Ini Dia ‘Planning’ Tri Untuk Maksimalkan Frekuensi 2100 Mhz Hasil Lelang

Telko.id – Seperti diketahui, Indosat Oordeoo dan Hutchinson 3 Indonesia (Tri) memenangkan lelang frekuensi 2100Mhz yang dilakukan oleh pemerintah beberapa waktu lalu. Untuk Tri, yang dikantongi adalah tambahan pita selebar 5Mhz. Apa yang akan dilakukan oleh Tri?

Dengan tren trafik data yang begitu cepat tumbuh, Tri pun berniat untuk menggelar jaringan 4G paska kemenangan lelag frekuensi 2100 Mhz tersebut.

“Kami akan menggunakan 5MHz itu untuk keperluan 4G di 2.100MHz. Saat ini memang 50 persen trafik kami masih berasal dari jaringan 3G,” ujar M Danny Buldansyah, Wakil Presiden Direktur Tri Indonesia ditemui di acara Bincang Santai Direksi Tri Indonesia di Jakarta, Selasa (21/11/2017).

Kendati demikian, ia belum dapat memastikan apakah blok di 2.100MHz akan digunakan sepenuhnya untuk jaringan 4G. “Nanti lihat saja bagaimana hasilnya, tergantung trafik. Kalau lebih besar di 4G, ya kami pakai di sana,” tuturnya.

Sebagai informasi, pada 2016, pada tahap pertama 4G, Tri baru membuka layanan 4G di 6 kota saja. Lalu meningkat pesat hingga pada semestrer 1 tahun 2017 melonjak hingga 234 kota dan 7.300 village. Dengan total BTS 4G 13.600 site. Sedangkan untuk 3G ad 18.200 BTS dan 2G ada 16.900 BTS.

“Untuk implemtasi pengembangan 4G dengan frekuensi tambahan tersebut, Tri akan membangun BTS 4G di kota-kota besar. Seperti di Jabodetabek, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Baik untuk perluasan coverage 4G maupun untuk meningkatkan kapasitas,”kata Gustiansyah Wilson, VP Network Planning & Contract Management Hutchinson Tri Indonesia menjelaskan.

Gustiansyah menambahkan, “Dengan penambahan satu blok atau pita frekuensi 5 MHz menjadi 15 MHz saat ini di 2,1 GHz bisa menunjang 50 persen kapasitas jaringan. Dengan demikian, pelanggan bisa lebih merasakan pengalaman layanan data secara lebih maksimal”.

Sebelum memenangkan lelang frekuensi, Tri hanya memiliki total spektrum selebar 20MHz. Rinciannya, 10MHz di 1.800MHz dan 10MHz di 2.100MHz.

Dengan frekuensi yang dimiliki itu, adanya penambahan frekuensi menjadi sangat berarti bagi Tri. Pasalnya, trafik data Tri terus meningkat. “Jumlah spektrum yang dimilikinya tidak cukup untuk menampung trafik Tri yang terus meningkat. Apalagi, sebagian besar pelanggan Tri adalah kaum milenial yang haus data. Untuk itu, Tri membutuhkan tambahan frekuensi,” ungkap Danny menjelaskan alasannya Tri begitu ‘ngotot’ untuk memperoleh frekuensi tambahan ini.

Namun, khusus untuk frekuensi 2100 Mhz ini masih perlu menunggu terlebih dahulu dalam mengimplementasikannya. Pasalnya, saat ini kondisinya masih belum beraturan sehingga perlu dilakukan refarming terlebih dahulu. Langkah penata ulang frekuensi ini sendiri sudah dimulai 21 November ini.

Jadwal dari refarming itu sendiri sudah diatur bersama dengan pemerintah yakni Indosat memulai pada 21 November dan selesai pada 1 Maret 2018. Lalu diikuti oleh XL yang akan mulai memindahkan frekuensinya pada tangga 15 Januari dan selesai pada 18 April 2018. Berbarengan dengan Telkomsel. Namun operator yang memiliki pelanggan terbesar di Indonesia ini dijadwalkan baru akan selesai 25 April 2018.

Baru setelah refarming Telkomsel selesai, Tri bisa menempati frekuensi 2100 Mhz. Jadi, sesudah tanggan 25 April baru Tri memulai implementasikan pengembangan jaringannya. “Kita menunggu Telkomsel selesai dulu, baru bisa memulai pengerjaan di frekuensi 2100 Mhz ini. Setelah itu menanti 1 sampai 2 minggu baru pelangana dapat menikmati layanan,” tutur Gustiansyah.

Gustiasyah juga sangat yakin, tambahan layanan 4G yang akan digelar oleh Tri ini akan dilahap oleh pelanggan yang banyak dari segmen milenials. Ditambah lagi, banyaknya orang yang bermigrasi ke 4G karena pesatnya ponsel yang mendukung 4G dengan banderol harga yang terjangkau. Selain itu, tren media sosial juga membuat orang senang menggunakan layanan data.

Lebih lanjut ia mengungkapkan besarnya trafik layanan data, di mana per harinya mencapai 4.200 TB. Trafik data tersebut 2.4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2016. “Penggunaannya paling besar untuk mengakses YouTube sebesar 41%, diikuti dengan Instagram 31%, Facebook 15%, Whatsapp 10%,” tuturnya.

Sedangkan untuk pelanggan, sampai semester I 2017 ini Tri sudah digunakan oleh 59.2 juta pelanggan. Dengan komposisi 50% adalah pelanggan 4G, 30% pelanggan 3G dan 15% masih menggunakan layanan 2G. (Icha)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Hey there!

or

Sign in

Forgot password?
Close
of

Processing files…