tempatkan posisi sebagai investor, ada banyak banget yang bikin startup. Harus ada proses kurasi untuk menemukan potensinya, seperti yang kita jalankan di Nexticorn ini. Jadi sebagai investor, cari startup tuh setengah mati di Indonesia. Dari sudut pandang startup juga sama, sangat-sangat buta. Program ini biar perusahaan punya brosur (compendium) yang bisa mudah dicerna, jadi proposalnya bisa paling atas di mejanya investor,” jelas Daniel Brand Ambassador NextICorn juga juga sebagai pengamat startup.

Indonesia ‘Surga’ nya Investor

Berdasarkan pengamatan Kementerian Komunikasi dan Informastika yang disampaikan oleh Menteri Kominfo Rudiantara optimistis Indonesia ada lima faktor yang menjadi penarik minat investasi di Indonesia.

Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 10 tahun terakhir relatif stabil. Kedua, Indonesia memiliki kepercayaan yang tinggi dari para investor untuk berinvestasi. Ketiga,terjadi peningkatan signifikan dalam lingkungan peraturan seperti kemudahan berusaha. Keempat,  indonesia memiliki prospek sebagai negara ekonomi terbesar ke-5 di dunia tahun 2030.

“Kelima, di tahun 2030 juga Indonesia akan menembus angka 135 juta kelas konsumen. Terakhir, ditahun 2030 Indonesia memiliki 180 juta penduduk usia produktif,” tuturnya.

The Next Unicorn: HealthTech dan EduTech

Indonesia dengan jumlah penduduk dan penetrasi internet yang tinggi memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi digital. Apalagi terdapat Dua sektor yang memiliki potensi besar yaitu basis pendidikan atau edutech dan kesehatan atau healthtech. 

“Dua sektor tersebut memiliki potensi untuk digarap oleh startup digital dan modal ventura karena dana pemerintah yang digelontorkan ke sektor tersebut sangat besar,” ungkap Rudiantara.

Potensi sektor pendidikan menurut Rudiantara sangat besar, jika dibandingkan dengan APBN angkanya bisa mencapai Rp10 Triliun. “Apalagi untuk menjadi startup unicorn, kuncinya ada di pendidikan. Dalam APBN, 20% harus dialokasikan ke sektor ini. Tahun ini, anggaran pendidikan sekitar Rp 400 triliun. Dari angka itu, jika pendapatan yang diraih hanya 2%, nilainya sudah mencapai Rp 10 triliun,” paparnya.

Selain sektor pendidikan, menurut Menteri Kominfo, undang-undang juga mewajibkan pemerintah mengalokasikan APBN sebesar 5% ke sektor kesehatan. Dengan Rp 100 triliun anggaran pemerintah untuk kesehatan, maka jika 2% yang didapat, nilainya sudah Rp 2 triliun. ”It’s a big value, ” jelasnya.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital, Menteri Rudiantara mengaku, pemerintah akan terus mengurangi fungsi regulator dan lebih menonjolkan fungsi fasilitator dan akselerator.

“Less of a regulator, more of a facilitator, even more of an accelerator,” katanya.

Dengan dukungan oleh pemerintah itu, Rudiantara yakin, Bali akan menjadi acuan pengembangan ekonomi digital selain Beijing (China), Bangalore (India), dan Silicon Valey (AS). (Icha)

 

 

 

Hey there!

Sign in

Forgot password?
Close
of

Processing files…